Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 84.


__ADS_3

“Hehehe, aku seorang penyihir tapi juga seorang pangeran.” Al langsung jujur pada Naomi. Naomi yang sedang minum seketika tersedak mendengarnya.


Al memberikan tisu yang ada di atas meja disediakan oleh pemilik tempat. Naomi menerimanya dan mengelap mulutnya. Dia sempat terbatuk juga sebentar tadi. Naomi berpikir, kenapa harus bertemu pangeran lagi kah? Hadeh ... dunia ini sempit sekali kah? Kemana pun Naomi malah bertemu Pangeran lagi. Dulu Rex yang dia tahu seorang anak sultan dan kini pemuda di depannya. Tapi ngomong-ngomong Al ini pangeran dari mana? Kenapa disini? Dan dari mana pula dia bisa sihir?


Naomi kemudian memandang ke arah Al. Al pun makan setelah makanan di hidangkan di atas mejanya. Naomi pun melakukan hal yang sama. Keduanya selesai makan. Naomi dan Al keluar dari tempat tersebut setelah Al membayarnya. Kini keduanya berdiri di pingggir jalan.


“Mau kemana? Mau ku anatarkan pulang?” Al melihat ke arah Naomi.


“Sepertinya iya. Aku harus kembali. mungkin sekarang sudah heboh mencariku.” Naomi melihat langits yang sudah gelap. Dia sudah terlalu lama di luar istana.


“Syukur saja kedua preman tadi tak mengejar lagi ya.”


“Mungkin lelah mengejar karena kita terlalu cepat berlari. Hahaha.” Naomi tertawa renyah. Al pun sama juga ikut tertawa.


“Terima kasih untuk traktir makannya. Maksudku ajakan makannya.”


“Tak masalah. Oh iya, anggap saja aku teman. Oke.” Al tersenyum ke Naomi dan Naomi pun tersenyum. Dari jauh seseorang memandang dengan sangat tajam. Dia datang mendekat.


“Naomi ....” panggil Rex. Iya benar, dia adalah Rex. Seharian ini Rex menyuruh seluruh anak buahnya mencari Naomi dan semua di kerahkan mencari baik di seluruh ruangan dalam istana dan juga di luar istana. Seorang anak buah segera melapor kalau ia melihat Naomi sedang di luar istana. Segeralah Rex keluar istana menjemput Naomi langsung. Dia berpikir, kalau menjemput langsung setidaknya akan membuat Naomi luluh dan tak marah lagi. Tapi yang di lihatnya malah Naomi bersama pria lain.


Rex pun segera mendekat. Naomi dan Al melihat ke arah Rex. Naomi kaget dan tertegun.


“Dari mana dia tahu aku di sini?” gumam Naomi sendirian.


Kini Rex berada di samping Naomi. Rex menatap tajam ke arah Naomi.


“Siapa dia?” tatap tajam Rex.


“Teman.” Naomi menjawab dingin.


Al yang tak paham apa yang terjadi malah tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya.


“Halo Aku Arsyil. Panggil saja Al.” Al masih mengulurkan tangan dan belum di sambut oleh Rex.


Setelah beberapa detik Rex menatap tajam, akhirnya Rex menyambut tangan Al.


“Aku Rex.” Keduanya berjabat tangan, tapi seperti ada aliran listrik yang terjadi di antara jabat tangan keduanya. Al dan Rex menatap satu sama lain dengan sama tajamnya. Keduanya segera melepaskan jabat tangannya.


“Apa itu tadi? kenapa nampak aneh?” di dalam hati Rex berucap.


“Wah serasa seperti di seterum saja tadi.” Al pun berucap dalam hatinya.


Keduanya melihat tangannya masing-masing. Keduanya bingung kenapa bisa seperti hal tersebut. Naomi yang heran melihat kedua pria di hadapannya terdiam dan hanya saling menatap tajam menjadi bingung.

__ADS_1


“Kenapa kalian berdua?” Naomi bertanya kepada kedua pria tersebut.


“Tak ada. Ayo kita pulang, Nao.” Rex menarik tangan Naomi. Tapi Naomi menepis tangan Rex. Rex melihat Naomi masih marah. Al bisa melihat kedua orang di hadapannya sedang berseteru.


“Kalau begitu aku pamit dahulu. Bye Naomi.” Al hendak pergi tapi Naomi mencegah.


“Tunggu dahulu. Kau akan tinggal dimana selama di turki ini?” Naomi menatap ke arah Al. Sedangkan Rex sudah nampak kesal.


“Mungkin aku akan cari penginapan sederhana atau hotel. Aku siang tadi baru sampai ke kota ini.”


“Kalau begitu ikutlah kami. Selama di turki ini tinggal dahulu sementara dengan kami. Aku tak ada teman. Rex terlalu sibuk jadi kau bisa tinggal dengan kami.” Naomi malah mengajak Al. Rex langsung melirik ke arah Naomi. Dia tak setuju. Pasalnya mereka baru mengenal Al. Sedangkan Naomi hanya ingin membalas budi saja, karena Al sudah baik padanya dan membantunya.


Al sebenarnya tak enak hati menerimanya, tapi kalau menolak pun dia jadi tak enak hati pada Naomi. Naomi melihat Al yang bimbang segera di tariknya tangan Al dan membawanya ikut serta.


“Ayolah.” Naomi malah menggandeng tangan Al. Al malah jadi kikuk. Sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari mereka dimana ada Timi salah satu anak buahnya Ahmed yang di tugaskan menyupirkan mobil untuk Rex, dilihat oleh Naomi. Naomi dan Al pun masuk ke dalam mobil mewah tersebut.


