Anak Terbuang

Anak Terbuang
Ayah Rena meninggal


__ADS_3

Rena merebahkan badannya setelah membersihkan badannya. Kakaknya menelpon tetapi Rena tidak angkat, sudah jam 01.30 pagi. Berkali-kali telpon dari kakaknya, akhirnya Rena angkat


"Hei, maksudnya apa di telpon ngga diangkat? Kerumah sekarang juga, ayah meninggal! Dan semua biaya kamu yang tanggung. Ngga ada alasan, sekarang juga! Tut... tut... tut... Rena belum sempat berbicara, sudah diputus telpon dari kakaknya.


"Ya sudah, jalan sekarang". Rena segera ganti baju dan keluar dari kostnya. Saat akan menutup gerbang, Rena melihat cahaya dari mobil. Rena tidak tahu bahwa Budi belum pulang, Budi sengaja tidak pulang agar besok pagi Budi bisa mengantarkan Rena kerja dan meminta maaf atas kejadian yang tadi.


Rena berjalan dan tidak menghiraukan sorot lampu dari mobil. Rena harus keluar dan berjalan sampai jalan raya agar bisa naik taksi. Budi segera menjalankan mobilnya dan mendekati Rena yang sedang berjalan. Budi membuka kaca jendela mobilnya.


"Rena, kamu mau kemana? Ini sudah larut malam. Pulanglah Rena, istirahat dan tidur".


"Aku harus ke rumah, ayahku meninggal Budi".


"Aku harus ke ATM dulu untuk ambil uang karena semua biaya penguburan ayah, aku yang harus membayarnya". Rena terlihat bingung. Sebelum berangkat, ia sempat mengambil ATM yang dari Om Bram untuk dipakai membayar semua biaya penguburan ayahnya.


Budi turun dari mobil dan menuntun Rena untuk masuk ke dalam mobilnya. Mereka berhenti di ATM agar Rena bisa mengambil uang. Lalu pergi ke rumah orang tuanya.


Dirumah orang tuanya sudah ada beberapa orang. Rena segera membawa ayahnya ke rumah sakit untuk dipastikan bahwa ayahnya sudah meninggal atau masih bisa di tolong.


Kakak serta adik juga ibunya hanya di rumah saja. mereka tidak ikut ke rumah sakit.


Setelah mendapat kepastian dari rumah sakit bahwa ayahnya sudah meninggal, Rena menelpon kakaknya bahwa jenazah ayahnya akan dibawa kerumah, tetapi ternyata kakaknya minta ayahnya disemayamkan di rumah duka saja. Akhirnya Rena menghubungi beberapa rumah duka, setelah mendapatkan, Rena segera mengurus untuk membawa jenazah ayahnya ke rumah duka. Jam 9 pagi semua sudah selesai di rumah duka.


Ibu, kakak dan adiknya datang ke rumah duka dan mereka terlihat menangis karena kepergian suami dan ayah mereka.


Rena sudah menelpon kantor jika hari ini ia ijin tidak masuk. Budi melihat dari awal sampai ayahnya Rena dikuburkan, tidak ada tangisan, Rena dengan cekatan mengurus semua hal sampai masalah biaya.


"Kakak, aku ke rumah sebentar yah, kan hari ini tahlilan ayah". Bolehkah Kak?"

__ADS_1


"Ngga usah, kamu pulang saja, ngga usah ikut acara tahlilan ayah kami, dan mengenai surat-surat kematian ayah, kamu juga yang harus urus dan tanggung jawab. Ini dokumen yang dipakai untuk mengurus surat kematian. Dan mana uang untuk biaya tahlilan 10 juta".


"Maaf Kak, uang Rena tinggal 4 juta. Rena sudah ngga ada uang lagi.


" Sini, uangnya dan sisanya nanti saat kamu gajian! Ngerti kamu!


"Baik Kakak. Ibu, kakak dan adik-adik, aku pulang yah, assalamu'alaikum".


Tapi tidak ada jawaban dari mereka. Rena berjalan dan disebelahnya ada Budi. Rena belum sempat makan dan minum. Rena melihat jamnya, Rena masih bisa masuk kuliah, karena hari ini kuliah masuk jam 6 sore


" Rena, aku antar pulang. Dari semalam kamu belum tidur".


Rena mengangguk dan tiba-tiba Rena pingsan, untungnya Budi di sebelah Rena. Budi mengangkat Rena dan memasukkan ke dalam mobilnya. Budi membawa Rena ke rumahnya. Budi merebahkan Rena di kamar tamu dan meminta pembantunya membuatkan makanan untuk Rena dan dirinya. Budi segera ke kamarnya dan mandi. Setelah berpakaian, Budi merebahkan badannya.


Jam 7 malam, pembantu mengetuk kamar Budi dan memberi tahu bahwa makan malam sudah siap. Budi segera keluar kamar dan pergi ke kamar tamu. Budi mengetuk pintu kamar tamu tetapi tidak ada jawaban. Budi meminta pembantunya menemani untuk masuk ke kamar tamu agar saat Rena bangun, Rena tidak berpikir macam-macam.


