
Rena menatap langit-langit kamarnya. Rena tahu bahwa hal ini akan terjadi. Tetapi Budi selalu meyakinkan dirinya bahwa orang tuanya merestui hubungan mereka. Dan ternyata hari ini Rena mendapatkan jawaban langsung dari Mamanya Budi.
"Ya, aku memang anak yang dibuang oleh orang tuaku. Dan sepertinya tidak akan ada orang tua yang akan merestui aku untuk menikah dengan anaknya karena latar belakang hidupku. Seperti yang dikatakan Mamanya Budi".
Rena menerawang dan air matanya mengalir. Ya Allah, kenapa aku harus menderita seperti ini? Apakah aku hidup untuk membayar karma kedua orang tuaku yang aku sendiri tidak tahu dan tidak pernah mengenal mereka. Tetapi Engkau Maha Besar, Engkau berikan kepadaku orang-orang yang mencintai dan menyayangiku dengan tulus tanpa melihat bibit, bebet dan bobotku. Terima kasih ya Allah.
Rena segera bangun dan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan ia sholat dilanjutkan dengan sholat maghrib. Selesai sholat, Rena merasakan ngantuk yang amat sangat dan akhirnya tertidur masih mengenakan mukenanya.
"Rena, Rena. Ayo makan malam dulu. Mama dan Papa nunggu kamu. Kita makan malam bersama". Tante Silvani mengetuk kamar Rena tetapi tidak ada jawaban dari Rena. Pelan-pelan Tante Silvani membuka pintu kamar Rena dan melihat Rena tertidur. Tante Silvani mendekati Rena dan menyentuh wajah Rena, mukenanya basah karena Rena menangis. Tante Silvani dapat merasakan kesedihan Rena.
Rena terbangun dari tidurnya karena sentuhan tangan Tante Silvani.
"Tante, maaf Rena ketiduran". Rena segera melepas mukenanya.
" Ngga papa sayang, yuk kita makan malam. Papa sudah menunggu di ruang makan. "
"Iya Ma, nanti Rena nyusul, Rena mau ganti baju dulu".
Budi sedang di rumah Ancis dengan muka kusut, Budi menceritakan saat Mamanya berbicara dengan Rena.
" Bingung gue Ncis, ternyata Mama gue ngga setuju gue sama Rena dan gue ngga bisa melawan kehendak Mama gue. Gue di didik sama orang tua gue untuk mematuhi mereka, dan selama ini apa yang diminta sama mereka selalu benar cuma gue aja yang sempat melenceng jauh".
"Sholat, sholat, yah gue ngerti kondisi loe secara orang tua loe masih konservatif, orang jaman dulu. Dan memang harus lihat bibit, bebet, bobotnya. Cuma kalau loe bisa meyakinkan orang tua loe mungkin mereka akan berubah pandangan. Yang mau jalanin rumah tanggakan loe, bukan orang tua loe?"
"Nah loe sendiri gimana Ncis?"
"Sama, cuma beda. Itu perempuan ketahuan selingkuh dan sudah hamil, ya gue ngga maulah".
" Walaupun udah loe bungkus ya, hahahaha".
"Sial loe, Bud".
" Hahahaha, kita sama ya cuma beda kasus aja dikit".
"Budi, kalau memang orang tua tetap ngga setuju sama Rena terus loe gimana?
__ADS_1
" Ya tadi gue bilang, harus nurutin apa kata mereka ".
" Berarti Rena bisa gue dekatin dong".
"A****g loe, emang itu yang loe mau kan?"
"Hahahahaha dia marah, ngga lah gue bercanda Hahahahaha".
Ancis terlihat senang menggoda Budi. Sebenarnya Ancis bersyukur akhirnya Rena bisa ia dekatin dan akan jadi miliknya tanpa harus merusak persahabatannya dengan Budi.
Sehabis makan malam, Rena ijin ke Tante Silvani dan Om Bram untuk masuk ke kamar karena ia merasa capek sekali.
Rena melihat jadwal check up ke dokter. Senin besok Rena check up jam 9 pagi dengan dokter Hendro.
"Mulai besok semua mengenai Budi aku harus hapus. Dan semuanya perhiasan yang Budi kasih masih ada di laci meja kamarnya disana. Untungnya semua baju dan barang-barangku sudah dibawa kesini semua. Aku harus kasih tahu Budi bahwa perhiasan yang ia kasih ada di laci meja". Huft.... Rena menghela nafas panjang.
