Anak Terbuang

Anak Terbuang
Hari kelulusan dan perpisahan


__ADS_3

Hari ini hari kelulusan SMEA Rena, sudah 5 tahun ini orang tuanya tidak pernah berusaha mencari Rena. Selama ini Tante Silvani yang membiayai sekolah Rena sampai lulus SMEA. Dan Rena bekerja di klinik Tante Silvani karena Rena mau membayar uang sppnya sendiri tanpa membebankan orang tua Novi yang sudah membayar uang gedung sekolahnya.


"Rena, selamat yah, hebat kamu peringkat 2 nasional". Bagas menegur Rena


" Makasih Bagas".


Tiba-tiba handphone Rena berbunyi, dan ada panggilan masuk dari Novi


"Renaaa, ketemuan sama Dian di tempat biasa yah. Ke klinik Mama nanti saja, aku sudah ijin sama Mama".


" Bagas, maaf, aku pergi yah, diajak ketemuan sama sahabatku".


"Eh Rena, aku antar yah?" Bagas menawarkan diri untuk mengantar Rena


Rena menggeleng dan berlalu dari hadapan Bagas.


Kamu memang hebat Rena, kamu sekolah dan bekerja juga tetapi nilaimu tetap diatas rata-rata. Seandainya kamu mau jadi pacarku, senang sekali aku. Bagas tersenyum.


Rena sudah sampai di tempat biasa mereka berkumpul, bukan cafe atau restoran lebih tepatnya warung bakso dekat sekolah waktu mereka sekolah di SMP


Rena melihat Dian dan Novi sudah duduk, Rena segera menghampiri mereka.


"Rena, selamat yah kamu lulus dengan peringkat 2 nasional, aku tadi dikasih tahu sama Tyarlin. Top banget kamu". Dian langsung bicara saat Rena baru tiba.


Dian dan Novi memberikan selamat kepada Rena.


" Selamat juga buat kalian berdua. Akhirnya kita sama-sama lulus". ucap Rena


"Cheersss", buat kita bertiga". Novi mengajak kedua sahabatnya mengangkat botol minuman.


Mereka menikmati makan bakso bersama-sama sambil tertawa bahagia.


" Rena, jadi gimana, kamu mau melanjutkan kuliah seperti yang Mama tawarkan ke kamu atau gimana? " tanya Novi


"Ngga sepertinya Nov, karena besok aku ke sekolah untuk ambil formulir untuk ikut psikotes beberapa perusahaan yang punya kerja sama sama sekolahku".

__ADS_1


" Kalian berdua gimana? " Tetap melanjutkan kuliah di luar negeri kan? " tanya Rena


Dian dan Novi mengangguk bersama.


"Tapi beda negara. Dian ke China untuk meneruskan perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang farmasi. Aku seperti yang kamu tahu Ren, Mama mau aku jadi dokter dan aku ke Amerika".


" Intinya sukses buat kita bertiga, udah jangan sedih, nanti juga ketemuan lagi. Mumpung masih ada waktu kita masih bisa senang-senang dan berkumpul bersama sampai hari kita berangkat". ucap Dian.


Mereka lantas pergi setelah membayar bakso dan pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Novi, Rena terdiam dan memikirkan orang tuanya. Perasaan kangen sama orang tua, kakak dan juga adiknya. Gimana kabar mereka, tetapi Rena tidak berani untuk datang ke rumah orang tuanya. Rena masih takut. Karena selama tinggal di rumah Novi, orang tua Rena tidak pernah mencarinya padahal mereka tahu rumah Novi.


"Renaaaa, woiiii. Udah sampai mau turun ngga".


Panggilan Novi membuat Rena terkejut dan meringis sambil keluar dari mobil.


" Non, tadi Mamanya Non telpon, katanya kalo sudah sampai rumah, diminta telpon Mama di klinik. Mama baru sampai nanti jam 4 sore di klinik. Mbok Sinem membuka pintu dan memberitahukan kepada Novi.


"Siap Mbok, nanti aku telpon Mama, makasih yah Mbok". ucap Novi


Dikamar Rena mengganti baju dan bersiap-siap untuk ke klinik Mama Silvani untuk bekerja.


Tok... tok... tok...


Pintu kamar Rena diketuk


"Masuk, ngga dikunci". ucap Rena


"Ren, kata Mama kamu ngga usah ke klinik. Kamu di suruh di rumah saja. Dan Mama sudah tahu hasil ujianmu". Nanti kita nyusul ke restoran yang di Thamrin".


