
Budi menunggu taksi, dia sudah mengembalikan semua yang diberikan oleh Anas. Masih terlihat kemarahan di wajah Budi. Ternyata Anas menginginkan Rena juga.
Sore nanti Budi akan datang ke kantor Rena. Ia akan menjemput Rena sekaligus memberi kejutan kepada Rena. Budi tidak tahu bahwa setelah meeting di luar kantor. Rena langsung segera pulang.
Selesai meeting jam 4 sore, Rena segera keluar gedung dan menunggu Pak Mistar menjemput di lobby
"Pak Mistar, kita belanja dulu ya."
"Tempat biasa Bu?"
"Ya Pak."
Rena masuk ke pusat perbelanjaan. Tadi Rena mendapat pesan dari sekretarisnya bahwa ada seorang perempuan yang bernama Mia menelpon ke kantor. Rena ingat bahwa Mia adalah adiknya.
Mia menitip pesan untuk dibelikan keperluan sehari-hari seperti sabun dan lainnya.
Rena pergi ke supermarket dan membeli semua keperluan Mia, ibu dan saudara-saudaranya.
"Hallo Pak Mistar, bisa masuk ke dalam supermarket, saya mau minta tolong.Saya tunggu di depan supermarket ya.
"Baik non Rena."
Rena segera membayar belanjaannya dan ada sekitar 6 kantong belanjaan.
Tidak berapa lama Pak Mistar sudah datang.
"Non Rena, apa yang mesti saya bantu."
"Pak, tolong kirimkan belanjaan ini ke rumah yang kemarin itu. Dan berikan amplop ini ke ibunya dan Mia. Setelah selesai, Pak Mistar bisa langsung pulang. Nanti saya pulang sendiri saja."
"Tapi non nanti pulang naik apa? Setelah antar saya ke sini lagi untuk jemput non Rena."
"Ngga usah Pak. Saya belum tahu akan pulang jam berapa karena saya ada janji sama seseorang. Pak Mistar capek dan segera pulang untuk istirahat ya."
"Baik non Rena."
Pak Mistar mendorong keranjang belanjaan ke parkiran mobil. Dan Rena pergi ke restoran cepat saji. Rena ingin sekali makan bakmi. Ia masuk ke dalam, tetapi ternyata penuh.
Rena keluar dari pusat perbelanjaan, Ia melihat ada gerobak mie ayam. Rena segera menghampiri gerobak mie ayam dan memesan mie ayam.
Budi menghentikan mobilnya di depan pusat perbelanjaan karena lampu merah.
Budi melihat sosok Rena yang sedang menikmati mie ayam.
Saat lampu hijau Budi menjalankan mobilnya pelan-pelan dan menghentikan mobilnya di depan Rena yang masih menikmati mie ayam gerobak.
"Kamu ngga berubah Rena. Mana orang tahu kalau kamu wakil direktur. Makan di pinggir jalan dan rambut yang biasanya tergerai sekarang dikucir ke belakang."
Budi keluar dari mobil dan menghampiri Rena yang baru saja menyuapkan sesendok mie yang terakhir. Budi menyodorkan tissue ke Rena.
"Loh Budi, kok ada disini." Rena mengambil tissue yang disodorkan oleh Budi
"Aku tadinya mau ke kantor kamu. Mau jemput kamu. Terus aku berhenti di lampu merah dan melihat kamu makan mie ayam. Makanya aku berhenti."
"Oh ok. Aku lagi pengen sekali makan mie ayam. Makanya aku keluar cari mie ayam."
"Kamu itu lucu. Kadang tingkahmu membuat orang yang mengenal kamu geleng-geleng kepala."
"Loh memang aku lucu gimana? Sampai geleng-geleng kepala?"
"Kamu wakil direktur makan mie ayam pinggir jalan dan tidak takut kotor atau gimana?"
__ADS_1
"Memang salah ya makan mie ayam pinggir jalan? Aku malah yang sekarang geleng-geleng kepala sama kamu."
"Iya, ngga ada yang salah. Rena, kita bisa ngobrol di suatu tempatkah. Sambil ngopi?"
"Ngobrol di rumahku saja ya Budi. Aku keringetan ini hahahahha, lengket pengen segera sampai rumah dan mandi."
"Oh ok. Kamu sama aku ya. Biar supirmu pulang sendiri."
"Dia sudah pulang kok. Tadi aku minta antar barang ke suatu tempat dan minta dia langsung pulang ke rumah."
