Anak Terbuang

Anak Terbuang
Perasaan senang Ancis dan Budi


__ADS_3

"Rena, Rena.... bangun sudah jam 7pagi". Mama ngetuk kamar Rena,


"Iya Ma, Rena bangun".


Rena ke kamar mandi dan segera mandi. Selesaj mandi dan berpakaian Rena keluar kamar.


" Pagi anak Mama yang cantik. Sebentar lagi kita berangkat. Kamu bangun kesiangan tumben? Sudah sholat subuh?"


"Sudah Mamaku yang cantik". Rena memeluk Tante Silvani dengan erat.


"Hei tumben meluk Mama sampai kencang gini? Ada apa? Ada masalah?"


"Ngga papa, pengen aja meluk Mama. Oh iya Ma, Rena semalam mau kasih tahu Mama, tapi Mama kelihatan cape banget. Si Ancis kemarin ke rumah terus dia bilang kita diajak dinner sama Mamanya. Aku bilang, ngga tahu juga bisa atau tidak. Papa kan masih di SF terus nanti kita pulang jam berapa, aku juga ngga tahu selesainya Mama jam berapa? Jadi ya aku bilang lihat besok gitu ke Ancis ".


" Ya nanti kita lihat ya sayang. Yuk berangkat sekarang nanti kita sarapan di jalan saja".


"Sarapan di jalan? Maksudnya kita makan di jalan raya? Di tengah-tengah jalan raya?"


"iih kamu itu, jahil banget sih. Kamu sudah lapar?"


"Hahahaha, belum Ma, aku belum lapar. Selama disini aku gendut tapi ngga papa gendut yang penting aku nyaman".


" Setuju, yuk berangkat". Perjalanan kurang lebih 2 jam yah".


"Iya Mama".


Sebenarnya Tante Silvani tahu apa yang terjadi dengan Rena kemarin. Ancis menelponnya dan memberitahu kejadian kemarin. Tapi Mama tidak ingin melihat Rena semakin terluka. Karena Mama tahu Rena pandai menyimpan perasaan sakitnya. Dan kemarin Budi mengunjunginya di rumah sakit. Budi meminta maaf atas perlakuan Mamanya ke Rena. Tante Silvani kecewa dengan Mamanya Budi. Tante Silvani meminta Budi untuk tidak mengusik hidup Rena lagi.


"Rena, kamu jadi besok balik ke Indonesia?"


"Iya Ma, jadi ticket sudah dapat. Aku berangkat dari sini malam jam 8. Aku sebenarnya masih pengen disini Ma karena dekat sama Mama dan Papa, tetapi kerjaanku tidak bisa aku tinggal, tanggung jawabku masih banyak. Kalau mau nutup mata, aku tidak Peru bersusah payah kerja, pasti Papa dan Mama tetap bantu aku. Sayangnya aku tidak mau Ma. Aku masih muda. Aku ngga mau hidup di zona nyaman. Aku harus out of the box, kalau aku hidup di zona nyaman, akan sia-sia, sama saja seperti hidup segan mati tak nau malah jadi gila atau malah meninggal saking bosannya".


"Hush, kamu itu. Mama hargai pendapat dan pikiranmu. Selagi kita hidup memang harus out of the box. Kamu mau makan apa?"

__ADS_1


"Nasi uduk Ma, hahahahaha. Kangen mau makan nasi uduk Ma".


Mama dan Rena berhenti sebentar untuk sarapan, lalu melanjutkan perjalanan.


"Ancis, Tante Silvani dan Rena jadi untuk datang makan malam?"


"Belum tahu Mama, Tante ada seminar di Connecticut dan selesai jam 4 sore. Kalo mereka langsung pulang kemungkinan sampai sini jam 8 malam".


" I hope they can come for dinner with us."


"Ya Ma, hope so. Ma, I wanna ask you. Can I go with Rena to Indonesia?"


"Sure, why not. Better you go with her to go to Indonesia. I am so happy if you and Rena....".


"No Ma. Later on to talk about relationship between me and Rena. I am just afraid something happen with her. Ya, I love her as a friend. I already buy open ticket because I don't know what time Rena's flight".


