Anak Terbuang

Anak Terbuang
Make over Rena


__ADS_3

"Budi, kita mau kemana sekarang?"


"Mau beli parfum kamu, mau beli baju untuk kamu, mau ke salon biar kamu tambah cantik". Budi tersenyum


"Aku ngga mau, aku mau ke kost ku, aku mau pakai baju yang aku punya, aku ngga suka ke salon, buat apa? Aku ke salon kalau mau potong rambut dan itu sudah 4 tahun yang lalu, karena itu rambutku panjang".


"Biar pacar aku tambah cantik dan semakin cantik".


"Kalau kamu mau pacar yang cantik dan terlihat cantik cari saja yang hobinya dandan dan ke salon, jangan aku, salah orang".


"Aduh, maaf aku salah bicara, maksud aku... ".


"Ya aku ngerti, aku mau ke kost, aku kangen boneka pandaku pengen aku peluk dan aku cium".


"Kenapa ngga peluk langsung ke orangnya yang kasih kamu pandai". Budi tersenyum melihat Rena.


"Ngga mau".


Handphone Rena berbunyi dan dari kakaknya


"Hallo Kak, apa kabar?"


"Ngga usah basa basi, uang yang kamu transfer masih kurang banyak. Dan kamu sudah tahu hutang orang tuamu sama ayah dan ibuku! Setiap tahun harus bayar tanah pemakaman, jangan lari dari tanggung jawab kamu! Bagusnya kamu ngga mati jadi masih bisa bayar hutang-hutang orang tuamu! Sekarang transfer kekurangan 100juta!"


"Hah Kakak, aku ngga punya uang sebanyak itu? Aku ngga bisa kak". Aku benar-benar ngga bisa".


"Kamu kan simpenan om-om, mintalah sama mereka. Apa susahnya minta 100juta".


"Jangan pernah ganggu Rena, anda hanya memanfaatkan Rena lagipula Rena bukan adik kamu. Rena sudah tidak punya tanggung jawab dengan keluarga kalian! Jika kalian terus menganggu Rena, saya pastikan akan saya laporkan ke polisi!" Budi segera mengambil handphone Rena dan bicara dengan kakaknya.


"Siapa kamu, apa urusannya dengan kamu, saya berurusan dengan Rena bukan kamu. Kalau Rena simpanan kamu, saya minta 100juta. Uang yang Rena transfer kemarin kurang!"


"Baik saya akan transfer setelah polisi datang ke rumah anda hari ini juga!"

__ADS_1


"Ba***** kamu! Saya tidak takut hanya gertak sambal seperti ini".


"Ok, tunggu dalam waktu 1 jam, polisi akan datang!"


Sambungan telpon langsung mati. Budi menelpon pengacara keluarga untuk mengurus kakaknya Rena.


"Budi, harus tadi ngga usah seperti itu".


"Rena, aku ngga mau kamu sedih dan nangis terus untuk urusan ini. Tugas kamu sudah selesai dan tidak ada alasan apapun mereka minta uang sama kamu. Kamu punya hidup kamu sendiri. Bangun Rena, bangun dari masa lalumu. Saatnya kamu hidup baru bukan hidup dalam bayang-bayang semu".


"Aku tidak suka kata-kata dari kakakmu. Dia bukan kakakmu, ya aku tahu kamu diasuh oleh mereka dari kecil tapi mereka tidak boleh semena-mena sama kamu. Kamu tetap harus dihargai dan dihormati bukan diinjak dan ditindas. Maafin aku bicara seperti ini Rena, aku hanya ingin kamu membuka mata hatimu bahwa kamu adalah seorang anak dan seseorang yang berhak untuk hidup tanpa harus bertanggung jawab akan hal yang tidak pernah kamu perbuat. Aku, Tante Silvani, Om Bram, Novi dan Dian sayang dan cinta sama kamu, terlepas kami adalah orang luar".


Rena menangis mendengar kata-kata Budi.


"Budi, biar bagaimanapun mereka keluargaku yang aku tahu dari kecil. Terlepas dari perbuatan buruk yang mereka lakukan" Rena semakin menangis.


