Anak Terbuang

Anak Terbuang
Rena terluka


__ADS_3

Rena baru saja sampai di kantor ayahnya Bagas, hari ini ia meeting dengan ayahnya Bagas. Rena masuk dan naik lift menuju lantai 12. Rena di persilahkan masuk ke ruang meeting, Rena kaget melihat Budi dan sebaliknya Budi juga kaget. Ayah Bagas masuk dan mengenalkan Budi sebagai PIC untuk proyek yang akan dikerjakan oleh kantornya. Dan meeting pun dimulai.


Rena keluar dari ruang meeting dan ditemani oleh Budi.


"Rena, ternyata kantor kamu yang mengerjakan proyek ini?


"Iya, harusnya bosku Bu Tita ikut hadir tapi karena beliau ada urusan jadinya tidak datang. Dan aku mewakili Bu Tita".


"Kamu hebat Rena". Budi mengacungkan 2 jempol.


"Kamu pulang naik apa?"


"Aku naik mobil Bu Tita dengan supirnya".


"Rena, aku mau ngomong sama kamu mengenai Tanti".


"Maaf Budi, aku ke sini urusan kerjaan bukan urusan pribadi. Dan mengenai Tanti seperti kamu bilang, aku ucapin selamat yah buat kamu, semoga hubungan kamu sama Tanti lancar".


"Bukan, bukan itu maksud aku. Aku sama Tanti tidak ada hubungan apapun".


"Maaf Budi, aku ngga perlu penjelasan itu. Hubungan kamu dengan Tanti adalah urusan kalian berdua dan aku tidak mau ikut campur. Oh iya itu Pak Udin sudah jemput aku. Terima kasih yah, bye Budi".


Rena baru saja sampai kostnya diantar dengan Pak Udin dan masuk kamar, handphonenya berdering dan telpon dari kakaknya.


"Anak s*t** besok diminta ayah datang ke rumah, pagi! "


"Tapi pagi Rena ngga bisa kak, kalau....


Belum selesai Rena menyelesaikan kalimatnya ternyata sudah ditutup oleh kakaknya. Rena menghela nafasnya. Ada apalagi yah? Yang terjadi terjadilah. Rena segera mandi dan berpakaian lalu merebahkan dirinya.


"Aduh, siapa lagi sih", Rena mengangkat telponnya dan tidak melihat siapa yang menelpon


"Kakak, aku besok pagi ngga bisa datang ke rumah, aku ada urusan kantor, setelah itu aku baru bisa ke rumah. Kakak, Rena caoek, mau istirahat, tolong ngertiin Rena, Kak.


"Hallo Rena, ini aku Budi. Maaf aku sudah ada di depan kostmu".

__ADS_1


"Eh, ya ampun maaf-maaf aku pikir kakakku yang telpon. Ada apa datang ke kostku Aku capek banget". Rena malas untuk keluar kamar dan menemui Budi.


"Sebentar saja Rena, pleaseee".


"Ok, sebentar, duduk saja di teras".


Rena keluar kamar dan menemui Budi di teras.


"Ada keperluan apa kamu ke kostku. Aku sudah bilang bahwa urusan kamu dan Tanti, aku ngga ikutan".


"Rena, boleh aku jelaskan yang sebenarnya sama kamu?"


"Budi, aku capek seharian ini dan aku sudah bilang kesekian kalinya, urusan kamu dan Tanti adalah urusan kalian berdua. Aku tidak butuh penjelasan kamu. Sekarang silakan kamu pergi, aku butuh istirahat".


"Ok, maaf kalau aku sudah ganggu waktu kamu, selamat malam".


"Malam".


Budi melihat Rena yang sudah masuk ke dalam kostnya. Susah sekali mendapatkan kamu Rena. Tadi ditelpon Rena mau ke rumah kakaknya? Besok aku akan ikuti kemana Rena pergi.


Rena tertidur, ia tidak mendengar bahwa handphonenya berdering berkali-kali.


Rena kesiangan bangun dan ia bergegas ke kamar mandi dan berpakaian dan segera pergi ke kampus dimana hari ini ia akan mendaftarkan diri dan menyelesaikan administrasinya. Rena tidak melihat banyak panggilan masuk dan pesan dari kakaknya.


Setelah selesai urusan kampus, Rena merasa lapar, ia melihat tukang bakso di pinggir jalan, lalu memesan dan makan bakso tersebut.


Rena tidak menyadari bahwa Budi mengikuti Rena dari pagi. Budi melihat Rena makan bakso di pinggir jalan tanpa merasa jijik dan kotor. Budi kagum kepada Rena.


Rena langsung menyetop taxi setelah membayar bakso. Sedangkan Budi masih mengikuti Rena.


Sesampainya di rumah orang tuanya. Rena langsung disambut makian yang membuatnya kaget.


