Anak Terbuang

Anak Terbuang
Bagas marah


__ADS_3

Rena baru saja sampai rumah setelah bertemu Bagas.


"Bagas baru saja cerai dari Tanti. Dan Bagas bilang kalau ia sayang dan cinta sama seseorang dari sejak sekolah? Perjalanan cinta yang penuh lika liku." Rena berbicara sendiri dalam kamarnya.


Rena masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya. Rena sholat setelah itu merebahkan dirinya di kasur.


Ananta masih di union dan tidak berselang lama setelah Rena pergi, Budi datang.


"Wah Bos baru datang, sang permaisurinya baru saja pergi sama laki-laki lain."


"Maksudnya apa Nas? Siapa yang bos baru? Permaisurinya siapa?


"Loe yang bos baru di perusahaan baru heheheh. Rena, eks pacar loe baru saja keluar dari sini 10 menit yang lalu sama pria lain yang bernama Bagas."


"Ah, serius loe? Kok ngga kasih tahu gue kalau ada Rena tadi?


" Buat apa gue kasih tahu loe? Emang dia masih cinta sama loe? Tadi dia sama pria lain dan kelihatan banget mereka serasi. Dari jam setengah 8 sampai tadi jam 11."


"Tapi setidaknya loe kasih tahulah. Kalau gue tahu kan gue bisa ngomong sama Rena. Kalau gue mau nikah sama dia."


"Tapi Bud, gue agak pesimis Rena akan cinta loe lagi dengan kejadian yang dilakukan sama Mama loe? Dan gue lihat Rena itu perempuan yang jangan hanya dilihat dari bobot, bibit, bebet. Jaman orang tua kita nikah sama kita saat ini jangan disamakan, jamannya udah beda."


"Loe kenapa jadi ceramahin gue?"


Lalu Budi menceritakan semuanya kepada Anas mengenai Rena.


"Pantas loe cinta sama Rena. Gue sendiri awalnya mengunder estimate dia. Tapi ternyata dia pintar, cantik dan anggun. Loe cinta mati sama Rena?


Budi mengangguk.


"Gue rasa, loe harus bersaing dengan 3 orang pria untuk mendapatkan Rena."


"Maksudnya 3 orang pria?"


"Bagas, Ancis teman loe dan Ananta."


"Siapa Ananta? Gue baru tahu?"


"Ananta nama gue tahu!"


"Ah, sial loe. Tapi gue ngga yakin Rena akan suka sama loe?"

__ADS_1


"Kita lihat bung, bersaing secara sehat ya. Loe boleh dapat mobil sport sama perusahaan gue. Tapi loe ngga bisa dapatin Rena lagi."


Rena terbangun dari tidurnya dan ia kesiangan bangun. Rena melihat jam, lalu bergegas keep kamar mandi untuk mengambil wudhu. Masih ada waktu untuk sholat.


Rena keluar kamar setelah sholat. Dan melihat Mbok sedang membuat sarapan.


"Pagi non."


"Pagi Mbok. Aku mau kopi yah Mbok."


"Iya Non, sebentar Mbok buatkan."


Rena berjalan keluar rumah. Ia duduk di taman sampling rumahnya. Sudah lama Rena tidak duduk di teras samping rumahnya.


Rena melihat Pak Mastar yang sedang menyiram tanaman. Mbok mengantarkan kopi ke Rena.


"Non, Mbok mau ngomong bisa?"


"Mau ngomong apa Mbok?" Rena mengambjl kopi dan menyeruput kopinya.


"Kemarin sore ada yang datang ke sini. Namanya Tiur dan Mia. Mereka bilang, mereka kakak dan adiknya Non Rena. Dan mereka memberikan surat ini kepada Mbok." Mbok menyerahkan surat yang dititipkan untuk Rena.


Jadi 3 anak kecil yang aku lihat kemarin itu anaknya siapa? Kemarin Rena sudah memberikan uang kepada ibunya.


Rena masuk ke dalam dan menuliskan surat yang ditujukan ke kakaknya. Rena menuliskan cek sebesar 20 juta untuk pernikahan kakaknya dan untuk ibunya berobat, Rena menuliskan nama dokter. Rena meminta agar ibunya djbawa ke dokter yang Rena mau dan mengenai biaya Rena yang akan bayar. Untuk uang transportasi Rena memberikan uang sebesar 5 juta.