Rex merasa kesal tapi dia akhirnya ikut masuk juga ke dalam mobil. Rex sepanjang perjalanan terus memandang ke arah naomi dengan tajam. Naomi pura-pura tak melihat, dia fokus melihat arah lain atau hanya sekedar berbincang dengan Al saja.


Sampailah mereka di istana.


Al begitu kaget karena ternyata dia di bawa masuk ke dalam istana. Al tak sangka kalau Naomi dan Rex adalah orang penting. Naomi meminta seorang pelayan menunjukan kamar untuk Al. Al pun pamitan dan mengikuti pelayan tersebut agar bisa istirahat. Maklum sudah malam maka dia mau pergi tidur saja. Sudah lelah maka sebaiknya istirahat.


Naomi pun hendak kembali ke kamarnya tapi Rex segera menarik paksa Naomi. Dia mau bicara dengan Naomi. Dari tadi Rex diam saja dan membiarkan. Tapi kini dia harus bicara dengan Naomi. Di dalam ruangan baca Rex kembali keduanya berbicara di tempat tersebut.


“Kau masih marah kah sayang?” Rex berusaha membujuk.


“Sudah lah. Lupakan ya. Aku tak mau kita marahan terus. Lagi pula itu peraturan istana, Nao. Aku sama sekali tak mau. Yakinlah hanya kau yang ada di hatiku.” Rex menyakinkan Naomi.


Naomi hanya menatap diam ke arah Rex.


“Dan lagi, kenapa kau main bawa orang asing masuk istana? Kenapa tak izin dulu ke aku? Kita tak kenal dengannya tapi kau malah membawanya, Nao.” Rex masih kesal akan hal tersebut.


“Dia menolongku. Dan dia punya nama. Namanya Al. Dia menolongku saat di ganggu para preman. Walau sebenarnya aku bisa saja menghajar semua preman itu tapi dia memang ikut membantuku. Kemudian dia mengajak ku makan saat aku kelaparan. Aku lupa bawa uang saat keluar.” Naomi menjelaskan.


“Kenapa keluar istana tak bilang dahulu padaku?”


“Aku pusing di istana terus jadi keluar mencari hiburan dan jalan-jalan. Bagaimana mau bilang kan kita lagi marahan.”


“Baik. Lupakan semuanya ya. Please.”


“Tapi apa si Al itu orang baik? Kita belum mengenalnya.” Rex masih belum setuju dengan keputusan Naomi membawa Al ke dalam istana


“Aku yakin dia baik. Dia telah membantuku hari ini. Dan aku hanya menyediakan tempat tinggal saja untuknya. Aku kira kau tak perlu keberatan, kau kan sultan menerima tamu tak masalah kan?” tatap Naomi tajam.

__ADS_1


“Baiklah. Ini hanya karena demimu, Nao.” Rex akhirnya mengalah saja. Dia malas berdebat lagi dengan Naomi.


“Sudah malam, selamat malam. Aku mau pergi tidur.” Naomi pun pergi dan meninggalkan Rex. Dia mau kembali ke kamarnya dan tidur. Rex pun kembali ke kamarnya dan dia pun istirahat.


Esok harinya.


Naomi dan Al makan bersama, keduanya sarapan bersama. Naomi yang mengajak Al sarapan bersama. karena Naomi tahu kalau saat ini Rex pasti sibuk dengan Ahmed. Mereka makan bersama di ruangan yang telah di siapkan para dayang di istana. Sambil melihat bunga-bunga di taman mereka menikmati sarapannya.


“Terima kasih atas semua jamuannya.” Al berterima kasih.


“Tak masalah. Aku hanya membalas kebaikanmu.”


“Aku tak sangka kalau kalian berdua adalah orang penting di negara ini.”


“Lupakan. Aku bukan. Hanya Rex saja.”


“Kenapa kau memanggilnya hanya nama? Bukannya ini adalah kerajaan Turki, dia pasti seoarang sultan kan? Kalau di tempat kami disebut Raja.”


“Mau raja, sultan, dan baginda itu sama saja semua. Dan aku tetap bukan siapa pun. Tapi kau bukannya seoarang pangeran juga kenapa malah ke negara ini?” Naomi agak heran di bagian itu.


“Karena aku adalah seorang pangeran yang tak punya bakat. Karena itu aku belajar sihir. Aku mengembara agar meningkatkan kemampuanku sekalian belajar tentunya.”


“Tak punya bakat? Tapi bukannya kau bisa sihir?” Naomi semakin bingung.


“Itu karena aku belajar dan mengikat kontrak dengan Ratu Roh Kembar.” Al menjelaskan sedikit.


“Hah? Kontrak dengan Roh?” Naomi menatap Al.


Bersambung....


Kenapa Rex kesal dengan Al? Apa Rex cemburu? Apakah akan ada perang antara Rex dan Al?


Yang merasa kepo dengan sosok Al yang bisa sihir cus langsung aja bisa kepoin karya Autor LEADER yang berjudul : Pangeran Tanpa Bakat.


Saksikan terus kelanjutannya ya kakak readers semua :)  :D


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)


Klik like, klik vote, klik favorite dan kasi komennya ya :D


Thanks. Love you all :D


No plagiat ya :D

__ADS_1


Kasi komen yang positif ya kak :D  Komentarnya mana komentarnya hehehe :D


Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih kak. :D


__ADS_2