
Rex di istana telah di tolong dan di obati dokter khusus istana. Pendarahan di bahunya sudah dihentikan. Rex pun di suntik obat penahan sakit. Rex tak apa-apa. Syukurlah panah tak beracun sehingga Rex aman saja dan tak berbahaya.
Ahmed pun datang, setelah cukup lama ia kembali ke istana. Ahmed menuju kamarnya Rex, saat ini Rex ada di kamarnya. Dokter istana pun sudah pergi. Masuklah Ahmed ke dalam. Ia memberi hormat ke Rex dan Rex menatap ke arah Ahmed.
“Kau berhasil menangkapnya? Aku dengar dari para pengawal kalau kau masuk ke hutan dan menyusuri ke dalam, apa yang kau temukan?” Rex terlihat serius, bahkan aura wajahnya nampak berbeda. Setelah Hasan Mustapa, sekarang ia sasaran para pelaku kejahatan.
“Hamba berhasil meringkusnya, namun ia tak menjawab semua yang ku tanya kan. Dia malah memilih bunuh diri.” Ahmed melaporkan situasi yang telah ia alami.
“Bunuh diri? Jadi kau tak mendapatkan info apa pun?”
“Tidak Tuanku, maafkan hamba.”
Rex berjalan melewati Ahmed. Ia tengah berpikir. Beberapa helaan nafas terdengar. Ia kemudian terdiam berdiri dengan pikiran yang memikirkan banyak hal kemungkinan.
“Beberapa waktu lalu baginda Hasan Mustapa di tembak, kini aku di panah. Sudah jelas kalau mereka hendak membunuh kami.” Ulas Rex di depan Ahmed.
“Iya Tuanku. Pasti mereka telah mendengar kabar pewaris tahta telah datang, karena itu mereka bertindak.”
“Tapi tepat di hari aku dikenalkan. Itu artinya ... mereka ada di sekitar kita, Ahmed. Aku bukan hanya cucu Baginda Sultan Hasan Mustapa tapi sebenarnya cicitnya. Selama ini mereka tak mengusik baginda Hasan Mustapa, tapi kali ini menargetkannya juga. Artinya mereka hendak menyingkirkannya sebelum membuat aku naik tahta. Kemudian mereka beralih langsung menargetkanku. Itu kemungkinan pertama. Kemungkinan kedua, dari awal sudah aku target mereka saat mengetahui kedatanganku namun karena tak melihatku jadi baginda Hasan Mustapa yang ditembak. Tapi mereka berpikir hendak menyingkirkan ku kembali. Intinya dari dua kesimpulan tersebut kalau mereka hendak menyingkirkan aku sekalian baginda Hasan Mustapa.” Rex mengutarakan apa yang ia pikirkan. Ahmed menatap kagum. Selama ini ia tak pernah berpikir, kalau para penjahat bisa saja dari istana juga. Namun analisa Rex patut di pertimbangkan.
“Lalu kita harus bagaimana?” Ahmed bertanya ke Rex. Rex kembali menoleh ke Ahmed.
“Lindungi baginda Hasan Mustapa, perketat penjagaan untuknya. Dan untukku tak perlu cemas. Pemulihan diriku cepat.”
“Cepat? Tadi Anda mengeluarkan banyak darah Tuanku.”
“Hehe ... aku tak apa. Ada sesuatu yang membuatku terlindungi. Namun jika aku terikat maka akan susah melindungi diri.” Ia teringat sewaktu di sekap di Lab dan diikat, kemudian serasa di setrum dengan aliran arus yang kuat. Jika manusia biasa mungkin Rex sudah mati, tapi berkat berkah yang diberikan Ailen, Rex bisa bertahan dan kuat. Bahkan kini ia pintar. Berkah paket komplet.
“Apa itu?” Ahmed penasaran.
Namun Rex tak mau mengatakannya. Baginya hal tersebut cukup ia dan Naomi saja yang tahu.
“Kalung ini, berkah kasih sayang dan peninggalan dari kedua orang tuaku.” Rex mengeluarkan kalungnya, peninggalan dari orang tua aslinya. Ia jadi memakai alasan tersebut pada Ahmed. Bukan ia tak percaya pada Ahmed, namun masalah Ailen dianggap tak perlu semua orang tahu.
“Oh....” Ahmed pun mengangguk.
“Kita buat pancingan saja, agar mereka keluar.”
“Caranya? Ahmed menatap dengan penasaran.
Sebuah senyuman terlihat di wajah tampannya dan ide yang cukup berani terlintas di kepalanya. Ia berpikir memancing para penjahat dengan mengorbankan dirinya sendiri. Nampak riskan namun patut di coba.
***
Anastasya menemui Papanya di kantornya. Papanya ditugaskan dibagian pertahanan daerah negara turki. Saat ini Anastasya menuju kantor Papanya. Ia masuk begitu saja ke dalam kantor papanya tanpa ada mengetuk pintu dahulu.
