Anak Terbuang

Anak Terbuang
Anak yang Terbuang


__ADS_3

"Rena! " Keluar kamu dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi! " Ayahnya mengusir Rena untuk yang kesekian kali.


"Ayah, apa salah Rena? " Tolong jelasin ayah? " Rena menatap ayahnya tanpa ada tangisan seperti yang sudah-sudah.


"Karena kamu membuat Kakakmu menangis dan baju kesayangannya kamu ambil". Pergi sekarang, ayah sama ibu tidak mau lihat lagi mukamu di rumah ini! " Tiba-tiba ayahnya mengambil kursi plastik dan melemparnya ke arah Rena dan untungnya Rena bisa menghindar sehingga bangku plastik itu tidak mengenai dirinya.


Rena berlari keluar rumah hanya menggunakan baju yang saat ini dipakainya, padahal baru 3 jam yang lalu pulang sekolah dan ingin makan tetapi seperti biasanya, Rena harus bertanya dulu dengan ayah dan ibu apakah dia boleh makan. Jika ayah dan ibunya diam, berarti Rena tidak diperbolehkan makan. Dan tadi saat ayahnya mengusir Rena, dia sedang membantu ayahnya membuat es lilin sebanyak 5 dandang besar dan harus dikerjakan sendiri


Rena dan kakaknya terpaut 8 tahun, sedangkan dengan adiknya terpaut 6 tahun. Tetapi tidak pernah sekalipun Rena mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya seperti kakak dan adiknya.


"Tuhan, Rena lapar sekali", batin Rena dengan berjalan gontai dan menunduk. Ia hanya mengikuti saja kemana kakinya melangkah.


" Nov, itu Rena bukan?" Dian menarik Novi yang sedang menunggu jemputan sepulang les.


Dian dan Novi adalah sahabat Rena dari TK dan saat ini mereka masih sekolah di SMP yang sama.


"Renaa, Renaaa!" teriak Novi dan Dian bersamaan dan menghampiri Rena.


Dian dan Novi, kenapa ada mereka disini? Apakah aku sudah berjalan jauh dari rumah. Rena menengok ke arah suara Novi dan Dian yang memanggilnya sambil berlari.


"Ren, kamu mau kemana?" Dian melihat muka Rena yang pucat dan masih memakai rok sekolah sedangkan baju seragam sudah berganti kaos dan tidak memakai sandal.


"Udah jawabnya nanti aja, Ren, makan yuk sambil nunggu sopirku jemput". Novi langsung mengajak Rena makan dan menarik tangan Rena dan Dian.


" Kamu mau makan apa Ren?" Novi dan Dian bertanya bersamaan.


"Terserah kalian, aku sudah kenyang kok, tadi sudah makan".


" Ren, kita berdua tahu pasti kamu belum makan. Kita temanan dari TK, dan sudah tahu keluarga kamu memperlakukan kamu seperti apa. Udah, aku pesanin dan kamu makan yah. Setelah itu kita antar pulang".


"Iya Nov, terima kasih".


Selesai makan, sopir Novi sudah menjemput.

__ADS_1


" Ayo Ren, kita pulang, kita antar ke rumah kamu". Ucap Novi.


"Maaf, aku ngga bisa pulang ke rumah. Aku diusir sama ayahku. Kalian pulang saja, aku biar jalan lagi".


Novi dan Dian kaget, karena Rena kembali diusir oleh orang tuanya. Dan selalu Rena yang dijadikan kambing hitam. Rena jarang makan karena tidak pernah di perbolehkan makan, jika Rena makan itupun karena kakaknya ataupun adiknya makan tidak habis dan dikumpulkan oleh ibunya di piring seng khusus untuk Rena makan.


"Udah, kamu ikut ke rumahku saja dan tinggal di rumahku sampai ayah kamu nanti cari kamu".


" Ngga usah Nov, aku ngga mau merepotkan kalian terus".


"Ayok, Novi segera meraih tangan Rena dan mengajak masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan, mereka bertiga tidak mengobrol hanya diam.


" Masuk yuk Ren, udah sampai", ucap Novi sambil membuka pintu mobil.


Rena mengikuti kedua sahabatnya masuk ke rumah Novi.


