Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 82.


__ADS_3

“Ahmed ....” Sonia memanggil Ahmed. Ahmed yang sedang melihat bulan dan bintang menoleh ke Sonia.


Awalnya Ahmed sedang kebingungan, karena dia teringat perkataan tadi siang saat dia ucapkan pada putri Sonia. Ahmed takut rasanya. Dia sadar kalau dirinya hanya seorang pengawal istana. Walaupun bisa dibilang Ahmed adalah tangan kanan Rex tapi tetap saja dia adalah bawahan Rex. Seorang bawahan bermimpi berpasangan dengan seorang putri adalah hal yang sangat mustahil.


Kini dia kebingungan di taman sambil memandang bulan dan bintang. Ahmed sedang memikirkan cara bagaimana nanti kalau bertemu putri Sonia kembali. Dia harus bersikap bagaimana? harus memberikan alasan apalagi agar Sonia percaya. Ah, dasar lidah sial ini, kenapa keceplosan ngomong. Ahmed menyesalinya.


Saat sedang melamun dan berpikir, Sonia datang mendekat dan memanggil Ahmed.


Ahmed menoleh ke asal suara, dan betapa kagetnya dia melihat putri Sonia ada di dekatnya. Ahmed segera membungkuk hormat.


“Tak perlu memberi hormat, Ahmed. Berdiri tegak lah.” Sonia berdiri di dekat samping Ahmed.


Ahmed jadi gugup. Dia bingung hendak mengatakan apa. Begitu juga dengan putri Sonia. Sonia hendak bertanya tapi dia bingung hendak mengawalinya bagaimana.


Keduanya terdiam dan kemudian sesekali saling pandang. Saat kedua pasang mata saling beradu, cepat-cepat berpaling ke arah lain. Karena hanya diam saja, tak ada yang memulai juga pembicaraan, Ahmed pun bermaksud untuk undur diri hendak balik ke kamarnya. Dan Sonia mencegahnya.


“Hamba permisi Putri. Sudah malam.” Ahmed membungkuk dan hendak pergi.


“Tunggu ....” Sonia mencegah.


Ahmed pun kembali berbalik melihat ke arah Sonia.


“Aku ingin bertanya Ahmed ....” Sonia akhirnya mulai menanyakan.


Ahmed sudah merasa keringat dingin.


“Maafkan hamba Putri. Maafkan hamba.” Ahmed langsung bersujud. Karena dia takut akan dimarahi dan bakal kena hukuman karena berani-beraninya menyukai seorang putri.


Sonia bingung, kenapa Ahmed malah minta maaf dan bersujud. Sonia berjongkok dan mengangkat Ahmed agar berdiri. Kini keduanya sama-sama berdiri. Sonia masih memegang Ahmed. Saat sadar dia segera melepaskannya.


“Tak perlu minta maaf, Ahmed. Aku hanya bertanya, apakah benar hanya salah bicara atau kau benar-benar menyukaiku?” Sonia menatap ke arah Ahmed dan melihat ke dalam dua bola mata Ahmed.


Ahmed melihat ke arah Sonia. Di malam yang hanya diterangi bulan saja kecantikan Sonia sudah terpancar dan terpatri di hati Ahmed. Ahmed melihat wajah dan keindahan dari Sonia. Dia pun tak kuasa lagi untuk menyimpannya.


“Hamba sudah lama memperhatikan Anda Putri. Hamba menyimpan perasaan pada Anda Putri. Hamba jatuh cinta pada Anda Putri Sonia. Putri yang paling cantik di istana ini dan yang hanya ada di dalam hatiku.” Ahmed yang biasanya sangar sekarang, begitu mengatakan kata-kata tersebut terdengar romantis bagi Sonia. Sonia malah bersemu merah wajahnya mendengar puja puji dari Ahmed untuk dirinya.


Sonia tertunduk malu. Tapi Ahmed berpikir kalau Sonia mungkin saja marah karena kejujurannya.


“Jika hamba salah, maafkan hamba Putri. Tapi tolong maafkan kelancangan diri hamba ini. Hamba tahu tak pantas dan tak sebanding dengan Putri, seharusnya perasaan ini tak boleh hamba punya. Jika perasaan ini pun tak di balas, hamba tak masalah Putri. Sekali lagi Maaf kalau hamba lancang.” Ahmed membungkuk dan hendak pergi tapi tangan Sonia bergerak dan meraih tangan Ahmed.


