Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 81.


__ADS_3

Rex mengulurkan tangannya dan Naomi melihat ke arah Rex yang sedang menatapnya.


“Ikutlah bersamaku Nao, kita akan bersama ke Turki. David pergi ke Amerika, Rere pergi ke Kanada, Mamamu sudah meninggal, dan Kakekku juga sudah meninggal. Sudah tak ada apa pun untuk kita di sini. Jika kita kangen maka kita akan berkunjung kembali ke makam kakekku dan makam Mamamu.” Rex menatap Naomi dan masih terulur tangannya ke arah Naomi.


“Aku ....” Naomi masih ragu. Karena dia belum tahu apakah harus ikut atau tidak.


“Ikutlah bersamaku sayang.” Rex berkata kembali dan akhirnya Naomi menyambut uluran tangan Rex. Naomi pun menganggukkan kepalanya. Rex senang dan mereka saling berpegangan tangan. Keduanya tersenyum bahagia.


Tak lama setelah mereka lulus dan sudah memutuskan ke Turki, Rex pun menyuruh Tommy menyiapkan semuanya. Rex menyuruh Tommy membelikan tiket pesawat ke Turki secepatnya. Dan esoknya pun mereka telah pergi ke Turki.


Sampai di Turki, semuanya menyambut kedatangan Rex. Naomi dan Tommy yang ikut serta bersama Rex pun mendapatkan penyambutan. Ahmed dan Sonia menyambut di depan istana. Mereka tersenyum melihat kedatangan Rex.


Rex membawa Naomi masuk ke dalam istana. Begitu takjubnya Naomi melihat istana yang megah dan besar tersebut. Halamannya sangatlah luas.


“Kau beneran anak sultan ya Rex?” Naomi masih terkagum-kagum.


“Iya. Beneran. Bahkan akulah sekarang Sultan. Ayo.” Rex meraih tangannya Naomi memasuki istana.


Semua mata memandang ke arah Rex dan Naomi. Mereka heran, siapa yang dibawa masuk ke dalam istana oleh Rex? Gadis manis dan cantik. Hanya Ahmed yang mengenalinya. Tommy memberi hormat ke Ahmed dan Ahmed menyuruhnya kembali ke tempatnya karena tugasnya sudah selesai. Tommy pun pamitan dan memberi hormat kepada Rex dan Ahmed. Kini hanya tinggal Rex, Naomi, Ahmed dan Sonia.


“Bagaimana istana Ahmed?” Rex duduk di singgasananya dan Naomi duduk di sampingnya. Kursi sultan tersebut sangatlah besar. Bahkan dua orang bisa duduk di situ.


Ahmed hendak melarang karena itu hanya kursi Sultan tapi ya sudah terjadi maka dia diam saja.


“Semuanya baik saja Tuanku.” Ahmed menjawab dengan membungkuk hormat.


Sonia memandang ke arah Naomi. Sonia bisa melihat kalau Naomi adalah keturunan Jepang. Terlihat dari kulitnya putih bersih dan mata Naomi yang seperti orang Jepang.


“Baguslah. Oh iya. Putri Sonia dan Ahmed terima kasih telah menjaga kerajaan ini.”


“Iya Yang Mulia.” Sonia dan Ahmed memberi hormatnya ke Rex.


“Oh iya. Ini Naomi Yamaguchi. Naomi adalah kekasihku.” Rex memperkenalkan Naomi. Agak malu juga Naomi di katakan seperti itu di hadapan orang lain. Bahkan Rex masih saja menggenggam tangannya Naomi.


Sonia dan Ahmed kemudian tersenyum.


“Oh ... pantas saja dari tadi Anda terus menggenggam tangannya. Sudah resmi kalau begitu. Hehehe.” Ahmed jadi senyum-senyum. Sonia pun tersenyum, karena sudah terjawab pertanyaan yang terus muncul di kepalanya.


“Selamat Yang Mulia. calon Permaisuri telah ada sekarang.” Sonia memberi selamat.


“Hah? Apa? Permaisuri?” Naomi menatap ke arah Rex. Rex pun menatap ke arah Naomi.


