Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 58.


__ADS_3

“Baiklah, namun ku harap jangan terlalu lama. Segera lah menjawab dan membuat keputusan.”


Rex menganggukkan kepalanya. Kemudian Ahmed pamitan. Rex masih harus berbicara dengan kakeknya yaitu Dicky Han. Rex berjalan menuju Kakeknya, saat ini Dicky Han sedang menyirami tanamannya. Rex mendekati Dicky Han. Dicky Han melihat Rex mendekat, ia pun menoleh ke Rex dan menghentikan aktivitasnya


“Ada apa Rex?” Dicky Han bisa melihat kalau Rex nampak kelihatan sangatlah gusar.


“Ada yang mau Rex katakan Kek.”


“Apa itu? Kemari lah dan katakan.”


Dicky Han mencuci tangannya dan membersihkan dirinya, kemudian mengajak Rex duduk di dekat kursi yang ada tak jauh dari mereka berada. Keduanya kini duduk berdekatan dan saling berhadapan.


Rex pun mulai menceritakannya pada Dicky Han, kening Dicky berkerut dengan dalam. Ia mendengarkan dengan seksama. Selesai Rex bercerita, ia pun menanyakan pada kakeknya. Dicky Han menghela nafas panjangnya.


“Kakek hanya bisa mengatakan, ikuti kata hati mu Rex. Tak perlu cemaskan Kakek di sini. Mana yang terbaik menurutmu maka itulah yang kau pilih. Kakek akan selalu mendukungmu.” Dicky Han menepuk pelan pundak Rex. Ia tersenyum.


Namun Rex masih merasa gundah gulana. Rex pun menganggukkan kepalanya dan pamitan pada kakeknya karena ia hendak keluar rumah sebentar. Rex pun mengambil kunci mobilnya dan pergi keluar. Ia perlu berpikir jernih sebentar.


Setelah lama berkendara, Rex malah sampai di rumahnya Naomi. Rex pun turun dari mobilnya, ia pun melangkah ke arah rumah Naomi. Pintu di ketuk dan terbukalah, Naomi yang ada di depan pintu menyambut Rex. Naomi heran kenapa Rex datang ke rumahnya.


“Ada apa Rex?”


“Aku sedang pusing.”


“Masuklah dahulu.”


Rex pun masuk ke dalam rumah Naomi. Mereka berdua duduk di dekat sofa dan duduk bersebelahan. Naomi melihat Rex nampak gusar. Ada apakah gerangan?


“Ceritakan Rex? Ada apa?”


“Aku pusing Nao....” Rex pun menceritakan semuanya pada Naomi. Rex nyaman jika cerita pada Naomi. Semuanya bisa di utarakan pada Naomi. Semua keluh dan kesahnya. Naomi mendengarkan penuh perhatian.


“Jadi kau hendak ke Turki Rex? Lalu sekolah mu di sini bagaimana?”


“Itulah yang membuat ku bingung. Aku masih susah meninggalkan semua yang ada di sini.”


Naomi memahami yang di rasakan dan di pikirkan Rex. Rex juga ingin ke Turki menolong kakeknya yang ada di sana. Namun ia juga susah meninggalkan yang ada di sini. Naomi melihat Rex yang nampak banyak pikiran begitu merasa juga kesusahan hati Rex. Tanpa sadar Naomi datang mendekat ke Rex dan memeluk Rex. Rex terkejut dengan yang di lakukan oleh Naomi. Naomi bahkan mengusap rambut Rex dengan lembut. Perlakuan yang sangat beda dari biasanya.


Namun pelukan tersebut kenapa sangatlah hangat dan nyaman. Rex jadi merasakan lebih damai dan tenang. Naomi terpejam matanya malahan sambil memeluk dan mengusap rambut Rex. Kedua tangan Rex hendak memeluk Naomi namun tertahan. Naomi kemudian sadar kalau ia telah bertindak berlebihan. Segeralah Naomi menarik tubuhnya menjauh ke arah lain dan bergeser, padahal tangan Rex baru saja hendak memeluk balik Naomi tapi karena Naomi menjauh maka tak jadi.


