
"Pagi Budi, ini hari Minggu, besok aku sudah masuk kerja. Hari ini aku mau balik kost".
"Pagi, loh kok mendadak, ada apa? Kan bajumu baru saja dibawa kesini dan besok bisa aku antar dan jemput?"
"Aku sama kamu belum menikah, kita masih pacaran dan baru awal, aku ngga mau ada setan lewat tahu-tahu kejadian. Kamu tidur di kamarmu, aku tidur di kamarku.
"Ok, aku tahu, aku hutang penjelasan sama kamu. Sita itu mantan pacarku, kita putus karena dia ketahuan selingkuh. Setiap aku pacaran pasti diganggu olehnya. Akhirnya aku memutuskan tidak pacaran lagi selama 7 tahun. Aku capek dengan pacaran yang hanya sekedar main-main, aku ingin serius dan menikah. Dan saat ini aku pacaran sama kamu dan aku mau kita ke jenjang berikutnya yaitu pernikahan".
"Kamu yakin kita akan menikah?"
"Orang tuaku memang sedang bertugas di luar negeri dan ternyata mama salah satu pasien Tante Silvani karena kondisi rahimnya Mama yang bermasalah, karena itu Tante Silvani tahu siapa aku dan dia setuju kalau kamu jadi pacarku. Orang tuaku tahu mengenai dirimu dari Tante Silvani".
"Terus".
"Om Tito salah seorang kepercayaan papaku, dan aku ngga tahu apa hubungannya sampai Om Tito semalam ada di pesta pernikahan Tanti". Dan dengan semalam Om Tito lihat bertemu dengan kamu dan bicara seperti itu, dia setuju bahwa kamu adalah gadis baik-baik. Masalah kamu tinggal disini, sebenarnya aku yang minta dan ijin kepada Tante Silvani"
Budi melihat ekpresi Rena yang datar.
"Tante Silvani berharap, kamu mau menempati rumahnya yang saat ini kosong. Dan aku pastikan selama kamu tinggal disini aku tidak akan berbuat kurang ajar. Paling hanya cium dan peluk saja". Budi meringis dan menggaruk kepalanya.
"Iya itu aji mumpung, aku ngga mau dicap sebagai gadis matre. Setidaknya orang tuamu sudah tahu bahwa aku anak yang tidak diinginkan oleh orang tuaku dan mereka pasti berpikir aku yang beging-beging sama kamu agar mau jadi pacarmu".
"Tidak Rena, orang tuaku tahu bahwa aku lah yang mengejar kamu untuk mendapatkan cintamu. Aku benar-benar mencintai dan menyayangimu. Mohon percaya sama aku, Rena".
__ADS_1
" Saat ini kamu mencintai dan menyayangi aku. Tapi tidak tahu besok-besok apakah rasa cinta dan sayang kamu ke aku akan berubah atau stagnan? We never know Budi. Dan mengenai percaya sama kamu, maaf aku belum bisa percaya sama kamu sepenuhnya. Karena aku tahu posisi dan kondisiku. Aku masih berusaha untuk percaya sama diriku sampai saat ini. Semua butuh proses. Saat rasa cinta kamu ke aku hilang, maka akan hilang semuanya tetapi saat kamu menerima aku dengan segala kekurangan dan kelebihan aku, maka disitulah akan muncul cinta. Mengenai sayang, kita bisa sayang kepada siapapun karena rasa sayang itu tidak menuntut dan menerima segala hal baik itu kelebihan maupun kekurangan orang yang kita sayang dan itu akan abadi"
"Iya Rena, iya. Aku menerima segala kekurangan dan kelebihanmu. Bagiku, kamu wanita yang sempurna".
" Saat ini mungkin kamu melihat aku sempurna, tapi besok bisa jadi kamu melihat aku bukan wanita yang sempurna lagi. Aku bukan anak yang sempurna bagi orang tuaku. Sampai mereka membuang aku dan tidak mengakui aku! "
Rena menangis saat mengucapkan kalimat terakhir, Budi segera memeluk Rena dan menenangkan Rena. Budi membiarkan Rena menangis tanpa berbicara sepatah katapun untuk memberikan Rena kesempatan meluapkan emosinya selama ini.