Saat terbuka, Papanya sedang menelepon. Kemudian telepon dimatikan, Paul melihat ke arah Anastasya. Anastasya menatap Paul dengan tatapan marah.
“Ada apa kau kemari Ana? Tanpa ketuk pintu lagi.” Paul jadi kesal.
“Papa jahat. Tega Papa menyuruh orang mencelakai Yang mulia Rex. Ana dengar Yang mulia kena bidikan panah. Itu pasti ulah suruhan Papa, kan?” Ana nampak marah sekali.
Syukur saja kantor Paul kedap suara sehingga keributan yang Ana buat tak terdengar sampai keluar.
__ADS_1
“Apa maksud kau Ana?”
“Papa jangan bohong. Bukankah Papa mau pangeran mati, bahkan Papa menyuruhku ikut dalam melakukan aksi pembunuhan. Ana gak habis pikir sama Papa. Papa jahat!”
“Jangan sembarangan Ana, Papa belum bertindak apa pun.”
“Apa? Jadi bukan Papa?” Ana menatap ke arah Paul dengan tak percaya.
“Bukan. Bahkan racun masih ada di tangan Papa.” Paul mengeluarkan serbuk racun yang ia simpan di kantung sakunya. Ana melihatnya dengan kaget dan heran. Lalu siapa pelaku tersebut?
“Lalu ... lalu siapa yang mencelakai pangeran?”
“Mana Papa tahu, tapi kalau ada yang ikut menyerang malah bagus. Sore ini Papa akan ke istana dengan alasan melihat pangeran, jika ia mati maka bagus namun jika masih hidup maka racun ini akan kuberikan.” Paul tersenyum jahat.
Ana langsung menggeleng.
“Papa tega. Ana benci!!!” Anastasya langsung pergi dengan uraian air mata.
Paul tak peduli protes Anastasya. Ia sudah akan segera melaksanakannya. Namun siapa pelaku pemanah tersebut? Paul pun merasa aneh dan heran. Ia mengambil hapenya dan menelepon.
“Halo ... Yang mulia. Hamba mendengar kasus pemanahan yang di alami pangeran, apakah itu suruhan Anda Yang mulia?” Paul mengerutkan keningnya.
“Buat apa aku lakukan, kalau kau sudah akan melaksanakan tugasmu.”
“Ah iya ... maafkan hamba. Cuma aneh saja, siapa pelaku tersebut?”
“Mungkin dia punya musuh, siapa yang tahu.”
“Mungkin saja. Dan ini menguntungkan bagi kita Yang mulia.”
“Hem....”
Beralih ke arah orang yang ditelepon Paul. Di sebuah wisma yang cukup besar, ia baru saja menutup teleponnya dan seorang dayang datang mendekat.
“Yang mulia, Anda mau saya bawakan teh dan kue untuk menemani sore Anda?” Dayang Kiara memberi hormat ke arah junjungannya.
“Tak perlu. Panggil Joe kemari.”
“Baik Yang mulia.”
Seorang pemuda tegap dan berotot datang menemui junjungannya setelah di panggil Kiara tadi, Joe namanya. Joe masuk ke dalam sebuah ruangan. Ia memberi hormat.
“Anda memanggil hamba Yang mulia?” Joe menatap Tuannya setelah memberi hormat.
“Suruhan kita yang ditugaskan untuk memanah tersebut apakah berhasil? Berita aksi sang pangeran terkena panah sudah menyebar.”
“Dia tak muncul, artinya ia sudah mati.”
“Kalau begitu gagal.”
“Iya Yang mulia. Maafkan hamba.”
“Tak perlu minta maaf.” Seorang wanita yang elegan berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat yang lebih terang yang ada cahayanya. Wajahnya sudah menua namun masih terlihat jelas cantik. Selama ini dia adalah dalang dan bosnya dari setiap pembunuhan pangeran. Madam Mariana. Dahulu sekali, ia adalah salah satu selir kesayangan baginda sultan dari ayahnya Hasan Mustapa, yaitu Ali Mustapa. Namun karena kecemburuan para istri dan selir yang lainnya, membuat Mariana telah kehilangan anaknya yang masih di dalam kandungannya. Bahkan ia sampai di fitnah dan di usir dari istana. Ali Mustapa tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa memberikan sebuah wisma yang agak jauh dari istana untuk di jadikan tempat tinggal madam Mariana. Semenjak itu Mariana bersumpah untuk balas dendam dan membunuh para keturunan para selir dan istri-istri raja lainnya. Bahkan ia membunuh para pangeran. Ia sakit hati setelah di usir dan di buang malah di abaikan oleh Ali Mustapa. Sakit hati dan penderitaannya akibat kehilangan anak dan diusir serta diabaikan membuatnya mendendam.
