
Rena sudah di bandara Internasional dan ada Ancis. Mama Silvani, Papa Bram dan Mama Annelise juga di bandara mengantarkan mereka.
Rena dan Ancis boarding. Selesai boarding mereka menunggu untuk masuk ke pesawat.
"Ancis kamu yakin kita sebangku? Kok seperti sekolah yah, sebangku."
"Kita lihat saja nanti ya, Rena. At least kamu ngga kesepian."
"Hahahaha lucu, di pesawat kok kesepian. banyak orang yah."
"Tapikan ngga bisa ngobrol seperti ini."
"Hahahaha, lucu kamu Ncis."
Akhirnya mereka mendengar panggilan untuk masuk ke dalam pesawat. Dan mereka melewati petugas untuk mengecek ticket mereka.
"Rena, kamu dikelas apa?"
"Ini." Rena memberikan tiketnya kepasa Ancis.
Ancis melihat ticket Rena tersenyum senang. Fix, bareng hehehehh. Batin Ancis.
Rena berjalan ke kursinya dan Ancis mengikutinya.
"Loh, jadi kamu satu bangku sama aku?"
"Iya, kenapa? Ngga boleh."
"Boleh, memangnya aku bilang ngga boleh?"
Rena segera duduk dan Ancis sebelahnya.
"Rena, boleh aku tanya?"
"Mau tanya apa?"
"Tapi jangan marah?
"Kenapa kamu sudah larang aku marah? Dengan kamu bilang jangan marah saja, Sebenarnya sudah membuat aku agak marah. Karena bisa dipastikan nantinya pertanyaanmu itu pertanyaan retoris. Kalau kamu mau bertanya, langsung saja tidak perlu ada kalimat diskriminatif seperti itu."
__ADS_1
"Ok, kamu masih suka sama laki-laki kan?
"Masih."
"Kamu mau balikan lagi sama Budi?"
"Aku sudah tidak memikirkan Budi. Bagiku Budi adalah masa lalu. Kalau aku bilang sebagai batu loncatan terdengar terlalu kasar. Lebih kepada Budi itu seperti ujian hidup buat aku, supaya aku bisa naik kelas lagi dalam hidup. . Dan fokus aku saat ini adalah karirku. Mengenai pacaran atau nikah, aku belum kepikiran. Aku terima apapun yang Tuhan berikan. Pasrah dan ikhlas dan mengikuti takdirku. Aku ngga tahu kalau tiba-tiba aku harus nikah mungkin hari ini juga aku nikah Aku mengikuti Tuhan dan tetap berusaha belajar untuk lulus ujian dalam hidup."
"Ok Rena, terima kasih."
"Sama-sama Ancis."
Ancis merasa senang dengan Rena. Ancis sudah membayangkan akan membuat rencana agar perusahaannya papa dan perusahaannya Bu Tita akan bekerja sama lagi. Sehingga Ancis bisa bertemu tiap hari dengan Rena. Seperti setahun yang lalu.
Rena tertidur. Ancis hanya bisa memandang Rena yang sedang tertidur.
'Rena, kamu cantik sekali. Sedang tidur ataupun tidak tidur. Pendirianmu yang teguh dan tidak tergoyahkan membuat aku salut Padahal dengan kecantikanmu saja, laki-laki bisa terpesona. Tetapi kamu multiple dan multi tasking. Pintar, cantik, anggun, berwibawa, tegas, baik."
Ancis melihat buku di pangkuan Rena. Ancis membukanya ternyata tulisan-tulisan kesedihan hati Rena. Di halaman awal Ancis membaca 10 magic words
Help : menolong siapa pun yang membutuhkan bantuan
Thank you :harus berterima kasih kepada siapa pun dan dalam hal apapun.
Excuse : selalu meminta ijin
Amazing ; melakukan hal- hal yang luar biasa untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain
Hope : harus mempunyai harapan walaupun harapan itu tidak terlihat nyata
Unselfness ; tidak boleh egois
Kindhearted : berusaha untuk menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi
Love : mempunyai rasa sayang dan cinta kepada sesama.
Honest : Jujur kepada diri sendiri dan orang lain
At the end, you must be respect with yourself before you respect with others. Because when you say that you respect with others but you are not respect with yourself is gonna be uselesa.