Naomi jadi bingung hendak bersikap bagaimana. Ia merasa seakan salah bertindak.


“Eh, Maaf ya Rex. Hehehe....” Naomi akhirnya berkata demikian.


“Makasih Nao.” Rex memandang Naomi dan tersenyum. Naomi pun tersenyum.


***


Esok harinya. Di sekolah.


Seperti biasa suasana di sekolah dimana siswa masuk ke kelas dan guru mulai masuk juga mengajar. Namun kali ini David telah datang ke sekolah. Naomi senang dan hendak menyapa. Tapi David menjauhinya.


Hingga saat jam istirahat, Naomi dan Rex di kaget kan oleh kejadian yang tak terduga. Saat itu Naomi dan Rex baru saja dari kantin makan bersama, saat memasuki kelas betapa kagetnya mereka melihat Brian dan David saling adu jotos.


Brian dan David saling berkelahi. Semua siswa yang melihat kaget bukan main. Jerry berusaha melerai namun tak berhasil.


“Kalian berdua hentikan ... apa yang sebenarnya terjadi seh?” Jerry begitu bingung kenapa Brian dan David berkelahi. Jerry melerai namun malah ia yang di hajar. Jenny akhirnya menarik tangannya Jerry agar lebih baik menjauh saja.


“Sialan kau David....” Ucap Brian sambil meninju wajah David.


“Kau yang brengsek Brian....” David menangkis tinju Brian dan membalas ke arah Brian.

__ADS_1


Keduanya baku hantam dan tak ada yang mau mengalah.


Rere melihat bingung, bahkan Rex dan Naomi heran kenapa dengan kedua pemuda tersebut.


Seorang guru datang dan masuk. Brian dan David pun berhenti berkelahi, keduanya di bawa ke kantor guru. Dan akhirnya suasana kelas kembali tenang. Semua siswa duduk di kursinya masing-masing dan mulai belajar.


Sampai usai pelajaran dan waktu pulang, namun Brian dan David tak kunjung keluar dari ruang guru.


Tapi saat Naomi dan Rex hendak pulang bersama, ia malah melihat David dan Brian bersama dengan tatapan saling bermusuhan.


Mereka masuk ke kelas dan mengambil tas masing-masing. Kemudian Brian berlalu pergi. Sedangkan David menatap ke arah Naomi sesaat. Naomi pun segera memanggil ke arah David.


“David ... tunggu!!!” Naomi berseru dan mendekati David. Rex di tinggalnya sebentar. David menghentikan langkahnya dan menoleh ke Naomi.


“Kau tak apa? Aku mencemaskan mu.” Naomi berucap di hadapan David.


“Aku duluan Nao....” David hendak berlalu pergi. Namun Naomi meraih tangannya David. Rex memperhatikannya dari tempatnya. Ada rasa tak suka yang di rasakan Rex saat melihat Naomi meraih tangannya David.


David menatap lembut ke arah Naomi. Ia tersentuh oleh perhatian Naomi.


“Makasih Nao.” David lalu memeluk Naomi. Naomi kaget namun ia terdiam sedangkan Rex merasakan kesal di hatinya.


“A-ada apa David?” Naomi dengan susah payah berucap karena David memeluknya dengan sangat erat.


David melepaskan pelukannya.


“Bisakah kau ikut denganku Nao?” ajak David.


“Baiklah.”


Naomi merasa David membutuhkan teman bicara. Naomi ingat bagaimana dulu David yang menemaninya dan menghiburnya saat ia sedih akibat sakit hati karena Rex. Oleh sebab itu Naomi ingin gantian menjadi teman bicara David untuk menghiburnya. Sepertinya David membutuhkan seseorang.


Naomi berjalan ke arah Rex.


Akhirnya Rex pulang sendirian. Di dalam mobil ia hanya diam. Ahmed yang menyetir melirik sesekali ke arah Rex. Ia pun menghentikan mobil dan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Kemudian melirik ke arah Rex.


Rex merasakan tatapan dari Ahmed. Ia pun menoleh ke arah Ahmed.


“Apa?”


