
Bagas segera ke UGD, tetapi ia tidak melihat ada Rena. Lalu Bagas bertanya kepada salah seorang suster, ternyata Rena baru saja pulang.
Ancis, Rena, Pak Mastar dan Pak Mistar dalam perjalanan pulang. Sampai di rumah Rena segera masuk ke kamar di ikuti oleh Mbok dan Ancis.
"Mbok, buatin aku kopi dingin yah."
"Tapi non Rena kan baru saja pulang dari rumah sakit. Masa mau langsung minum kopi."
"Ngga papa Mbok, tolong yah. Ancis kamu mau minum apa?"
"Samain sama Rena saja Mbok. Terima kasih."
Mbok segera keluar dari kamar Rena dan ke dapur untuk membuat kopi dingin.
"Ancis, minta no account mu, aku transfer untuk biaya rumah sakit tadi."
"Ya nanti saja. Kamu istirahat biar Senin sudah fit dan bisa masuk kerja."
"Aku harus cek dokumen makanya aku butuh kopi."
"Sini aku bantu kamu untuk cek dokumen."
"Tidak usah, ini rahasia perusahaan aku. Tapi memang aku masih pusing."
"Rena, kamu itu keras kepala sekali sih. Kamu baru pulang dari rumah sakit masa langsung kerja?"
"Aku ngga kerja, aku di rumah."
Mbok datang membawa kopi panas dan singkong rebus.
"Makasih Mbok."
"Rena ini apa?"
"Masa kamu ngga tahu? Itu singkong rebus?"
"Maaf Rena, singkong rebut itu apa? Aku benar-benar tidak tahu."
Rena tertawa terbahak-bahak karena Ancis tidak tahu singkong rebus.
"Rena, kenapa kamu tertawa. Aku benaran tidak tahu apa itu singkong rebus dan kenapa kamu makan dan suka." Ancis menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Rena menjelaskan singkong kepada Ancis dengan detail sampai Ancis mengerti.
Ancis mengambil potongan singkong yang kecil dan menggigit kecil singkong rebus, kemudian mengunyahnya.
"Enak ternyata. Kok kamu tertawa? Mentertawai aku ya? Aku baru makan singkong baru kali ini Rena.'
Rena melihat sikap Ancis yang menggigit kecil singkong rebus tersebut dan tertawa.
__ADS_1
"Iya percaya, gimana mau makan singkong rebus. Memang di Amerika ada singkong. Mungkin ada dan namanya cassava."
"Ya, rasanya sepertj cassava."
"Memang ini cassava Ancis. Kalau di Indonesia, bilangnya singkong."
"Oh ok."
Rena meminum kopinya dan membuka laptop. Rena mengecek beberapa dokumen yang dikirim. Rena sudah selesai mengecek dan mengirimkan kembali dokumen yang sudah di revisi.
Mbok masuk ke dalam kamar Rena.
"Non ada tamu namanya Pak Bagas."
"Iya Mbok, suruh masuk dan bilang tunggu. Sekalian tanya mau minum apa."
"Rena, kamu yakin mau temuin Bagas? Dia yang sudah membuat kamu, Mistar dan Mastar keracunan karena nasi goreng."
"Ya ampun Ancis, kamu ngapain disini?"
"Aku dari tadi disini nemenin kamu ngecek dokumen."
"Maaf, maaf aku lupa Ncis. Oh iya, kamu jangan seudzon sama Bagas. Dia ngga pernah ada pikiran jahat."
"Sekarang aku tanya, kamu habis makan nasi goreng semalam langsung sakit perutnya?"
"Setelah itu keluar masuk kamar Mandi kan?"
"Ah sudah lah, aku temuin Bagas dulu."
Rena keluar dari kamar nya di ikuti Ancis.
"Sore Rena, maaf aku tadi ke RSSI ternyata kamu sudah pulang."
"Sore Bagas, iya aku tadi masuk UGD, cuma aku ngga mau opname makanya selesai infus langsung pulang. Oh iya, ini Ancis saudaraku."
"Bagas, sorry gue bukan orang yang bisa basa basi. Loe udah kasih apa ke nasi goreng yang loe kirim ke Rena. Sampai Rena, Mistar dan Mastar sakit karena keracunan!"