__ADS_1
Karena itu ia melakukan aksi pembunuhan para pangeran. Namun ia memerlukan sekutu dan kekuatan. Karenanya baru pas masa kerajaan sultan Mustapa lah, Mariana baru bisa menuntut balasnya. Satu persatu menjadi targetnya. Karena orang-orang terdahulu sudah mati, sehingga sebagai gantinya keturunan Ali Mustapa yang harus membayarnya. Untuk para selir lain dan istri-istrinya sudah menemui ajalnya yang di kirimkan oleh Mariana bagi yang masih hidup. Ali Mustapa sudah meninggal, maka keturunannya yang kena, seperti para pangeran, sultan Mustapa sendiri dan keturunan lainnya yang menerima pembalasan darinya. Kini hanya tersisa si Hasan Mustapa si tua bangka keturunan dari salah satu istrinya Ali Mustapa yaitu si jahat Zulaikha (sudah meninggal). Dan Rex keturunan dari Zaki Mustapa anak dari Mustapa. Maka sasaran selanjutnya adalah Hasan Mustapa dan Rex.
Umur Mariana tentu saja di atas Hasan Mustapa, karena Mariana bisa saja di bilang Mama tirinya. Tapi ia terabaikan oleh istana, jadi mungkin para orang istana tak mengenalnya lagi. Dan suatu hal yang membuatnya mengenal paul dan mereka pun berkerja sama dengan iming-iming kekuasaan dibagi dua. Hahaha, hanya tipuan yang dipakai oleh Mariana sebenarnya. Mariana masih hidup juga berkat suatu sihir yang ia lakoni. Ia seakan bisa berumur panjang karena sihir yang ia pelajari. Wajahnya pun memang menua tapi tak seperti nenek peyot. Ia masih terlihat cantik walau menua di usianya yang sudah tua sekali tentunya.
“Mereka semua harus mati, Joe.” Tatap Mariana ke Joe. Joe pun menganggukkan kepalanya.
Joe berumur sekitar 38 tahun. Pria ini ditemukan Mariana saat sedang pergi kehutan, ia melihat Joe di pinggir sungai dengan luka yang parah, segera di bawanya ke wisma dan mengobatinya. Semenjak itulah Joe mengabdikan dirinya pada Mariana. Sedangkan Kiara, ia tolong di jalanan saat masih kecil terlantar tak tentu arah, makanya Kiara menjadi pembantunya. Kiara kini gadis berusia 28 tahun.
Beralih ke istana.
Paul saat ini sedang berkunjung ke istana. Ia mau melihat Rex. Saat di temui ternyata Rex sedang berada di taman istana di bilik timur. Kesana lah Paul, ia menyapa Rex dan memberikan salam. Mereka pun berbincang sebentar.
“Mau minum Tuan Paul?” tawar Rex.
“Ah, tak perlu pangeran. Hamba mendengar Anda terluka, jadi kemari hendak menjenguk. Syukurlah Anda baik-baik saja.” Ucap Paul berbasa-basi.
Rex menaikan sebelah alisnya.
“Terima kasih.” ucap Rex singkat.
Seorang pelayan kemudian menghidangkan minuman dan beberapa camilan untuk Rex dan Paul dan di hidangkan di meja kecil di dekat kursi yang ada di taman tersebut.
Rex pun mempersilahkan kan Paul menikmati hidangan yang ada. Paul hanya tersenyum sambil meminumnya.
Kemudian Paul memperhatikan ke arah Rex.
“Maaf, sebelah mana yang terluka Pangeran?” Paul kembali hanya basa basi.
“Bahu ku tapi sudah tak apa.”
“Apakah di sebelah sini. Maaf.” Paul menyentuh sebelah kiri. Padahal lukanya sebelah bahu kanan. Rex melihat tangan Paul yang memegang bagian bahunya, namun ia tak melihat bagian tangan Paul yang lainnya yang menaburkan sesuatu ke minuman Rex.
“Bukan. Tapi di tempat lain.” Ucap Rex.
“Oh maafkan aku yang terlalu banyak tanya.” Paul kembali duduk di tempatnya semula. Ia tersenyum penuh arti. Rex melihat ke arah Paul dengan menaikan alisnya sebelah. Ia merasa agak aneh dan heran.
“Mari kita minum lagi Pangeran.” Ajak Paul.
“Hem....” Rex mengambil gelas minumannya dan hendak menyeruputnya. Dan Paul menatap bahagia dengan senyuman jahatnya.
Bersambung....
Oh no ... jangan di minum Rex!!! Curiga dong Rex!!! 😱😱
Saksikan terus kelanjutannya ya kakak reader semua :) :D
Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)
Klik like, klik vote, klik favorit dan kasi komennya ya :D
Thanks. Love you all :D
No plagiat ya :D
__ADS_1
Lomba mau mendekati akhir, beberapa hari lagi. Yuk kak dukung karya ini sebagai apresiasi ke cerita ini, Caranya Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih ya kak :D 😘🥰😍🤗