
Rena sudah bersiap untuk pergi ke rumah orang tuanya, apapun terjadi harus ia hadapi.
Rena melihat ada ambulan di depan rumah orang tuanya. Ibunya melihat kedatangan Rena dan segera masuk ke dalam. Rena hanya terpaku melihat sikap Ibu. Rena berusaha membuang ketakutan dalam dirinya. Rena mengucapkan salam. Rena menitikkan air mata, karena tidak seorangpun yang keluar dari dalam rumah, padahal Ibunya sudah melihat kedatangan Rena.
Beberapa orang tetangga yang melihat kedatangan Rena segera menghampiri Rena dan mengajak Rena ke rumah salah satu tetangga yang menghampirinya. Rena mengikuti ibu tersebut dan rumahnya hanya berjarak sekitar 4 rumah dari rumah orang tuanya.
"Rena, kamu sekarang sudah besar yah. Cantik dan tinggi. Kamu pasti lupa sama Bude dan sama tetanggamu. Dulu waktu kamu masih kecil kalo bapakmu memarahi kamu dan memukul kamu, kamu pasti langsung lari kerumah Bude, Walopun akhirnya dijemput sama bapakmu dan kamu diseret". Bude berkata sambil menangis. Ia ingat semua kejadian yang menimpa Rena tetapi jika ia menolong Rena, ayahnya akan semakin melampiaskan kemarahannya kepada Rena, banyak tetangga yang tidak suka dengan sikap keluarga Rena.
"Maaf Bude, Rena lupa. Bude namanya siapa? Rena berusaha mengingat nama Bude yang telah mengajak Rena pergi dari rumah orang tuanya.
"Bude Parti".
Rena menganggukkan kepalanya.
"Bude, Rena mau tanya, itu ada mobil ambulan di depan rumah, siapa yang sakit?
"Bapakmu baru pulang dari rumah sakit, dirawat selama 3 hari. Katanya ginjalnya bengkak tapi bude ngga tahu pastinya. Petugasnya permisi ke mushola, jadi dititip mobil ambulannya di depan rumah bapakmu. Kamu darimana? Kamu sekarang tinggal dimana? Kamu beda sama kakak dan adikmu.
"Rena tinggal di jalan Surabaya, Bude. Rena ngekost".
"Sebentar bude mau telpon Ani, yang dulu pernah bantu jadi tukang cuci baju dirumah bapakmu". Bude masuk ke dalam meninggalkan Rena yang duduk di ruang tamu.
Rena mendengarkan semua omongan bude Parti setiap mengatakan " bapakmu" penuh penekanan, kemarahan dan kebencian. Rena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Rena, ini bude buatin teh, sama ada gorengan. Bentar lagi Ani kesini".
"Iya Bude, terima kasih jadi merepotkan".
Pintu rumah bude di ketok
"Masuk Ni".
"Ani, ini Rena yang dulu sering kamu cerita kalau habis nyuci baju dirumah keluarga sakit jiwa itu".
Rena agak terkejut saat Bude Parti bilang bahwa keluarganya adalah keluarga sakit jiwa. Rena memberi salam kepada Mbak Ani. Rena berusaha mengingat Mbak Ani yang katanya pernah membantu menyuci baju. Yang terlintas di kepalanya hanya kejadian yang sering membuat Rena merasakan ketakutan dan sakit.
"Ya Tuhan, Rena.... ini Rena! Kamu masih hidup? Kamu sudah besar. Tinggi dan cantik".
"Makasih Bu Ani. Maaf Rena lupa sama Bu Ani".
Mbak Ani memegang tangan, kaki dan badan Rena.
"Tangan, kaki dan badanmu tiap hari biru. Kamu selalu nangis. Dikasih makan tapi yah makanan sisa, lebih seringnya ngga makan. Orang tuamu ngga punya hati sama sekali. Waktu SMP kamu diusir sama ayahmu, aku langsung minta berhenti. Terus aku lari ngejar kamu, mau bawa kamu pulang, tapi kamu udah ngga kelihatan. Larimu cepat banget. Aku mau asuh kamu jadi anakku saja tadi. Karena aku sampai sekarang belum punya anak. Makanya aku langsung minta berhenti dan ngejar kamu ternyata sudah hilang. Aku pulang dan bude Parti lihat aku nangis diajak ke rumah. Aku ceritain semuanya sama bude. Aku cuma doain kamu selamat Rena. Alhamdulillah kamu selamat, sudah besar, cantik dan tinggi". Mbak Ani menceritakan kejadian saat Rena kecil sampai terusir dari rumah sambil menangis.
Rena yang mendengarkan cerita tersebut hanya bisa diam. Bayang-bayang masa kecilnya muncul di dalam ingatan Rena dan ia berusaha menahan air matanya supaya tidak tumpah.
Bude Parti juga menangis saat Mbak Ani menceritakan semuanya.
__ADS_1
"Rena, ini sudah siang, makan dulu yuk", ajak bude Parti.
"Makasih bude, aku masih ada urusan, sebenarnya tadi ke rumah mau lihat kondisi Ayah bagaimana, setelah pasang ring jantung. karena kakak ngga ijinin aku lihat saat di rumah sakit".
"Bude ngga bisa banyak cerita sama kamu, Rena. Ada saatnya kamu akan tahu yang sebenarnya. Karena aku tidak mau lagi ikut campur urusan keluargamu. Warga disini sudah tahu gimana bapakmu itu. Terutama kakakmu".
Terdengar teriakan dari luar, bude Parti dan Mbak Ani langsung berlari keluar. Sedangkan anaknya bude Parti yang tadi di dalam kamar juga keluar dan menemani Rena diruang tamu.
"Mana ******* kecil itu. Ngumpet dimana! Hei ******* keluar kamu! Jangan sembunyi dan jangan pernah menginjakkan kakimu itu kerumah orang tua saya. Kamu bukan adik saya! Bagusnya kamu ngga mati! Dan ada harga yang harus kamu bayar ke orang tua saya!
Kakak Rena melihat bude Parti dan Mbak Ani keluar dari dalam rumah langsung menanyakan dimana Rena?"
"Sudah pulang, tadi aku yang bawa pergi dari depan rumahmu dan tadi Rena langsung pamit pulang".
Beberapa warga yang mendengarkan teriakan kakak Rena langsung keluar dan menganggukkan kepala mereka saat bude Parti bilang bahwa Rena sudah pulang.
Kakak Rena segera balik badan dan pulang ke rumah dengan wajah kesal dan marah.
Waktu kakaknya meminta Rena keluar, Rena sudah bangkit berdiri tetapi ditahan oleh anaknya bude Parti. Untungnya kakak Rena tidak melihat Rena karena terhalang gordyn yang menutupi setengah jendela. Entahlah apa yang akan terjadi nanti jika Rena memaksa keluar, bisa jadi Rena akan dipukuli oleh kakaknya.
Semua warga yang diluar masuk kembali ke dalam rumah tidak terkecuali bude Parti dan Mbak Ani saat kakak Rena sudah masuk ke dalam rumahnya.
Bude Parti menghampiri Rena dan memeluk Rena.
__ADS_1
"Sabar ya Rena, kamu tunggu dulu dan jangan pulang dulu. Biar Tari anak bude duduk di depan. Jadi kalau kakakmu pergi dengan pacarnya. Kamu bisa pulang. Bude ngga mau terjadi apa-apa sama kamu.
"Iya bude, terima kasih",