Anak Terbuang

Anak Terbuang
Tersadar dari tidur panjang


__ADS_3

Sudah 3 minggu Rena di rumah sakit dan belum sadarkan diri. Hampir tiap hari Budi menjaga Rena tanpa kenal lelah, apabila ia ke kantor, maka Bibi menjaga Rena.


"Rena sayang, bangun. Ayo bangun sayang, aku bawain kamu nasi goreng depan kantor. Kamu


pasti kangen sama nasi goreng kesukaan kamu. Ya Allah, hamba mohon sembuhkan Rena. Aku kangen dengan Rena. Sayang bangun sayang. Aku bawain kamu coklat toblerone kesukaan kamu. Maafkan aku karena baru tahu kalau kamu suka dengan coklat toblerone. Aku nangis saat Novi cerita kamu ingin sekali makan coklat toblerone sampai kamu mengumpulkan uang berbulan-bulan. Aku bawain nasi goreng, coklat dan batagor. Kalo kamu ngga bangun siapa yang mau habisin? Aku akan tetap menunggu kamu dan menjaga kamu. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Bangun Rena sayang".


Budi tidak menyadari kedatangan Ancis, Tante Silvani, Om Bram dan Novi. Mereka terlihat sedih mendengar kata-kata Budi yang tulus.


"Budi, sudah, biarkan Rena tidur dulu. Tante kenal Rena".


" Tante Silvani, Om Bram, Novi, kapan kalian datang? Kok tidak kasih tahu Budi?"


"Tadi pagi. Novi kamu ngapain keluar?


" Sebentar Ma, aku nunggu Dian".


"Rena, ini Mama Silvani dan Papa Bram, Novi dan Dian datang. Ayo bangun. Sebentar lagi kamu akan dengar Novi dan Dian, kamu ngga kangen sama mereka? Kalau kamu tidur terus, kamu ngga bisa ngobrol dan tertawa sama Novi dan Dian. Mama dan Papa ngga bisa tinggal lama di Indonesia, makanya ayo bangun".


"Renaaaaaaa, banguuuuuunnnnn". Novi dan Dian berteriak.


Mereka melihat air mata Rena mengalir. Rena bisa mendengar teriakan Novi dan Dian sahabatnya dari kecil. Tapi Rena merasakan sakit yang amat sangat di kepala dan punggungnya.


Semuanya menangis melihat reaksi Rena dan tersenyum bahagia. Terutama Budi karena 3 minggu ini tidak ada reaksi apapun dari Rena.


Mereka serentak mengucapkan "Alhamdulillah"


"Jangan dipaksa membuka matamu Rena, Mama tahu kamu merasakan sakit di seluruh badanmu. Pelan-pelan saja ya sayang. Kami semuanya sayang sama kamu".


"Mama, biarkan aku sama Dian ngobrol bertiga. Papa dan Mama, Budi juga Frans silakan menyingkir".


Papa, Mama duduk di sofa, sedangkan Budi dan Ancis pergi keluar. Mereka menuju coffee shop di sebelah rumah sakit.


"Budi, gue tahu loe capek jaga Rena siang malam dan kadang gantian sama pembantu loe. Gue bantu untuk jaga Rena, setidaknya loe bisa istirahat satu hari. Jangan konyol dengan membiarkan badan loe tidak istirahat. Loe bilang sayang dan cinta ke Rena, tapi loe ngga sayang dan cinta sama diri loe sendiri. Jangan pakai alasan klise sama gue. Setidaknya satu hari saja loe istirahat buat diri loe. Dan kalau loe kuatir gue akan rebut Rena, ada Novi, Dian dan Tante Silvani juga Om Bram yang bisa menggantikan loe sementara waktu".


Budi terdiam mendengarkan kata-kata Ancis. Sebenarnya ia lelah, tapi ia ingin saat Rena membuka matanya orang yang pertama Rena lihat adalah dirinya bukan orang lain.


"Iya Ncis, gue memang cape banget, walaupun ada sofa yang bisa gue pakai untuk tidur. Ngga tahu kenapa, gue ngerasa hidup gue ngga seimbang. Gue ngga mau kehilangan Rena. Dia satu-satunya perempuan yang bisa buat hidup gue berubah dan apa yang dia rasakan selama hidupnya tidak ada kebahagiaan kayak gue atau loe, Ncis. Dengan mata kepala gue sendiri, gue pernah lihat Rena dianiaya keluarganya dan loe tahu sejak kelas 6 SD dia diusir oleh orang tuanya sampai akhirnya diangkat anak sama Tante Silvani dan Om Bram. Novi dan Dian itu sahabat Rena dari TK. kebayangkan loe gimana rapuhnya Rena".

__ADS_1


"Iya gue ngerti Bud. Tapi, sorry kenapa orang tuanya mengusir Rena?".