"T*d** sama laki mana kamu, ditelpon berkali-kali tidak diangkat? Enak yah terus dapat uang banyak dong! Ini kuitansi rumah sakit yang mesti kamu bayar, semalam ayah masuk UGD dan harus segera dirawat, kita semua sudah ngga punya uang. Tanggung jawab ada di kamu semua untuk biaya berobat ayah. Dan uang harian kita sekeluarga, kamu yang harus tanggung jawab!"


Kakak Rena langsung menarik tas Rena dan memeriksa dompet Rena yang hanya tersisa uang 75ribu sedangkan ATM yang dari Om Bram tidak dibawa dan ATMnya yang lain tertinggal di kamar kost. Uang yang sedianya akan Rena pakai untuk ongkos pulang dan makan diambil kakaknya setelah itu tas dan dompetnya dibuang.

__ADS_1


"Kita ngga mau tahu, hari ini juga transfer uang untuk biaya UGD ayah serta uang untuk harian!"


Rena segera pamit pulang dan hendak mengambil tas dan dompetnya yang di buang, belum sempat mengambil, kakaknya menendang Rena dari belakanhyang menyebabkan Rena jatuh tersungkur dan ada kerikil yang mengenai dahinya sehingga berdarah. Rena memegang dahinya yang sakit dan melihat tangannya penuh darah. Rena segera menekan dahinya yang mengeluarkan darah. Kakaknya melihat dahi Rena berdarah segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.


Budi yang melihat Rena berdarah segera menghampiri dan menolong Rena masuk ke dalam mobil. Rena mulai tidak sadar karena banyak daraj yang keluar dari dahinya. Budi melarikan Rena ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.


Untungnya Budi mengikuti Rena, seandainya Budi tidak mengikuti Rena, entah apa yang akan terjadi dengan Rena. Budi mendengar semua omongan kakaknya Rena dan menganggap Rena sebagai perempuan yang bisa dibungkus. Dan tadi Rena tidak berkata sepatah katapun ataupun membalas omongan kakaknya.


Budi masih menunggu Rena yang belum sadar, dan Rena harus opname di rumah sakit. Tiba-tiba handphone Rena berdering, Budi mengambil handphone Rena dan melihat bahwa ada panggilan untuk video call dari Tante Silvani. Budi mengabaikan video call tersebut, tetapi handphone Rena tetap berdering akhirnya Budi angkat.


"Rena sayang, loh kamu siapa? Ini handphone Rena kan? Rena mana?


"Maaf Tante, saya dengan Budi temannya Rena, Rena saat ini masih belum sadar, Rena ada di rumah sakit, dahinya bocor dan sudah dijahit".


"Kamu siapanya Rena! Kenapa kamu jahatin Rena sampai dahinya bocor! Jelaskan!! Saya bisa laporkan kamu ke kantor polisi karena melakukan kekerasan! Sekarang!!! Kamu tidak tahu dari kecil Rena sudah mendapatkan kekerasan dari orang tuanya sampai akhirnya dia tinggal sama saya!!! Sekarang jelaskan, cepat!!!


" Baik Tante, saya jelaskan".


Budi menjelaskan semuanya kepada Tante Silvani dimulai dari pagi sampai akhirnya dahi Rena bocor dan pingsan dan masih belum sadar.


"Itu saja yang bisa Budi jelaskan Tante".


"Ok, tolong kasih lihat muka Rena saat ini".


Tante Silvani menangis melihat kondisi Rena


" Rena sayang, bangun sayang ini Tante, Om Bram dan Novi, kami kangen sama kamu. Maafin Tante yang sudah lama tidak menghubungi kamu. Ayo bangun sayang. Bulan depan Tante akan ke Indonesia, nanti Tante telpon kamu lagi yah. Muka kamu sampai bonyok gitu Renaa".


"Renaa aaaa bangun. Ini Novi, ayo Renaaaaa banguuuunnnn, kamu kuat Rena, dari kecil kamu sudah kuat sama semua kekerasan yang kamu terima, kamu tidak pernah mengeluh, ayo Renaaaaa...


"Budi, Tante minta tolong untuk jaga Rena terlepas kamu teman, sahabat atau apapun itu, tolong jaga Rena dan nanti kirimkan no pl lp p handphone kamu ke saya. Saya mau tahu perkembangan Rena. Terima kasih buat bantuanmu. Berapa pun biaya yang tadi kamu bayar untuk pengobatan Rena, tolong kasih tahu saya nanti. Saya akan membayarnya. Sudah gitu dulu, saya ngga kuat lihat Rena menderita lain seperti waktu Rena kecil".


"Baik Tante, nanti akan Budi berikan no handphone Budi".


Setelah video call dari Tante Silvani dimatikan. Budi melihat Rena yang masih belum sadar. Budi mengingat semua perkataan Tante Silvani. Dari kecil Rena sudah mendapatkan kekerasan dari orang tuanya. Rena tinggal sama keluarga Tante Silvani. Tadi kakaknya bicara seperti sama Rena yang meminta Rena menjadi tulang punggung keluarganya. Rena ngekost. Sebenarnya ada apa sama Rena?

__ADS_1


__ADS_2