Rena mengirimkan pesan kepada Budi, memberitahu bahwa perhiasan ada di laci meja. Dan uang yang selama ini di pakai untuk membeli baju Rena akan di kembalikan.
Budi membaca pesan yang dikirimkan oleh Rena dengan perasaan campur aduk.
Rena selama menjalin hubungan dengan Budi selalu mencatat semua pengeluaran uang Budi untuk dirinya.
Budi segera menelpon Rena dan berharap Rena akan mengangkat telpon darinya.
"Rena, halo Rena kenapa seperti inj?
"Budi, terima kasih ya sekali lagi sudah menjaga aku, mencintai aku dan menyayangi aku. Tetapi Mamamu benar, aku bukan perempuan baik-baik yang pantas untuk kamu. Aku menerima semua perkataan Mamamu. Dan aku tidak mau punya hutang sama kamu. Semuanya sudah terinci dengan jelas. Apabila ada yang miss kasih tahu aku saja. Aku doakan semoga pertunangan dan pernikahanmu langgeng dengan mantan pacarmu. Salam buat orang tuamu dan hati-hati di jalan yah. Bye Budi, selamat malam".
"Renaaaa, Renaaa, tunggu, jangan di tutup telponnya".
Terlambat, Rena sudah menutup telponnya dan mematikan handphonenya.
" Kenapa Bud?
"Rena mengembalikan semua uangku dan ada catatannya juga perhiasan yang aku kasih ada di laci meja kamarnya di rumah. Aaaaaarrrrrgggghhhh.... hancur semua impianku Ancis".
__ADS_1
" Tenang, tenang... kasih waktu buat Rena. Gue rasa ia pasti tetap mau berteman dengan loe".
"Ngga tahu gue, Ncis gue ngga bisa berharap banyak. Loe ngga tahu Rena".
" Oh ya. Budi, perempuan dimana-mana sama. Loe kasih berlian dia akan ngikutin kemanapun loe pergi".
Buuuuggg, Budi menonjok perut Ancis.
"Sekarang loe ikut gue Ncis, ayooo".Budi menyeret Ancis
" Lepasin, gue ikut loe. An**** sakit tahu!"
Budi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke rumahnya. Ia ingin kasih lihat ke Ancis perhiasan yang ia berikan ke Rena dan hanya sekali di pakai oleh Rena. Dan Budi memberikan handphonenya kepada Ancis, berapa uang yang telah di transfer Rena tadi.
Ancis melihat jumlah yang tidak sedikit dan Rena dengan mudah mentransfer uang tersebut.
Sesampainya di rumah, Budi segera menarik Ancis masuk ke kamar yang selama ini Rena tempati dan membuka laci mejanya.
Budi memperlihatkan satu set perhiasan berlian dengan carat yang besar.
Ancis tidak dapat berkata apa-apa. Ia hanya memandang Budi dengan tidak percaya. Rena di berikan oleh Budi satu set perhiasan berlian dan tidak pernah memakainya.
Selama Ancis tahu Rena, Ancis tidak pernah melihat Rena menggunakan perhiasan hanya jam tangan biasa saja.
"Loe tahu Ncis, Rena punya parfum hanya di pakai saat dia kerja. Loe lihat tuh botol parfum nya yang masih penuh. Itu gue yang beli dan gue beli 2. Yang 1 masih tersegel yang satu sudah dia pakai dan itu masih penuh".
Ancis semakin bingung dengan omongan Budi, sampai segitunya Rena, makanya Budi sayang dan cinta banget sama Rena.
"Dan satu hal lagi, loe lihat tadi perincian uang yang dia transfer. Itu untuk beli baju dia. Dia ngga pernah pakai makeup, hanya lipstick, bedak dan parfum saja. Dan ada keterangan makan dimana? Ngga ada karena dia lebih suka makan di pinggir jalan dan dia suka nasi goreng depan kantornya".
Ancis mendengarkan semua omongan Budi dengan seksama.
"Rena bukan perempuan matre, Rena perempuan yang punya kelas tinggi dalam hidupnya bukan dalam artian kemewahan. Paham loe?"
Ancis menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya sudah sabar. Kita ngopi di teras rumah loe, biar loe tenang dan rileks".