Anak Terbuang

Anak Terbuang
Mas Wawan


__ADS_3

Budi hanya bisa terdiam menatap kepergian Rena dan Ancis. Dan merutuki kebodohannya karena ikut dalam permainan keluarga angkat Rena khususnya ibu angkat Rena yang menyakinkan dirinya mengenai bu Nina


Budi sangat ingin memiliki Rena sampai ia tidak sadar telah dibodohi. Rena, hanya Rena seorang yang mampu membuat Budi melakukan hal apapun agar bisa dekat kembali seperti dulu.


Budi hampir menikahi Rena tetapi mamanya ternyata tidak merestui karena ada kepentingan dan mengagungkan bibit, bebet dan bobot.


Budi keluar dari ruangan dan menjalankan mobilnya dengan kencang. Ia marah terhadap dirinya sendiri. Marah akan kebodohan yang ia perbuat sendiri. Marah karena terlalu naif mempercayai omongan ibu angkat Rena.


"Ancis, kamu mau aku antar pulang atau mau ikut aku?"


"Ikut kemana?"


"Ke mas Wawan yang tadi aku telpon."


"Aku ikut kamu."


"Ok."


Rena melakukan mobilnya ke daerah barat. Dan berhenti di sebuah rumah minimalis.


"Assalamu'alaikum, malam mas Wawan."


"Wa'alaikumsalam, malam Rena, silahkan masuk. Kamu mau minum apa?"


"Apa saja, air putih dingin saja. Aku tahu mas Wawan sendiri daripada aku bilang minta kopi pasti perlu waktu untuk buat kopi hitam. Oh iya mas, kenalkan ini Ancis."


Wawan dan Budi berkenalan.


"Mas Wawan, kamu masih pulang ke rumah orang tuamu bude Parti?"


"Kadang-kadang kenapa memangnya?"


"Sebenarnya aku ada masalah dengan ibu. Kakak dan adikku selalu minta uang. Mereka pikir aku ladang uang sampai akhirnya mereka menjadi drama queen dengan melibatkan adiknya ibu yang aku tidak pernah tahu."


"Maksudnya drama queen?"

__ADS_1


"Ya dia mengaku sebagai ibu kandungku, tetapi setelah diselidiki ternyata mereka seperi itu karena mereka minta uang. Kira-kira apakah bisa diurus untuk perdata dan pidana?"


"Hmmm, masih terus ya Ren. Sejak kamu pergi dari rumah itu. Mamaku suka duduk di luar berharap kamu datang. Mamaku seperti kehilangan anaknya."


"Jujur mas, aku malas untuk datang kesana lagi. Terlalu banyak kenangan pahit. Sedikit banyaknya pasti kamu tahulah mas. Aku tidak dendam, cuma buat aku cukup. Cukup pengalaman kecilku menjadikan aku trauma untuk melangkah ke depan."


"Iya aku tahu, aku ngerti, mama dulu suka cerita. Tapi saat ini rumah mama sudah tidak dj sebelah rumah masa kecilmu lagi. Mama sudah ikut mbakku. Mereka tinggal di tangerang sekarang."


"Mas dirimu bisa bantu agar mereka tidak meneror aku ataupun memeras aku lagi. Aku benar-benar capek mas menghadapi permainan mereka."


"Ya Rena, aku ngerti posisi kamu. Sekarang gini saja, biar aku urus semua sebagai shock terapi untuk mereka."


"Ya mas, aku serahkan sama kamu. Karena kamu tahu juga masa kecilku. Seandainya ada yang tahu dimana keberadaan orang tuaku. Aku akan kejar mereka. Tetapi aku tidak tahu harus mulai darimana? Terlepas mereka menbuang aku dan menitipkan kepada keluarga itu. Aku tetap sayang dan cinta orang tua kandungku Aku selalu mendoakan orang tua kandungku."


"Ya sudah jangan spanneng. Kamu itu cantik dan buat gemes. Dari kecil dulu aku tuh senang main sama kamu, tetapi kamu selalu tidak ada waktu untuk main dipukulin terus, dimarahin terus."


"Sudah mas. Aku tidak mau mengingat-ingat lagi."


"Kamu sama mas Ancis sudah makan? Kebetulan tadi pulang kerja aku masak telor balado sama tempe goreng. Kalau mau ayo kita makan bareng."