“Iya sayang. Sekarang tentu saja kau permaisuri. Eh masih calon permaisuri karena belum menikah.” Rex tersenyum.


Naomi berdiri dan menarik tangannya Rex menjauhi yang lainnya. Tak ada yang begitu berani menarik tangan sultan. Hanya Naomi yang begitu pada Rex. Sonia dan Ahmed jadi saling pandang. Tapi Ahmed tak begitu kaget, karena dia tahu bagaimana kehidupan Rex dan Naomi sebelumnya. Ahmed menatap Sonia karena Sonia kaget dan melihat ke arahnya. Jadi Ahmed membalas menatap juga.


Naomi dan Rex sudah jauh dari yang lainnya. Naomi menatap ke arah Rex.


“Ada apa?” tatap Rex bingung melihat Naomi.


“Aku belum siap menikah Rex. Aku masih mau kuliah. Seharusnya kau biarkan aku kuliah di Jepang.” Naomi malah mulai panik.

__ADS_1


“Hahaha ... aku pikir apa? Ternyata itu. Tenanglah, kita tak langsung menikah. Aku juga akan kuliah di Turki ini. Kau dan aku bisa kuliah di sini, sekalian belajar tentang istana dan membiasakan diri di istana ini Nao. Eh, mulai sekarang aku hanya akan memanggilmu sayang.” Rex berucap sambil menatap dan tersenyum pada Naomi.


“Sayang?”


“Iya. Sayangku. Bukankah kita bukan teman kecil lagi, walaupun dulunya kita teman dari kecil tapi sekarang sudah sepasang kekasih. So ... sayang adalah panggilan yang tepat. Panggil aku juga sayang ya.” pinta Rex.


Naomi merasa geli dengan sebutan itu. Dia dan Rex saling memanggil kata sayang. Rasanya geli dan malu.


“Tidak lah. Rasanya memalukan. Seperti panggilan dahulu saja.” Naomi menolak.


“Ya elah. Kalau gitu apa bedanya dong. Katanya sepasang kekasih masak panggil  aku dan kau.”


“Maksudnya Rex dan Naomi begitu.”


“Gak mesra dong. Saling sebut sayang aja.”


“Enggaklah.” Naomi masih tak mau. Dan Rex merasa pusing, kenapa malah masalah sebutan saja jadi ribet begini.


“Lalu maunya apa?” tanya Rex akhirnya mengalah.


“Naomi dan Rex saja.”


“Seharusnya pun aku dipanggil Yang Mulia loh, tak boleh nama lagi sekarang.” Rex menatap Naomi dengan menaikan sebelah alisnya.


“Jadi aku harus menyebutmu Yang Mulia gitu, atau Sultan gitu, atau Tuanku seperti Ahmed memanggilmu. Heemmm ....” Naomi memandang ke arah lain. Ribetnya tinggal di istana. Kalau tahu begini maka Naomi tak mau ikut. Dia mau hidup dengan bebas tanpa ada aturan.


Rex mulai memahami perasaan dan apa yang dipikirkan oleh Naomi. Ia merengkuh wajahnya Naomi dan membawanya melihat dirinya.


“Kelihatannya sangat saling menyayangi ya” Sonia berujar pada Ahmed.


“Iya. Kalau Putri mau, aku bisa menyayangimu juga seperti itu.” Ahmed keceplosan bicara.


“Hah? Apa?” Sonia melihat ke arah Ahmed. Ahmed kabur dari Sonia. Sonia mengejar.


“Tunggu Ahmed. Katakan dengan jelas.”


“Maafkan hamba Putri. Hamba tak berani. Hamba salah berucap tadi.”


Sonia menggeleng. Bukan itu yang mau dia dengar tapi Ahmed langsung melarikan dirinya. Sonia malah jadi heran dengan Ahmed yang langsung main kabur saja.


Rex membawa Naomi ke ruangan kamar yang sudah di siapkan. Koper Naomi sudah di letakan di ruangan kamarnya. Kamar Naomi sungguh luas sekali dan ranjangnya sungguh elegan serta ranjang yang empuk tentunya. Di dekorasi dengan sangat mewah dan menampilkan gaya anggun untuk seorang wanita. Namun sayang, Naomi sebenarnya tak terlalu memedulikannya. Karena dia gadis tomboi sebenarnya.


