
Saat Rex tiba masuk ke dalam ruangan, ternyata ruangan kamar terlihat berantakan. Dan dia melihat malah tubuh Naomi jatuh di lantai dan tubuh Rena yang di kira Rere telah jatuh juga di lantai. Apa yang terjadi? Rex berujar dalam hatinya.
Rex memanggil para pengawal di luar dan pelayan. Mereka semua kaget melihat situasi dalam kamar dan melihat keduanya pingsan di bawah lantai. Maka Rex menyuruh mereka agar di bawa ke tempat yang lebih baik di ruangan lain. Kesanalah Rere dan Naomi di bawa dan di pangilkan dokter untuk di periksa.
Rena saat tahu Rex masuk ruangan langsung pura-pura pingsan juga di tempat tak jauh dari Naomi yang pingsan. Kini Naomi dan Rena ada di ruangan sama di mana mereka di rawat oleh dokter. Naomi masih pingsan dan Rena bangun dari pingsan pura-puranya. Kancing bajunya sudah dia ambil dari tangan Naomi.
Rena tersenyum senang saat melihat Naomi yang sudah pingsan tersebut.
“Kau mengganggu ku saja, sebaiknya kau tidur untuk selamanya.” Rena sudah berniat hendak mencekik leher Naomi yang terbaring di ranjang pasien. Tapi saat dia hendak mencekik malah seorang perawat masuk hendak memeriksa keadaan mereka. Rena pun segera mengurungkan niatnya. Dia berpura-pura baru bangun dan baru sadar dari pingsannya.
“Loh ... Nona sudah sadar. Syukurlah. Sebentar ya Non, Anda berbaring saja dahulu.” Si perawat mengajak Rena kembali berbaring di ranjang pasien. Rena pun menurut saja.
Tak lama kemudian dokter masuk dan memeriksa mereka berdua. Karena kepala Naomi terkena benda keras jadi dia kemungkinan masih lama sadarnya. Sedangkan Rena dinyatakan tidak apa-apa.
Rex muncul dan masuk ke ruangan. Di lihatnya Naomi masih terbaring dan Rena yang sudah sadar. Rex pun menanyakan keadaan keduanya ke dokter. Dokter berkata kalau Rena tak apa-apa. Sedangkan Naomi telah terluka di bagian kepala. Rex pun meminta dokter merawat Naomi dengan baik. Dan beberapa penjaga di tempatkan di ruangan Naomi.
Karena Rena tak apa-apa, maka Rex membawa Rena ikut serta dengannya. Dia mau menanyakan ke Rena apa yang terjadi sebenarnya.
“Kau tak apa kan Re? Ikut aku sekarang kita kembali ke istana.” Rex membawa Rena. Rena gak punya pilihan selain menurut. Dia berharap Naomi tak segera sadar.
Di dalam istana, sekarang Rex dan Rena ada di dalam ruangan meja kerja Rex. Rex dan Rena duduk berhadapan. Rex menatap Rena dengan seksama dan tajam. Dia memang tak tahu apa yang terjadi. Karena itu hendak bertanya ke Rena yang dimkiranya Rere.
“Apa yang terjadi Re? Kenapa kalian berdua di temukan pingsan?”
“Aku tak begitu ingat.” Rena beralasan.
“Di ruangan terlihat banyak kekacauan. Sepertinya terlihat ada pertarungan. Naomi itu pandai bela diri. Jadi pasti dia sedang melawan seseorang. Itu di ruanganmu Re, apa yang kalian lakukan dan apa yang terjadi?”
Rena terdiam. Dia sedang memikirkan sebuah alasan tepat. Akhirnya Rena hanya bisa berbohong saja.
“Saat itu seingatku aku dan Naomi sedang berbincang-bincang. Kemudian ada penyusup, Naomi berkelahi dengannnya. Dia sangat tangguh. Aku tak tahu apa mau si penyusup tapi yang jelas mereka bertarung. Aku hendak membantu tapi malah kena pukul dan pingsan. Naomi juga terlihatnya di pukulnya sehingga kami berdua pingsan.” Rena berbohong.
“Siapa penyusup itu?”
“Gak tahu. Dia seorang pria. Apa tujuannya pun aku tak tahu.” Rena mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
Rex menghela napas panjang. Kurang puas rasanya dengan jawaban Rena.
“Kau dan Naomi membicarakan hal apa? Karena Naomi terlihat sibuk hendak mencarimu.”
“Itu ... itu dia mau tahu saja, apa benar aku hamil dan akan menikah denganmu. Hanya itu saja.” Rena memakai alasan tersebut.
“Hanya itu benar yang kalian bahas?”
__ADS_1
“Tentu saja.” Rena tak berbohong sepenuhnya kalau yang ini. Karena sebelum baku hantam dengan Naomi, dia dan Naomi memang membahas tentang kehamilannya walau pun di saat itu Naomi telah tak percaya dengan kehamilannya.
“Re, kita akan memeriksa kehamilanmu. Tadi aku lupa meminta dokter memeriksa kehamilanmu.” Rex berujar.
“Hah? Apa?” Rena sedikit panik tapi dia tutupi.
“Periksa kehamilanmu. Apakah baik-baik saja atau tidak?”
“Oh ... aku baik-baik saja. Dan janin juga baik.” Rena tak mau di periksa. Rex melihat tingkah Rena menjadi semakin curiga.
“Sebaiknya kita periksa saja. Aku akan memanggil dokter. Kau tunggu di sini.” Rex berjalan keluar untuk memanggil anak buahnya.
“Sialan.” Umpat Rena sendirian setelah Rex pergi keluar.