'Mau mas, aku lapar. Ayo Ancis ikutan kita makan bareng disini."


"Mas Wawan, saya bisa minta no handphone Mas Wawan. Siapa tahu nanti saya butuh bantuan mas Wawan untuk urusan pengadilan dengan teman bisnis."


"Boleh mas Ancis. Silakan di disave nomer saya dan nanti miscall ke saya. Jadi saya juga bisa save nomer handphone mas Ancis."


Ancis senang sudah mendapatkan nomer handphone Wawan.


"Ngomong-ngomong kamu masih kerja di kantor yang lama Ren?"


"Iya mas, habis mau kemana lagi? Bosku orang baik. Dia kasih aku kesempatan untuk kuliah. Aku dikelilingi orang-orang baik Mas. Termasuk kamu."


"Ya kamu sendiri baik Rena, tidak pernah jahat sama orang. Ringan tangan sampai ringan sekali hahahahha."


"Iseng deh mas Wawan."

__ADS_1


"Mas, makasih ya sudah dikasih waktu bertemu dan diajak makan pula. Masakannya enak. Aku aja ngga bisa masak."


"Ya kamu kan ada pembantu yang masakin. Terus kapan kira-kira aku dapat undangan dari kamu nih."


"Undangan apa mas? Undangan makan, ya nanti aku atur deh."


"Bukan undangan kapan kamu nikah?"


"Hahahah, waktu itu ada yang mau dan ngga jadi karena aku ngga punya bibit, bebet, bobot. Akhirnya ya sudah, gone with the wind deh."


"Hahahah, kamu hopeless banget. Minta tolong sama Ancis carikan calon suami buat kamu?"


"Wah jangan deh kalau Ancis yang carikan bisa ribut kemana-mana. Mas Wawan mau ngga sama Rena. Hahahahha, kesannya diobral. Jangan diambil hati omonganku. Aku lagi fokus karir dulu mas. Buat nanti pas tua aku ngga nyusahin orang sekampung heheheh. Urusan jodoh serahkan sama Allah."


"Iya benar Rena. Aku pun juga batal menikah karena calon istriku meninggal sebulan sebelum kami menikah."


"Maaf mas. Aku turut prihatin. Semoga Allah melapangkan jalannya."


"Amin Rena. Aku pun sudah diminta sama mama untuk segera mencari lagi tapi aku belum bisa. Susah rasanya. Karena dia yang tahu aku sejak sekolah dulu sampai akhirnya aku kerja."


"Iya mas, sama seperti aku bukan karena takut untuk gagal lagi, tapi belum bisa melupakan semua yang terjadi. Kalau aku lebih kepada diriku sendiri. Urusanku masih banyak dan ribet. Terus mau ngurusin anak orang, iya kalau iya mau bantu urusanku. Kalau ngga? Ya susah juga."


"Ngomong-ngomong mas Ancis gimana? Maaf jadi pendengar saja. Ikutan ngobrol lah mas, jangan diam saja."


"Eh, ngga kok mas Wawan. Aku lagi ngurus kerjaan juga. Karena kemarin tidak masuk kerja beberapa hari ada urusan keluarga juga. Jadi santai saja."


"Iya mas, sama Ancis santai saja. Dia punya dunia sendiri kok. Heheheheh. Oh iya mas, sudah malam. Saya dan Ancis pamit pulang ya. Terima kasih buat jamuan makan malamnya dan bantuannya."


"Sama-sama Rena. Kamu ngga usah terlalu stress mikirin keluarga angkatmu. Yang terpenting adalah kebahagian diri kamu sendiri. Buat apa bantu dan nolong orang tetapi kamu tidak bahagia. Bukan aku menyangsikan ketulusanmu tetapi kamu sudah cukup merasakan kepahitan masa kecil kamu. Tetapi kamu bisa bangkit dan inilah kamu sekarang. Aku salut sama kamu Rena."


"Hahahah, jangan muji berlebihan mas. Manusia hidup itu ibarat roda. Kadang diatas, ditengah ataupun di bawah."


"Yup, setuju. Ya sudah malah lanjutan ngobrol. Silakan kalau mau pulang, bukan ngusir ya. Besok aku kabarin ya."


"Ok mas, sekali lagi terima kasih banyak."

__ADS_1


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


__ADS_2