Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 66.


__ADS_3

“Naomi....” gumam Rex dan hape terlempar ke arah Ahmed. Dengan kaget Ahmed segera menangkap hape tersebut. Syukurlah Ahmed cekatan dan gesit, hape pun berhasil di tangkapnya.


Rex tentu saja kaget. Baru saja ngomongin Naomi, perjodohan dan harem segala, eh Naomi langsung menelpon. Saking kaget malah hapenya terlempar. Syukur saja di tangkap oleh Ahmed.


Ahmed menatap bingung. Nada dering hape masih berdering. Ahmed pun menatap Rex dan menyerahkan hapenya. Rex mencoba menenangkan dirinya. Ia lalu menerima panggilan tersebut.


“Halo Nao.” Jawab Rex.


“Halo Rex, kenapa lama sekali menjawabnya?" Naomi di seberang sana menelepon.


“Maaf. Ada apa Nao?”


“Aku hanya kangen, kau jarang sekali menelepon soalnya. Chat pun hanya sesekali.”


“Maafkan aku. Disini sangatlah sibuk. Kakek Hasan Mustapa terkena tembakan, jadi aku menggantikan semua tugas kakek.” Rex mencoba menjelaskan. Terdengar helaan nafas panjang dari seberang sana.


“Kau akan lama pulang kah, Rex?”


“Aku belum tahu, Nao.”


“Berhati-hatilah dan jaga dirimu.”


“Ya.”


“Segeralah kembali Rex.”


“ I hope too.”


“Miss you.”


“Miss you too, Nao.” Rex tersenyum dan Naomi di seberang sana pun tersenyum.


Telepon pun terputus karena keduanya saling say good bye. Setelah Rex mematikan teleponnya, seorang penjaga datang dan berbisik ke Ahmed. Ahmed terlihat panik kemudian penjaga pun pamit undur diri.


Rex bisa melihat wajah panik Ahmed. Ahmed pun datang mendekat ke arah Rex.


“Maaf Tuanku, hamba mau melaporkan sesuatu.”


“Apa itu?”


“Tahanan di ruang penjara bawah tanah, si pelaku penembakan telah tewas, padahal interogasi dengannya belum selesai.”


Rex membelalakkan matanya, menatap ke arah Ahmed.


“Bagaimana ia tewas?”


Ahmed menggeleng.


“Kenapa jadi tak becus begitu. Kau segera selidiki Ahmed. Pasti ada yang membunuhnya dengan sengaja, agar kita tak mendapatkan informasi apa pun. Selidiki segera.”


“Baik Tuanku.”


Ahmed pun undur diri. Kini Rex sendirian kembali. Ia pun kembali ke dalam, ke meja kerja dimana banyak laporan yang harus di bacanya dan diperiksa olehnya.


Ditempat lain, di sebuah bar.


Paul memasuki tempat yang sudah disediakan dengan khusus, sebuah ruangan tertutup. Beberapa anak buah berjaga di luar dan Paul masuk. Seseorang telah menunggu Paul di dalam ruangan tertutup tersebut. Paul masuk dan memberi hormat pada orang yang ada di hadapannya.


“Yang mulia.” Paul membungkuk.


Seseorang yang berpakaian yang sangat elegan dan terkesan sangat menampilkan aura kejamnya duduk dengan santainya. Ia memakai penutup wajah. Ia pun menyuruh Paul untuk duduk. Paul pun segera duduk.


Paul duduk berhadapan dengan orang tersebut. Dua gelas teh sudah tertata di atas meja mereka untuk di nikmati.

__ADS_1


“Maaf kalau hamba datang terlambat Yang mulia.”


“Tak masalah. Bagaimana kelanjutannya?”


“Hasan Mustapa tertembak, namun masih hidup. Ia selamat. Dan benar, ternyata ada seorang pangeran. Semua orang melihat ia memakai kalung keturunan Sultan tersebut. Artinya ia benar anak dari pangeran Zaki keturunan Sultan Mustapa.” Paul melaporkan ke orang yang ada dihadapannya.


“Bunuh dia, seperti kita membunuh semua keturunan sultan. Semua pangeran harus di binasakan. Satu lagi, bunuh saja si tua Hasan Mustapa itu. Sudah terlalu lama kita biarkan. Jika terus berlanjut, dia akan berulah lagi. Seperti sekarang ia telah menghadirkan seorang pangeran.” Senyum jahat terukir di wajahnya.