Ahmed tertegun melihat reaksi Sonia. Ahmed tak jadi pergi dan kembali melihat Sonia. Sonia masih saja menggenggam tangannya Ahmed.


“Terima kasih atas perasaanmu untukku, Ahmed. Aku menyukainya.” Sonia tersenyum.


Ahmed melihat Sonia tak berkedip. Salah dengarkah dia? tapi tak mungkin kan kalau Sonia berkata seperti ini? Apakah dia yang terlalu berharap? Ahmed masih terdiam.


“Putri ....??” Ahmed memandang sang Putri lekat-lekat.

__ADS_1


“Maksud Anda bagaimana?” Ahmed perlu penjelasan. Sonia menggenggam kedua tangan Ahmed dan membawanya ke dekat wajahnya lalu dikecupnya.


“Aku menyukaimu, Ahmed.” Senyuman manis terukir di wajah Sonia.


“Benarkah?” Ahmed serasa tak percaya.


“Iya.”


Ahmed begitu gembira. Dia langsung memeluk Sonia. Ahmed senang karena Sonia pun juga menyukainya dan cintanya terbalaskan. Tapi kemudian Ahmed memandang ke arah Sonia.


“Putri, Anda tak main-main kan?”


“Aku serius. Dan mulai sekarang panggil namaku saja Ahmed. Panggil Sonia. Mulai hari ini kita resmi berhubungan menjalin kasih.” Sonia ternyata membalas cinta Ahmed. Sungguh di luar perkiraan Ahmed.


“Baiklah. Tapi hanya jika kita berduaan saja.” ucap Ahmed. Dan Sonia pun mengangguk.


“Namun kenapa Anda menyukaiku?” Ahmed penasaran.


Sonia tersenyum. Dia melihat bulan dan bintang, Ahmed juga melihat ke atas langit.


“Sewaktu kau baru kembali lagi ke turki bersama Yang Mulia Rex, saat itulah aku sempat melihatmu. Aku jatuh hati saat itu. Ku lihat kalau kau pria yang sangat dewasa dan gagah sekali. Tapi aku seorang putri dan seorang gadis. Tak pantas jika harus mengejar laki-laki. Karena itu aku menyimpannya rapat-rapat agar tak ada yang tahu. Saat tahu kau mengatakannya, hati ku terusik dan akhirnya pergi mencarimu dan kita bertemu di sini.” Sonia menjelaskan panjang lebar.


Ahmed senang bukan main. Ia meraih tangannya Sonia dan mengecup punggung tangan Sonia.


“Terima kasih Putri. Tapi hal ini kita rahasiakan saja dari yang lainnya ya.” pinta Ahmed.


“Kenapa?” Sonia mengerutkan keningnya.


“Tapi kenapa? Aku rasa akan lebih baik jika hubungan kita di ketahui banyak orang dan akan lebih baik jika Yang Mulia tahu.” Sonia hendak mengatakan saja hubungan mereka, dia tak mau merahasiakan.


“Aku tak bisa Putri. Aku hanya seorang bawahan. Kau adalah Putri. Tak pantas saja rasanya. Apalagi jika mengikuti tradisi istana, hal ini tentu dilarang.” Ahmed memberikan pengertian ke Sonia.


“Baiklah. Aku mengerti. Kita rahasiakan saja kalau begitu.” Sonia pun mengikuti kata Ahmed. Keduanya pun berpelukan sambil melihat bulan dan bintang yang nampak indah.


***


Saat ini di kediaman para putri di siang hari, Naomi di ajak Sonia untuk bergabung bersama. Semua para putri datang mengelilingi Naomi dan mengajaknya berkenalan. Mereka tertawa dan tersenyum bersama-sama di temani beberapa cake dan minumannya.


Naomi agak kikuk awalnya tapi lama kelamaan dia mulai terlihat santai. Almira dan Miranda bertanya banyak hal pada Naomi. Sonia hanya melirik dari samping sambil tersenyum.


