Anak Terbuang

Anak Terbuang
Photo, kalung, gelang


__ADS_3

"Ada hal penting apa sih Budi? Sampai kamu bilang ada hal penting. Dan kenapa kamu tanya mengenai tanda lahirku."


"Gimana ya. Urusan ini sebenarnya hanya kamu saja. Tapi mohon maaf ada Vito."


"Aku menyingkir sebentar. Jadi Budi bisa bebas memberitahukan informasi yang harus kamu ketahui."


"Sorry ya Vito. Bukan maksud aku mengusir, tapi menyingkir sebentar saja."


"Santai saja Budi, aku ngerti kok. Aku akan minggir ke sebelah sana ya."


Vito bangkit berdiri dan menyingkir agak jauh dari tempat Budi dan Rena duduk.


"Vito sudah menyingkir, kamu mau kasih tahu apa?


Budi mengirimkan photo-photo Rena kecil bersama ibunya dan ayah yang selama ini Rena ketahui sebagai ayah yng galak, ayah yang selalu memukul Rena. Rena kecil menggunakan gelang dan kalung.


"Photo-photo siapa ini Budi? Kok ada ayah? Dan perempuan juga anak kecil ini siapa? "


Budi menyerahkan gelang dan kalung yang sama persis di dalam photo itu.


"Budi ini kalung dan gelang anak kecil dan sama seperti yang dipakai oleh anak kecil yang dalam photo itu."


"Rena, aku dapat kalung dan gelang ini dari ibumu. Dan photo wanita itu adalah ibumu dan ayah yang dari kecil kamu ketahui adalah ayah kandungmu."


"Maksudnya, ayah kandung aku sebenarnya adalah ayah yang selama ini aku tahu dan aku kenal, ayah yang keras dan suka marah sama aku adalah ayah kandungku?"


Budi menganggukkan kepalanya.


"Dan wanita ini adalah ibumu, namanya Nina. Karena itu aku tahu dimana tanda lahirmu, karena bu Nina sendiri yang minta sama aku untuk bertanya apakah tanda lahirmu ada di bawah perutmu dan ada di bagian paha dalam. Dan kalung juga gelang ini dititipkan oleh ibumu Nina kepada ibu. Bu Nina sudah membayar hutang 10 kali lipat kepada ibu."


"Kamu bertemu dengan Bu Nina kapan? Kamu ada no handphone Bu Nina? Aku mau telpon sekarang."


"Sabar Rena. Aku punya no handphone Bu Nina. Tapi jujur saja aku belum yakin kalau dia ibu kandungmu. Dan cerita dari ibu mu yang kamu kenal sejak kecil. Aku masih meragukan kebenarannya."


"Ya ngga ada salahnya kamu masih meragukan kebenarannya apakah Bu Nina itu ibuku atau bukan? Berikan no handphonenya dan aku akan menelpon sekarang."


Budi memberikan no handphone kepada Rena. Rena segera menelpon Bu Nina.


"Malam Bu Nina, kenalkan saya dengan Rena."


"Rena, Rena...akhirnya ibu bertemu dengan kamu. Ibu kangen sekali sama kamu. Kapan ibu bisa bertemu dengan kamu? Apakah besok bisa?"


"Bisa Bu. Ibu Nina mau bertemu saya dimana?"

__ADS_1


"Kamu ke rumah ibu saja. Nanti ibu kirimkan alamatnya."


"Maaf ibu Nina, saya tidak bisa kalau harus ke rumah ibu besok. Gini saja kita bertemu di daerah menteng jam 3 sore. Bagaimana?"


"Iya Rena, ibu akan datang jam 3 sore, kamu kasih tahu sama ibu dimana tempatnya yah."


"Baik bu, Terima kasih."


"Rena, kok kamu telpon ibumu tapi aku lihat kamu tidak excited. Biasa saja?"


"Harus ya aku teriak-teriak seperti bu Nina tadi? Kita lihat besok saja ya. Kamu besok bisa temani aku jam 3 sore. Di tempat biasa saja ya."


"Iya Rena. Aku pasti akan temani kamu besok untuk bertemu Ibu Nina."


Rena bangkit berdiri dan menuju ke meja Vito.


Vito dan Rena balik ke meja semula.


"Rena, gimana kabarnya Ancis. Aku sudah lama tidak telpon dia?"


"Ancis baik-baik saja. Kamu kan punya no handphone Ancis, kenapa kamu tidak coba telpon saja. Aku juga tidak tahu saat ini, apakah Ancis sedang sibuk atau gimana?"