“Baik Yang mulia. Namun apa tindakan kita? Kelihatan sekarang semua penjagaan di perketat. Aku mempunyai ide, memakai putri ku mendekati sang pangeran kemudian saat lengah ia kita bunuh.”


“Bagus. Lakukan Paul. Kau memang partner terbaik.”


“Tentu Yang mulia. Seperti kesepakatan kita dahulu. Saat kekuasaan di tangan Anda, maka separuh kekuasaan akan Anda berikan kepada hamba.” Paul tersenyum.


“Iya.” Ucapnya di hadapan Paul dengan Senyuman jahatnya kembali. Namun dalam hati ia berucap kembali : “Dasar bodoh, itu hanya akan dalam mimpi mu saja. Kau hanya ku manfaatkan. Mana ada penguasa di kerajaan menjadi dua orang. Tentu saja hanya untuk ku seorang. Setelah ku kuasai, maka kau akan ku singkirkan, Paul.” Ia kembali tersenyum sambil meminum teh di hadapannya. Paul juga ikut menikmati tehnya.


“Segera laksanakan rencananya, Paul. Dan laporkan semua kejadiannya.”


“Baik Yang mulia.”


Kedua orang tersebut saling membicarakan rencana dan kerja samanya. Dan Paul sama sekali tak sadar telah dimanfaatkan juga.


***


Anastasya sama sekali tak bisa tenang semenjak tahu rencana Papanya. Ia tak mau terlibat namun tak mau juga Papanya bakal di hukum karena kejahatannya. Siapa yang telah menghasut Papanya hingga mau berkhianat? Anastasya tak habis pikir. Selama ini mereka sudah hidup enak, apalagi yang membuat Papanya kurang dan tak puas. Anastasya merasa pusing bukan kepalang. Dan kini ia malah ke istana, ingin bertemu Rex. Rex sedang berjalan di sekitar koridor istana. Rex melihat Anastasya ada di sekitar taman istana di bagian timur. Terlihat mondar mandir dan kebingungan. Rex pun melangkah mendekat.


Anastasya masih bingung harus bagaimana. Saking tak sadarnya, ia tak tahu kalau Rex sudah di dekatnya. Ana hendak mengatakan kejujuran namun ia takut hukuman. Sekarang ia menyesal telah ke istana. Ia mau berbalik dan pulang saja. Saat berbalik, Ana malah melihat Rex dan ia terkejut.


“Aahh ... Anda Pangeran. Maafkan hamba.” Refleks Ana langsung hormat membungkuk, namun sebelumnya ia sempat berteriak.


Rex melihat Ana dengan berkerut. Ia melihat ada yang aneh dengan gadis tersebut.


“Kau sedang apa di sini?”


“Ada keperluan apa?” Rex terlihat formal.


“Mau ... mau ... aku....” Ana jadi bingung harus apa dan bagaimana. Ia jadi menyesal telah datang ke istana.


“Apa? Kalau masalah perjodohan kembali, maaf, aku tak bisa.” Rex tegas sekali menolak perjodohannya. Ana terlihat sedih.


“Tak perlu membungkuk. Berdirilah dengan tegak.” Sambung Rex kembali.


Ana pun berdiri tegak melihat ke arah Rex.


“Apa anda membenci aku?” Ana terlihat murung. Rex melihat ke arah gadis tersebut.


“Tidak. Aku hanya sudah punya seseorang saja.” Rex akhirnya memakai perkataan tersebut.


Ana menatap Rex dengan mata membulat sempurna.


“Seseorang? Lalu kenapa tak disampaikan ke baginda Hasan Mustapa dengan jujur.”


“Dia tak disini namun sedang sekolah. Ketahui, aku di istana juga sambil belajar. Melakukan tugas kakek dan belajar seperti anak sekolah juga. Aku terlalu muda untuk hal seperti itu.”


“Aku juga masih sekolah. Namun sekolah di rumah. Papa bilang agar lebih aman. Tapi aku ingin seperti yang lain yang pergi ke gedung sekolah dan bertemu banyak teman. Jika hanya belajar dan sekolah di rumah hanya sendiri. Begitu bosan. Aku ingin dunia luar dan kebebasan.” Anastasya terlihat sedih kembali.


