Anak Terbuang

Anak Terbuang
Pesan Tante Silvani


__ADS_3

"Aduh, parfum ku habis". Rena meringis melihat parfumnya yang telah habis dan segera keluar.


Budi sudah menunggu di ruang tamu.


"Maaf lama, dan kalau tercium bau ngga enak karena parfum ku habis. Ya sudah yuk kita bernagkat". Rena segera mengajak Budi.


Mereka segera berangkat ke rumah Tante Silvani.


"Rena, apa kita cari parfum dulu baru ke rumah Tante Silvani?"


"Ngga usah, langsung saja ke rumah Tante Silvani, karena belum tentu juga stocknya ada kalau paksa beli sekarang kita bisa telat. Aku beli belum lama malah terlalu cepat habisnya, berarti aku boros sekali". Rena ngedumel sendiri karena parfumnya habis.


"Berapa lama biasanya parfum mu habis?


"Bisa 3-4 tahun baru habis".


"Hah, memang segede apa parfum kamu sampai bisa awet 3-4 tahun?


"Ngga besar hanya 200ml udah aku pakai 2,5 tahun berarti aku boros sekali. Sebal". Rena mengeluarkan botol parfumnya dan memberitahukan ke Budi.


Budi melihat ukuran botol itu dan melihat merknya, Ukuran 200ml bisa Rena pakai selama 3-4 tahun dan dia marah-marah karena terlalu boros pakainya untuk jangka waktu 2,5 tahun. Rena terlalu pelit atau gimana? Dan itu harganya juga tidak sampai 300ribu.


"Ya sudah nanti kita beli yang banyak".


"Ngga usah aku mau beli baby cologne aja, lebih murah dan tidak mahal seperti ini".


Budi hanya menggelengkan kepalanya melihat Rena yang terkesan cuek dengan penampilannya. Tinggi, cantik, putih dan tidak pernah dandan, hanya menggunakan olesan lipstik tipis.


Rena disambut oleh Tante Silvani dengan pelukan hangat.


"Rena sayang, kamu tetap anak Tante, kamu anak Tante dan Om Bram sama seperti Novi, jangan pernah berpikir aneh-aneh, ya sayang". Tante Silvani dan Om Bram tersenyum.


" Masuk Bud", ucap Om Bram.


"Ini rumah Rena juga kok, jadi jangan sungkan cuma Rena saja yang lebih milih tidur di rumahmu" Om Bram meledek Rena.


"Iiihhh apaan sih, Rena mau tidur di kost ngga boleh sama Budi".


"Memang ngga boleh, Tante yang minta supaya kamu bisa diawasi. Dan kamu harus nurut sama Budi, karena Budi ditugaskan Om dan Tante untuk jaga kamu".


"Wah jadi maksud Tante, Budi jadi bodyguard aku? Kayak aku Tuan Putri saja?"

__ADS_1


"Memang, kamu Tuan Putri nya Budi. Benarkan Bud?"


Budi menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan omongan Tante Silvani.


"Novi mana? Kok ngga kelihatan? Novi dan Alex lagi keluar, sebentar lagi mereka juga kembali".


"Rena, Tante dan Om Silvani sudah mengurus semua surat kematian ayahmu dan sudah Tante kirimkan ke keluargamu. Mulai saat ini kamu tidak usah terlalu memikirkan gimana caranya mereka bertahan hidup. Om dan Tante yang bantu mereka".


"Tapi Tante, biar bagaimana pun mereka tetap keluarga aku dari aku bayi diasuh oleh mereka dan diberikan perhatian dan kasih sayang sama almarhum ayah dan ibu".


"Rena, Tante sudah tahu semuanya, jadi kamu tidak perlu membela mereka lagi dan Tante tahu sifat kamu seperti apa. Sekarang waktunya buat kamu untuk meneruskan hidupmu dan mimpimu".


"Iya Rena, biarpun Om dan Tante bukan orang tuanya, kami sayang dan cinta sama kamu. Seandainya kamu mau ikut dengan kami untuk tinggal di luar negeri. Kamu menolaknya karena kamu ingin membuktikan pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa bukan untuk show off ke orang lain, tapi kamu sedang membuat pengakuan kepada dirimu dan itu bagus". ucap Om Bram.


"Iya Om dan Tante, Rena ngga tahu bagaimana harus membalas semua kebaikan Om dan Tante selama ini. Maafkan jika Rena juga jarang menelpon Om, Tante dan juga Novi karena banyak yang harus Rena kerjakan".


"Santai saja Rena, Om tahu, kamu sebenarnya perfeksionis, dan kamu buat nilai tinggi untuk dirimu".


"Kamu adalah anak kami juga, Rena walaupun kami tidak sepenuhnya dapat memberikan rasa kasih sayang dan cinta seperti yang kamu mau dilakukan oleh orang tuamu".


