
Vito, Tante Silvani dan Om Bram tiba di Jakarta sore hari. Mereka langsung ke rumah sakit. Dan disana sudah ada Ancis.
"Ancis."
"Tante, om."
"Gimana Rena?"
"Belum ada kemajuan tante, om."
Tante Silvani pergi meninggalkan Ancis, om Bram dan Vito. Tante Silvani pergi menemui dokter.
"Sebenarnya gimana kejadiannya Ancis."
"Ya kata Bu Tita, bosnya Rena. Rena pingsan saat akan mulai meeting. Dan sekretarisnya Rena mengetuk ruang kerja Rena tetapi tidak ada jawaban dan dia buka ruangan Rena. Ternyata Rena sudah pingsan di lantai kantor."
Tidak berapa lama, tante Silvani datang.
"Gimana ma?"
"Kita hanya bisa berdoa. Sebenarnya Rena sudah sakit lama. Tapi dia tidak mau ada yang tahu."
"Maksudnya gimana tante."
"Dokternya sudah menjelaskan semuanya sama tante. Dokternya juga sudah dititipin pesan oleh Rena. Untuk menunggu tante dan om datang, dokter akan menjelaskan semua penyakit Rena. Rena kena kanker otak stadium 4. Di depan kita dia berusaha menahan sakitnya. Dia tidak mau terlihat sakit. Dan dokter pun tidak berani untuk mengoperasi karena belum tentu berhasil."
"Astaghfirullah."
"Sudah berapa lama Rena sakit?"
"Sudah hampir 2 tahun Ancis."
"Jadi harapan untuk Rena sembuh tipis Tante?"
"Iya karena sebenarnya sudah menyebar kemana-mana."
"Ancis dan Vito. Terima kasih sudah memberikan warna dalam hidup Rena."
"Tapi tante apakah tidak ada jalan lain?"
"Rena sudah menulis surat yang dititipkan ke dokternya untuk diberikan sama Tante dan Om Bram. Dan Rena sudah menyiapkan semuanya sendiri."
"Maksud tante menyiapkan semuanya sendiri?"
"Tanah untuk dia dikubur nantinya apabila ia meninggal. Ia tidak mau merepotkan orang rumah. Semuanya sudah disiapkan oleh Rena sampai biaya saat pemakaman dan saat 3 hari, 7 hari, 40 hari dan 100 harinya."
Tante Silvani menangis karena ia harus kehilangan anak angkatnya yang ia sayangi dan ia cintai seperti ia menyayangi dan mencintai Novi.
"Sebenarnya saat semua alat bantuan di lepas dari tubuhnya Rena. Rena sudah langsung jalan. Rena minta satu keinginan agar Novi dan Dian datang."
"Mama yang sabar ya. Rena tidak suka kalau mama menangis. Papa akan telpon Novi untuk segera datang ke Jakarta."
Vito hanya terdiam mendengar semua yang dibicarakan oleh tante Silvani. Dadanya terasa sesak. Ingin rasanya Vito masuk ke dalam dan bicara dengan Rena agar bangun dan bisa melangsungkan pernikahan walaupun Rena hanya bisa terbaring saja.
Ancis belum percaya dengan semua keterangan tante Silvani.
Rena, kenapa kamu tidak pernah bicara sama aku mengenai penyakitmu. Seandainya dari awal kamu bicara, aku akan membantu menyembuhkan walaupun itu harus keluar negeri. Tetapi kenapa kamu diam saja. Kamu merasakan kesakitan dalam diammu. Kamu tidak ingin orang lain kuatir tentang kamu. Kamu selalu terlihat ceria.
"Halo Novi."
"Ya halo pa. Tumben telpon lagi bukannya kemarin baru menelpon."
"Novi, ini urgent. Kamu segera ke Indonesia dan kasih tahu Dian. Rena menunggu kalian. Rena ternyata sakit dan saat ini dibantu oleh alat kedokteran."
"Maksudnya pa? Rena kenapa?"
"Rena kena kanker otak dan sudah menyebar ke seluruh otaknya. Dan saat ini Rena dibantu oleh alat kedokteran. Dia menunggu kamu dan Dian datang ke Indonesia."
"Ya Allah, kok mendadak gini" Aku sedang hamil kan pa. Aku tidak yakin boleh melakukan penerbangan. Aku hamil 8 bulan."
"Ya ampun, papa lupa. Coba kamu telpon Dian. Katakan kondisi Rena. Semoga Dian bisa datang ke Indonesia."
"Iya pa. Novi telpon Dian. Nanti Novi lewat video call saja untuk bicara dengan Rena."
"Ok Novi."
__ADS_1
Papa mematikan handphone nya.
