Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 91.


__ADS_3

Rex pergi ke kamarnya. Di kamarnya Rex mencari drone dari Ailen. Begitu sibuknya dia mencari dan setelah kamarnya di acak acak akhirnya ketemu juga drone tersebut. Rex tersenyum girang. Dia menghidupkan drone tersebut dan drone pun menyala.


Sebuah sinar hologram keluar setelah drone di hidupkan. Dan muncullah Ailen. Ailen menyapa Rex dan Rex pun tersenyum. Keduanya pun langsung berbincang.


Kini Rex dan Naomi ada di dekat ruangan baca Rex. Rex memegang drone tersebut. Tak lama kemudian Rere datang setelah mendengar pelayan istana mengatakan kalau Rex dan Naomi hendak menemuinya. Rere masuk dan menyapa Rex serta Naomi.


“Halo. Ada apa memanggil ku?” Rere tersenyum ke Naomi dan Rex.


“Kemarilah.” Rex mengajak Rere duduk dan duduklah Rere di samping Rex. Naomi duduk di dekat sebelahnya lagi.


Drone di hidupkan Rex dan sebuah sinar menyala ke arah Rere. Rere sempat kaget dan panik tapi Rex menenangkannya.


“Tenanglah Re, tak apa-apa. Diam saja.” Rex berujar pada Rere. Rere pun diam.


Naomi memperhatikan dari samping. Karena masalah Ailen hanya Naomi dan Rex yang tahu, oleh sebab itu hanya sinar biru yang terlihat menyinari Rere. Rere nampak bingung dan tengah berpikir. Tapi dia diam saja.


Sinar biru selesai menyinari Rere. Drone pun dalam stand by dan memutar ke arah Rex kemudian jatuh ke tangan Rex. Naomi mendekati Rere.


“Re, kembalilah ke kamarmu yuk. Sekalian ada yang mau ku katakan.” Naomi mengajak Rere. Walau Rere merasa aneh tapi dia ikut Naomi juga. Kedua wanita tersebut pun pamitan dengan Rex.


Saat Rere dan Naomi sudah keluar dari ruangan Rex, segera Rex melihat ke arah drone. Drone pun mengeluarkan sinar biru dan keluarlah hologram Ailen.


“Bagaimana Ailen? Kau bisa menyembuhkan Rere?” Rex berharap bisa.


“Sebelumnya kau cerita tentang kondisi Rere yang sakit hilang ingatan kan?” Ailen berkata kepada Rex.


“Iya. Karena aku sudah cerita semuanya maka kau bilang ingin melihat kondisi Rere terlebih dahulu kan untuk mengeceknya. Lalu apa hasilnya Ailen?” Rex memandang ke arah hilogram Ailen.


“Hasilnya nihil Rex. Tak ada tanda-tanda sakit apa pun. Aku sudah memindainya. Dia sehat dan normal. Otaknya juga tak bermasalah. Tak ada sakit apa pun yang terdekteksi. Dia tak sakit.”


“Kau serius Ailen.”


“Aku serius dan sangat yakin.”


“Baiklah. Terima kasih.”


“Baiklah. Aku pergi.” Ailen pun pamitan dan drone pun mati kembali. Rex menyimpan drone tersebut.


Rex jadi bingung dan merasa aneh. Apa maksud semua ini sebenarnya?


Di lain pihak, Rere dan Naomi berbincang-bincang sebentar hingga sampailah mereka ke daerah kamar Rere. Saat Rere hendak masuk, dia kembali berbalik ke Naomi dan bertanya.


“Maaf, boleh aku tahu tadi maksudnya apa aku dipanggil ke ruangan baca Rex?”


“Ah ... itu karena Rex hendak memeriksa saja.”


“Memeriksa apa? Aku?” Rere mengerutkan keningnya.


Naomi tak mau banyak cerita dan kebetulan trio putri datang mendekat. Sonia, Almira dan Miranda sedang berjalan-jalan bersama. kebetulan melihat Naomi, mereka pun datang mendekat dan menyapa.


“Halo Yang Mulia.” Sapa Almira.


“Panggil Naomi saja.”


