Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 77.


__ADS_3

“Rex....” air matanya Rere mengalir deras. Rex memeluknya juga.


Rere semakin erat memeluk Rex. Dan Rex mengusap lembut rambut hingga ke punggung belakangnya. Rere menangis dalam pelukan Rex dan Rex membiarkannya. Rex biarkan Rere menangis sepuasnya. Ia yakin setelah Rere meluapkan semuanya maka ia akan kembali tenang. Rex diam tanpa berkata apa pun, ia hanya mendengar suara tangisan Rere.


Setelah cukup lama Rere menangis akhirnya tangisannya berhenti. Rere melepaskan pelukannya. baju Rex sampai basah terkena air mata Rere. Namun Rex tak memedulikannya. Rex mencari sebuah tisu tapi tak ada. Kebetulan di saku bajunya ada sebuah sapu tangan, Rex berikan kepada Rere. Rere menerimanya.


“Sudah lebih tenang Re....” Rex menatap lembut Rere.


Rere melihat ke arah Rex.


“Terima kasih Rex.” Rere berusaha tersenyum.


“Kau baik saja kan sekarang? Maksudku sudah tak apa-apa kan?” Rex cemas sebenarnya dengan keadaan Rere.


“Aku sudah mulai membaik. Aku hanya takut dan agak trauma saja. Terima kasih atas perhatianmu.”


“Syukurlah kau mulai membaik. Tenanglah Re, kembalilah ke sekolah. Aku akan membereskan Brian.” Ucap Rex penuh amarah dan wajahnya nampak dingin saat mengatakannya. Sudah banyak hal yang di alami Rex membuatnya semakin kuat dan keras dalam menghadapi semuanya.


“Maksudmu Rex?” Rere menatap bingung.


“Aku sudah tahu semuanya dari David, Re. Akan ku balaskan apa yang di lakukan Brian padamu, pada Naomi dan kakekku. Dia harus merasakan semua balasannya.”


“Tidak Rex ... jangan. Balas dendam bukanlah hal baik. Lagian aku tak apa, tapi tunggu dulu ... Naomi dan kakekmu kenapa?” Rere kemudian fokus dengan perkataan Rex tentang Naomi dan kakeknya.


“Sudah, kau tenanglah. Kembali ke sekolah seperti biasa. Hal lain tak perlu kau pikirkan ya Re. Aku pergi dahulu. Nanti lagi kita akan bertemu.” Rex mengusap lembut rambut Rere.


“Hati-hati.” Ucap Rere, walau ia tak tahu kenapa mengucapkan hal tersebut. Namun Rere merasa harus mengatakan hal tersebut.


Rex menatap ke arah Rere kembali dan ia pun menganggukkan kepalanya.


Rex keluar dari kamarnya Rere. Ia lalu pamitan pada Julia. Kemudian Tommy yang menunggu dari tadi ikut pergi serta bersama Rex. Keduanya langsung pergi dan hendak mencari Brian. Rex bersama Tommy, Tommy Myers adalah salah satu anak buah terbaiknya Ahmed. Oleh sebab itulah Rex membawanya ikut serta dengannya. Karena di Turki ia serahkan semua urusannya pada Ahmed dan Sonia.


Saat ini mereka kembali menaiki taksi. Rex melihat ke arah Tommy.


“Tom ... kau bisa cari dan lacak dimana orang yang bernama Brian Wu di kota ini? Dia ada di rumahnya atau dimana sekarang?” Rex serius melihat ke arah Tommy.


“Tenang saja Tuanku. Akan aku lakukan.” Tommy mengambil tas ransel yang dari tadi di bawanya. Di dalamnya bukan hanya pakaiannya tapi juga beberapa senjata tapi ada juga beberapa alatnya dan laptop juga. Di dalam taksi tersebut, Tommy mulai beroperasi. Entah apa saja yang di klik dan di ketiknya. Namun kemudian secara otomatis ia dapat menemukan data pribadi Brian Wu.


“Aku sudah menemukannya. Apakah ini orangnya Tuan?” Tommy menunjukkan pada Rex. Rex langsung mengangguk.

