Anak Terbuang

Anak Terbuang
Rena


__ADS_3

"Budiiii, apa kabar? Kamu kok menghilang padahal papa sama mama mau ketemu sama kamu. Aku kangen sama kamu".Seseorang menepuk pundak Budi


"Hai Sita, aku baik. Kenalin, ini istri aku".


"Sayang, kenalin ini teman aku" Budi tersenyum kepada Rena.


Rena bangkit berdiri dan mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Sita.


"Maaf, ini perempuan bukan level ku. Ngga mungkin kamu sudah menikah? Tidak ada info apapun".


"Baru 2 minggu yang lalu. Iya jelaslah tidak selevel sama kamu. Secara istriku lebih cantik, tinggi dan bukan perempuan yang menghalalkan segala cara untuk dapat kemewahan. Level istriku lebih tinggi dari kamu!"


"Huh, kita lihat saja, perempuan ini akan aku hancurkan sama seperti pacar-pacarmu, karena tidak boleh ada yang menikah dengan kamu selain aku!". Sita menjambak rambut Rena yang sudah duduk.


"Aduh, kenapa kamu jambak aku? Aku tidak kenal kamu dan jangan pernah menyentuh aku! Jika kamu bilang aku tidak selevel sama kamu, itu urusan kamu tapi dengan perbuatan kamu menunjukkan bahwa kamu perempuan yang tidak punya etika dan tata krama. Sekarang pergi! Aku meminta kamu pergi dan jangan usik hidup aku dan suamiku!". Rena memegang tangan Budi agar tidak menghampiri Sita karena Rena tidak mau ada keributan.


Sita pergi dari hadapan Budi dan Rena dengan rasa kesal dan marah. Sedangkan Rena balik menikmati kopinya seperti tidak terjadi apa-apa.


"Rena, terima kasih kamu ngga marah saat aku bilang kamu adalah istriku".


"Ngga usah dibahas, ngga penting, cuma kepalaku sakit saja dijambak dia. Sudah hampir jam 7, kita pergi sekarang ke pernikahan Tanti biar tidak terlambat ke bandara".


"Ok".


Di dalam mobil Rena merapikan rambutnya dan untungnya di biarkan tergerai.


Mereka sudah sampai, dan masuk ke gedung pesta pernikahan Tanti. Banyak tamu datang. Rena melihat Bagas yang memasang muka masam, tidak ada senyuman sama sekali di muka Bagas.


Budi dan Rena berjalan ke depan untuk bersalaman dengan Tanti dan Bagas. Rena memberi selamat kepada Tanti.


Tanti berbicara dengan pelan ke Bagas


"Rena, perempuan murahan yang kamu banggakan sekarang dia jadi simpanan om-om itu"


"Diam kamu, aku lebih mengenal Rena daripada kamu!"


Rena mendengar pembicaraan Tanti dan Bagas.


"Budi, aku ngga bisa lama disini yang penting sudah salaman sama Tanti, kita bisa segera pulang".


"Sebentar ya, aku mau kenalin kamu sama seseorang".


"Siapa?"

__ADS_1


"Ayo, kita kesebelah sana". Budi menunjuk ke arah kerumunan sambil menggandeng Rena


"Om, Tante, apa kabar?


"Budiiii, wohoooo, akhirnya bisa ketemu disini. Baik, baik, kami baru saja sampai di Indonesia 2 hari yang lalu. Kamu sendiri gimana? Kapan balik ke sana lagi? Papa dan mamamu sehat-sehat".Ucap om Tito


"Aku baik Om. Oh iya om, kenalin ini Rena".


"Wow, cantik sekali pacarmu dan pintar, terlihat dari pancaran matanya". Papa dan mamamu ingin sekali balik ke Indonesia tetapi beliau terlalu sibuk".


"Makasih Om. Rencana berapa lama di sini?"


"Rencana 3 minggu, tetapi belum tahu juga bisa tiba-tiba besok pagi harus berangkat lagi".


"Om dan Tante, Budi ijin pulang dulu karena masih ada urusan dengan keluarga Rena. Nanti Budi hubungi om lagi yah".


"Ya, ya, Hati-hati jaga pacarmu baik-baik ya". Om Tito tersenyum


"Budi, kamu hutang penjelasan, tetapi nanti saja, karena aku tidak tahu background kamu. Selama ini kamu hanya bilang aku cinta kamu, aku sayang kamu. Background kamu yang aku maksud bukan kekayaanmu, bukan materi tetapi lebih kepada kehidupan kamu".