"Mama. Papa lupa, Novi kan sedang hamil 8 bulan. Dia tidak boleh melakukan penerbangan. Novi akan coba menelpon Dian."
"Iya pa, benar. Bahaya buat Novi dan calon anaknya."
Mbok datang dengan Pak Mistar membawa makanan untuk Tante Silvani dan Om Bram juga Vito dan Ancis.
"Nyonya, Tuan, non Rena."
"Iya mbok. Doakan semoga Rena bisa sembuh ya mbok."
"Iya nyonya. Ini ada buku kecil dan nyonya yang boleh membukanya. Seminggu sebelumnya non Rena bilang sama mbok. Kalau sudah waktunya tolong berikan kepada Nyonya dan Tuan."
"Seminggu yang lalu?"
"Iya nyonya."
Tante Silvani membuka buku kecil yang di gembok itu.
Ada cek sebesar 5 milyar untuk Tante Silvani dan om Bram.
Ada saham yang Rena punya dan diserahkan kepada om Bram.
Ada cek untuk Novi dan Dian dan juga kalung untuk mereka berdua dengan liontin yang berisi photo mereka bertiga.
Mama Silvani dan Om Bram,
Mohon maaf apabila Rena sudah tidak bisa berbicara lagi. Hanya tulisan ini yang bisa Rena lakukan. Cek untuk Om dan Tante bukan untuk menggantikan uang Om dan Tante, bukan tetapi untuk ucapan Terima kasih kepada Om dan Tante karena menyayangi dan mencintai Rena tanpa memandang siapa Rena dan darimana asal Rena. Om dan tante mengadopsi Rena dan itu adalah moment penting dalam hidup Rena, dimana akhirnya Rena punya keluarga walaupun berjauhan dikarenakan pekerjaan.
Om dan Tante, uang itu Rena dapat dari hasil Rena bermain saham. Tidak ada yang tahu karena Rena mau memberikan hadiah kepada Mama Silvani dan Papa Bram, tapi Rena bingung harus memberikan apa? Karena itu Rena coba bermain saham dan bisa menghasilkan. Dan Ada beberapa saham yang masih ada, mungkin papa mau melanjutkan atau menjual saham tersebut silakan.
Jika Novi dan Dian tidak bisa datang. Rena titip cek dan kalung buat mereka berdua. Rena sudah tidak kuat menahan sakit kepala Rena.
Untuk mbok, pak Mistar, pak Mastar, Rena sudah belikan rumah. Mereka bisa tempati dan juga tabungan atas nama mereka masing-masing dan juga tabungan untuk pak Satpam. Dan bisa diambil di bank yang biasa mama dan papa transfer uang untuk gaji mereka.
Rena tidak bisa berkata banyak. Rena mengucapkan Terima kasih buat mama Silvani, Om Bram, Novi, Dian, mbok, pak Mistar, pak Mastar.
Rena juga minta tolong berikan kotak merah yang sudah Rena letakkan di meja kantor. Kotak merah itu untuk Bu Tita, Bu Elice, Bu Asha dan mbak Ester. Berkat mereka, Rena bisa tetap bekerja.
Rena sudah capek dan Rena tidak kuat lagi menahan sakit. Ikhlaskan Rena. Biarkan Rena jalan. Dan apabila Mama dan papa datang. Rena mau Mama dan papa yang melepaskan semua alat yang terpasang di badan Rena.
Rena sayang kalian semua. I love you Mama, Papa, Novi, Dian, Mbok, Pak Mistar, Pak Mastar, Ancis, Mama Annelise
Mama dan papa, Terima kasih untuk perhatian, kasih sayang dan cinta yang selama ini tidak pernah Rena dapatkan dari orang tua kandung Rena. Tetapi Rena mendapatkan dari Mama dan Papa.
Love
Rena
Al Fatihah
Mama membacakan tulisan Rena dan membuat semuanya menangis.
Novi menelpon mama.
"Ma, maaf ternyata Dian juga tidak bisa datang."
"Novi tolong telpon Dian. kita video call bertiga sekarang."
"Iya ma, sebentar."
Setelah terhubung, Mama membacakan isi yang ada dalam buku yang ditulis oleh Rena.
Novi dan Dian tidak bisa menyembunyikan kesedihan mereka.
Rena, teman sekolah mereka dari SD, yang tahu gimana susahnya Rena, sakitnya Rena, rasa laparnya Rena, yang akhirnya tinggal di rumah Novi, menjadi sahabat, akhirnya saudara.
"Ma, lepaskan semua alat bantu yang ada di tubuh Rena. Biarkan dan ikhlaskan Rena jalan Ma. Biar Rena tidak merasakan sakit lagi. Biar Rena merasakan kebahagiaan dengan Allah. Jangan biarkan Rena menderita terus Ma."