“Oh Baiklah.” Almira terkekeh.


“Siapa dia?” Miranda melihat ke arah Rere. Sonia pun melihat begitu juga Almira.


“Dia Rere, teman aku dan Rex dahulu saat SMA.” Rere memperkenalkan Rere kepada Miranda, Sonia dan Almira. Ketiga putri pun berkenalan dengan Rere saling berjabat tangan bergantian dan menyebutkan namanya masing-masing.


“Wah ... asyik dong bisa ada teman lagi kita di istana ini, iya kan Kak Sonia dan Kak Miranda.” Almira nampak senang. Apalagi melihat Rere yang cantik.


“Iya. senang berkenalan dan berjumpa dengan Anda Nona Rere.” Sonia menyapa dengan sopan.

__ADS_1


“Terima kasih. Aku juga senang kenal dengan kalian semua.” Rere tersenyum.


Semua wanita tersebut pun memutuskan duduk bersama di dekat taman. Akhirnya Rere ikut serta bergabung. Sebenarnya Rere sangat tak menyukai acara tersebut. Dia sangat jengkel kepada ketiga putri yang di anggapnya sangatlah berisik. Apalagi kepada Naomi, Rere sama sekali tak suka. Dia hanya berpura-pura baik dan berpura-pura tersenyum di depan mereka semua. Misinya hanya mendekati Rex.


“Mereka sungguh bising dan menyebalkan.” Rere mengeluh dalam hatinya.


Waktu pun berlalu dan berganti malam. Semua kembali ke kamarnya masing-masing. Tapi saat ini Naomi malah datang menemui Rex.


“Bagaimana hasilnya? Apa kata Ailen?” Naomi penasaran. Dia berharap kalau Rere bisa sembuh. Walau dia sedih karena Rex lebih memikirkan Rere tapi Naomi juga akan senang kalau Rere bisa sembuh.


Rex melihat ke arah Naomi.


“Ailen bilang kalau Rere tak sakit. Dia sehat. Tak ada penyakit apa pun yang di deritanya.”


“Hah? Tapi bukannya katanya dia sakit hilang ingatan.” Naomi jadi bingung.


Aku juga sama bingungnya.


“Lalu hasil pemeriksaan dokter juga bagaimana?”


“Dokter masih belum ada laporan.”


“Kalau Ahmed yang kau tugaskan mencari tahu, bagaimana? sudah ada kabar?” Naomi berharap ada kemajuan.


“Belum. Ahmed sudah menegrahkan anak buahnya dan belum mendapatkan kabar.”


“Kenapa jadi ribet begini?” Naomi menghela napas panjang. Bukan hanya Naomi tapi Rex juga bingung.


“Jika dia tak sakit tapi kenapa dia hilang ingatan Rex?” Naomi masih tak mengerti.


“Aku juga belum tahu, Nao.”


Mereka berdua kebingungan dan diam berpikir dengan pikirannya masing-masing.


Almira yang terlalu kepo pun akhirnya mengikutinya.


“Itu kan Rere, mau kemana dia?” gumam Almira.


Almira terus mengikuti Rere. Dan sampailah di belakang istana di dekat tembok. Ada sebuah pohon besar. Seseorang melompat dan turun dari pohon tersebut. Ia berbicara pada Rere.


“Hari ini mereka melakukan sesuatu yang aneh padaku? Sebuah sinar biru menerangi aku.” Rere melaporkan.


“Kenapa dan buat apa?”


“Aku tak tahu.”


“Mungkin kau di curigai. Segera laksanakan rencana selanjutnya saja.”


“Baiklah. Akan aku lakukan.” Rere menurutinya. Almira yang melihat dari jauh merasa aneh. Siapa itu yang berbicara dengan Rere. Almira yang polos malah semakin mendekat.


“Ada orang? Habisi dia!” perintah sosok yang sembunyi di kegelapan. Rere pun menoleh dan segera memergoki Almira.


“Kau!” ucap Rere ke Almira.


“Eh Nona Rere ... sedang apa kau di sini? Lalu yang tadi siapa? Kenapa berbicara di dalam kegelapan?” Almira terlalu polos. Tak mengerti bahaya yang datang.