Budi merengkuh Rena dan memeluknya. Maafin aku, Rena. Sakit hatiku setiap melihat kamu menangis atas semua hal yang kamu perjuangkan untuk keluargamu tetap mereka asas manfaat terhadap kamu. Budi membatin.


"Maafin aku Rena, aku sayang dan cinta sama kamu. Aku mau kamu bangun dan bangkit dari tidur panjang kamu. Sekarang kita bisa lanjut jalan dan kita ke kostmu".


Mereka sampai di kost Rena.


"Aku masuk ke dalam dulu. Kamu mau tunggu aku atau mau pergi?"


"Aku tunggu, bawa baju-baju kamu. Malam ini kamu tidur di rumahku lagi. Dan nanti kita keluar untuk beli parfummu dan bawa kamu ke salon biar terlihat lebih segar bukan untuk dirias dengan menor, ok kah?"


"Ya" Rena segera keluar dari mobil dan masuk ke kostnya menuju kamar.


Rena melihat kamar yang sudah lama tidak ia tempati. Ada rasa kangen dalam dirinya untuk tidur kembali di kamar ini. Rena melihat jam dan segera mengambil beberapa baju dan juga baju yang akan dipakainya nanti dan membawa boneka pandanya juga.


"Budi, aku sudah selesai, yuk kita berangkat sekarang biar nanti malam bisa mengantar Novi dan Alex".


"Baik Tuan Putri Rena"

__ADS_1


"Ngga lucu".


Mereka segera masuk ke dalam mobil dan berangkat. Budi membawa Rena ke salah satu mall dan membelikan Rena parfum.


"Ini aku beliin untuk kamu, kamu ngga usah ganti uang aku. Sekarang kita ke salon biar kamu terlihat fresh. Setelah itu baru kita ngopi ya".


"Gini aja, sekarang kita pulang, terus baru nanti berangkat dari rumah kamu. Aku bisa dandan sendiri tinggal pakai bedak dan lipstick, aku bisa".


"Ngga, karena nanti kalau pulang dulu, pasti kamu akan tidur akhirnya tidak jadi pergi antar Novi dan Alex".


"Ya sudah, daripada nanti ngadu ke Tante Silvani, aku nurut" Rena memasang muka cemberut.


"Ok, mau cemberut kamu tetap cantik". Budi tersenyum.


Budi mengajak Rena ke salon, setelah selesai Budi terpukau melihat kecantikan Rena yang semakin jelas dan lebih cerah dengan dandan yang natural. Setelah itu Rena dipersilahkan untuk mengganti baju yang telah disiapkan oleh Budi dan juga high heels. Budi tahu Rena tidak suka memakai dress karena itu Budi membelikan sepasang baju yang dipadu dengan celana panjang. Karena sudah disiapkan di salon semuanya, jadi Rena tidak akan kesal karena harus berpindah-pindah toko.


Rena keluar dengan baju yang sudah disiapkan dan high heels nya. Rena terlihat semakin tinggi dan hampir menyamai tingginya dengan Budi. Rena terlihat anggun dan cantik sekali.


"Kamu cantik, benar-benar cantik, Rena".


"Jagain bos, jangan sampai diambil orang, ini gadis kecantikannya natural". ucap Boni yang merias Rena


"Iya, untungnya kamu belok, Bon, jadi ngga kuatir aku. Makasih ya Bon".


"Sama-sama Bos, cepatan nikah keburu tua, jangan kebanyakan milih nanti malah ngga dapat". Boni tertawa


"Doain aja semoga cepat sama dia". Budi menunjuk Rena.


"Ayo kita ngopi atau mau gimana? ajak Budi


"Iya pengen ngopi kepala aku sakit. Kamu beliin aku sepatu setinggi ini, kan jadi susah jalannya".


"Bisa pegangan sama aku, biar kamu ngga jatuh".

__ADS_1


"Iya memang maunya kamu supaya aku pegangan sama kamu".


Saat akan berjalan Rena segera memegang tangan Budi dan dengan sigap Budi segera menggamit lengan Rena.


__ADS_2