__ADS_1


Tommy kembali mengotak atik laptopnya dan kemudian sebuah lokasi terlihat. Brian telah di temukan, Tommy berhasil melacaknya. Ia tersenyum dan menatap Tuannya. Tommy menunjukan pada Rex dan Rex segera meminta supir taksi menuju alamat yang di tuju sesuai yang di lacak oleh Tommy. Ke sanalah mereka menuju.


Sampailah Rex dan Tommy di tempat tersebut, sebuah gedung kosong yang sudah tua. Rex dan Ahmed turun dari taksi setelah membayar taksinya. Taksi pun pergi dan Rex masuk bersama Tommy ke gedung tua tersebut.


Di dalam gedung tua tersebut, Brian dan semua anak buahnya sedang pesta pora dengan uang yang ia dapatkan dari Papanya Brian. Mereka senang-senang dengan makan-makan dan minum-minum. Bahkan musik keras pun di mainkan. Beberapa wanita nakal ikut serta menemani pesta pora mereka.


Rex dan Tommy masuk berdua ke sarang para orang jahat tersebut. Langkah kaki mereka pasti memasuki tempat Brian dan para anak buahnya. Bahkan Brian dan para anak buahnya sama sekali tak menyadari kedatangan Rex.


Rex pun berseru memanggil namanya Brian.


“Brian!!!”


Brian menoleh ke asal suara. Suara Rex menggelegar membuat alunan musik tersebut kalah dengan suara garangnya Rex. Bahkan kini musik tersebut di rusak oleh Tommy. Tommy pukul dan hancurkan sehingga musik pun berhenti. Brian tentu marah dan Brian cukup kaget melihat Rex kini ada di hadapannya.


“Rex ... hahahaha ... kau disini rupanya. Kenapa? Apa gadis tomboi itu sudah mengadu dan merengek di hadapanmu hingga sekarang kau kembali kemari hah?” ejek Brian yang tak mengerti kalau bahaya sedang menerjang dirinya.


Rex hanya menunjukan smirk sekilas saja. Ia menatap ke arah Tommy. Tommy pun paham dan langsung bertindak. Tommy segera menerjang ke arah Brian. Ia tendang Brian hingga terpental ke belakang. Brian tentu marah. Brian menyuruh para anak buahnya untuk memukuli Tommy. Tommy pun berkelahi dengan tangan kosong. Tendang, pukul dan tinju di lakukan oleh Tommy untuk menghajar semua lawannya.


Sepuluh orang anak buahnya Brian bukan apa-apanya bagi Tommy. Tommy yang sudah terlatih dengan mudah mengalahkan sepuluh anak buahnya Brian. Mereka pun jatuh dan terkapar di lantai. Tommy hanya tersenyum mengejek.


“Hanya segitu sajakah kemampuan kalian hah?” Tommy mencibir.


Namun Brian tak mau tahu, ia kembali menyuruh anak buah lainnya yang masih ada untuk menyerang. Brian menyuruh semua anak buahnya menyerang. Tommy pun menghajar mereka semuanya, dan kali ini Rex pun maju. Ia mengeluarkan sebuah belati yang berukiran batu rubi kecil-kecil menghiasi di dekat gagangnya. Semua yang menyerang satu persatu di jatuhkan Rex dengan belatinya.


Bahkan Tommy tak kalah seram, senjata pistolnya kini di keluarkan dari balik bajunya. Semua nya yang sudah ia pukul dan tendang kemudian di tembak mati tepat sasaran mengenai kepalanya. Semua tewas seketika setelah bertarung dengan Tommy.


Dan Rex juga menjatuhkan banyak lawannya. Tommy dan Rex bagaikan malaikat maut yang siap mencabut nyawa siapa pun yang ada di hadapannya sekarang. Para gadis nakal berlari pergi karena merasa suasana menjadi horor. Mereka ketakutan dan pergi. Brian sendiri serasa tak percaya, semua anak buahnya telah di kalahkan dalam waktu singkat oleh Rex dan Tommy.