"Ancis, kamu kenapa sih! Kan tadi aku sudah bilang jangan seudzon sama orang!" Rena terlihat kesal sama Ancis.
"Maaf Ancis dan Rena, aku ngga ada maksud untuk neracuni Rena. Aku beli nasi goreng itu karena aku tahu Rena suka dengan nasi goreng yang ada di depan kantornya. Dan itu langganan Rena dari awal kerja."
"Terus dan lalu!?"
Bayu menjelaskan kepada Rena dan Ancis Kejadiannya. Bahwa yang melakukannya Tanti.
"Bilang sama istri loe, jangan kayak gitu. Untungnya Rena baik bukan pendendam. Kalau gue jadi Rena, gue urus sampai polisi."
"Ancis, sudah-sudah Bagas kan sudah jelaskan dan dia tidak salah. Mengenai Tanti istrinya yah sudah. Tidak usah di perpanjang lagi. Oh iya Bagas, gimana kabarnya Tanti dan anak kamu?. Anak sudah berapa?"
__ADS_1
"Rena dan Ancis, sekali lagi aku minta maaf atas kecerobohanku. Aku kesini mau minta maaf dan membayar biaya rumah sakit yang dikeluarkan."
"Bagas, gue marah bukan karena urusan uang. Gue ngga minta ganti rugi. Loe ngga tahu gimana tadi. Mbok panik lihat Rena pingsan ditanbah Mistar dan Mastar juga sakit. Bilang sama istri loe jangan nyusahin orang! Otaknya di pakai yang benar!"
"Ancis! Pulang sana, sikapmu jangan seperti itu. Bagas sudah minta maaf kenapa jadi dipanjangin sih!"
"Iya Ancis, aku ngerti maksud kamu. Anakku satu dan Tanti baik-baik saja."
"Di minum Gas, itu ada singkong rebus."
"Terima kasih Rena. Kamu sendiri gimana? Kapan rencananya menikah dengan Budi? Kok sampai sekarang aku belum terima undangan?"
"Aku belum mau menikah Bagas. Kalau aku menikah pastilah kamu terima undangan."
"Jadi kapan?"
"Belum ada di list otakku untuk menikah. Lagi pula perjalananku untuk menikah masih jauh. Aku masih mau meniti karierku dulu."
"Sunset buat kamu Rena. Oh iya, aku ngga bisa lama. Aku permisi pulang Rena. Salam buat Budi."
"Iya Bagas, terima kasih yah sudah datang dan menjelaskan. Salam juga buat Tanti dan anakmu. Pasti lucu."
Bagas sudah pergi meninggalkan rumah Rena.
"Ancis, lain kali jangan seperti tadi yah. Kesalahannya bukan sama Bagas tetapi Tanti."
"Iya, aku terbawa emosi. Bagas gentlemen juga, berani minta maaf padahal kesalahannya bukan dari Bagas."
"Ya sudah, aku mau mandi, sebentar lagi sholat maghrib."
"Iya, aku numpang sholat di rumahmu Rena."
"Ok."
Rena berjalan ke kamarnya. Ia mengambil
handphonenya, ada beberapa panggilan masuk dari Budi dan juga Tanti.
Rena baru mau meletakkan handphonenya, ada 1 pesan masuk dari Tanti. Rena tidak membuka pesan tersebut. Rena buru-buru mandi karena sebentar lagi sudah sholat maghrib.
Rena dan Ancis sholat maghrib sendiri-sendirj.
Selesai sholat, Rena mengambil handphone ternyata pesan dari Tanti ada 3. Rena membuka pesan dari Tanti satu persatu.
"Jangan jadi perusak rumah tangga orang."
"Gue kurang banyak kasih racun ke loe, makanya loe ngga meninggal."
"Gara-gara loe datang lagi, Bagas mau ceraikan gue. Dari dulu loe itu ngga berubah. Bagas tidak akan pernah bisa loe milki sampai kapan pun. Dan lagi gara-gara loe, Bagas ngga nau ngakuin anaknya!"
__ADS_1