Hampir 1 jam Rena menangis di pelukan Budi dan baju Budi basah oleh air mata Rena. Rena menyadari bahwa baju Budi basah, ia segera melepaskan dirinya dari pelukan Budi dan berlari keatas menuju kamar Budi. Sesampainya di kamar Budi, Rena ke arah lemari, membuka dan mengambil salah satu baju yang ada di lipatan dan segera berlari ke arah pintu untuk memberikan baju yang bersih kepada Budi dan berlari kebawah.
Budi masih berdiri di tempat yang sama tidak bergerak hanya matanya yang mengikuti setiap gerak gerik Rena. Rena lalu menyerahkan baju bersih kepada Budi.
"Maaf, gara-gara aku bajumu basah dan kotor. Dan tadi maaf juga aku ke kamarmu untuk mengambil baju bersih ini ganti bajumu yang sudah basah itu".
Rena hanya menganggukkan kepalanya dan pergi menuju kamarnya. Budi memperhatjkan Rena yang melangkah masuk ke dalam kamarnya setelah itu Budi berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan badannya yang juga basah karena tangisan Rena.
Budi merebahkam dirinya di kasur. Rena, kamu adalah gadis yang aku cari selama ini. Dan luka batinmu membuatmu begitu rapuh. Kamu selalu menyangkal dirimu sendiri. Dan kamu gadis baik-baik yang mempunyai pendirian yang kokoh walaupun banyak penderitaan yang kamu alami. Selama kamu mampu, kamu berusaha untuk membuat senang orang-orang yang kamu sayangi walaupun mereka tidak menerima kamu dan hanya memperalat dirimu. Jujur aku benar-benar sayang dan cinta dengan dirimu sepenuh hatiku. Sayup-sayup Budi mendengar pintu kamarnya diketuk.
"Tuan, makan, sudah bibi siapkan makananya di meja makan. Takutnya dingin".
" Iya, terima kasih, Saya keluar sebentar lagi".
Budi segera bangun dan merapikan bajunya lalu keluar kamar dan turun ke bawah. Ternyata hanya ada bibi
__ADS_1
"Rena mana? Sudah dipanggil untuk makan?"
"Sudah, non Rena tidur. Sudah bibi coba bangunkan tapi tidurnya nyenyak sekali".
Budi melangkahkan kakinya ke kamar Rena dan mengetuk kamar Rena beberapa kali sampai akhirnya Budi membuka kamar Rena dan melhat Rena yang tertidur. Budi berjalan mendekati Rena dan membangunkan Rena.
"Rena sayang, bangun yuk, Sudah jam makan slang nanti kamu sakit kalau telat makan". Budi membangunkan Rena dengan lembut.
" Aku masih ngantuk ayah, kasih waktu aku 5 menit, aku lapar ayah, mau makan tapi jangan pukul aku".
Budi mendengar yang Rena katakan merasa sedih, ternyata Rena masih menyimpan luka batinnya. Budi segera memeluk Rena yang masih tertidur dan membuat Rena terbangun. Rena terbangun karena pelukan Budi dan membuat dirinya menjadi sesak napas.
"Maaf Rena, aku membangunkan kamu dengan memelukmu. Karena tadi kamu sempat bicara lapar padahal kamu masih tidur".
Muka Rena memerah mendengar Budi mengatakan dirinya berbicara dalam tidurnya.
" Iya aku lapar, aku mau makan. Aku cuci muka dulu".
Budi mencium pipi Rena yang baru saja bangun dan membuat muka Rena semakin memerah karena malu.
"Budi, aku mau cuci muka dulu, kamu duluan saja ke meja makan nanti aku nyusul".
" Ok, ok, aku tunggu kamu di meja makan yah".
__ADS_1
Rena mengganggukkan kepalanya dan melihat Budi yang berjalan keluar.