Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 38.


__ADS_3

“Pergilah Rex. Itu lebih baik” Ucap David.


Rex menatap ke arah David. Keduanya berpandangan tak saling suka.


Kedua pasang mata dari kedua pemuda tersebut saling menatap nyalang. Rex tak suka David karena David itu salah satu temannya Brian. Brian adalah orang yang tak pernah akur dengannya. Sedangkan David sama tak pernah suka Rex juga. Baginya Rex itu hanya pecundang. Walau sekarang Rex sudah berubah lebih baik namun David tetap tak suka. Ditambah lagi sekarang David sedang mendekati Naomi. Saat dekat dengan Naomi, David merasa tertarik pada Naomi. Apa lagi setiap mengingat sewaktu Naomi memakai dress malam itu dan melihat kerapuhan hati Naomi akan cinta membuat David semakin tertarik ke Naomi. Oleh sebab itulah David tak suka dengan Rex. Ia tak mau kalau Rex hanya memberi luka saja pada Naomi. Lagian David sedang berusaha mendekati Naomi, jika Rex muncul hanya merusak saja rencananya.


Syukur saja Naomi pun ingin menjauh, jadi ini kesempatan baik. Begitulah pikir David. Namun Rex tak kunjung pergi juga. Akhirnya Naomi pergi melangkah menjauh. David yang melihat Naomi menjauh juga ikut mengejar sambil melirik ke arah Rex sekilas.


“Jangan dekati Naomi. Urus urusanmu sendiri saja” Ucap David sambil berlalu pergi.


Naomi yang semakin jauh di kejar David. Dan Rex terdiam di tempat. Ia tak mengerti. Apa yang terjadi. Ia tak mengerti kenapa Naomi menjauhinya.


“Padahal, aku ingin berbagi kebahagianku bersama mu Nao. Aku menang lomba lagi. Dapat piagam dan penghargaan. Aku ingin kau tahu hal itu. Namun kau menjauh. Ada apa Nao?” gumam Rex sendirian.


Rex menatap kecewa. Namun ia akhirnya berbalik arah dan hendak mencari Rere saja. Rex ke kantin dan keliling sekitaran sekolah, tapi tak bertemu dengan Rere. Ia ke perpus juga tak melihat Rere. Begitu juga dikelas tak ada.


“Rere kemana?” Guman Rex.


Rex kemudian melihat Jenny yang sedang berjalan bersisian dengan Jerry. Rex hampiri Jenny. Mungkin Jenny tahu dimana Rere. Bukankah tadi pas jam pelajaran Rere ada. Sekarang dimana dia?


“Jen....” Panggil Rex.


Jenny berhenti melangkah dan Jerry pun sama. Jenny melihat Rex mendekat. Saat Rex sudah dihadapan Jenny, Rex pun langsung bertanya.


“Jen, kau tahu dimana Rere sekarang?”


Jenny dan Jerry saling pandang. Kemudian Jenny mengangkat kedua bahunya sebagai tanda kalau ia tak tahu.


“Aku tak tahu” Ucap Jenny kemudian sambil menggeleng.


Rex mengangguk tanda mengerti. Kemudian ia berlalu. Jenny dan Jerry melanjutkan langkahnya. Mereka kini sering berdua setelah acara pesta Rere beberapa waktu lalu itu.


Rex mencari kesana kemari namun Rere tak kelihatan. Akhirnya Rex melewatin toilet wanita dimana ia melihat Rere baru saja keluar. Namun anehnya ada Brian yang ikut serta keluar dari toilet wanita juga. bahkan sempat menahan lengannya Rere. Rex merasa aneh segera mendekati.


“Re....” Rex mendekat dan menghampiri Rere.


Rere segera menepis tangannya Brian, ia tak mau kalau Rex salah paham nanti. Brian yang melihat Rex mendekat lalu melangkah pergi dan menatap sinis sekilas ke Rex. Brian pun pergi menjauh. Kini tinggal Rex dan Rere.