“Kau kenapa? Apa masalah ke Turki yang membuatmu sangatlah gusar?” Ahmed bertanya dengan serius. Rex menatap Ahmed dengan serius juga.


“Naomi pergi dengan David tadi....”


Seketika Ahmed terkekeh sambil memegang perutnya. Ia merasa sangat lucu. Rex menatap heran.


“Kenapa?”


“Anda cemburu ya?”


“Bukan itu.”


“Lalu apa? Sudah jelas iya. Hehehe.”


Ahmed tersenyum dan bahkan cekikikan. Rex merasa kesal.


“Kau berani Ahmed?”


“Oh tentu saja tidak. Hamba akan diam.” Ahmed kembali menghadap ke depan namun ia tersenyum kecil. Ahmed menjalankan kembali mobilnya dan menuju pulang.


Lain hal dengan Naomi dan David. Saat ini keduanya sedang berada di sebuah tempat duduk yang ada di dekat taman sekolah. Suasana sunyi hanya mereka berdua. Naomi melihat ke arah David dan menunggunya berbicara.

__ADS_1


“Kau pasti heran kan kenapa aku dan Brian berkelahi?” David memulai ceritanya.


“Iya. Kalian kenapa? Apa ada masalah?” Naomi menunggu penjelasan David.


David menatap langit dan awan saat ini. Cuaca cerah dan sekarang musim semi. Bunga bermekaran dan angin sepoi-sepoi berhembus di dekat mereka. Cuaca cerah namun tak secerah hati David.


“Sewaktu kita liburan, tanpa sengaja aku menemukan Mamaku dan Papa Brian sedang....” David menggantungkan ceritanya.


“Kenapa Mamamu dan Papa Brian? Tapi tunggu dulu, setahuku Papa Brian bukannya sudah di bereskan Ahmed. Maksudku di jebloskan ke penjara.”


“Kau tahu Papa Brian masuk penjara, Nao?”


“Iya. Tahu.” Naomi sempat tahu dan dengar dari Ahmed saat Ahmed menceritakan semua yang ia lakukan terhadap Alvin Wu setelah penculikan Rex.


Saat itu Ahmed sendiri yang menjebloskannya. Bahkan semua usaha dan perusahaan Alvin Wu telah di sapu rata oleh Ahmed. Koneksi Ahmed sungguh luar biasa. Dalam sekejap Alvin Wu tak punya apa pun. Dan nasib Papa Rere dibiarkan, tak di sentuh dan tak di ganggu, namun sekarang ia telah di rumah saja berkurung diri dan trauma setelah kejadian tersebut. Syukur saja Mama Rere punya usaha toko hingga perekonomian mereka baik-baik saja. Namun untuk Alvin Wu dan Brian, Naomi heran bagaimana sampai sekarang Brian masih biasa saja dan terlihat tak ada masalah.


“Aku memergoki kalau Mamaku dan Papa Brian mempunyai hubungan khusus. Mereka menjalani kasih asmara dari belakang ku dan Brian. Saat itu Papa Brian sedang di penjara, dan meminta pada Mamaku untuk membebaskannya. Mamaku berupaya membebaskannya. Hingga akhirnya bebas. Ia bebas saat kita liburan sekolah. Dan semua usaha dan perusahaan Om Alvin sudah ludes tak bersisa namun Mamaku memberikan semua fasilitas enak. Aku tak tahu awalnya namun sekarang sudah tahu. Itu semua karena mereka sepasang kekasih. Dan yang hebatnya sudah lama mereka melakukan itu. Bahkan saat Papaku masih ada mereka sudah berselingkuh di belakang. Lalu Papaku sakit dan meninggal, mereka masih saja menjalin hubungan. Kemudian Mama Brian juga meninggal karena kecelakaan, dan ternyata pelakunya Papa Brian dan Mamaku. Saat aku mengetahuinya dan juga Brian mengetahuinya seketika kami menjadi musuh. Aku kecewa dan marah pada Mamaku.” David bercerita panjang lebar.


Naomi tentu saja kaget mendengarnya. Ia tak sangka kalau akan ada cerita seperti itu.


