
Vito sudah memesan tiket pesawat untuk ke Amerika. Ia masih ingat bahwa jika mau menjadi pacar atau suami Rena. Harus minta restu dari mama dan papa nya Rena yang tinggal di Amerika.
Vito berangkat sore hari setelah semalam mengungkapkan perasaannya dengan Rena. Vito tidak mau menunggu jawaban dari Rena. Vito berdoa sama Allah agar apapun jawaban Rena nantinya, Vito harus berbesar hati. Yang pasti ia harus minta restu kepada Mama Silvani dan papa Bram.
Rena apapun akan aku lakukan agar aku bisa menjadi suamimu. Vito duduk terdiam di dalam pesawat. Aku tidak tahu apakah nanti aku di restui oleh Om Bram dan Tante Silvani. Yang penting aku bicara dan memberitahu maksud dan tujuanku ke Om Bram dan Tante Silvani.
Rena masih di kantor menyelesaikan proposal untuk klien baru Vito.
Vito, kenapa semalam dia bicara seperti itu? Apakah Vito yakin menerima aku apa adanya. Dan aku sendiri tidak punya perasaan dengan Vito. Ah sudahlah. Biarkan alam semesta yang bertindak bagaimana selanjutnya. We never know. Just do the best as I can do for myself.
Rena kembali berkutat dengan pekerjaannya. Handphone Rena berbunyi.
"Halo malam Bagas."
"Malam Rena. Malam ini aku bisa minta waktunu?"
"Kalau malam ini tidak bisa. Aku masih banyak kerjaan. Lusa bagaimana?"
"Ok lusa ya. Aku jemput kamu."
"Ya ok."
Rena sudah menutup telpon dari Bagas.
Hari ini Vito tidak menelpon, mungkin dia sibuk karena proposal yang aku buat akan di combine dengan proposal yang dia buat.
Rena melihat jam sudah jam 11 malam. Rena membereskan meja kerjanya. Dan keluar dari ruangannya.
"Pak Mistar, saya sudah di lobby ya."
"Baik non Rena."
Rena sudah di dalam mobil.
"Non Rena, maaf. Kita langsung pulang atau bagaimana?"
"Langsung pulang saja Pak Mistar, saya capek sekali."
"Iya non Rena."
Rena sampai rumah hampir jam 12 malam. Rena langsung masuk ke kamar dan tertidur.
"Pagi pak. Non Rena masih di rumah?
" Pagi pak Budi. Masih dan sepertinya masih tertidur. Non Rena baru sampai rumah jam 12 malam."
"Oh. Saya titip pesan untuk non Rena. Ada undangan pernikahan untuk non Rena."
"Baik Pak Budi akan saya sampaikan ke non Rena."
Pak Satpam memberikan undangan ke Pak Mastar.
"Mbok, non Rena belum bangun?"
"Belum Pak Mastar. Ada apakah?"
"Ini ada undangan pernikahan buat non Rena dari Pak Budi."
__ADS_1
"Oh. Siapa yang menikah?"
"Ngga tahu mbok. Saya kan ngga buka undangannya."
"Oh iya. Mbok lupa. Ya sudah tolong taruh diatas buffet sebelah meja makan ya pak Mastar. Terima kasih."
Badanku sakit semua. Rasanya ingin tiduran saja dirumah. Tapi aku harus ke kantor karena ada meeting dengan Bu Tita nanti jam 3. Jam berapa ini. Ya Allah sudah jam 11 siang. Rena bangun dari tempat tidurnya. Dan mengambil handphone di tasnya.
Banyak panggilan masuk. Dan panggilan masuk yang paling banyak dari Vito.
Rena keluar kamar dan menuju ke dapur.
"Non Rena. Siang."
"Siang mbok. Aku mau kopi ya mbok."
"Iya non. Non Rena sakit?"
'Ngga mbok. Saya ngantuk saja."
"mbok takut kalau non Rena sakit."
"Makasih ya mbok."
Rena berjalan ke ruang makan dan duduk sambil menunggu kopi.
Mbok datang membawakan kopi.
"Non, ini kopinya. Terus tadi pagi Tuan Budi datang memberikan undangan."
"Oh iya mbok."
Rena membuka undangan tersebut.