"Iya, aku sudah coba telpon Ancis tapi tidak pernah diangkat oleh Ancis. Aku pikir dia marah sama aku."


"Marah kenapa?"


"Ya mungkin dia sibuk. Di maklumi sajalah."


"Kamu sering telpon Ancis?


" Tidak pernah. Dia yang telpon aku. Kamu kan tahu aku bukan tipikal yang basa-basi. Bukan sombong tapi aku kan tidak tahu kesibukannya Ancis apa? Jadi daripada nanti aku ganggu lebih baik ya tidak usah telpon. Sudah gitu aja. Kamu sudah tahu aku bukan orang yang suka ngobrol di telpon lebih baik bertemu langsung seperti ini. At least aku bisa lihat ekspresi muka. Kalau di telpon kan hanya bisa menduga-duga jatuhnya malah jadi suudzon sama orang. Yang ada nambah dosa bukan ngurangin dosa."


"Iya aku tahu Rena. Dan aku kangen ingin mengulang masa-masa indah sama kamu."


"Bukannya saat ini kita sedang mengulang masa indah? Walaupun sebentar. heheheheh."


Vito hanya mendengarkan saja. Semua yang dikatakan Rena ada benarnya juga. Vito semakin kagum dengan Rena. Perempuan yang ada di sampingnya saat ini 99 persen menggunakan logika dan 1 persennya menggunakan perasaan. Dan semuanya di kombinasikan dalam kata-kata yang masuk akal.


Budi melihat Vito yang menganggukkan kepala dan senyum-senyum sendiri.


"Kamu kenapa Vito, kok senyum-senyum sendiri."


"Aku sedang mendengarkan yang kalian bicarakan. Jangan berpikir aku jadi obat nyamuk. Aku kagum sama Rena. Sejak aku tahu, kenal dan akhirnya bisa bekerja sama. Rena sosok perempuan yang mungkin 1 banding 500 dari seluruh perempuan di dunia. Aku bilang begitu, karena aku belum menemukan perempuan lain yang pemikirannya seperti Rena."

__ADS_1


Budi tersenyum mendengar kata-kata Vito.


"Budi, sudah selesaikan? Aku mau segera pulang, mau istirahat. Besok pagi aku ada meeting."


"Sudah. Aku antar kamu pulang ya?"


"Ngga usah Budi. Aku pulang bareng Vito saja. Kebetulan searah."


"Oh ok." Budi merasa kecewa karena Rena memilih pulang dengan Vito daripada dengan dirinya.


Vito dan Rena sudah di dalam mobil.


"Vito sorry tadi aku bilang pulang bareng kamu dan bilang rumah kita searah."


"Santai saja Rena. Aku pasti akan mengantarkan kamu pulang. Bagian dari service aku untuk partner kerja."


"Ok Vito. Terima kasih."


Sepanjang jalan Vito dan Rena terdiam.


Rena mengingat semua omongan Bu Nina dj telpon. Entah kenapa hati nuraninya bilang bahwa Bu Nina bukan orang tua kandungnya.


Tidak ada rasa gembira, senang dan sedih pada diri Rena bahwa besok akan bertemu yang mengaku sebagai ibu kandungnya.


"Whatever will be, will be. See tomorrow."


Rena menarik napas dalam. Dan Vito melihat Rena menarik napas dalam.


"Kamu kenapa Rena? Kok sepertinya sedang memikirkan beban berat."


"Ngga Vito, aku masih bingung dengan Bu Nina. Hanya saja aku tidak bisa merasakan senang, gembira, terharu ataupun sedih saat berbicara dengan Bu Nina. Datar saja. Lihat besok sajalah."


"Iya Rena. Kalau kamu tidak keberatan aku bisa temani kamu."


"Ngga usah Vito. Besok aku ada meeting di luar kantor. Dan tidak tahu selesai jam berapa. Kalau ternyata meetingnya lama. At least aku bisa kasih tahu ke Bu Nina untuk re-schedule."


"Ok. Dan kita sudah sampai rumahmu."


"Ok Vito. Kamu mau mampir sebentar?"


"Next time saja Rena. Masih ada waktu nanti aku pasti main ke rumahmu."


"Ok Vito. Thank you so much. Take care ya. Night Vito."

__ADS_1


"Ok Rena. Night too."


Rena keluar dari mobil Vito dan masuk ke rumah setelah mobil Vito berjalan.


__ADS_2