“Bagaimana kau mengetahuinya? Kapan memergokinya?” Naomi bertanya dengan kening berkerut.


David pun mencoba mengingat kejadian seminggu yang lalu.


Saat itu Brian, Jerry dan David sedang nongkrong bersama. Mereka pulang sampai larut malam. Orang tuanya berpikir mereka mungkin menginap di rumah Jerry. Mereka sering bermain dan menginap bersama di rumah temannya. Kadang di rumah Brian, kadang di rumah Jerry dan terkadang di rumah David. Jadi orang tuanya berpikir mungkin di rumah Jerry.


Usai kumpul-kumpul dan hangout bareng, ternyata Brian dan kawan-kawannya malah di bawa pulang ke rumahnya. Dan kebetulan saat itu Mia dan Alvin sedang bersama dan tengah melakukan adegan panas.


Brian, Jerry dan David masuk ke rumah Brian. Mereka hendak tidur di kamar Brian saja. Namun Jerry sudah pingsan di ruang tamu dan tertidur di sofa ruang tamu. Ia teler dan jatuh tertidur. David dan Brian masih terlihat segar bugar. David bermaksud ke toilet dan Brian menuju kamarnya. Namun baru saja Brian melangkah ke kamarnya, Brian mendengar suara desah yang menggoda.


Brian pun mendekat. Itu adalah kamar Papanya. David yang sudah selesai di kamar mandi juga menyusul Brian. Brian membuka pintu kamar Papanya yang kebetulan tak terkunci. Dan betapa kagetnya Brian melihat Papanya dan Mia sedang melakukan adegan panas.


“Papa!!!” teriak dan jerit Brian. Sontak saja membuat Alvin dan Mia kaget dan menghentikan aksi bejatnya. David mendengar suara Brian segera menyusul dan saat itulah David melihat Mamanya bersama Papa Brian.


Brian dan David begitu kecewa.


“Mama....” Keluh David. Mia melonjak kaget dan segera mencari pakaiannya. Ia segera berpakaian. David langsung pergi. Mia mengejar anaknya. Sedangkan Alvin dan Brian saling menatap dalam kebisuan.


David pulang dengan taksi dan Mia mengejar anaknya dengan mobilnya. Sampai rumah, David mengamuk dan marah. Saat Mia sampai rumah, suasana rumah sudah seperti kapal pecah. Mia mendekati David, namun David yang marah dan kecewa tak mau Mia mendekat. Mia sedih melihat anaknya begini. Mia berusaha menjelaskan namun David hanya diam tanpa ada respon.


Itulah yang membuat David diam di kamar dan membisu. Semenjak itu hubungannya dengan Mamanya kurang baik. David merasa kesal, sedih, kecewa dan marah. Semuanya campur aduk menjadi satu. Di saat ia juga sedih karena cintanya belum terbalas Naomi, sekarang malah melihat Mamanya ada main dengan Papanya Brian.


Di tempat Brian, Brian dan Alvin juga bersitegang. Bahkan Brian meminta penjelasan. Alvin hanya menjawab dia memang sudah lama berhubungan dengan Mia. Hanya itu saja. Yang lainnya tak mau ia jelaskan.


Dan karena itu saat sekolah di mulai kembali, David tak mau masuk sekolah. Karena Ia merasa pasti akan berjumpa dengan Brian. Ia tak tahu harus bagaimana dengan Brian. Namun karena ucapan Naomi, akhirnya David sekolah kembali.


Dan yang mengejutkan saat jam istirahat, Brian menghampiri David. Dikira David mereka akan tetap berteman walau ada kejadian antara Mamanya dan Papa Brian. Namun ternyata Brian datang dengan amarah.


“Hey, Sialan. Dasar anak pelacur.” Brian terlihat marah dan tak suka pada David.


“Apa maksudmu Brian?” David bingung.


Brian lalu berbisik ke David.


Bersambung....


Maaf jika kepanjangan. :D Author kejar target kata.


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 dan hadiahnya :)


Klik like, klik vote, klik favorit dan kasi komennya.

__ADS_1


Thanks. Love you all.


No plagiat.


__ADS_2