Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 62.


__ADS_3

Ketiga putri berdesakan ingin melihat, mereka sembunyi di balik tanaman hias. Rex memperhatikan ada yang aneh, ia lalu melihat dan ketiga putri malah jatuh karena berdesakan. Mereka jatuh di hadapan Rex.


Seketika Rex kaget melihat ketiga putri jatuh di hadapannya. Amira, Sonia dan Miranda mendongak ke arah Rex. Terlihatlah wajah tampan milik Rex. Seketika ketiga putri terkesima akan ketampanan Rex. Rex membungkuk dan menatap ke arah ketiga putri.


“Kalian siapa? Kalian tak apa kan?” Rex agak cemas juga melihat ketiga gadis di depannya jatuh. Amira, Miranda dan Sonia segera hendak bangkit dan sebuah uluran tangan pun terulur. Rex mengulurkan tangannya hendak memberikan bantuan.


Ketiga putri satu persatu di bantu Rex bangkit. Setelah ketiganya berdiri dengan kepala menunduk di hadapan Rex, Rex pun mengerutkan keningnya.


“Siapa kalian?” tanya Rex kembali.


“Aku Miranda yang mulia.”


“Aku Sonia yang mulia.”


“Dan aku Amira, yang mulia.”


Ketiga putri membungkuk memberi hormat. Rex heran kenapa mereka mengatakan kata “Yang mulia” padanya. Bukannya dia baru tiba tadi siang. Dan esok dia baru akan memperkenalkan diri.


“Kenapa berkata Yang mulia kepada ku?”


Amira melihat ke arah Rex.


“Loh, gosip kedatangan Anda sudah menyebar ke seluruh istana ini. Kami putri dari istana bagian selatan. Sengaja datang ke bagian istana timur demi menyapa Anda yang mulia.” Amira menjelaskan kemudian kembali menunduk.


“Jadi kalian semua adalah para putri?” Rex memandang satu persatu ke arah para putri. Terlihat jelas ketiga putri memang cantik semua. Bahkan mempunyai ciri khas masing-masing. Amira dengan rambut panjang bergelombang berwarna emas dan bola matanya coklat, Miranda dengan rambut coklat lurusnya dan bola mata birunya, sedangkan Sonia rambut hitam bergelombang dengan bola mata berwarna hijau. Ketiga putri memiliki kecantikannya masing-masing.


“Iya benar, yang mulia. Kami para putri dari istana ini. Untuk para selir dan harem ada di bagian utara semuanya. Khusus bagian selatan untuk para putri dan keturunan raja. Dan untuk raja dan para pangeran dan putra mahkota di bagian timur di istana ini. Dan untuk para kesayangan baginda dan istri sah raja akan ada di bagian barat di istana. Semua tempat sudah ada pengawal dan para pelayan dan dayang yang melayani. Bahkan setiap tempat mempunyai tempat permandian, istirahat, belajar dan bermain serta dapur masing-masing.” Sonia menjelaskan juga di hadapan Rex dengan pandangan menunduk.


Rex baru tahu istana begitu luas. Artinya yang di kenalkan Ahmed tadi belum semuanya. Bahkan taman istana aja ada di setiap bagian istana.


“Kalian tak perlu menunduk terus. Bersikaplah biasa saja padaku.” Pinta Rex.


Amira, Sonia dan Miranda saling menatap. Namun akhirnya mereka mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Rex.


“Yang mulia, Anda terlihat masih muda. Umur berapa saat ini?” Miranda tak tahan hendak tahu.

__ADS_1


Rex menimbang. Sepertinya usianya tak jauh berbeda dengan ketiga putri tersebut. Namun ia tak mau menjawabnya.


“Aku rasa tak perlu kalian ketahui. Kalian kembali lah ke istana bagian selatan. Tak baik jika seorang putri berkeliaran malam-malam. Oh iya. Kita sodara berarti ya.”


“Jika di lihat dari darah kakek baginda sultan Hasan Mustapa iya. Namun jika dari ayah dan ibu sepertinya lain ayah dan lain ibu.” Amira kembali bersuara. Namun Sonia dan Miranda mencubit lengan Amira hingga ia meringis kesakitan.


Rex pun berpikir. Ia kan dari pangeran Zaki dan ibunya Zahara yang diasingkan, karena neneknya Zainab telah di buang saat hamil dari istana. Jadi jelas mereka beda ayah dan ibu. Namun satu kesamaannya yaitu sama keturunan sultan.


“Sudah malam. Kembalilah kalian. Oh iya, nama ku Rex.” Rex lalu tersenyum dan berbalik arah kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Miranda, Sonia dan Amira terkagum-kagum melihat ketampanan Rex apalagi saat tersenyum bisa membuat hati meleleh. Jika saja tak ada hubungan darah mungkin saja mereka mau dengan Rex. Tapi kalau di pikirkan mereka tak satu ayah dan tak seibu, mungkin kah bisa? Dari pada pusing ketiga putri pun segera kembali ke tempat mereka menuju kamar masing-masing.


Esoknya.


Ahmed sudah bersiap pagi-pagi sekali. Ia datang ke kamar Rex dan menyediakan pakaian kebesaran kerajaan untuk Rex. Rex menolak. Namun sudah adat dan peraturan istana, akhirnya Rex menurut.


