
Saat ini Rex dan Tommy kembali ke rumah sakit dimana kakek Dicky Han dan Naomi di rawat. Rex meminta pihak rumah sakit untuk memberikan kamar pasien VVIP pada kakeknya dan Naomi serta di jadikan satu ruangan. Agar Rex dengan mudah melihat dan mengawasi keduanya.
Kini keduanya di dalam satu ruangan VVIP kamar pasien dan berada di ranjang yang berbeda. Ranjang Naomi di sisi dekat jendela dan ranjang kakeknya Rex di dekat dinding yang lainnya. Di tengah di pisahkan oleh meja kecil dan ada beberapa kursi dekat kanan dan kiri ranjang pasien. Di dalam ruangan juga ada TV dan AC juga sofa dan kulkas mini dan air minum di dalam dispenser.
Rex duduk di dekat sofa sambil melihat ke arah kakeknya dan Naomi. Ia sudah meminta pada pihak rumah sakit memberikan perawatan terbaik untuk Naomi dan kakeknya. Rex pun sudah membayar mahal semua fasilitas dan pengobatan tersebut. Ia tak peduli berapa pun dananya yang penting semua terbaik di berikan untuk kakeknya dan Naomi.
“Istirahat Tom, aku hendak menjaga kakekku dan Naomi.” Rex berucap pada Tommy. Tommy pun langsung merebahkan dirinya di dekat sofa yang lebih panjang.
Rex mendekat ke arah kakeknya.
“Kek, segera sembuh, ya. Ini aku Rex sudah datang untuk menjemput kakek. Kali ini kakek harus ikut saja dengan Rex ke Turki. Di sana semua akan menjaga dan merawat kakek dengan baik. Cepat sadarlah dari koma kek.” Rex berucap sambil memegang tangannya Dicky Han. Kemudian Rex bergeser ke arah Naomi.
“Nao, buka matamu. Aku disini untuk mu. Masih ingat janjiku kan? Jika aku kembali maka kau dan aku akan menjadi sepasang kekasih. Kau tak lupa kan, Nao? Bangunlah sekarang....” Rex menggenggam tangannya Naomi dan mengecupnya. Ia mulai bersedih melihat keadaan kakeknya dan Naomi juga.
Hingga larut malam tapi Rex belum juga mengantuk. Tommy mengajak makan bersama, tapi Rex bilang kalau ia mau tetap disini menemani Naomi dan kakeknya. Akhirnya Tommy keluar sendirian dan mencari makan. Yuki datang dan berkata agar gantian menjaga. Biar Rex bisa istirahat. Yuki pun membawa makanan agar Rex bisa makan. Maka makanlah Rex.
Di tengah malam Yuki tertidur di kursi samping ranjangnya Naomi. Rex memberikan selimut. Dilihat ke sofa kalau Tommy pun tertidur di sofa panjang. Hanya Rex yang masih dalam keadaan sadar.
“Andai ada Ailen sekarang ini, mungkin Ailen bisa menolong Naomi dan kakek.” Gumam Rex sendirian.
Kemudian sebuah cahaya putih bersinar terlihat di jendela kamar pasien. Rex melihat ke arah jendela tersebut. Ia membukanya dan sebuah drone masuk ke dalam. Drone tersebut nampak beda dan canggih. Ia mengeluarkan sebuah sinar dan keluarlah sebuah hologramnya Ailen. Rex nampak kaget dan terheran.
“Ailen ... kau kah itu?” Rex berkata pada hologramnya Ailen.
“Halo Rex, apa kabar?” Ailen tersenyum.
“Aku baik. Kau sendiri bagaimana?” Rex pun tersenyum.
“Aku baik saja. Di planet gala ini semuanya aman terkendali.”
“Bagaimana kau bisa kemari?” Rex agak heran.
“Ini hanya hologram ku Rex. Aku mendengar suara kesedihanmu sambil menyebutkan namaku. Kemudian aku meluncurkan droneku dengan lintasan waktu agar cepat sampai ke tempatmu. Apa yang terjadi Rex?”