Ya Allah. Akhirnya Budi menikah dengan hah? Tanti? Tanti istrinya Bagas? Bagaimana bisa?
Baguslah Budi akhirnya menikah dan Tanti akhirnya mendapatkan Budi. Rahasia hidup tidak ada yang tahu. Jalani dan syukuri saja hidup ini.
Aku harus segera mandi dan pergi ke kantor. Huft capeknya.
Rena sudah di kantor.
"Mbak Rena, dipanggil sama Bu Tita. Dari tadi Bu Tita cari mbak Rena."
"Oh, makasih ya Rahma."
Tok... tok... tok...
"Masuk. Rena, duduk."
"Iya Bu, Terima kasih."
"Rena, sejak saya tinggal ke luar negri pergerakan perusahaan ini makin melesat tajam. Kamu benar-benar membuat perusahaan ini jadi maju Rena. Kerja kerasmu terbukti. Saya mengikuti terus pergerakan kamu. Selamat ya Rena. Saya benar-benar bangga sama kamu."
"Terima kasih Bu."
"Nanti kita akan meeting BOD, kamu ikut akan ada informasi penting yang harus kamu ketahui."
__ADS_1
"Iya Bu Tita."
"Kamu kenapa? Kok sepertinya sedang lesu gitu? Kamu sakit?"
"Tidak Bu Tita. Saya ngantuk heheheh. Belum ketemu dengan pujaan hati saya yang setia menemani saya selama ini."
"Oh, Budi, Ancis atau ada yang lain?"
"Kopi hitam Bu, tanpa Budi ataupun Ancis."
"Hahahah, kamu itu. Ibu pikir laki-laki ternyata kopi. Ya sudah nanti jam 3 ya Rena. Kita meeting BOD."
"Ya Bu. Kalau begitu saya permisi balik ke ruangan saya ya Bu."
"Ok Rena."
Rena kembali ke ruangannya.
Kepalaku kok sakit banget ya. Ada apa sih ini?
Sementara Vito baru sampai Amerika. Vito berencana ke rumah tante Silvani besok saja.
Selama penerbangan Vito membayangkan menikah dengan Rena. Vito tersenyum. Dan sekarang dalam perjalanan ke hotel. Vito kembali membayangkan pernikahannya dengan Rena.
Untuk saat ini aku hanya bisa membayangkan menikah dengan Rena. Dan perang yang pertama dimulai adalah perang untuk mendapatkan restu dari tante Silvani dan om Bram. Vito semakin tidak sabar untuk segera bertemu dengan Tante Silvani dan om Bram.
Rena yang ada di ruangannya tiba-tiba tidak sadarkan diri. Jam 2.45. Rahma menelpon Rena untuk mengingatkan meeting jam 3 yang 15 menit lagi akan dimulai. Tapi telpon Rahma tidak diangkat.
Rahma menutup telponnya dan mengetuk ruangan Rena, tetap tidak ada jawaban.
Rahma membuka pintu ruangan Rena. Rahma mendapati Rena tergeletak di lantai.
Rahma segera menelpon Bu Tita, Bu Elice dan Bu Asha. Dan menelpon Pak Mistar.
Rena sudah tidak sadarkan diri. Rena segera djbawa ke rumah sakit.
Dan saat ini Rena ada. di ruang ICU dalam kondisi tidak sadar.
"Dokter, sebenarnya Rena kenapa?"
"Saya masih mengecek seluruhnya Bu. Apakah ibu orang tuanya?"
"Ya saya wakil orang tuanya. Karena orang tuanya tidak ada djsini. Saya masih menunggu kedatangan orang tuanya."
"Baik. Kami akan melakukan beberapa pengecekan. Mohon di tunggu hasilnya ya Bu."
"Iya dokter. Terima kasih."
Bu Tita menelpon Ancis.
"Halo Ancis, bisa minta tolong kamu hubungi orang tua Rena."
"Ya Bu Tita. Ada apa memangnya Bu?"
"Rena tadi pingsan di kantor. Dan sekarang ada dj ICU dalam kondisi tidak sadar."
"Lalu apa kata dokter?"
__ADS_1
"Belum bisa dipastikan. Dokter sedang mengecek seluruhnya dan akan segera diinfokan."
"Baik Bu Tita, segera saya telpon orang tuanya Rena. Terima kasih Bu."