"Mama, sudah pulang?" Novi kaget karena tiba-tiba Mamanya yang membuka pintu.


" Maaf Ma, nanti Novi jelasin, Novi ganti baju dulu yah Ma. Yuk Dian dan Rena ke kamarku".


"Permisi Tante, masuk ke dalam dulu yah. ucap Dian dan Rena berbarenga.


"Sudah pada makan belum", teriak Mama.


"Sudah Ma, kita sudah makan".


"Nov, aku pamit pergi yah". ucap Ren


"Sabar kenapa sih, aku ganti baju dulu terus aku kasih tahu Mama".


Dian menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan Novi.

__ADS_1


Mereka bertiga keluar kamar dan menghampiri Mamanya Novi yang sedang duduk di ruang kerjanya.


Mama Novi seorang dokter di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta.


"Ma, aku mau ngomong sama Mama sekalian mau minta ijin. Rena mau nginap disini selama beberapa hari. Bolehkah Ma?"


Mama Novi melihat ke anaknya dan kedua teman Novi dengan heran


"Bukannya besok masih sekolah? Kok mau nginap? Memangnya Rena bawa baju ganti dan baju sekolah untuk besok?"


"Maaf Tante, Rena merepotkan, Rena pamit pergi yah Tante".


"Ada apa ini? Mama Silvani menatap Novi minta dijelaskan.


"Gini Ma, Rena diusir sama ayahnya. 2 Minggu yang lalu Rena juga diusir sama ayahnya dan dipukul pakai sendok kayu untuk masak itu sampai lebam mukanya. Lalu dipanggillah orang tuanya Rena, akhirnya Rena bisa pulang. Tapi ternyata Kakaknya tidak suka sama Rena. Kakaknya mau Rena diusir dari rumah dan tidak usah balik lagi".


"Mama kan tahu gimana Rena dari kecil. Coba Mama angkat bajunya Rena, itu ada lebam biru di badan dan punggungnya Rena karena dipukulin ayahnya". Novi mengatakan sambil menahan air matanya supaya tidak tumpah mengingat kejadian yang menimpa sahabatnya dari kecil.


Mama mendekati Rena dan mengangkat kaos Rena, alangkah terkejutnya Mama Silvani melihat badan Rena yang lebam. Lalu segera pergi untuk mengambil salep untuk mengurangi rasa sakit di badan Rena.


"Sini Rena sayang, tante olesin salep supaya kamu tidak demam dan sakit".


" Mulai hari ini, Rena tinggal sama Tante dan Novi juga Om".


" Sekarang Rena istirahat yah, nanti jam 7 malam kita makan malam".


'Novi, ajak Rena ke kamar tamu, biar Rena tidur disana"


"Dian, kamu pulang diantar sopir yah. Tadi tante sudah telpon Mamimu dan bilang bahwa kamu habis les main di rumah Novi. Hati-hati yah sayang, salam buat keluargamu".


" Baik tante, terima kasih. Dian pamit pulang yah. Bye Novi, Rena, sampai besok di sekolah yah".


"Yuk Rena, ke kamarmu, biar kamu bisa istirahat".Novi mengajak Rena ke kamar tamu.

__ADS_1


Setelah Novi keluar dari kamar tamu, Rena merebahkan dirinya di tempat tidur. Kasurnya empuk beda sama kasur yang aku punya. Aku cuma dikasih kasur yang sudah tipis. Rena menangis mengingat kejadian hari ini, Rena tidak pernah boleh masuk kamar kakak dan adiknya, bagaimana bisa baju kakak robek sama aku. Sedangkan kamarku bersebelahan sama dapur dan kamar kakak dan adik di sebelah kamar ayah dan ibu di ruang tengah. Aku sebenarnya anak kandung ayah ibu atau bukan? Pertanyaan itu selalu ada di pikiran Rena dari kecil. Karena lelah, akhirnya Rena tertidur.


Saat Rena tertidur Novi dan Mamanya berbicara mengenai kondisi Rena. Dan akhirnya Mama menyetujui agar Rena tetap tinggal bersama mereka dan tetap bersekolah. Semua biaya sekolah Rena akan dibayarkan oleh Mama Silvani.


__ADS_2