
Pagi-pagi Rena sudah di kantor Dan membuka beberapa dokumen untuk diberikan kepada Bu Tita. Rena tidak menyadari kedatangan Bu Tita, Rena sibuk dengan beberapa dokumen. Bu Tita melihat Rena yang sedang bekerja dan tidak mau mengganggu segera melangkahkan kakinya ke ruangannya.
Jam baru menunjukkan pukul 07.30 dan Mbak Ester baru sampai di kantor melihat tumpukan dokumen di meja Rena terlihat bingung.
"Pagi Rena, semangat amat kerjanya jam masih pagi, dokumen di meja sudah numpuk?
"Eeh Mbak, sampai kaget aku. Pagi juga. Lagi nyiapin beberapa dokumen yang mau dipakai Ibu Tita untuk tender hari ini".
"Jam berapa sampai kantor?
"Jam 6 Mbak". Rena tersenyum dan kembali dengan dokumennya.
" Aku bawa roti, kamu pasti belum makan. Jangan sampai sakit. Kerja giat harus ada asupan biar ngga tepar".
"Iya Mbak, terima kasih".
Sementara di rumah Budi keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi untuk ke kantor dan turun ke bawah. Di meja sudah ada nasi goreng dan kopi. Bibi yang melihat Budi sudah dj meja makan segera datang.
" Pagi Tuan, tadi Mbak Rena sudah berangkat ke kantor dari jam setengah 6 dan sudah menyiapkan nasi goreng buat Tuan. Sudah bibi panaskan lagi nasi gorengnya di microwave".
"Loh, kenapa Bibi tidak kasih tahu saya dari tadi kalau Rena berangkat pagi?"
"Saya sudah ketuk kamar Tuan, tapi sepertinya Tuan masih tidur. Tadi Mbak Rena naik taksi".
" Ya sudah bi, makasih infonya".
Ngga biasanya Rena berangkat pagi sekali, ada apakah? Dan kenapa semalam tidak kasih tahu aku juga kenapa tidak telpon atau kirim pesan? Aneh sekali. Budi segera menghabiskan sarapannya dan mengambil telpon hendak menelpon Rena. Budi berkali-kali menelpon Rena tidak ada jawaban. Budi khawatir dengan Rena.
Budi melajukan mobilnya ke arah kantor Rena, kondisi pagi hari yang macet membuat Budi menjadi gusar. Ditengah jalan ada telpon masuk dari kantornya, yang ternyata pagi ini dia ada meeting, Budi menghela napas panjang dan terlihat kesal. Akhirnya Budi melajukan mobilnya ke kantor.
Rena baru keluar dari ruang Bu Tanti untuk menyerahkan dokumen yang akan di pakai untuk tender. But Tanti pergi dengan Mbak Ester sedangkan Rena masih mengerjakan kerjaan yang lain dari Bu Elice. Ketepatan dan kecepatan Rena dalam bekerja tidak di ragukan lagi. 3 Bu Bos sangat suka dengan hasil kerja Rena selama ini.
Jam 11.45 Budi sudah di kantor Rena dan menunggu di lobby gedung berharap Rena turun dan bisa makan siang bersama. Ternyata Rena tidak turun untuk makan siang, Rena puasa. Budi menunggu hampir 1 jam akhirnya mencoba telpon Rena.
"Halo Rena, kamu ngga turun makan siang? Aku nungguin kamu di lobby kantor berharap kamu turun dan kita makan bareng".
" Maaf Budi, aku hari ini puasa. Jadi tidak turun makan. Dan tadi pagi aku berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya karena aku harus menyiapkan beberapa dokumen untuk tender. Bolehkah nanti sore kamu jemput aku lalu kita makan sekaligus aku buka puasa?"
"Ok, aku jemput kamu nanti sore". Budi kesal tapi ia tidak bisa marah saat bicara dengan Rena.
"Mbak Rena, ada tamu yang mencari Bu Tita. Dari Perusahan BLUECAFD. Yang mau bertemu Bu Tita namanya Pak Ancis. Gimana Mbak Rena?
" Suruh tunggu sebentar, aku hubungin Bu Tita dulu yah Mbak, terima kasih".
Baru saja Rena meletakkan telpon internalnya, Bu Tita menelpon dan meminta Rena menemui Pak Ancis perwakilan dari Perusahan BLUECAFD. Rena segera turun ke ruang meeting di lantai 2 setelah memberitahukan ke recepsionis agar tamu Bu Tita menunggu di ruang meeting.
__ADS_1
Rena masuk ke ruang meeting dan melihat seorang pria tampan dan pernampilan maskulin. Pria yang bernama Pak Ancis juga melihat Rena
"Cantiknya perempuan ini, anggun dan tinggi padahal ia tidak menggunakan high heels" batin Ancis.
"Maaf Pak Ancis menunggu lama. Perkenalkan saya Rena, sekretaris Ibu Tita. Kebetulan Ibu Tita masih ada meeting di luar, dan saya di minta Bu Tita untuk menemui Pak Ancis".
Oh my God, suaranya lembut sekali, perempuan yang sempurna, kenapa Bu Tita tidak pernah bilang kalau mempunyai seorang sekretaris yang cantik. Ancis menatap Rena tanpa berkedip.
"Pak Ancis... Pak Ancis... maaf Pak Ancis". Rena memanggil Pak Ancis beberapa kali dan melambaikan tangannya di depan Pak Ancis
" Eh iya Mbak.. maaf dengan Mbak siapa? Ancis tersadar. Rena seolah menghipnotis dirinya.
