
Rena sudah sampai di kantor. Sudah banyak dokumen yang tertumpuk di mejanya dan memo. Rena membaca memo satu persatu dan ada beberapa dokumen yang harus ia selesaikan hari ini. Rena segera menyelesaikan 2 dokumen yang akan dipakai meeting oleh Bu Elice dan Bu Asha jam 10 nanti.
Mbak Esther datang dan tersenyum melihat Rena yang sedang menyelesaikan dokumen-dokumen yang menumpuk di mejanya. Rena segera mengirimkan email ke Bu Elice dan Bu Asha untuk dokumen yang sudah ia kerjakan agar dicek terlebih dahulu setelah di approval oleh Bu Elice dan Bu Asha, Rena segera print dokumen tersebut dan memperbanyak sesuai permintaan yang tertera di memo.
Sebelum jam makan siang, semua dokumen sudah selesai Rena kerjakan, dan Rena menarik nafas panjang
"Akhirnya selesai juga, 3 hari tidak masuk kerja banyak yang harus dikerjakan".
"Hebat kamu Rena, semangat bekerjanya tinggi".
"Yah Mbak Esther, kalau aku ngga semangat kerja gimana aku mau hidup hehehhe, Mbak Esther kan sudah tahu. Loh, Tanti ngga masuk kerja Mbak?" Rena melihat ke meja Tanti dan ia baru menyadari kalau Tanti tidak masuk kerja dan mejanya terlihat bersih tidak seperti biasanya.
"Tanti resign katanya, tapi baru dengar-dengar saja dan akan menikah. Tapi berita mengenai Tanti mau menikah juga masih simpang siur".
"Rena berdoa, semoga Tanti segera menikah jika apa yang Tanti bilang waktu Rena di rumah sakit".
"Rena, Mbak Esther pergi makan siang dan ngga kembali ke kantor yah, mau ke kampus. Mbak Farah sedang meeting gantikan tugasmu heheheh".
"Iya Mbak, hati-hati di jalan, kalau jatuh bangun sendiri yah, terus kalau nyopet bagi-bagi". Rena menggoda Mbak Esther sambil tertawa.
"Hush kamu tuh, mulai isengnya, kadang aku kangen saat dimana ngga ada Tanti, kamu bisa iseng dan kita semua tertawa lepas. Ya sudah aku jalan dulu yah Ren, jaga gawang ya".
"Ok, Mbak Esther ku sayang".
"Mbak Rena, ada telpon dari Budi, katanya temannya Mbak Rena".resepsionis menelpon Rena
" Iya Mbak Lia, aku ambil, makasih". tumben telpon ke kantor bukan ke handphone saja.
"Hallo Budi, tumben kamu telpon aku ke kantor, kenapa ngga telpon ke handphone aku saja?"
"Siang Rena, aku mau ajak kamu makan siang, aku dalam perjalanan ke kantormu".
"Maaf, aku ngga bisa makan di luar, aku bawa bekal, dan hari ini banyak kerjaan, jadi aku mesti selesaikan kerjaan ku yang ke pending beberapa hari".
__ADS_1
"Ok, nanti malam aku jemput, kita makan malam ya, tidak ada penolakan, aku mohon". suara Budi terdengar berharap sekali.
" Ya, ok. Aku bisa tapi mungkin jam 7 atau 8 aku baru bisa keluar kantor".
"Baik Rena. Aku jemput kamu jam 7an ya".
Budi menarik nafas panjang, karena ia ingin sekali bertemu Rena siang ini. Tapi rasa kecewanya terobati karena Rena mau untuk makan malam bersamanya.
Budi sedang memegang undangan pernikahan Tanti. Ternyata Tanti menikah dengan anak dari direktur di kantornya. Ia ingin memperlihatkan undangan tersebut kepada Rena, agar Rena mau menerima dirinya sebagai kekasihnya bukan sekedar teman lagi.
Sementara di tempat lain Bagas marah kepada dirinya karena terjebak dengan Tanti. Harapan Bagas untuk menikah dengan Rena saat ia lulus kuliah dan mendapat pekerjaan sirna sudah. Mau tidak mau Bagas harus terima takdir yang ia terima, walaupun Bagas tahu bahwa orang tuanya tidak suka dengan sifat Tanti. Orang tuanya sudah tidak mau membiayai kuliah Bagas lagi setelah menikah. Bagas belum memberitahukan kepada Rena bahwa ia akan menikah dengan Tanti.