"Ya sudah kalau begitu. Ayo sekarang kita pulang ke rumahmu. Kamu sudah keringatan seperti itu."
Rena bangkit dari duduknya dan membayar mie ayam. Kemudian mengikuti Budi yang sudah masuk ke mobilnya.
Sepanjang perjalanan Budi dan Rena terdiam dengan pikirannya masing-masing
Perjalanan dari pusat perbelanjaan ke rumah Rena yang biasanya 1 jam sampai, ternyata lebih lama karena jam pulang kantor dan macet. Akhirnya mereka sampai di rumah Rena.
"Budi, kalau mau minum minta sama Mbok yah. Aku mau mandi dulu."
"Iya Rena. aku tunggu."
Rena segera menuju ke kamarnya. Selesai mandi dan berpakaian, Rena keluar dari kamarnya.
"Budi, kamu mau sekalian makan?"
"Ngga usah Rena, aku belum lapar."
"Ok, kalau sudah lapar kasih tahu biar disiapkan sama mbok."
Pak Mistar masuk ke dalam dan memberikan surat yang dititipkan oleh Mia dan Pak Mistar minta Rena segera membuka surat tersebut.
"Sebentar Budi."
"Aduh mulai lagi mereka. Ngga ada habisnya."
"Gimana non, saya diminta untuk kembali ke sana lagi karena katanya ada yang masih ketinggalan."
"Tunggu sebentar Pak Mistar."? Rena segera masuk ke kamarnya.
"Ada apa Pak Mistar."
"Iya Tuan. Tadi non Rena minta saya mengirimkan belanjaan ke rumah orang tuanya. Saat saya kasih belanjaannya, mereka bilang kalau barang seperti ini mereka bisa beli. Mereka minta saya untuk sampaikan ke non Rena untuk dibelikan mobil buat kakak dan adiknya Non Rena. Kalau tidak mereka minta uang sebanyak 1 M untuk beli 4 mobil. Padahal tadi non Rena kasih belanjaan dan uang segepok gitu Pak. Kasihan non Rena. Dia sendiri tidak pernah bermewah-mewah. Apa adanya saja."
"Pak Mistar, biar mereka saya urus. Pak Mistar tidak usah kembali ke rumah mereka. Kasihan Rena banyak yang harus dipikirkan."
"Iya Tuan, saya tahu. Non Rena tidak pernah macam-macam. Hidupnya mengalir saja."
"Apanya yang mengalir Pak Mistar. Ini Pak Mistar, berikan cek ini kepada mereka."
"Non Rena, maaf. Bolehkah Pak Mistar kasih saran ke non Rena? Maaf banget bukan maksud Pak Mistar lancang dan ikut campur sama urusan non Rena. Tetapi non Rena dimanfaatkan mereka. Jadi lebih baik tidak usah non. Karena akan jadi kebiasan buat mereka. Dan non Rena yang akan susah nantinya."
"Ngga papa, Pak Mistar. Allah punya rencana buat mereka begitupun buat saya. Tolong berikan cek ini kepada mereka. Dan bilang ke mereka untuk mempergunakan uang dengan sebaik-baiknya. Selama saya masih bisa bantu. Saya akan bantu."
"Baik non Rena."
"Budi, maaf. Aku mau ke dapur dulu. Biar si mbok siapkan makan untuk kita. Pak Mistar juga makan dulu baru jalan ke sana ya."
"Baik non Rena."
Rena berjalan ke dapur.
__ADS_1
"Ssst, Pak Mistar. Jangan langsung pergi ke sana. Tunggu saya. Kita bareng ke sana."
"Iya Tuan, baik."
Pak Mistar keluar dari rumah. Tidak berapa lama Rena sudah mengajak Budi untuk makan malam.
"Rena, maaf aku tidak bisa makan sekarang. Aku harus pergi. Ada urusan mendadak mengenai kantor."
"Oh ya sudah. Hati-hati ya Budi. Next lah kamu kesini lagi."
"Iya Rena. Kamu semakin cantik dan terlihat kurusan."
"Hahahah, bisa-bisanya. Sudah sana urus kantormu dulu."
Budi senang melihat Rena tertawa.
Budi keluar dari rumah Rena dan menunggu Pak Mistar keluar dari rumah.
"Tuan, bagaimana?"
"Saya ngikuti Pak Mistar ke rumah mereka ya."
"Baik Tuan."