Budi menggeleng, Ia berusaha membangunkan Rena. 15 menit kemudian Rena bangun, dan Rena merasakan badannya sakit semua dan perutnya lapar sekali. Rena melihat ada Budi dan ibu tua.


"Aku dimana? tanya Rena dengan lemah.


" Kamu ada di rumahku Rena, karena tadi kamu pingsan. Jadi aku bawa kamu ke rumahku supaya bisa dijaga sama pembantuku. Kamu mandi dan ganti baju, Tadi aku sudah minta Bibi belikan baju sekaligus dalaman karena dari semalam kamu belum ganti baju, belum istirahat dan belum makan. Setelah itu kamu bisa makan, Bibi sudah masak".


"Ayo Non, bibi bantu, tadi bajunya sudah bibi cuci jadi ngga akan gatal saat nanti dipakai Non. Maaf ya kalau bajunya kebesaran. Bibi tadi beli ngira-ngira ukuran badannya Non".


Budi melangkah keluar dari kamar tamu. Bibi menemani Rena di kamar tamu. Ternyata baju yang dibelikan Bibi, pas di badan Rena. Bibi dan Rena keluar kamar dan menuju meja makan. Di sana sudah ada Budi yang menunggu Rena.


"Rena, sudah enakan? Yuk makan, jangan bilang ngga, kamu harus makan, biar tidak sakit".

__ADS_1


Rena mengangguk dan ia mengambil makanan. Rena berusaha untuk makan, agar perutnya tidak sakit. Selesai makan, Rena pamit ingin pulang ke kost, tetapi Budi tidak mengijinkan dan Budi meminta Bibi menemani Rena tidur di kamar tamu.


"Non, bibi temenin yah, jangan maksa Non, bibi lihat Non capek banget. Non mau dipijat?"


"Ngga Bi, terima kasih?".


Rena memandang langit-langit kamar tamu di rumah Budi. Tiba-tiba Rena menangis, Dari mulai mengurus pemakaman ayahnya, Rena sama sekali tidak mengeluarkan air mata. Rena menangis sampai membuat badannya gemetar, bibi segera berlari memanggil Budi karena melihat Rena gemetaran, bibi takut terjadi apa-apa dengan Rena. Budi segera berlari ke kamar tamu dan melihat Rena yang menangjs. Budi segera memeluk Rena karena melihat Rena gemetar. Budi berusaha menenangkan Rena, sampai akhirnya badan Rena tidak gemetar lagi dan tertidur. Budi melihat wajah Rena yang tertidur. Budi menitikkan air matanya saat mengingat dari hal kecil sampai akhirnya pemakaman ayahnya Rena selesai dan Rena tidak di ijinkan untuk ikut tahlilan. Budi juga merasakan kesedihan yang Rena rasakan dan juga capek. Akhirnya Budi tertidur sambil memeluk Rena. Bibi melihat tuannya tertidur, pelan-pelan keluar dari kamar.


Jam 03.00, Budi terbangun, masih dalam posisi yang sama. Budi mencium kepala Rena dan berusaha menidurkan Rena di kasur dengan pelan-pelan.


"Ayah ampun, ayah sakit, jangan pukul Rena, bukannya Rena yang ambil baju kakak. Ampun ayah, Rena keluar karena Rena mau ke kamar mandi dan mau minum". Budi segera mengusap kepala Rena agar tenang.


" Ayah panas ayah, Rena cuma mau minum, kenapa Rena disiram air panas, ayah, sakit ayah. Badan Rena sakit ayah, ampun ayah, jangan pukul lagi ayah. Badan Rena sudah sakit ayah, ampun ayah, maafin Rena ayah".


Budi kaget mendengar kata-kata yang diucapkan Rena saat tertidur.


"Ibu, Rena lapar? Rena ngga boleh ikut makan sama ayah, ibu, kakak dan adik ya? Rena dari kemarin belum makan. Ayah, Rena boleh makan? Ampun ayah, jangan dilempar piring lagi, iya Rena ngga minta makan lagi, Rena bersihin pecahan piring dulu, baru nanti Rena masuk kamar".


" Tuhan, Rena lapar, perut Rena sakit, tangan Rena kena pecahan beling dan tadi di pelintir sama ayah terus kepalanya ditendang sama kakak. Tuhan, kenapa Rena dihukum terus sama ayah? Rena sebenarnya anak siapa? Kenapa ayah dan ibu ngga sayang sama Rena?


Budi yang masih memeluk Rena, menangis. Segitu menderitanya Rena kecil. Budi melihat bahwa Tuhan Maha Besar, karena telah melindungi Rena sampai saat ini. Perjuangan Rena untuk bisa sampai saat ini agar diakui keluarganya membuat Budi tidak berhenti menangis. Rena, kamu perempuan yang kuat, masa kecilmu hilang seperti yang Tante Silvani ceritakan. Rena, aku akan membahagiakan dan melindungi kamu. Tidak boleh ada yang menyakiti kamu lagi.


"Rena, bangun Rena... kita sholat subuh". Budi melepaskan pelukannya dan membangunkan Rena.


"Iya"


Budi dan Rena sholat subuh

__ADS_1


__ADS_2