Usai mengalahkan semua anak buahnya Brian, kini hanya tersisa Brian seorang. Rex dan Tommy menatap ke arah Brian. Rex mendekat dan Brian segera melayangkan tinjunya namun segera di tangkis oleh Rex. Bahkan sebuah tendangan keras di terima Brian di perutnya. Brian jatuh tersungkur. Rex segera menghajar Brian berkali-kali.


“Ini untuk Rere....” satu tonjokan keras mengenai wajah Brian.


“Ini untuk Naomi dan David...” tonjokan berikutnya melayang ke Brian.


“Ini untuk kakek ku....” Brian dihujani tonjokan keras kembali.


“Ini untuk Naomi kembali....” Rex melampiaskan semua amarahnya dengan tonjokan keras ke wajahnya Brian.


“Ini untuk semuanya...” tonjokan keras kembali di terima Brain.

__ADS_1


Brian berkali-kali menerima pukulan dan tonjokan dari Rex. Brian sampai lemas dan tak berdaya. Wajah Brian sudah habis babak belur dan berdarah karena di hajar oleh Rex.


Rex bangkit dan berdiri di samping Tommy.


“Habisi dia, buat dia lumpuh agar dia tahu rasanya sakit.” Perintah Rex pada Tommy, mata Rex terlihat gelap dan aura dingin terasa di sekitarnya.


Tommy pun menganggukkan kepalanya. Tommy melaksanakan perintah Rex, ia menghajar Brian kembali dan membuatnya lumpuh dengan mematahkan kedua kakinya. Jeritan suara Brian pun menggema di seluruh gedung tersebut. Rex hanya menatap dingin. Bahkan tangan kiri Brian juga di patahkan. Hanya menyisakan tangan kanannya saja yang dibiarkan.


Tangannya Tommy penuh dengan darahnya Brian. Tangannya Rex juga karena tadi ia sempat menghajar Brian. Kini dia hanya menatap ke arah Brian dengan pandangan yang dingin.


“Telepon ambulance segera untuknya. Setidaknya kita memberikan sedikit belas kasian.” Ucap Rex namun tampak santai. Pembalasan dendam yang sangat mengerikan telah di lakukan Rex. Tommy melaksanakan perintah Rex. Ia menelepon pihak rumah sakit untuk membawa ambulance di daerah gedung dimana saat ini mereka berada. Usai berkata begitu, Rex dan Tommy pun langsung pergi meninggalkan Brian begitu saja. Rex dan Tommy segera membersihkan dirinya juga, agar aroma darah dan bekas darah hilang dari tubuh, tangan dan pakaian mereka.


Di rumah sakit.


Alvin wu mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit kalau anaknya masuk rumah sakit. Dengan terburu-buru Alvin segera ke rumah sakit. Saat ia sampai, Brian sudah selesai di obati dokter dan sedang di kamar pasien.


“Bagaimana putra saya dok?” Alvin nampak cemas.


“Saya sudah berusaha, namun ia sudah tak tertolong. Semuanya patah. Kini ia lumpuh. Saya harap anda dapat bersabar. Jika Anda membawanya ke Amerika mungkin ada dokter hebat di sana dapat membantu menyembuhkan diri pasien namun pastinya bukan seperti semula lagi. Karena yang sudah patah tak bisa di sambung lagi. Tapi tentunya biayanya sangatlah mahal. Sabar ya Pak.” Ucap dokter dan berlalu pergi.


Alvin masuk ke kamar pasien dimana Brian terbaring. Brian masih terpejam dan belum sadar namun semua anggota tubuhnya di balut perban kecuali wajahnya dan tangan kanannya. Tapi begitu banyak memar dan luka juga di wajah tampannya Brian.


Alvin menangisi nasib putranya.


“Siapa yang telah melakukan ini Brian? Papa janji akan membalasnya untukmu!!!” Alvin sangat murka.


Bersambung....


Rasakan itu Brian. Biar tahu rasa hohoho....


Saksikan terus kelanjutannya ya kakak reader semua :) :D


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)


Klik like, klik vote, klik favorit dan kasi komennya ya :D


Thanks. Love you all :D


No plagiat ya :D

__ADS_1


Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih kak. :D


__ADS_2