“Ada apa Rex?” Tanya Rere menatap Rex.


Rex masih menatap tajam ke arah Brian yang semakin menjauh. Kemudian ia beralih pandang melihat ke arah Rere.


“Kenapa bisa bersama Brian, Re?” Tanya Rex menatap Rere.


Rere melihat ke arah lain.


“Gak ada apa-apa. Kau mencari ku sayang? Ada apa?” Ucap Rere ke Rex kemudian tersenyum ke arah Rex.


“Oh, hanya mencari mu saja. Sekalian cerita masalah Naomi.”


“Naomi? Teman baikmu itu kah?”


“Iya”

__ADS_1


Rex dan Rere berjalan bersisian sambil Rex bercerita. Rere mendengarkan dengan seksama.


“Jadi begitu sayang.... aku kan hanya mau berbagi kebahagian. Karena kita sudah menang lomba. Walau nanti bakal ada final kembali. Tapi kemenangan kita kan juga membahagiakan. Mendapat piagam dan penghargaan gitu kan. Aku hanya mau Naomi tahu kebahagianku” Ujar Rex ke Rere


“Aku mengerti. Mungkin dia mau sendiri dulu”


“Tapi kalau emang mau sendiri dahulu kenapa David bersamanya. Bukannya David itu temannya Brian. Aku dan mereka tak akur. Dan Naomi tahu hal itu. Namun kenapa Naomi sekarang nampak dekat dengan David. Aneh”


“Mungkin David menyukai Naomi. Jadi dia mencoba mendekati Naomi.”


“Hah? Kok bisa?” Rex menatap Rere merasa tak percaya dengan yang di dengarnya.


“Bagaimana pun David itu seorang cowok dan Naomi itu seorang cewek. David tampan juga dan Naomi manis kok. Jadi wajar saja kalau ada rasa tertarik.” Rere berpendapat.


Rex menggelengkan kepalanya.


“Tak mungkin.”


“Bisa saja kan. Kan mereka sama-sama single. Atau Naomi menyukaimu? Karena kita pacaran makanya dia menjauhimu Rex” Rere memberikan pendapatnya. Walau hanya opini umum namun memmbuat Rex terdiam terpaku.


“Gak mungkinlah. Naomi dan aku kan dari kecil udah temanan. Jadi gak mungkin” Rex membantah.


“Sayang. Kau seorang cowok apa mengerti hati seoarang gadis. Tapi itu hanya opini ku seh. Aku pun tak tahu” Rere tersenyum.


Bel pelajaran kembali berbunyi. Semua siswa kembali ke kelasnya dan memulai kembali pelajarannya. Di saat jam pelajaran pikiran Rere tak fokus mengikuti pelajaran. Ia masih teringat percakapannya tadi di toilet dengan Brian. Saat jam istirahat. Rere bermaksud hendak menemui Rex. Namun ia tak menemukan Rex dimana pun. Akhirnya ia ke toliet setelah makan di kantin tadi. Saat di toilet, rupanya Brian melihatnya masuk ke toliet. Ia mengikuti Rere. Brian ikut masuk ke toilet cewek. Rere yang sudah selesai berniat keluar toilet. Namun dicegah Brian. Brian menarik Rere masuk kembali ke tolilet. Mereka masuk bersama di dalam toilet cewek. Tak ada siapa pun selain mereka berdua.


“Apa mau mu Brian? Jangan macam-macam” Ancam Rere.


Brian hanya tertawa kecil sambil tersenyum sinis.


“Apa maksudmu Brian?” Rere tak mengerti. Ia mengerutkan keningnya.


“Om Scoot tak menyetujui hubungan kalian kan.”


Tubuh Rere menegang mendengar perkataan Brian. Emang benar Papanya sudah melarang. Namun Rere masih saja melankutkan hubungannya dengan Rex.