"Rena diserahkan sama orang tua kandungnya kepada keluarga itu karena tidak bisa membayar hutang. Dan dengan keluarga itu Rena tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang ada selalu dipukul, dilempar bangku plastik sampai bangkunya pecah dan yang lebih parah, jika lapar ia harus tanya apakah boleh makan? Kalaupun di kasih makan itu adalah makanan sisa. Sampai saat inipun trauma itu masih ada. Ia berjuang mati-matian mencari uang karena tuntutan dari keluarganya. sampai kadang kala ia tidak makan karena gajinya di pakai untuk membiayai adik-adiknya sekolah dan masih banyak lagi. Rena bukan perempuan yang cengeng Ncis".


Budi menceritakan pengalaman hidup Rena dengan menangis, sedangkan Ancis yang mendengar cerita mengenai Rena pun tidak tahu harus gimana. Perempuan yang cantik, anggun dan pintar ternyata hidupnya menderita secara psikis dan mental.


"Alhamdulillah, Allah SWT memberikan keluarga yang menerima dia. Tante Silvani dan Om Bram".


Ancis merasakan kesedihan Budi. Perasaan Ancis untuk memiliki Rena semakin besar. Tapi ia juga memikirkan perasaan Budi jika ia merebut Rena. Ancis yakin Rena akan lebih memilih dirinya daripada Budi, karena Ancis akan memberikan yang tidak pernah Budi berikan kepada Rena.


"Halo Budi, kamu dimana? Kamu kesini segera ya".


" Baik Tante, lagi ngopi sama Ancis di sebelah rumah sakit".


"Kenapa Bud, Rena kenapa?!


" Ngga papa, Tante Silvani minta kita balik".


"Oh, gue pikir Rena sudah sadar".


" Maunya juga gitu. Yuk balik dipanggil sama calon mertua". Budi tersenyum


Mereka berdua melihat Novi dan Dian duduk di samping Rena tetapi Rena tetap belum sadarkan diri.


"Budi, Om dan Tante mau balik pulang. Novi dan Dian akan menemani Rena malam ini, jadi kamu bisa balik pulang untuk istirahat dulu".


" Tapi Tante, nanti Rena".


"Kamu tenang saja. Kalau Rena sadar pasti Novi dan Dian akan kasih tahu. Biarkan mereka bernostalgia bersama walopun kondisi Rena belum pulih".


"Besok pagi kamu ke rumah ya. Tante dan Om permisi pulang."


" Baik Tante dan Om, hati-hati".


Tante Silvani dan Om Bram mendekat ke Rena dan mencium kening Rena.


"Novi, Dian dijaga ya, biar Budi istirahat dulu".

__ADS_1


Mereka berdua mengangguk. Tante dan Om pergi meninggalkan kamar Rena


" Budi, kamu pulang dulu sana tidur. Biar kita berdua yang jaga Rena. Tenang saja Rena ngga akan cari kamu. Dia lebih kangen sama aku dan Dian. Hahahahahha". Novi tertawa senang melihat muka Budi yang cemberut."


"Gimana Budi, udah berhasil meluluhkan si batu karang?


" Belum Dian, harus rajin di tetesin air biar cepat pecah". Budi tersenyum.


"Ya kamu harus sabar sama Rena. Bukan perempuan yang kamu kasih uang banyak, perhiasan, mobil atau rumah besar sekalipun langsung nempel. Yang Rena butuhkan kasih sayang dan cinta yang tulus" Novi berharap Budi lebih sabar menghadapi Rena.


"Iya Nov, aku kasih cincin aja dia kembalikan. Bukan perempuan yang butuh harta heheheh. Buat Rena, aku masih belum bisa di bilang tulus, memang butuh proses panjang dan aku akan tetap menunggu Rena sampai ia siap menerima aku untuk jadi suaminya.


"Sip, sudah sana pulang, istirahat, mata udah seperti mata panda".


Budi mendekati Rena dan mencium kening juga pipi Rena dan menyentuh tangannya kemudian menggenggam tangan Rena untuk diciumnya. Saat akan mencium tangan Rena, mata Rena terbuka.


" Budi, terima kasih". Rena bersuara lirih.


'Subnallah, Rena sayang kamu bangun juga akhirnya. Panggil dokter. Budi teriak karena senang. Tangannya masih menggenggam tangan Rena.


Tidak berapa lama dokter dan perawat datang untuk memeriksa Rena.


"Pak dan Ibu semua, Rena sudah sadar, mohon jangan terlalu banyak diajak bicara. Kami akan pantau terus kondisinya."


"Baik dokter dan suster, terima kasih".


Budi menangis bahagia melihat Rena sudah sadar. Novi dan Dian berpelukan senang dan juga menangis akhirnya Rena bangun juga.


"Budi, pulanglah, istirahat". Rena berusaha bicara dan masih terdengar lirih".


"Ngga, aku akan jaga kamu terus, aku ngga akan pulang sampai kamu sehat".


" Pulang dulu, besok kesini".


"Iya sayang, aku pulang. Love you Rena".


Ancis menatap Rena dan tersenyum kepada Rena.

__ADS_1


Budi dan Ancis pamit pulang.


__ADS_2