Pak Mistar menjalankan mobilnya diikuti oleh Budi.
Sampai rumah orang tuanya Rena. Pak Mistar sudah disambut oleh kakak dan adik-adiknya Rena.
"Mana uangnya yang kita minta dari Rena! Sini cepat berikan!"
"Mbak mau apa dengan uang ini? Mau sampai kapan menyusahkan Rena?"
"Eh kamu siapa? Apa urusannya dengan kamu. Saya dan keluarga saya tidak menyusahkan Rena. Dan ini kewajiban Rena selama tinggal dengan keluarga saya."
"Oh gitu, apa perlu saya bawa ke pengadilan dimana ada anak kecil yang bernama Rena dan disiksa oleh kamu dan almarhum bapakmu juga ibumu?"
"Silahkan saja, saya tidak takut. Karena semuanya ada buktinya bahwa Rena dititipkan ke keluarga saya untuk membayar hutang. Dan selama bapak masih hidup, Rena ditampung di keluarga ini. Wajar kalau kami minta hak kami yang sudah merawat Rena dari kecil."
"Baik kalau begitu, besok akan ada orang dari kepolisian untuk menjemput anda dan silahkan jelaskan di kantor polisi. Jangan pernah lari atau kabur. Karena akan ketahuan juga dimana tempat persembunyian anda!"
"Ok, saya tidak akan kabur. Dan saya akan berikan surat-suratnya."
"Ok, deal. Ini cek silakan diambil dan saya sudah merekam omongan anda untuk saya berikan malam ini juga ke kepolisian atas kasus pemerasan. Dan bukti-bukti bahwa Rena diusir dan tidak dirawat dengan baik ada photo-photonya."
Tiba-tiba ibu keluar rumah.
"Maaf Pak. Bapak siapa? Mohon maaf atas kelakuan anak saya. Dan jangan dilaporkan ke kepolisian. Anak-anak saya minta uang ke Rena karena mereka iri dengan keberhasilan Rena. Dan Rena sudah punya rumah juga mobil dan ada supir. Sedangkan kami tidak punya mobil. Karena itu mereka tidak mau Rena menjadi orang sukses."
"Wajar Bu, kalau Rena sukses saat ini. Rumah yang Rena tempati saat ini adalah rumah orang tua angkat Rena. Mobil dan supir yang Rena pakai juga milik mereka. Pak Mistar sudah tahu sejak Rena tinggal di rumah majikannya. Dan gimana Rena mengatasi trauma yang diakibatkan oleh perlakuan kalian."
"Maaf Pak. Kami tidak akan ganggu Rena lagi. Karena Rena bukan anak kandung saya. Saya memang tidak suka sama Rena sejak ia diberikan oleh orang tuanya. Untuk masalah ini, saya mohon tidak diperpanjang. Dan mengenai surat-suratnya yang anak saya katakan itu tidak ada. Mereka baru membuatnya untuk minta uang terus menerus dengan Rena."
"Maaf Bu, saya tetap akan laporkan ke polisi atas tindakan pemerasan dan penganiayaan. Ini ceknya. Silahkan ambil."
"Tidak Pak. saya tidak akan ambil. Jika besok anak saya diambil polisi untuk dimintai keterangan lebih baik saya saja. Saya siap menanggung semua perbuatan anak saya kepada Rena."
"Kita lihat besok. Ayo Pak Mistar, kita pulang."
"Bu dan Mbak semuanya juga Masnya. Saya kenal dengan non Rena dari sejak kelas 6 SD. Jadi sangat disayangkan kalau semua yang di rumah ini mengira bahwa non Rena kaya. Itu semua punya majikan saya bukan punya non Rena. Non Rena tidak pernah macam-macam. Kami semua sayang sama non Rena. Jadi saya juga yang dirumah siap bersaksi untuk non Rena. Dan saya tidak mengancam hanya saya ingin mengungkapkan kebenaran. Trauma yang dialami masa kecil masih ada sampai sekarang. Mohon Mbak semuanya dan mas, menempatkan diri kalian di posisi non Rena saat ini. Selamat malam, saya permisi."
"Pak, ini saya kembalikan ceknya. Atas nama anak-anak saya, saya mohon maaf. Dan saya minta tolong untuk tidak meneruskan ke polisi. Saya sudah tua."
__ADS_1
"Kita lihat besok. Ayo Pak Mistar. Biarkan saja ceknya. Buat memuaskan rasa iri mereka sama Rena."