“Istirahatlah, jika perlu apa pun katakan saja pada pelayan dan penjaga yang ada di dekat kamarmu yang berjaga di luar.” Rex mengecup puncak kepala Naomi dan Naomi mengangguk.


Rex pergi meninggalkan Naomi agar bisa istirahat. Rex sendiri ke kamarnya untuk istirahat juga.


Sonia kembali ke istana para putri. Disana Almira dan Miranda sudah menunggu kedatangan Sonia. Kedua putri tersebut sudah mendengar kedatangan Rex, dan mereka mendengar kalau Rex membawa seseorang. Maka saat melihat Sonia kembali, Almira dan Miranda sudah heboh kemudian mendekati Sonia.


“Kak?” Almira melihat ke Sonia.


“Hem ... ada apa? Sudah dengar gosip ya?” Sonia sudah dapat menebaknya.

__ADS_1


“Hebat sekali kakak sudah tahu. Jadi bagaimana?” Miranda bertanya ke Sonia.


“Tadi Yang Mulia Rex membawa seorang gadis. Namanya Naomi Yamaguchi.”


“Naomi Yamaguchi?” Almira dan Miranda saling tatap.


“Iya. Sepertinya dia keturunan Jepang. Di lihat namanya dan orangnya sudah jelas orang Jepang.”


“Wah ....” Almira dan Miranda membuka mulutnya dan berbentuk O besar.


“Cantik gak kak?” Miranda menjadi kepo.


“Cantik tapi kurang Feminim. Tapi masih cantik dan manis. Dia kekasihnya Yang Mulia Rex.”


“Hah? Kekasihnya? Jadi dia bakal jadi permaisuri dong.” Almira dan Miranda kembali saling tatap.


“Bisa jadi. Jika dilihat keduanya saling sayang dan cinta.”


“Wah ... pengen dong. Ah, kapan pangeran ku datang menjemput dan membawa cinta untukku.” Almira berkhayal.


Miranda dan Sonia malah terkekeh.


Dasar Almira yang masih kecil dan yang paling muda. Dia mulai berkhayal.


“Jangan berangan-angan Almira. Kita pasti sudah punya jodohnya. Biasanya kan gitu, kita di jodohkan. Jika bukan anak menteri atau anak para bangsawan lainnya yang akan di nikahi kita dan itu atas ijin sultan kita.” Miranda menjelaskan.


“Apa tradisi itu tak bisa di ubah? Kalau aku mencintai pemuda lain bagaimana?” Almira berucap lagi membuat Sonia tertegun dan melamun. Sonia jadi teringat perkataan Ahmed tadi.


Sering kali Sonia melihat Ahmed berada di sekitar kediaman para putri, dan sering kali Sonia melihat Ahmed menatap ke arahnya dengan tatapan yang nampak lain. Baru kali ini Sonia sadar kalau itu pasti karena ucapan Ahmed tadi. Tapi kenapa Ahmed kemudian menyangkalnya.


Para putri pun kembali ke kamarnya masing-masing.


Malam harinya, Sonia masih terpikirkan. Dia tak dapat tidur dengan nyenyak. Sonia keluar kamar, dia berjalan-jalan sekitar taman istana. Dan betapa kagetnya saat Sonia melihat Ahmed ada di sekitar taman istana juga. Sonia mendekat.


“Ahmed ....” Sonia memanggil Ahmed. Ahmed yang sedang melihat bulan dan bintang menoleh ke arah Sonia.


Bersambung....


Wah, Ahmed ... apa mungkin cinta Ahmed ke Sonia tersampaikan? Sedangkan Sonia adalah seorang putri.


Saksikan terus kelanjutannya ya kakak reader semua :)  :D


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)


Klik like, klik vote, klik favorit dan kasi komennya ya :D


Thanks. Love you all :D


No plagiat ya :D


Komentarnya mana kak Komentarnya hehehe :D 😂 Kasi komen yang positif ya kak :D🤗

__ADS_1


Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih kak. :D🤗🤗


__ADS_2