"Iya sayang. Jangan diputus. Biar kalian bisa melihat."
Mama memberikan handphone kepada papa dan pergi memanggil dokter
Tidak lama kemudian mama datang bersama dokter dan masuk ke dalam ruang ICU diikuti oleh semuanya.
__ADS_1
Mama melepaskan semua peralatan yang dipasangkan di badan Rena. Dan setelah menunggu mama dan dokter mengecek kondisi Rena.
"Bu Silvani, Rena sudah jalan, sudah meninggal dan ia tersenyum."
"Iya dokter. Terima kasih untuk bantuannya selama ini. Rena kuat bertahan sampai akhirnya Rena mengibarkan bendera putih."
Semuanya menangis.
"Ancis untuk biaya rumah sakit siapa yang bayar? Apakah kamu atau Bu Tita."
"Bu Silvani."
"Iya dokter?"
"Semua sudah dibayarkan oleh Rena sendiri. Dan kelebihan uangnya Rena minta untuk disumbangkan ke panti asuhan."
"Baik dokter."
"Kalau begitu, biar kami urus jenasahnya dan Rena minta untuk disemayamkan di rumah duka yang ada di rumah sakit ini."
"Baik dokter."
Semuanya keluar dari ICU. Mereka hanya bisa menangis karena semuanya sudah Rena persiapkan sendiri tanpa harus menyusahkan orang lain.
Seorang suster mendekati tante Silvani
"Bu, almarhumah minta tulisan ini di taruh di batu nisan"
"Baik suster. Terima kasih."
"Aku sendiri dan selamanya sendiri sampai akhir hayatku"
Besoknya Rena dimakamkan di pemakaman dekat ragunan. Semua yang mengenal Rena hadir dan mereka hanya bisa terdiam dan menangis melepaskan kepergian Rena.
Gadis kecil yang selalu dimarahin dan dipukul, selalu kelaparan, selalu lebam badannya, yang akhirnya diusir, diselamatkan oleh sahabatnya, sekolah dan membiayai sekolahnya sendiri, bekerja dengan baik, menerima hinaan dari keluarga angkatnya, menerima hinaan dan cacian dari orang yang tidak mengenal dirinya. Tidak pernah marah, semuanya diterima dengan senyuman.
Tante Silvani membuka kamar Rena dan mencium bau parfum Rena
"Rena, kamu di sini ya sayang. Mama kangen sama kamu sayang."
Papa Bram dan Tante Silvani pergi ke kantor Rena, dua hari setelah Rena dikuburkan.
"Ini ruangan bu Rena."
"Mbak Rahma, bisa minta tolong agar Bu Tita, Bu Elice dan Bu Asha juga Mbak Ester datang ke ruangan ini."
"Bisa bu, sebentar."
Mereka datang.
"Maaf saya memanggil Bu Tita, Bu Elice, Bu Asha dan Mbak Ester. Rena menitipkan kotak merah ini untuk kalian. Rena mengucapkan terima kasih atas kebaikan Ibu Tita, Ibu Elice, Bu Asha dan Mbak Ester kepada Rena. Saya pun juga mengucapkan terima kasih atas bimbingannya, perhatian dan pelajaran hidup yang diberikan untuk Rena.
"Sama-sama Bu Silvani dan pak Bram. Kami semua kaget bahwa Rena selama ini menyimpan sakit yang dideritanya tanpa ada yang tahu. Ancis sudah menceritakan semuanya kepada kami."
"Iya bu Tita. Anak itu dari kecil tidak mau menyusahkan orang lain. Kalau begitu saya permisi. Terima kasih."
"Sama-sama Bu Silvani dan Pak Bram."
"Pa, kita ke bank dan mengambil buku tabungan serta kunci rumah untuk mbok, Mastar, mistar dan satpam."
Mereka pergi ke bank. Mengambil semua dan pulang ke rumah. Lalu membagikan kepada Mbok, Mistar, Mastar dan juga satpam.
"Tuan dan nyonya. Apakah kita tetap bekerja disini atau bagaimana?"
"Tidak usah. Rumah ini akan kami jual. Dan kami akan balik ke Amerika lagi."
"Rekening yang kalian punya dari kami sudah kami kirimkan uang sebagai tambahan"
"Terima kasih banyak Tuan dan Nyonya. Kami semua kehilangan non Rena yang baik."
"Iya mbok. Kita semua kehilangan."
"Tetap doa untuk Rena ya mbok, Mastar. Mistar, pak satpam."
"Pasti nyonya."
__ADS_1
Akhirnya mbok, mastar, mistar dan satpam meninggalkan rumah. Dan mama Silvani juga om Bram berangkat ke Amerika. Rumah dijual lewat broker rumah.
Rena melihat semuanya dengan tersenyum