Hasan Mustapa yang sedang lemah duduk di singgasananya. Semua para pejabat dan para pasha dan perdana menteri datang juga beberapa panglima besar kerajaan juga ada hadir. Mereka sudah mendengar desas desusnya, sehingga semua berkumpul hendak melihat/menemui pangeran. Satu-satunya keturunan sultan yang masih hidup.


Pintu aula di buka, semua mata melihat ke arah pintu yang terbuka. Ahmed masuk bersamaan dengan Rex. Semua melihat ke arah Rex. Rex dan Ahmed berjalan menuju ke arah Sultan Hasan Mustapa kakeknya Rex. Hasan Mustapa memeluk Rex. Rex dan Ahmed berdiri di samping Hasan Mustapa.


Semua bertepuk tangan dan mengucapkan hidup baginda sultan Hasan Mustapa dan hidup pangeran Rex  Mustapa.


“Dan hari ini kita  akan menebarkan berita gembira ini dengan memberikan beras dan bahan pangan lainnya ke masyarakat turki dan semua pelayan, dayang, penjaga dan semua yang ada di istana akan mendapatkan madu juga keberkahan koin emas. Bagikan semuanya sama rata. Malam ini akan di adakan pesta penyambutan sekaligus peresmian pangeran kita.” Titah Hasan Mustapa kepada semuanya.


“Baik, baginda sultan.” Ucap semuanya.


Usai berkata tersebut, satu persatu para pejabat, para pasha dan perdana menteri dan panglima memberikan hormat kepada Hasan Mustapa dan Rex juga.


Dan benar saja. Titah raja terus di laksanakan. Semua yang disuruh dibagi langsung dibagikan. Malam harinya langsung di adakan pesta besar dan jamuan di istana untuk Rex. Rex pun kini hadir. Ia duduk di dekat kakeknya dan Ahmed berada di samping Rex.


Rex sebenarnya merasa lelah, ia capek dan ingin menghilang saja. Namun tak bisa. Beberapa penari berlenggak lenggok menari mengikuti musik yang ada. Makanan dan minuman enak terhidang. Dan begitu banyak tamu yang hadir juga. Para putri pun ada. Semuanya sedang berkumpul di aula utama untuk berpesta dimana begitu luas dan ada taman di dekat aula tersebut. Banyak bunga-bunga indah yang menghiasi taman tersebut.


Bukan hanya para putri dari bagian selatan yang ada, para selir dan istri-istri sah baginda terdahulu hingga terakhir pun hadir yang ada dari bagian barat istana. Juga para harem dari bagian utara pun hadir. Para pejabat, pasha dan perdana menteri dan para panglima dan jenderal juga ada. Semuanya hadir lah. Termasuk beberapa tamu dari negara luar pun hadir yang kebetulan bertandang ke negeri mereka di sambut juga dengan suka cita. Semua berpesta bergembira dan hadir semua karena ingin melihat Rex sang pangeran keturunan Sultan.


Rex hendak pergi dengan alasan ke kamar mandi, padahal ia merasa jenuh dan terlalu ramai baginya. Ia pergi menghindar ke taman di dekat aula. Rasanya lebih tenang di tempat tersebut. Ia kemudian teringat pada kakeknya Dicky Han dan juga Naomi. Ia mengirim pesan melalui pesan chatnya. Ia lupa mengabari Naomi, semoga gadis tersebut tak marah.

__ADS_1


Saat hendak mengirim pesan, seseorang jatuh dari atas dan Rex kebetulan melihat dan menangkapnya. Ternyata dia seorang gadis bermata coklat. Namanya Anastasya. Rex menangkapnya tepat dan jatuh dengan posisi seperti menggendong ala style bridal.


Gadis tersebut menutup mata. Ia pikir pasti akan jatuh sakit, namun kok tak sakit. Saat membuka mata ternyata ada Rex di hadapan matanya. Rex dan Anastasya saling menatap satu sama lain.


“Kau tak apa kan?”


Anastasya hendak segera turun dan Rex menurunkannya.


“Aku baik. Terima kasih. Kau siapa?”


“Hah? Seharusnya aku yang tanya kau siapa?”


“Aku Anastasya. Kau?”


“Aku adalah....” belum selesai Rex menyebutkan namanya, Ahmed datang menghampiri.


“Pangeran ... gawat ... kakek Anda, terkena tembakan.” Ahmed datang tiba-tiba dan segera memanggil Rex. Rex pun melupakan gadis tersebut. Ia tinggalkan dan segera mengikuti Ahmed.


Sedangkan Anastasya termenung.


“Pangeran???” gumam Anastasya. Ia lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia kaget dan sekarang menyadari kalau ia telah bertemu satu-satunya pewaris keturunan anak sultan.


Bersambung....


Sang kakek terkena tembak. Siapa yang tega menembak kakek malang yang sudah sakit tersebut? Anastasya itu siapa juga?? kok tiba-tiba nongol di istana.


Saksikan terus kelanjutannya ya kakak reader semua :) :D


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)


Klik like, klik vote, klik favorit dan kasi komennya ya :D


Thanks. Love you all :D


No plagiat ya :D

__ADS_1


__ADS_2