“Yang Mulia, sudah lama berpacaran dengan Yang Mulia Rex?” Almira bertanya sambil menatap ke arah Naomi tanpa berkedip.


“Yang Mulia Rex seperti apa orangnya sebenarnya? Katanya sudah dari kecil ya kenalnya?” Miranda bertanya bahkan terlalu kepo juga. Sonia menggeleng ke arah kedua adiknya.


Naomi hanya bisa tersenyum. Tapi kedua putri sudah menunggu jawabannya.


“Panggil saja aku Naomi. Tak perlu panggil Yang Mulia.” Naomi tak mau dipanggil dengan sebutan yang baginya asing.

__ADS_1


“Tapi kan calon permaisuri, tak mungkin  kami panggil nama.” Almira langsung menggeleng.


Naomi menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Dijawab dong Yang Mulia pertanyaan kami tadi?” Miranda kembali bertanya dengan wajah manja.


“Hehehe ....” Naomi tak tahu mau bilang apa. Dia hanya terkekeh saja, tak biasa ngerumpi dengan para gadis jadi sedikit canggung. Dia biasanya bersikap tomboi dan bar-bar. Pakaian yang dipakai sekarang Naomi pun adalah yang di siapkan di istana.


“Sudah ... jangan di ganggu. Kalian terlalu banyak tanya. Maafkan Putri Almira dan Putri Miranda ya Yang Mulia Naomi” ucap Sonia membantu menengahi. Wajah Almira dan Miranda nampak kecewa karena tak mendapatkan jawaban yang mereka inginkan.


Naomi menggeleng dan mengibaskan tangannya ke udara.


“Tak apa. Gak masalah. Dan ku minta pada kalian semua panggil lah aku dengan nama Naomi umur kita sama kayaknya..” Naomi tak mau di panggil terlalu istimewa.


“Sonia saat ini kuliah semester tiga. Aku masih kelas 2 SMA dan Miranda Kelas 3 SMA saat ini. Kami semua sekolah di sekolah kerajaan khusus anak raja dan para bangsawan serta pejabat.” Almira memberitahukan.


“Oh ....” Naomi baru tahu.


“Ku dengar kalian juga sedang akan mendaftarkan? Kuliah di tempat yang sama kan?” Sonia melihat ke arah Naomi.


“Iya. Rex dan Aku akan kuliah di Turki. Kami bersama kuliah di sini. Sebenarnya aku mau meneruskan di Jepang. Tapi Rex meminta ku ikut dirinya kemari.” Naomi terlihat sedih. Sonia, Almira dan Miranda saling pandang dengan bingung. Mereka melihat wajah sedih Naomi jadi bingung.


“Sudah lupakan.” Kata Naomi kemudian. “Jadi para Pangeran memang tak ada ya?” Naomi heran hanya ada para putri dan di tempat lainnya juga hanya para wanita saja di istana.”


“Para pangeran tak ada. Yang ada hanya Yang Mulia Rex. Karena itu saat kalian nanti menikah dan punya anak baru ada Pangeran lagi di istana ini.” Almira berkata.


“Dan saat Yang Mulia Rex memiliki para selir dan haremnya atau istri lagi baru bisa banyak pangeran kembali.” Miranda menambahkan.


“Hah? Selir? Harem? Istri lagi????” Keningnya Naomi berkerut sangat dalam. Wajahnya menggelap. Naomi berdiri dan pergi. Sonia dan Miranda juga Almira bingung apa yang salah. Sonia berpikir, sepertinya Naomi belum tahu peraturan di istana ini.


Naomi berjalan semakin cepat langkahnya. Dia pergi mencari Rex. Setelah melewati beberapa ruangan, sampailah Naomi di balai pertemuan Rex dengan para menteri, para pejabat, para pasha dan lainnya. Naomi menerobos masuk dan hampir di cegat pengawal di depan.


Semua mata melihat ke arah Naomi.


Bersambung....


Sepertinya akan ada yang marah ya hehehe :D


Saksikan terus kelanjutannya ya kakak reader semua :)  :D


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)


Klik like, klik vote, klik favorit dan kasi komennya ya :D


Thanks. Love you all :D


No plagiat ya :D

__ADS_1


Kasi komen yang positif ya kak :D


Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih ya kak. :D 🤗🤗


__ADS_2