" Makasih banyak Om dan Tante, Rena benar-benar senang, Allah punya rencana untuk Rena".


"Jadi jangan bersedih lagi, semua akan indah pada waktunya, iyakan Budi?"


"Jadi kapan peresmian kalian berpacaran?" tanya Tante Silvani sambil senyum-senyum.


"Ngga tahu Tante, jalanin saja, kalau jodoh yah lanjut, kalau ngga jodoh yah sudah. Takdir yang menentukan Allah SWT".


"Iya sayang. mulai besok barang-barangmu di kost akan diangkut ke rumah Budi dan kamu akan tinggal di sana". ucap Tante Silvani


"Ngga Tante, aku ngga mau. Aku tetap akan di kost karena aku mau mandiri".


"Susah Ma, anak Mama yang namanya Rena itu keras kepala, nunggu benjol dulu kepalanya, sakit baru ngeh, kalau hanya benjol saja mah sama Rena terus dijalanin". Novi yang baru datang langsung bicara.


"Novi, kamu kebiasaan, masuk ngga ada salam langsung nyelonong saja! " ucap Tante Silvani


"Gimana Ren, sudah pacaran sama Budi?


"Tanyalah sama Budi, dari tadi aku sudah dicecar sama Om Bram dan Tante Silvani".


"Manggil nya sekarang Papa dan Mama bukan Om dan Tante lagi, ok". ucap Novi

__ADS_1


"Iya Cici Novi yang aku sayang".


Semua tertawa melihat tingkah Novi dan Rena, teman, sahabat dan akhirnya saudara. Takdir hidup Rena dicintai oleh orang-orang yang mengerti dirinya dan dibuang oleh keluarganya sendiri. Seperti roda kehidupan, kadang diatas dan kadang dibawah.


"Kamu berangkat jam berapa ke bandara? tanya Rena


"Jam 8.00 malam, kamu antar aku kan?


"Iyalah aku antar, tapi mungkin ketemuan di bandara saja ya karena aku ada undangan nikah teman kantorku".


"Ok sip, Tapi aku kesal, aku ke sini terus malah jarang ketemu dan tidak ngobrol".


"Hahahaha, kok kamu kesal, yang lebih kesal aku, karena kamu lebih sering telpon Budi tanya mengenai aku. Kan bisa langsung tanya ngapain juga harus tanya Budi?


"Rena, Novi sudah jangan debat terus, kalian kalau sudah debat tidak akan selesai, ayo makan siang dulu. Rena tadi pagi kamu sudah makan kan?


"Sudah dikit hanya sesendok, karena nasi goreng yang Rena buat dihabisin sama Budi".


"Nasi goreng buatan Rena enak, aku ngga berhenti makan, Tante".


"Wah, kamu bisa gendut nanti kalau Rena jadi istri kamu". Tante Silvani menggoda Rena.


"Kita lihat saja nanti Tante, Rena belum kepikiran untuk menikah. Masih banyak yang mau Rena lakukan Tante".


"Iya sayang, Tante tahu kok, ya sudah ayo kita makan keburu dingin makanannya. Setelah itu kamu mau pergi sama Budi".


"Iya Tante".


Selesai makan dan ngobrol bersama, Tante Silvani memanggil Budi karena ada yang mau dibicarakan, sedangkan Rena dikamar bersama Novi dan Alex.


"Budi, Tante Silvani mau kamu jaga Rena, jangan terlalu push dia sesuai keinginan kamu. Rena itu anak yang keras kepala selain juga keras hidupnya dari kecil. Dia anak yang masih mencari kasih sayang dan cinta, walaupun saat ini dia bukan anak kecil. Tapi ada bagian dari diri dia yang harus bisa kamu pahami dan mengerti. Jangan pernah rusak Rena".


"Iya Tante, Budi sudah paham dan ada hal-hal kecil yang sama sekali berbeda. Budi akan jaga Rena. Tante tidak perlu kuatir akan hal itu"


"Tante percaya sama kamu. Dan kamu sudah tahu masa kecilnya Rena. Rena sebenarnya gadis yang rapuh. Tante dan Om Bram sudah menganggap Rena seperti anak sendiri, kami mau yang terbaik buat Rena. Minggu depan kami akan balik ke Amerika. Dan rumah ini nantinya buat Rena, karena sebelumnya dipakai oleh adiknya Om Bram, tetapi mereka tidak mau menempati lagi. Untuk itu coba kamu bujuk Rena untuk kembali ke rumah ini. Karena berkali-kali Tante bilang, selalu tidak mau. Rena mau mandiri Tante, itu terus jawabannya".


"Baik Tante, saya akan bantu bicara sama Rena".


"Ok, makasih Budi. Kamu mau pergi jam berapa?"


"Jika Tante dan Om Bram sudah selesai, saya dan Rena pamit".

__ADS_1


"Ya sudah, Hati-hati".


"Iya Tante".


__ADS_2