“Kau bicara apa?” Rere menatap tajam.


“Re, tak usah berbohong. Aku tahu semuanya. Sebaiknya kau putuskan Rex secepatnya. Sebelum kalian berdua yang merasakan sakitnya.” Brian mengancam.


Rere memutar kedua bola matanya dengan malas. Ia membuang muka. Dan bermaksud hendak pergi saja meninggalkan Brian. Namun Brian segera menangkap tubuh Rere dan menyudutkannya ke dinding. Rere tersudut dan terjepit oleh tubuhnya Brian. Wajahnya Rere di cengkram oleh tangannya Brian.


“Aku tak main-main Re. Kau harus putuskan Rex” Brian menatap mata Rere lalu beralih ke bibir manis milik Rere. Ingin di kecupnya, namun segera Rere menendang bagian tengah Brian hingga ia kesakitan. Saat itulah Rere segera keluar dari toliet. Nah saat itulah Brian kembali mengejarnya keluar dan menarik lengannya Rere. Itulah saat dilihat Rex, Brian bersama Rere. Namun tentu saja Rex tak tahu apa yang mereka katakan. Saat Brian melihat Rex mendekat, Brian kembali berbisik ke Rere.


“Kau pikirkan baik-baik, Re” Ucap Brian kemudian berlalu pergi.


Itulah kilas balik yang di ingat oleh Rere kembali. Kini ia tak fokus belajar. Rasanya kata-kata Brian mengandung arti sesuatu. Walau ia tak tahu apa, namun pasti menyangkut hubungannya dan Rex. Apakah Brian hendak melapor ke Papanya? Atau tindakan apa yang hendak dilakukannya? Rere merasa gusar.


Waktu berlalu dan bel pulang telah berbunyi. Semuanya pulang. Rex mengantar Rere pulang. Sepanjang perjalanan Rere diam. Rex bertanya ada apa? Namun Rere menjawab tak ada apa-apa. Akhirnya Rex memilih diam juga.


Setelah sampai dirumah Rere, Rere langsung turun dan melambai ke arah Rex. Rex pun pamitan dan pergi pulang. Mobilnya menjauh dan kemudian Rere masuk kedalam rumah. Baru saja masuk ke dalam rumah, Scoot langsung memanggil Rere. Ternyata Papanya ada dirumah. Rere pikir Papanya akan ada ditempat kerjanya. Namun ternyata tidak.


“Re....”

__ADS_1


Rere menatap Papanya.


“Iya Pa”


“Siapa yang mengantarmu tadi?”


“Teman Pa”


“Benarkah?”


“Iya” Rere menundukan kepalanya.


“Jangan berbohong pada Papa. Kau masih berhubungan dengan Rex kah? Tak kau dengarkan perkataan Papa hah?” Scoot menatap marah pada Rere.


“Pa....” Rere menatap sendu ke arah papanya.


“Kau pacaran dengan Rex?”


"Dari mana Papa dengar hal itu?" Rere menatap Papanya.


"Tak penting dari mana. Jawab saja pertanyaan Papa dengan jujur. Kalian berhubungan kan? Kalian pacaran kan?"


“Iya Pa. Tapi apa salahnya Pa? Bukankah Rex juga kaya Pa. Lalu apa salahnya?” Rere menatap sedih Papanya.


“Putuskan hubungan mu dengan Rex. Karena Papa akan menjodohkan mu dengan Brian. Nanti kalian akan bertunangan” Ucap Scoot tak mau dibantah.


Rere terkejut mendengar perkataan Scoot Papanya. Ia tak tahu kalau akan jadi begini jadinya.


Bersambung....


Owalah ... Rere mau dijodohkan dan di tunangkan dengan Brian toh. Hem kepiye nasib si Rex?


Saksikan terus kelanjutannya ya kakak readers semua J :D


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)


Klik like, klik vote, klik favorite dan kasi komennya ya :D


Thanks. Love you all :D


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2