"Ok".


"lalu kantormu yang disini dengan Budi?"


"Hari ini mau meeting dan kemungkinan akan dj akusisi Ma".


"Oh ok. As you want my dear. As long you can handle it, definitely Papa will ok".


" Ok Ma, i go to the office Ma, bye. See you at night ya."


"Ya, take care".


Ancis mengangguk dan mencium pipi Mama Annelise".


"Budi, kamu hari ini ke kantor?"


"Iya Pa, hari ini aku sama Ancis meeting dan kemungkinan kantor akan di akusisi".

__ADS_1


" Kamu masih marah sama Papa?"


"Ngga Pa, kecewa iya".


" Kita bicara sebagai laki-laki sekarang. Papa lebih menghatgai kamu mengambil keputusan sesuai dengan hati nurani. Jika kamu memang mencintai Rena. Kejar dia dan tunjukkan bahwa kamu memperjuangkan cinta kamu. Kamu bukan anak kecil lagi. Kamu yang menentukan sendiri jalan hidup kamu. Papa merestui semua yang kamu lakukan sepanjang bisa kamu pertanggung jawabkan keputusanmu. Papa selama ini diam, karena kamu sebagai laki-laki, kamu adalah kepala. Kepala buat diri kamu, kepala untuk istri kamu dan kepala untuk keluarga kamu nantinya, bukan Mama ataupun Papa yang akan jadi kepala kamu, istri dan anak-anakmu."


"Maksudnya Pa?"


"Kejar Rena dan buktikan bahwa kamu bertanggung jawab penuh kepada dirimu dan Rena".


" Ketakutan kamu yang seperti Mama katakan kepada kamu, tidak seperti itu. Kamu tenang saja."


"Jadi Budi bisa balik ke Indonesia?"


"Ya silakan saja, Tapi jangan tergantung sama Papa, kamu harus berusaha sendiri mendapatkan pekerjaan kamu harus berjuang untuk mendapatkan sandang, pangan dan papan dengan baik baru kamu bisa mendapatkan perempuan manapun yang kamu inginkan tetapi bukan asal perempuan tetapi perempuan yang bisa diajak untuk bertukar pikiran, satu visi dan misi dengan kamu".


"Ya Pa, terima kasih" Kapan kamu berangkat ke Indonesia, ada satu hal yang ingin Papa berikan kepada kamu. Dan sudah waktunya kamu tahu".


"Ok Pa, aku pamit berangkat ke kantor. Terima kasih Pa".


Pagi ini Papa dan Budi bicara karena kebetulan Mama pergi ke rumah sepupunya dari kemarin.


Budi berjalan ke kantor dengan perasaan ringan. Rena apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan kamu kembali". Aku akan jadikan kamu bagian dari hidupku, istri dan mama dari anak-anakku.


Budi dan Ancis berbarengan sampai kantor. Dua-duanya terlihat senang dengan pemikirannya masing-masing.


"Budi, semoga hasil meeting nanti yang terbaik buat kita berdua. Apapun itu".


" Yup Ncis, semoga saja. Kita siap-siap. Nanti pakai mobilku saja Ncis".


"Ok, siap".


Rena mengikuti seminar Mama Silvani yang menjadi salah satu pembicara. Rena melihat setiap detail yang disampaikan oleh Mama Silvani. Dari situ Rena belajar bagaimana menyampaikan sesuatu secara ringkas dan padat sehingga semua orang yang mendengar bisa mengerti dengan mudah. Ya selama ini pun Rena melakukan hal yang sama dari mulai ja bekerja di kantor Bu Tita. Untuk membuat laporan harus bisa dibaca dan di mengerti oleh orang lain sehingga orang yang tadinya tidak tahu ataupun sulit memahami dengan membaca laporan mereka bisa langsung memahaminya at least saat orang yang membuat laporan tidak hadir, bisa digantikan oleh orang lain dengan mudah dan harus dipastikan bahwa laporan itu di buat oleh diri sendiri setidaknya meminimalis orang lain mengklaim ide yang kita buat.

__ADS_1


__ADS_2