Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 37.


__ADS_3

Rex mengantarkan Rere pulang, namun sebelumnya mereka sempat berjalan-jalan dahulu menikmati kebersamaan mereka berdua. Setelah puas barulah Rere di antar pulang sampai depan rumah. Rere turun dari mobil dan melambaikan tangannya. Rex membalas. Kemudian mobil Rex hilang menjauh. Rere pun segera masuk ke dalam rumah. Saat Rere hendak memasuki kamarnya, Scoot memanggil Rere sambil menghampiri putrinya yang baru pulang.


“Re....”


“Papa. Iya Pa. Ada apa?”


“Baru pulang?”


“Iya Pa. Tadi belajar bersama. Sekolah menunjuk Rere dan teman-teman agar mengikuti lomba kecerdasan. Jadi kami belajar bersama.”


Scoot menatap curiga pada putrinya. Rere ditatap tajam oleh papanya merasa tak nyaman rasanya.


“Siapa saja teman belajarmu Re?”


“Agung, Brian dan Rex” Jawab Rere.


“Rex? Si pemuda miskin yang memberikan dompet mahal itu?” Alis mata Scoot naik sebelah. Ia menatap putrinya tajam.


“Iya Pa. Tapi sekarang Rex tak miskin. Ternyata dia anak orang kaya Pa. Udah tampan, pintar, keren dan tajir juga loh Pa”


“Kau suka Rex? Kalian ada menjalin hubungan kah, Re?”


“Papa kok tiba-tiba nanya ini Pa? Emang kenapa Pa?”


“Papa harap kau tak ada hubungan apa pun dengan pemuda yang bernama Rex itu”


“Kenapa Pa? Apa salahnya?”


“Pokoknya tidak Re. Papa tidak setuju. Mau dia kaya pun pokoknya tidak. Jika kau suka dia maka lupakan. Jika kalian sudah pacaran maka putuskan hubungan kalian. Titik” Scoot menatap tajam Rere dan kemudian berlalu meninggalkan Rere yang masih diam mematung dan tak bergerak.


Cukup lama juga Rere terdiam dan mematung. Ia sulit mengerti kenapa Papanya tak mau dia berhubungan dengan Rex. Apa salahnya? Rere tak paham. Kemudian Rere merasa kesal dan masuk ke dalam kamarnya.


Esoknya di sekolah. Di perpustakaan.


Rex dan Rere lagi di perpus. Mereka belajar bersama. Namun pikiran Rere sedang tak berada di tempat. Ia melayang dan melamun. Rex awalnya hanya fokus ke buku yang ia baca. Namun kemudian Rex menatap ke arah Rere. Dilihatnya Rere banyak diam hari ini. Bahkan belajar saja sampai melamun. Karena merasa ada yang aneh, maka Rex memanggil Rere.


“Re....”


“Re....”


“Rere....”

__ADS_1


Sampai tiga kali Rex memangil namun Rere masih tak merespon. Akhirnya kedua tangan Rex meraih kedua tangannya Rere. Rere tersentak dan tersadar dari lamunannya. Setelah itu di arahkan Rere menghadap ke arah dirinya Rex. Ia lalu menangkup wajah Rere dengan kedua tangannya Rex, lalu mengecup sekilas bibir manis Rere. Kemudian terkekeh dan tersenyumlah Rex ke arah Rere.


Rere yang mendapatkan hal tersebut langsung tersadar ke dunia nyata dan menepuk bahunya Rex.


“Apaan seh? Nanti ada yang lihat. Bahaya kan”


“Habisnya dari tadi ku panggil tapi diam aja. Re, lagi mikirin apa seh?” Rex menatap lembut ke arah Rere.


Rere tak mau membuat Rex sedih, akhirnya memilih diam saja.


“Gak apa-apa. Cuma Papa marah saja padaku”


“Kenapa? Apa masalahnya?” Rex menatap sambil mengerutkan keningnya.


“Lupain saja. Kita fokus belajar saja. Waktu kita tak banyak kan” Rere tersenyum.


“Baiklah. Semoga segera membaik ya sayang” Rex meraih kedua tangan Rere dan mengecup kedua punggung tangannya Rere. Rex tersenyum dan Rere pun tersenyum.


Keduanya kembali fokus belajar.


Hari demi hari terus berlalu. Dan waktu yang di tentukan untuk mengikuti perlombaan pun tiba. Rex, Rere, Brian dan Agung telah sampai di tempat. Mereka memasuki sebuah tempat yang sudah disiapkan untuk perlombaan tersebut. Beberapa tim lain pun banyak mengikuti. Banyak tim lawan berasal dari sekolah-sekolah terbaik dan ternama juga. Ada sekitar 20 tim yang masuk ke perlombaan dan dinyatakan lulus untuk mengikutinya.