"Siap nyonya Budi, aku akan kasih penjelasan".


"Iih siapa yang nikah sama kamu?"


"Jangan bercanda, kita harus sudah pergi ke bandara". Rena melepas sepatunya. Budi geleng-geleng kepala melihat tingkah Rena yang cuek.


Mereka segera masuk ke mobil dan pergi ke bandara.


"Rena, boleh aku bicara sesuatu hal? Aku harap kamu tidak marah?".


"Bicara apa? Besok-besok janganlah buka sepatu kamu di depan orang banyak, apakah kamu tidak malu?"


"Bukan masalah malu atau tidak malu, aku tidak peduli orang mau bicara apa tentang aku. Kalau kakiku sakit karena heels ini terus aku harus menuruti semua orang banyak dan saat aku sudah tidak kuat, terus aku jatuh? Apakah ada orang yang akan menolongku? Bisa jadi mereka kaget kemudian tertawa dan malah mengasihani diriku atau mungkin malah mengejek aku dengan bilang "perempuan kampungan baru pakai heels yah?" Lalu apakah mereka akan bantu aku? Hanya mereka dan diri mereka yang tahu jawabannya.


Rena terdiam


"Gini saja, kamu malu aku membuka sepatuku? Karena ternyata kamu membawa perempuan yang tidak menghargai pemberianmu dan kamu malu karena banyak orang melihat apa yang aku lakukan? Aku tidak perlu jawabanmu, hanya kamu sendiri yang tahu jawabanmu" Maaf, aku membuat kamu malu dan jatuh harga dirimu karena aku membuka sepatu yang kamu belikan untuk aku. Dan aku tidak marah".


Budi melihat ekspresi datar wajah Rena, tidak ada kemarahan.


"Maaf Rena, bukan gitu maksud aku? Aku tidak ingin kamu dipandang sebelah mata oleh banyak orang".


"Budi, apapun pendapat ataupun opini ataupun kritikan dari orang kepada diri kita, harus kita hargai dan hormati, balik lagi ke diri kita masing-masing. Apakah tetap dengan mengikuti cara pandang orang atau kita punya cara pandang yang berbeda".

__ADS_1


Mereka sudah sampai bandara, Rena langsung menelpon Novi. Dan ternyata Novi masih dalam perjalanan belum sampai bandara.


"Rena"


"Kamu marah sama aku?"


"Tidak, aku tidak marah buat apa? Aku menghargai dan menghormati pendapatmu dan kritikanmu. Tetapi inilah aku, apapun yang aku kerjakan aku Terima resikonya. What you give then you get back as long I am in the right path and right way. I am just do the best as I can do. There is no regret".


"Iya, makasih sayang".


"Itu Novi dan Alex, ayo kita kesana".


Mereka segera menghampiri Novi dan Alex yang baru keluar dari mobil diikuti oleh Tante Silvani dan Om Bram.


"Novi".


"Rena, kamu cantik banget. Aku senang lihat kamu dandan seperti ini".


"Apa sih, aku ngga bisa dandan, ini Budi ajak aku ke salon. Kan kamu tahu sendiri, aku bagaimana?"


"Iya Renaaaaa, tapi benaran cantik dan fresh".


"Iya, iya terserah".


" Mulai lagi deh ini anak dua. Novi ayo cepat, kamu harus boarding tinggal 30 menit lagi".


"Iya Ma, lihat Rena cantik". Tante Silvanj melotot ke Novi


"Iya Mama".


"Aku boarding dulu ya, sampai ketemu lagi Rena dan Budi. Titip Rena jangan disakiti, kalau kamu sakiti akan aku kuliti kamu".


"Siap Novi".


Mereka berpelukan dan Rena merasa sedih karena waktu dengan Novi kurang, dikarenakan kondisinya yang tidak memungkinkan.


"Rena, kamu mau kemana setelah ini?


"Pulang, Rena capek Tante".


"Oh iya Rena, nanti kamu cek tabunganmu ya". Ada hadiah buat kamu dari om dan tante". ucap Om Bram.


"Ok Om, Rena kabarin secepatnya yah".

__ADS_1


__ADS_2