“Bukan apa-apa. Ayo kita kembali ke kamar saja.” Ajak Rere.


“Oh baiklah.” sebenarnya Almira tak mengerti dan tak paham yang di lakukan oleh Rere. Tapi karena Rere takut kalau Almira bercerita pada yang lainnya maka dia segera mengeluarkan pisau belatinya yang sering di simpannya di dekat bajunya. Rere pun segera menikam Almira.


“Ah ....” Suara Almira tercekat karena Rere menutup mulutnya. Almira mendelik matanya saat Rere berkali-kali menusuk perutnya. Tangan Almira pun bergetar dan menarik pakaian Rere.


Almira pun tewas seketika.

__ADS_1


“Selamat tidur untuk selama-lamanya putri kecil.” Bisik Rere dan Almira pun menutup matanya.


Rere tersenyum jahat. Dia segera menarik tubuhnya Almira dan membawanya serta untuk di buang mayatnya segera. Rere melakukannya dengan sangat hati-hati dan dia benar-benar sudah seperti terlatih melakukannya.


Usai membereskan mayat Almira. Rere berjalan kembali ke kamarnya. Dia bersikap biasa saja. Seakan tak ada apa pun yang terjadi.


Esok harinya.


Istana para putri sudah sibuk dan heboh karena seharian Almira tak kelihatan. Sonia dan Miranda sudah lelah mencari. Akhirnya semua dayang dan pelayan di kerahkan mencari Almira. Bahkan beberapa pengawal di kerahkan pula.


Almira hilang sampai juga ke telinga Rex. Rex tentu saja kaget. Bahkan Naomi pun kaget. Semuanya jadi sibuk mencari. Hanya Rere yang terlihat santai seperti tak terjadi apa pun.


“Kemana anak itu? Jika main pun pasti akan mengatakan kemana?” Miranda cemas sekali.


“Iya. aku juga heran. Tak biasanya Almira hilang seperti ini.” Sonia pun berujar. Dia pun cemas.


“Tenanglah sayang. Semua anak buahku sudah ku kerahkan.”Ahmed menenangkan diri Sonia. Agar istrinya tersebut lebih tenang.


Rex dan Naomi saling pandang. Saat ini semuannya sedang berkumpul di ruangan Rex biasa berdiskusi dengan Ahmed. Mereka semua berkumpul hari ini karena sedang mencemaskan Almira dan sibuk mencarinya.


“Apakah kalian tidak mendapatkan pesan apa pun dari Almira?” Naomi bertanya.


Miranda dan Sonia hanya menggeleng.


“Apa tak ada satu pun melihat Almira? Mana tahu ada satu orang saja ada yang sempat melihat Almira.” Rex berujar ke semuanya.


Tanpak Rere di dekat mereka sedang meminum tehnya dengan santai. Dia seakan tak peduli dengan semua yang ada di sekitarnya.


Naomi melihat tingkah Rere yang cuek sekali.


“Re ....” Naomi menatap Rere.


“Iya.” Rere menjawab singkat.


“Kau mendengar semua yang kami bahas? Menurutmu bagaimana?” Naomi bertanya hati-hati. Dia merasa Rere agak lain.


“Aku mendengarnya.” Jawab Rere kembali.


Miranda pun bertanya.


“Apa kau melihat Almira semalam atau tadi malam?” Miranda memandang ke arah Rere. Rere menatap tajam.


“Kau tahu sesuatu Re?” Rex juga bertanya.


Semuanya menatap ke arah Rere dan Rere menatap mereka satu persatu dengan tajam.


Bersambung ....


Wah ... Rere membunuh Almira. Sungguh jahat. Kenapa Rere begitu? Sungguh malang nasib Almira. Kemana mayatnya Almira?


Saksikan terus kelanjutannya ya kakak readers semua :) :D


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)


Klik like, klik vote, klik favorite dan kasi komennya ya :D


Thanks. Love you all :D


No plagiat ya :D


Kasi komen yang positif ya kak :D  Komentarnya mana komentarnya hehehe :D


Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih kak. :D

__ADS_1


__ADS_2