__ADS_1
As long you are in the right path and in the right way, never ever afraid. Do the best as you can do.
Ancis membaca 10 kata tersebut dengan kagum. Ternyata semua kata-kata yang di tulis Rena sudah Rena jalanin. Semakin membuat Ancis kagum dengan pribadi Rena. Ancis meletakkan kembali buku Rena di pangkuannya seperti semula. Untungnya Rena tidak terbangun.
Ancis tertidur. Tidak berapa lama Rena terbangun. Rena melihat Ancis yang tertidur dan melihat jamnya. Masih 15 jam lagi perjalanannya. Rena mengambil minum dan memakan roti yang sudah disediakan.
Rena dan Ancis menggunakan kelas bisnis untuk penerbangan ke Indonesia.
Rena membaca buku dan melanjutkan tulisannya. Rena tidak tahu bahwa tadi Ancis sempat membaca buku Rena.
Malam saat keberangkatan Rena dan Ancis. Budi di rumah. Ia tidak ikut mengantarkan mereka berdua ke bandara. Budi sedang packing baju-bajunya. Budi pun akan ke Indonesia. Dan Papa mendukung keputusan Budi untuk mengejar Rena dan menjalin hubungan dengan Rena kembali.
Mama marah sekali kepada Budi. Ia tidak berani marah kepada suaminya. Dan bagusnya Budi tidak memberitahu alasan di balik pertunangan Budi dan anak kandungnya.
Mama menghampiri Budi di kamarnya.
"Budi, jangan harap kamu bisa menikah dengan Rena. Kamu tetap harus menikah dengan anak Mama. Dan Mama pasti kan kamu tidak akan bisa menguasai perusahaan Papa di Jakarta."
"Terserah Mama mau bicara apa Ma. Budi sudah besar, sudah bisa menentukan jalan hidup Budi sendiri. Dan Budi tidak mengharapkan Perusahaan Papa akan jadi milik Budi. Yang terpenting Papa sudah memberikan dukungan kepada Budi. Dan Budi tetap menghormati Mama sama sepertj Budi menghormati Papa."
"Ok, besok kamu tidak akan pernah berangkat ke Indonesia dan besok juga kamu akan menikah."
"Ma, terserah Mama mau merencanakan apa sama Budi. Besok pagi Budi akan berangkat."
Tiba-tiba Papa muncul.
"Mama, apa yang mau kamu rencanakan sama Budi dan Aku? Selama ini aku diam bukan berarti aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan. Ma, kita berdua sudah tua. Saat ini tugas kita hanya mengawal kesuksesan anak kita bukan dengan memerintah dan menyuruh seperti waktu kecil. Tidak semua apa yang dikatakan dan kita maui sesuai dengan keinginan anak kita. Budi sudah besar Dan Budi seorang laki-laki yang harus dan mampu untuk menjadi kepala bagi dirinya sendiri dan bagi keluarganya kelak."
"Tapi Pa, Budi anakku, dia tetap anakku. Aku yang melahirkan Budi."
"Mama, mama lupa. Bukan Mama yang melahirkan Budi tetapi almarhum Mami Sarah yang melahirkan Budi. Dan besok Papa juga akan berangkat ke Indonesia untuk mengurus perusahaan Papa untuk dialihkan ke Budi. Jadi Mama tolong jangan bertindak di luar batas lagi. Cukup semua keinginan Mama, sudah Papa penuhi tetapi untuk urusan siapa istri Budi kelak. Biar Budi yang menentukan. Budi, kamu sudah selesai packingnya? Kita berangkat sekarang."
"Sudah Pa, maksudnya berangkat sekarang Pa? "
"Ya kamu dan papa bernagkat malam ini juga, Kamu tidak usah bertanya. Ayo."
"Papa, papa mau ninggalin Mama disini?"
"Papa hanya beberapa hari saja di Indonesia, membereskan beberapa hal. Dan nanti papa akan balik. Papa harap selama Papa tidak ada, Mama intropeksi diri. Jangan pernah memaksakan kehendak Mama kepada Budi. Kita dan mereka sudah berbeda Ma.
__ADS_1