Rex baru mengerti, ternyata begitu rupanya.
“Terima kasih Ailen. Ternyata kau datang karena aku menyebutkan namamu dalam keadaan yang sedih ini. Naomi dan kakek ku sedang terbaring dan tak bangun juga sampai sekarang. Aku pikir jika kau ada di sini mungkin bisa menolong.”
“Baiklah. Aku akan coba bantu.”
“Bisakah? Tapi kau harus kemari begitu.”
“Tidak. Aku cukup menyalurkan tenagaku melalui hologram maka akan sampai. Percayalah teknologi canggih kami sangatlah tinggi. Aku akan mulai menolong Naomi dahulu.”
Hologram Ailen mendekati Naomi. Semuanya sedang tertidur saat ini jadi hanya Rex yang tahu apa yang sedang terjadi ini.
Ailen mengangkat tangan kanannya dan mulai menyinari Naomi dengan cahayanya. Ia salurkan kekuatannya untuk menyembuhkan Naomi. Seluruh energinya ia kerahkan untuk menolong Naomi. Sampai Ailen kehabisan energinya. Ia jatuh dan terkulai lemas. Rex hendak menolong namun ia tak dapat menyentuh hologramnya Ailen.
“Kau tak apa-apa Ailen?” Rex cemas melihat Ailen.
__ADS_1
“Aku tak apa. Hanya kehabisan energi saja. Mudah-mudahan esok Naomi bisa sadar. Tapi Aku tak bisa menolong kakekmu Rex, karena energi ku telah habis. Aku harus istirahat tiga hari untuk mengumpulkan kembali energiku.” Ailen agak bersedih karena ia tak cukup energi menolong kedua orang.
“Tak apa Ailen. Kau istirahat dahulu. Nanti jika energimu sudah terkumpul maka bisa menolong kakekku. Terima kasih ya. kau memang sahabat baikku. Tapi benar kan kalau Naomi akan baikan dan sadar esok.” Rex sedikit cemas.
“Percayalah dan berdoalah. Aku pergi dahulu ya. Biarkan Drone ini di kamar ini dahulu. Sampai nanti.” Ailen pun pergi dan beristirahat. Ia harus mengumpulkan kembali energi dan kekuatannya. Drone pun mati dan tak bergerak. Rex mengambilnya dan meletakkan di atas nakas yang agak menjauh dan berada di sudut ruangan.
Rex berdoa semoga Naomi benar-benar cepat sadar.
Esok harinya.
Matahari menyinari seluruh bumi dan burung berkicau menyambut pagi hari serta cuaca yang sangatlah cerah. Naomi berangsur-angsur membuka matanya. Ia telah sadar.
Naomi bangun dari tidurnya yang lumayan lamanya. Sebulan lebih dan hampir dua bulan lamanya. Mamanya Naomi kebetulan baru keluar dari kamar mandi, ia melihat ke arah Naomi dan langsung mendekati Naomi. Rex dan Tommy masih tertidur di sofa.
“Mama....” kata pertama yang di ucapkan oleh Naomi pada Yuki. Yuki tersenyum bahagia dan duduk di samping Naomi.
“Iya sayang. Ini Mama. kau sudah sadar nak. Syukurlah.” Yuki menangis haru. Ia bahagia putrinya akhirnya sadar.
“Dimana ini Ma?”
“Rumah sakit sayang. Naomi hampir dua bulan gak sadar kan diri. Mama sangat takut. Syukurlah sekarang sudah tak apa-apa.” Yuki meneteskan air matanya.
“Mama jangan sedih. Maaf sudah buat Mama sedih.”
“Gak sayang. Mama bahagia karena Naomi sudah baikan.”
Rex dan Tommy terbangun karena mendengar ada suara percakapan. Dan Rex begitu bahagia saat tahu kalau Naomi telah sadar. Ia datang mendekat.