Rena keluar dan memanggil pak Mistar.


"Pak Mistar, tolong berikan amplop ini ke orang yang saya tuliskan namanya dan satu lagi amplop ini di berikan dan yang menerima harus ibu yang waktu itu Pak Mistar kasih amplop coklat."


"Baik Non. Ke rumah yang waktu itu berhenti kan Non?"


"Iya Pak, benar. Sekarang bisa?"


"Bisa non. Kalau gitu saya pamit antar ini ya Non."


"Iya Pak, hati-hati."


Pak Mistar masuk ke dalam mobil. Dan Rena mendatangi satpamnya.


"Pak, kalau nanti ada yang datang dan belum pernah kesini sebelumnya jangan kasih mereka masuk. Apalagi mengaku kakak atau adik saya."

__ADS_1


"Baik non, kemarin dua orang itu maksa masuk. Dan mereka mengaku sebagai kakak dan adik non Rena."


"Ngga papa Pak, next time jangan lagi ya. Kalau bapak ragu, bapak bisa miscall ke saya dan saya akan telpon balik. Hari ini saya tidak mau terima tamu siapapun itu. Saya capek dan mau istirahat. Minta mereka untuk menelpon saya saja dan tidak perlu kasih tahu nomer handphone saya."


"Baik non Rena."


Rena masuk ke dalam rumah. Tidak berapa lama Bagas datang ke rumah Rena.


Bagas turn dari mobil.


"Pak, non Rena ada?"


"Ada pak Bagas. Tapi tadi non Rena pesan kalau hari ini ia tidak mau di ganggu dan Pak Bagas bisa telpon ke non Rena. Non Rena sedang capek, Pak."


"Oh gitu. Baik. Saya coba telpon Rena."


Bagas kembali masuk ke dalam mobil dan menelpon Rena.


Rena sedang tiduran dan mendengar handphonenya berbunyi. Rena bangun dan mengambil handphonenya. Telpon masuk dari Bagas.


"Pagi Rena. Aku ada di depan rumahmu sekarang. Kata Pak Satpam, kamu tidak mau terima tamu karena kamu capek."


"Pagi Bagas, iya benar. Aku capek. Ada apakah?"


"Aku bawakan sarapan untuk kamu. Tadinya aku mau sarapan bareng kamu."


"Maaf, aku sudah sarapan. Tadi Mbok sudah masak dan aku sudah tidak ngekost lagi. Terima kasih banyak sudah di bawakan sarapan. Kalau masih mau kasih sarapan, kamu bisa kasihkan ke orang yang kamu temui di jalan. Sopir dan satpamku sudah sarapan semuanya. Mohon maaf Bagas."


"Iya Rena, maaf aku lupa kalau kamu sudah tidak ngekost lagi. Tapi sudah tinggal di rumah besar dan tidak perlu sarapan yang beli di jalan."


"Bagas, kenapa kamu bicara seperti itu? Aku tinggal di rumah besar, juga bukan rumahku. Aku masih numpang sama Mama Silvani dan Papa Bram. Mengenai sarapan, bukannya aku tidak mau terima, daripada mubazir. Alangkah lebih baik kamu berikan kepada orang yang kamu lihat mereke belum makan."


"Apa susahnya di terima, aku sudah susah payah carikan sarapan untuk kamu."


"Bagas, maaf. Aku tidak pernah minta kamu cari sarapan untuk aku. Dan seperti yang aku bilang, semuanya yang tinggal di rumah ini sudah sarapan. Dan akan mubazir nantinya. Satu lagi jangan kamu pikir aku ini Tanti, istrimu yang bisa kamu marahin sesuka kamu. Aku bilang aku capek. Tolong hargai dan hormati privasiku."


"Baik kalau begitu. Aku pergi. Jangan harap aku akan temui kamu lagi. Tidak akan pernah aku menemui kamu lagi."


Bagas menutup telponnya dengan kesal lalu menyalakan mobilnya dan pergi dari rumah Rena.


Rena hanya geleng-geleng kepala dengan ucapan Bagas dan ia tidak mau ambil pusing.

__ADS_1


__ADS_2