"Saya Rena, Pak Ancis". Rena mengulurkan tangannya ke Pak Ancis.
" Panggil saja Ancis, kalau Pak terkesan saya jauh lebih tua dari kamu. Ancis tersenyum
Rena tersenyum mendengar omongan Pak Ancis.
Setelah terjeda beberapa saat, Rena dan Pak Ancis membicarakan kerjasama untuk event kesenian, dan Pak Ancis mau perusahaan Bu Tita menjadi subkont dari event tersebut. Rena memperhatikan setiap detail yang djjelaskan oleh Pak Ancis.
Tanpa terasa sudah sore hari. Budi beberapa kali menghubungi hand phone Rena tapi tidak diangkat dan akhirnya Budi menelpon ke kantor.
"Pantas telponku tidak diangkat hari ini Rena sibuk sekali dan aku ngga bisa jemput dia karena aku ada janji sama Ancis".
" Halo Budi, sorry gue baru selesai meeting nih di kantor Bu Tita, tapi gue meeting sama sekretaris Bu Tita namanya Rena"
"Hah, loe meeting di kantor Bu Tita sama Rena?
" Iya, loe jemput kesini ya? Sopir gue masih jemput orang tua gue di bandara". Ancis melihat kesekitarnya ternyata tinggal dia seorang diri di ruang meeting, Rena sudah tidak di dalam ruangan meeting lagi.
"Budi, loe kan pernah kerjasama dengan Bu Tita, loe pasti tahulah sekretaris Bu Tita yang namanya Rena. Cantik banget dan pintar. Udah deh loe jemput gue ya.
Ancis sudah menutup telponnya, dan Budi segera berangkat ke kantor Rena untuk menjemput Ancis dan sekalian Rena.
" Gawat kalau Ancis benaran suka sama Rena, bersaing sama Ancis. Aaaarrrrggghhh.... " Budi kesal dan melajukan mobilnya dengan cepat.
Ancis segera keluar dari ruang meeting ternyata Rena menunggu di luar.
"Maaf Pak Ancis, saya keluar karena meeting sudah selesai dan Pak Ancis menerima telpon jadi saya memberikan waktu kepada Pak Ancis untuk menerima telpon dan menunggu Pak Ancis di luar".
"Mbak Rena, terima kasih. Oh iya, saya menunggu jemputan teman saya, apakah Mbak Rena bisa temenin saya di lobby sampai teman saya datang?" Ancis berharap Rena mau menemani dirinya menunggu di lobby sampai Budi datang.
"Baik Pak, saya temani".
Rena dan Ancis berjalan ke arah lift dan turun ke lobby. Ancis menelpon Budi dan memberitahu bahwa sudah di lobby dengan Rena yang menemaninya.
__ADS_1
Budi yang mendapat telpon dari Ancis dan mendengar Ancis menyebutkan nama Rena merasa cemburu dan kesal.
Tidak berapa lama Budi sudah sampai di kantor Rena dan segera memarkirkan mobilnya. Budi melihat Ancis sedang berbincang dengan Rena. Melihat pemandangan seperti itu membuat Budi semakin kesal. Aku harus memberitahu Ancis bahwa Rena calon istriku. Huh!
"Budi, akhirnya datang juga loe, untung gue di temani Rena yang cantik ini. Eh iya kenalin Rena, ini Budi sahabat aku. Ancis mendekati Budi dan berbisik, " Kenalin calon pacar gue Bud". Ancis tersenyum bangga.
"Sorry Ncis, gue udah kenal Rena. Gue ngga tahu kalau loe meeting di kantor Rena".
" Rena, ayo siap-siap pulang, kamu hari ini puasa dan mau makan sekalian buka puasa. Aku sama Ancis tunggu kamu di lobby".
"Iya Budi. Pak Ancis permisi, saya tinggal ke atas". Rena segera pergi meninggalkan Ancis dan Budi di lobby.
" Budi, loe sudah kenal Rena? Kenapa loe ngga kasih tahu kalau ada cewek secantik dan pintar".
"Ancis, Rena calon istri gue. Makanya gue ngga kenalin dia sama loe".
" Hahaha, bohong loe, loe takut bersaing sama gue ya".
"Ngga Ncis, gue ngga bohong, Rena tinggal di rumah gue. Dia tidur di ruang tamu".
Budi melihat Rena yang keluar dari lift dengan membawa beberapa dokumen. Budi segera menghampiri Rena dan mengambil dokumen yang dibawa oleh Rena.
Ancis yang melihat Budi yang menghampiri Rena dan terlihat dekat membuat Ancis geram.
" Ok Bud, persaingan dimulai untuk mendapatkan Rena Cantik". Ancis mengenggam kedua tangannya.
Budi dan Rena menghampiri Ancis. Dan mereka bertiga berjalan menuju ke parkiran mobil.
"Budi, aku duduk di belakang ya, hari ini aku capek banget dan lapar".
Budi segera membuka pintu belakang dan Rena masuk ke dalam mobil.
Ancis terlihat tidak suka dengan kedekatan Rena dan Budi.
"Rena sayang, kamu mau makan apa? Rena, Rena... ".
Budi melihat ke belakang dan ternyata Rena tertidur.
" Ancis, gue anterin loe pulang terus gue pulang. Besok saja kita janjian ketemu lagi".
"Anterin Rena dulu pulang, setelah itu kita bisa lanjutanlah. Ancis ingin membuktikan bahwa omongan Budi hanya untuk menjauhi Rena dari dirinya.
" Ok, gue tahu loe, Ncis ".
Budi segera melajukan mobil ke rumahnya.
__ADS_1