Di dalam ruangan tersebut Rena mondar mandir kebingungan. Dia takut akan segera ketahuan. Pusing sekali dia. Dia teringat dengan ponselnya yang dia sembunyikan, di pakainya lah untuk menelepon Javin. Di seberang sana Javin menerima telepon dari Rena. Rena pun menceritakan semuanya ke Javin. Javin tentu saja kaget luar biasa.
“Bagaimana? aku pasti di hukum, Javin.” Rena sudah mulai panik.
“Tenanglah. Aku akan menyusup kesana dan berpura-pura menyusup sebagai pengalihan agar cerita mu menjadi benar.”
“Cepatlah.”
Rena menutup teleponnya dan berharap agar Javin segera datang membantunya.
Di lain tempat, Javin segera bergegas ke tempat dimana Naomi di rawat. Dia pun kemudian memakai penutup wajah. Saat sampai di rumah sakit, semua penjaga di kalahkannya dan dia pun berniat membunuh Naomi tapi kebetulan Ahmed datang dan segera berkelahi dengan Javin.
Ahmed meminta penjagaan lebih ketat lagi. Beberapa anak buahnya yang lebih kuat di tempatkan untuk menjaga Naomi. Kemudian Ahmed segera menemui Rex. Di istana, Rex sudah membawa dokter istana memeriksa Rena. Rena di suruh berbaring di sofa panjang. Dokter pun mulai hendak memeriksa tapi tak jadi.
“Yang mulia, Tuan Ahmed hendak berbicara dengan Anda masalah Nona Naomi.” Lapor salah satu penjaga.
“Naomi? Baiklah. Dimana Ahmed sekarang? Bawa aku kesana.”
“Baik.”
Rex pun mengikuti sang penjaga. Dan mereka pergi menemui Ahmed.
Di ruangan tersebut hanya tinggal Rena dan sang dokter.
“Dok, kau harus nyatakan aku telah hamil. Jika tidak aku akan membunuhmu dan seluruh anggota keluargamu.” Ancam Rena.
“Apa?” dokter kaget dan merasa ketakutan karena Rena sudah mengeluarkan pisau belati dan di arahkan ke leher sang dokter untuk mengancamnya.
“Kau pasti sudah paham kan? Ingat kalau kau tak melakukannya, anggota ku akan membunuh keluargamu di rumah. Yang sedang menyerang Naomi di rumah sakit adalah anggota ku. Jadi pasti kau sudah mengerti semua perkataanku.”
__ADS_1
Dokter pun mengangguk. Dia sudah takut dan tak berdaya. Rena tersenyum puas.
Rex bertemu dengan Ahmed. Dari Ahmed, Rex tahu kalau ada penyerangan. Jadi yang dikatakan oleh Rena ternyata benar adanya.
“Kau harus menyuruh anak buahmu memperketat penjagaan, Ahmed.”
“Baik Tuanku.” Ahmed mengangguk.
Rex segera kembali. Dan saat kembali ternyata sudah selesai dokternya, Rex pun bertanya dan dokter mengatakan kalau Rena benaran hamil. Rex pun akhirnya percaya. Walau hatinya berat menerimanya.
Dokter pun permisi pergi. Kini Rex dan Rena berduaan di ruangan.
“Sekarang kau percaya kan? Kita harus segera menikah dan kali ini aku tak mau di undur lagi.” Pinta Rena.
“Tapi Naomi sedang terbaring di rumah sakit, Re.”
“Lalu kau mau pakai alasan itu kah untuk menghindar lagi dari aku. Nikahi aku segera Rex. Itu pinta ku sekarang!” Rena sudah tak mau mengulur waktu lagi. Dia dan Rex harus segera menikah. Masalah Naomi masa bodoh. Dia berharap Naomi malah mati saja.
Rex terdiam. Dia masih belum bisa, tapi Rena terus mendesaknya. Dan akhirnya Rex pun mengalah dan mengiyakan.
Rex segera memerintahkan para anak buah dan pelayan dan serta para dayang untuk segera menyiapkan pesta pernikahan. Ahmed dan Sonia yang mendengar tentu saja kaget, apa lagi Miranda juga kaget. Karena mereka tahunya kalau Rex dan Naomi yang akan menikah ini malah Rena dan Rex.
Rena yang melihat harapannya akan segera terwujud pun merasa senang luar biasa. Di depan matanya sekarang dia akan menjadi permaisuri. Sungguh membuat hatinya bukan main senangnya.
Selama tiga hari persiapan pun dilakukan. Waktu yang sangtalah cepat hanya untuk pesta pernikahan dadakan yang kurang persiapan. Itu semua karena Rena tak mau menunggu lagi. Katanya takut kehamilannya semakin besar. Tapi itu hanya kebohongannya saja dan Rex telah terpedaya.
Di rumah sakit, setelah tiga hari terbaring akhirnya Naomi pun sadar. Perlahan-lahan matanya terbuka. Dia melihat sekitar dan sadar kalau dia bukan di istana tapi di rumah sakit.
“Rex ....” gumam Naomi saat baru sadar.
Bersambung....
Akhirnya kau sadar Naomi. Ayo cegah pernikahan Rex dan Rena. Dia bukan Rere tapi Rena.
Saksikan terus kelanjutannya ya kakak readers semua :) :D
Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)
Klik like, klik vote, klik favorite dan kasi komennya ya :D
Thanks. Love you all :D
No plagiat ya :D
__ADS_1
Kasi komen yang positif ya kak :D Komentarnya mana komentarnya hehehe :D
Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih kak. :D