Jam 7, Rena masih berkutat di mejanya dengan 1 dokumen untuk tender Bu Asha. Rena mencari data yang diperlukan ternyata banyak file yang tidak dibereskan oleh Tanti. Rena harus selesaikan malam ini karena besok pagi akan dibawa oleh Bu Asha.
Ada pesan masuk di handphone Rena dari Budi, bahwa ia sudah menunggu di lobby kantor Rena.
Jam 8.30, Rena keluar dari ruangannya dan menuju ke lobby.
"Ngga papa Rena, sini aku bawakan tasmu". Budi melihat Rena membawa tas di tangan dan backpack nya, Rena terlihat capek sekali.
"Ngga usah, terima kasih".
" Kita makan malam ya, aku mau ajak kamu makan di daerah menteng?".
"Ok. sekarang atau nanti?" tanya Rena
"Sekaranglah".
Budi dan Rena berjalan ke parkiran, Budi membuka pintu mobilnya untuk Rena. Lalu mereka pergi, sepanjang jalan terdengar lagu dari radio, Rena diam saja, karena sebenarnya ia capek dan ingin merebahkan dirinya di kasur, tapi ia sudah terlanjur bilang iya kepada Budi.
Mereka sampai di menteng, restoran yang sangat elit untuk Rena dan ia merasa tidak nyaman.
"Budi, boleh ngga kalau makan malam jangan disini? Aku pengen makan nasi goreng yang di pinggir jalan dekat sini, di sana ada nasi goreng, ada pempek dan ada juga sate ayam dan sate ati ayam".
__ADS_1
"Ok, kemana saja kamu mau, aku antar".
Budi menjalankan mobilnya kembali kearah yang Rena tunjukkan, ternyata ramai sekali dan tidak ada tempat yang kosong, akhirnya Rena dan Budi memesan nasi goreng dan sate ati ayam. Mereka makan di dalam mobil.
Budi melihat Rena menikmati nasi goreng pinggir jalan dan sate ati tanpa merasa jijik, Rena makan dengan lahapnya. Ternyata seorang Rena yang merupakan sekretaris bos besar terlihat santai menikmati.
"Makasih Budi, aku kenyang heheheh". Rena tersenyum dan membuat jantung Budi berdegup kencang melihat senyuman Rena.
"Kamu cantik". Budi berbicara perlahan dan Rena mendengar.
"Siapa Bud, perempuan yang tadi jalan memang cantik".
Saat Budi mengatakan cantik, ada seorang perempuan berjalan dan kaca mobil terbuka.
"Eh iya, semua perempuan cantik, termasuk kamu Rena".
" Makasih Budi, aku dibilang cantik".
"Oh iya Rena, aku dapat undangan pernikahan dari Tanti, akhir bulan nanti, Tanti menikah". Budi memberikan undangan tersebut kepada Rena. Dan Rena mengambilnya. Rena terkejut saat membaca bahwa yang menikah Tanti dengan Bagas.
Bagas menikah dengan Tanti, jadi? Tanti mengandung anaknya Bagas? Kok bisa? Bukannya Bagas pacaran dengan Lulu? Terus? Banyak pertanyaan di kepala Rena. Ada rasa sedih yang terbersit dari diri Rena.
Budi melihat perubahan wajah Rena yang terkejut dan bersedih. Budi tidak tahu bahwa Bagas adalah temannya Rena. Dan sebaliknya Rena tidak tahu bahwa Bagas adalah anak dari bosnya Budi.
"Rena, kamu kenapa?"
"Akhirnya Tanti menikah, senang, setidaknya Tanti tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya sekarang".
"Iya, setidaknya kamu juga percaya bahwa aku bukan laki-laki yang menghamili Tanti. Dan mungkin kamu mau membuka hatimu untuk aku, Rena".
" Aku sudah membuka hatiku untuk kamu, bukannya kita berteman?"
"Iya, kita berteman, maksud aku gitu". Budi segera meralat omongannya.
__ADS_1