"Iya Nov".


Rena dan Novi sudah sampai restoran yang dimaksud Mamanya dan mereka bergegas masuk.


Ternyata disana sudah banyak saudara, teman bisnis Mama dan Papa Novi.

__ADS_1


Mama melhat kedatangan Novi dan Rena, segera menghampiri mereka berdua.


" Novi ajak Rena duduk dekat Om Satya sama Tante Nungki. Rena, selamat yah sayang, kamu membuat Tante dan Om bangga sama keberhasilanmu. Perjuanganmu dan pembuktianmu tidak sia-sia. Terima kasih Rena sayang". Tante Silvani memeluk dan mencium kepala Rena.


"Terima kasih Tante".


" Ih, Mama masa yang dipeluk dan dikasih selamat cuma Rena, aku dilupain. Novi memasang muka cemberut.


"Hei... anak Mama cemburu yah. Kita semua berkumpul disini untuk merayakan kelulusan kamu dan kamu mendapatkan beasiswa untuk kuliah di kedokteran sekalian juga perpisahan untuk Papa, karena Papa dipindah tugaskan ke negara yang sama. Senyumnya mana anak Mama". Mama Silvani segera mencium Novi.


Papa Bram memberikan sambutan dan ucapan perpisahan kepada rekan-rekan bisnisnya dan sekaligus mengumumkan bahwa Novi mendapatkan beasiswa dan 1 bulan lagi mereka semua akan segera pindah ke luar negeri.


Rena yang mendengar hal tersebut senang, tetapi dia tidak bisa memungkiri kesedihan yang melanda dirinya saat ini. Berarti Rena hanya punya waktu 1 bulan ini merasakan keluarga utuh yang selama ini sudah mendidik dan mengasuhnya sejak diusir oleh ayahnya. Dan hanya dengan keluarga Tante Silvani dan Om Bram, Rena merasakan kasih sayang dan perhatian dari mereka berdua dan juga Novi serta Dian yang menganggapnya bukan hanya sekedar sahabat tetapi saudara.


"Rena, kamu disini juga? " tiba-tiba Bagas menepuk pundak Rena.


"Loh, kamu kok juga disini Gas? " Rena sempat bingung karena melihat Bagas di restoran yang sama.


"Iya, ayahku kerja di perusahaan yang sama dengan Pak Bram, makanya aku disini ikut sama orang tuaku. Kamu jadi selama ini tinggal sama bosnya ayahku Ren?" tanya Bagas


"He-eh", Rena menganggukkan kepalanya.


" Renaaa, keseringan deh ngilang, Dicariin sama Tante Silvani". Dian menarik tangan Rena.


Bagas melihat kepergian Rena. Sebenarnya ada yang ingin Bagas sampaikan ke Rena mengenai perasaannya selama ini. Tetapi susah sekali untuk bisa bicara berdua dengan Rena dan Rena selalu tertutup dengan teman-teman di sekolah. Semua teman-teman tahu bahwa Rena sekolah sambil bekerja.


"Mungkin besok aku bisa ngomong sama Rena, besok kan harus ke sekolah ambil formulir". Batin Bagas


Tante Silvani, Om Bram, Novi dan Rena baru saja sampai rumah.


" Rena, om lupa, selamat yah Rena. Kamu membuat Om dan Tante bangga atas prestasimu di sekolah. Besok Om mau ajak kamu dan Novi jalan-jalan, karena besok Om tidak masuk kerja untuk mengurus dokumen keberangkatan Novi".


"Terima kasih Om Bram, karena kebaikan Om Bram, Tante Silvani dan Novi yang sudah membuka tangan dan bersedia menerima Rena di keluarga Om dan Tante. Maaf Om, besok Rena mau ambil formulir untuk psikotes ke beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan sekolah Rena, dan Rena tidak tahu akan selesai jam berapa". ucap Rena sekaligus memberitahu.


"Pa, sudah biarkan Rena masuk kamar dan tidur, biarkan dia istirahat".

__ADS_1


"Iya nih, Papa kebiasaan kayak ngga ada hari esok". Novi mau istirahat dan tidur, malam Papa, Mama? " Novi mencium kedua orang tuanya.


"Rena juga permisi ke kamar, selamat malam Om dan Tante, terima kasih".


__ADS_2