“Homeschooling?”


“Iya Tuanku.” Ana mengangguk.


“kau pasti kesepian ya. eh, sebentar kau panggil aku pangeran, nanti Yang mulia lalu sekarang Tuanku, mana yang benar? Jangan semua. Pilih satu saja. Atau kau panggil saja aku Rex. Bukankah kita seumuran? Tahun ini aku kelas 3 SMA.” Rex menjadi tak formal lagi dan terlihat lebih santai berbicara sekarang.


“Jika, hanya panggil nama aku tak berani.” Ana menunduk.

__ADS_1


“Namamu siapa? Maaf kalau aku lupa.”


“Anastasya. Panggil saja Ana.” Ana tersenyum. Ia terlihat manis dan cantik jika tersenyum.


“Nama ku Rex Royce Han. Namun disini namaku Rex Mustapa yang diberikan oleh kakek ku disini .”


“Baginda Hasan Mustapa?” Ana memperjelas.


“Iya. Dia kan kakek dari kakek ku di Turki ini. Sedikit pusing dijelaskan. Bahkan aku sendiri pusing, dan aku tak pernah menyangka kalau nasibku akan begini. Kalau boleh jujur, aku mau kembali ke kehidupanku dahulu saat sudah bertemu Ailen.” Rex mengingat masa Ailen dan Naomi bersama dirinya.


Ana berkerut dan tak mengerti.


“Ailen? Apakah dia gadis yang Anda sukai?” Ana bertanya.


Rex tertawa mendengar pertanyaan dari Anastasya.


“Bukan, dia hanya seorang teman dari tempat yang jauh.”


“Lalu seseorang yang Anda sukai tadi yang Anda bilang sudah ada, siapa?” Ana sangat penasaran.


“Dia tak di sini juga. Namun di tempat lain, awalnya kami hanya teman dari masa kecil. Tapi sekarang sudah berubah perasaan yang terjadi antara kami berdua.”


“Menjadi saling suka begitu?”


“Bisa di bilang begitulah.” Rex agak bingung juga menceritakannya. Namun anehnya kenapa ia malah cerita pada Anastasya. Ia bahkan baru mengenal gadis tersebut.


“Nama gadis itu?” Ana senyum di hadapan Rex, dan ia terus bertanya karena penasaran.


“Namanya Naomi.” Rex tersenyum pula yang membuat Ana terpana melihat senyuman dari Rex.


Di lain tempat.


Naomi bersin-bersin. Dan ia bingung tak tahu kenapa ia bersin-bersin. David datang mendekat.


“Kenapa?” tatap David.


“Achoo....!!!” Naomi kembali bersin. Ia menoleh ke David.


“Tak tahu. Tiba-tiba aku bersin.” Naomi mengambil tisu dan menutup hidung dan mulutnya. Ia bersihkan. Kebetulan ia memiliki tisu di tasnya.


“Gak sakit kan?” David mulai cemas.


“Tidak. Aku tak sakit. Ayo kita pulang saja. Sudah waktunya pulang sekolah.” Naomi mengajak David pulang, pulanglah mereka bersama-sama.


Kembali ke Rex dan Anastasya.


Anastasya tak bisa melepas pandangannya dari Rex. Ia begitu terpana akan kekagumannya dan ketampanannya Rex. Mata Anastasya berbinar-binar. Tanpa sadar ia berucap di hadapan Rex.


“Aku menyukaimu.” Anastasya berucap pelan dan lembut namun terdengar jelas di telinga Rex karena jarak mereka yang sangat jelas dekat. Rex pun menoleh ke arah Anastasya. Rex kaget mendengarnya.


Bersambung....


Lupakan perasaanmu Ana, kau tak bisa berharap. Lagian ingatlah perbuatan jahat Papamu, mungkin tak akan bisa di terima oleh Rex dan Hasan Mustapa.


Saksikan terus kelanjutannya ya kakak reader semua 🤗 😊 :D


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)


Klik like, klik vote, klik favorit dan kasi komennya ya :D


Thanks. Love you all :D


No plagiat ya :D

__ADS_1


__ADS_2