Yuki dan Naomi melihat asal suara. Betapa kagetnya Naomi dan bahagia tentunya melihat Rex yang sudah lama tak ditemuinya, kini muncul dihadapannya. Yuki tersenyum dan membiarkan keduanya melepaskan rindu.
“Mama keluar sebentar ya sayang.” Yuki mengecup puncak keningnya Naomi dan ia pun keluar dari kamar pasien. Sedangkan Tommy merasa harus keluar dan membiarkan Tuannya berduaan dengan gadisnya. Tommy keluar juga.
Rex duduk di samping Naomi. Dan Naomi tersenyum ke arah Rex.
“Kau sudah pulang?”
“Iya. Karena aku cemas padamu dan kakek.” Jawab Rex singkat.
“Kakekmu Rex....”
“Sudah. Tak apa. Aku sudah tahu semuanya. Lihatlah kakek di sebelah. Sedang tidur panjang sama sepertimu.”
Naomi melihat ranjang yang tak jauh di ruangannya. Ternyata benar kakek Rex tertidur di ranjangnya dengan banyak selang yang ada. Nampaknya situasinya sangatlah kritis.
“Syukurlah kau sudah baik Naomi. Aku sangat cemas.” Rex berujar dengan lembut di depan Naomi.
“Maaf ya. Kau jadi repot.”
“Tak apa, demi gadisku.” Rex mengedipkan matanya sebelah. Naomi malah tersipu malu.
__ADS_1
“Apaan seh kau ini?” Naomi meninju lengannya Rex. Malah terasa kuat. Ini gak salah nih, kok kuat ya. bukannya baru sadar. Rex mengadu kesakitan dan Naomi pun meminta maaf.
Walau sakit namun Rex bisa menahannya. Ia memeluk Naomi dan mulai mengecupnya. Gerakan spontan dan tiba-tiba membuat Naomi kaget. Namun ia merindukan Rex dan membiarkan Rex melakukan hal tersebut pada dirinya.
Rex melepaskan pelukan dan kecupannya.
“Maaf.” Ucap Rex.
“Tak apa.” Jawab Naomi.
“Kau mau sesuatu. Aku akan ambilkan dan belikan.”
Naomi tertawa.
“Aku mau minum dan bubur saja. Rasanya kok haus dan lapar ya.”
“Baiklah. Aku ambilkan air putih hangat dan bubur untukmu. Tunggu sebentar ya.” Rex tersenyum.
“Iya.” Naomi pun tersenyum.
***
Di rumah sakit lain tempat Brian di rawat.
Setelah semalaman Brian tak sadarkan diri. Esoknya ia baru sadar. Saat sadar, Brian sungguh tak bisa menerima kenyataan kalau ia telah lumpuh dan banyak luka. Bahkan wajahnya sebelah rusak cukup parah. Alvin berusaha menenangkan namun Brian cukup histeris.
“Tidak!!! ini gak mungkin!!! Papa!!!” Brian histeris dan meraung-raung tak menerima keadaannya.
“Tenang Brian ... tenanglah.” Alvin berusaha membuat Brian tenang.
“Mereka harus mati Pa. Mereka semua.”
“Siapa yang melakukan ini Brian?”
“Rex ... dia pelakunya Pa. Dia yang melakukan ini semua padaku.” Brian tak bisa tenang, akhirnya para dokter dan suster datang dan menyuntikkan obat penenang. Brian pun akhirnya tertidur kembali.
Sedangkan Alvin merasa marah. Ia tak terima kalau putranya di buat cacat lumpuh begini. Alvin menelepon Mia meminta bantuannya.
Bersambung....
Apa akan ada bahaya selanjutnya kah? Alvin hendak melakukan apa?
Saksikan terus kelanjutannya ya kakak reader semua :) :D
Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)
Klik like, klik vote, klik favorit dan kasi komennya ya :D
Thanks. Love you all :D
__ADS_1
No plagiat ya :D
Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih kak. :D