Masuk ke soal fisika dan kimia. Soal rebutan. Yang paling banyak menjawab benar maka akan meraih poin terbaik. Maka tim Rex dan tim lawan berebut menjawab dan waktu terus bergulir hingga akhirnya masuk ke babak akhir dimana masuk ke soal sejarah dan bahasa inggris. Soal main lempar. Tim Rex  akan memilih nomer berapa yang akan dijawab oleh tim lawan. Begitu juga sebaliknya. Jika berhasil menjawab maka poin akan mereka dapatkan. Dan jika gagal maka tim pemberi soal yang akan menerima poin.


Waktu terus berjalan hingga semua telah selesai dijalanin. Mereka pun akhirnya menang dan melaju ketahap selanjutnya. Dan bergilir ke tim selanjutnya. Hingga akhirnya dari 20 peserta tim, terpilih lah 5 tim yang menang. Salah satunya tim tersebut yang masuk 5 besar adalah tim Rex dan kawan-kawan. Rex dan kawan-kawan bersorak riang. Di dalam lomba Rex, Rere dan Brian serta Agung bergantian menjawab soal yang diberikan. Dan syukurlah membawa mereka ke 5 besar. Semua peserta yang masuk 5 besar di berikan penghargaan dan piagam atas keberhasilannya.


Betapa bangga dan senangnya Rex dan timnya. Bahkan Pak Donny selaku kepala sekolah yang membawa mereka pun bangga. Sekolah tak salah memilih wakil yang di ikutkan ke lomba. Mereka pulang membawa kemenangan.


Semua pulang dengan hati gembira.


Sebelum menunggu hari perlombaan final berikutnya mereka diberikan waktu istirahat beberapa hari oleh tim juri dan penyelenggara acara. Sambil beristirahat tentunya juga menyiapkan diri kembali untuk babak final nantinya. Jadi waktu beberapa hari ini harus digunakan dengan baik.


Rex saat ini sudah lama tak melihat Naomi. Bukan hanya di rumah namun juga di sekolah. Bahkan pergi dan pulang sekolah mereka sudah tak pernah sama lagi. Rex sudah sering dengan Rere. Dan kali ini Rex sengaja ingin menemui Naomi. Ia datang ke kelas Naomi karena pas jam istirahat.


Rex melihat-lihat ke sekeliling namun Naomi tak ada dikelasnya. Akhirnya ia ingat taman sekolah dimana mereka biasa berdua dulu duduk bersama. Kesana lah Rex mencari Naomi. Saat sampai disana Rex melihat Naomi duduk berdua dengan David. Agak aneh juga Rex melihat kenapa Naomi nampak dekat dengan David.


Rex menatap ke arah Naomi dan David sambil berjalan mendekat.


“Sejak kapan mereka dekat” Gumam Rex sendirian.


“Nao....” Panggil Rex dan mendekat. Kini Rex tepat berada dihadapan Naomi. Naomi melirik ke arah Rex. Rex tersenyum. Namun Naomi bersikap biasa saja.

__ADS_1


“Ada apa?” Tanya Naomi.


“Aku mencari mu tadi dikelas. Kau ini kenapa sekarang susah ditemui dan jarang kelihatan lagi” Ujar Rex.


“Bukannya kau yang sibuk pacaran dengan Rere”


“Kau tahu Nao?”


“Semua anak di sekolah ini juga tahu kali.”


“Maaf tak sempat cerita. Eh David, bisa aku dan Naomi bicara berdua”


“Maaf, gak bisa. Aku akan tetap disini” Ucap David tak suka pada Rex.


“Bicara saja sekarang Rex. Gak masalah kali kalau David tahu. Selama kau sibuk kan, David yang selalu nemenin aku” Naomi nampak jutek.


Rex tertegun mendengar perkataan Naomi. Ia menyadari kalau dirinya terlalu fokus dengan kegiatannya sendiri sekarang. Yaitu bersama Rere dan belajar. Ia sampai melupakan teman baiknya sendiri yaitu Naomi.


“Maaf Nao. Kau marah ya padaku” Rex menatap Naomi lembut.


Sejujurnya Naomi ingin luluh melihat Rex. Namun ia sadar diri tak boleh lagi membiarkan hatinya kembali sakit. Jadi emang lebih baik mereka menjauh.


“Pergilah Rex. Biarkan aku sendiri. Kau urus saja Rere pacarmu dan kehidupanmu sekarang yang sudah lebih baik” Naomi berkata begitu, kemudian membuang wajah ke arah lain. Ia menatap arah lain tak mau meneteskan air matanya, apa lagi sampai di lihat Rex.


Rex merasakan hantaman keras di saat Naomi memintanya pergi. Naomi tak pernah begitu padanya sebelumnya, kenapa sekarang seperti ini. Rex tak habis pikir. Karena Rex tak pergi juga, David pun mulai buka suara.


“Pergilah Rex. Itu lebih baik” Ucap David.


Rex menatap ke arah David. Keduanya berpandangan tak saling suka.


Bersambung....


Aduh Naomi, apa kau masih mempunyai perasaan pada Rex??? Belum move on kah? 😔🙁


Saksikan terus kelanjutannya ya kakak readers semua 😊☺️ 😀🤗


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)


Klik like, klik vote, klik favorit dan kasi komennya ya :D


Thanks. Love you all :D

__ADS_1


__ADS_2