Anak Terbuang

Anak Terbuang
Rena kecelakaan


__ADS_3

Pagi ini Rena telat bangun. Ternyata Budi dan Ancis belum bangun. Budi dan Ancis ngobrol sampai jam 3 pagi. Sudah jam 7 pagi dan Rena segera berangkat setelah memberitahukan Bibi. Jam 8, jadwal Rena bertemu dengan dosen pembimbing. Rena naik ojek untuk mengejar waktu.


Budi bangun 5 menit setelah Rena berangkat. Ia melihat jam dan kaget, ternyata sudah jam 7.10. Budi segera keluar kamar dan berlari turun ke bawah.


Budi melihat Bibi yang sedang menyiapkan roti dan kopi untuk sarapan.


"Bi, Rena sudah bangun?


"Sudah Tuan, baru saja dan naik ojek. Takut telat katanya. Dan Mbak Rena belum sarapan, jadi tadi juga buru-buru".


'Ya sudah Bi, terima kasih. Kopinya 1 lagi Bi, Ada Ancis, dia nginap disini.


" Baik Tuan".


Tidak berapa lama Ancis bangun dan segera turun.


"Sorry Bud, gue baru bangun. Gue mau kopi.


" Sama, gue juga baru bangun. Kopi loe bentar lagi di buat sama Bibi".


"Bud, jam berapa antar pacar loe ke kampus? Kok belum nongol?


" Udah berangkat sendiri, naik ojek tadi jam 7. Rencana loe apa hari ini? Gue nanti jam 9 berangkat ada meeting di segitiga emas".


"Balik pulang, lanjutin tidur masih ngantuk, jam 3 sore gue ada meeting sama Bu Tita di kantor HFL untuk event. Anterin gue balik pulang sekalian loe jalan ke kantor".


Budi baru selesai meeting, sudah jam 1 siang dan Budi melihat handphonenya tidak ada telpon ataupun pesan dari Rena. Mungkin Rena masih sibuk. Nanti sore saja aku telpon Rena.


Budi tidak tahu kalo Rena kecelakaan ditabrak oleh pengendara motor saat keluar dari gerbang kampus dan mau menyebrang. Naas bagi Rena, karena badannya terpental, motor yang menabraknya sudah melarikan diri. Rena segera ditolong oleh orang-orang yang melihat kejadian itu dan tidak sempat menangkap orang yang sudah menabraknya.


Bu Tita dan Ancis di mobil dan melewati depan kampus Rena. Ancis melihat kerumunan orang yang membuat jalanan menjadi macet.


"Ada apa si Ncis, kok macet sih jam segini, takutnya terlambat meeting.


Ancis meminta sopirnya membuka jendela dan bertanya ada apa.


" Baik Pak*.


Ancis sedang menerima telpon masuk sedangkan Bu Tita sedang mengecek ulang semua dolumen yang sudah di siapkan oleh Rena kemarin.


"Ada apa Pri, kenapa macet? "


"Ada kecelakaan Pak, mahasiswi kampus tabrak lari. Katanya orang-orang itu mahasiswi paling...."


Pak Apri belum selesai bicara Pak Ancis mendapat telpon dari klien.


Rena dibawa ke rumah sakit dan masih mendapatkan pertolongan di ugd. Tas yang dibawa Rena diletakkan di sebelah Rena dan salah seorang polisi mencoba membuka tas Rena untuk mendapatkan identitas Rena dan menelpon pihak keluarganya. Ternyata hand phone Rena mati karena habis baterainya. Polisi tersebut mencharge handphone Rena dan mengambil kartu identitas Rena.


Jam 7 malam Budi merasa gelisah dan kepikiran Rena tetapi ia tidak tahu apa. Lalu Budi pulang ke rumah. Mungkin Rena sudah di rumah karena hari ini ia tidak masuk kerja.


Di tengah jalan Budi mendapat telpon dari Tante Silvani.

__ADS_1


"Halo Tante Silvani apa kabar?


" Budi segera kamu ke rumah sakit Thamrin, Rena kecelakaan dan Tante dapat telpon langsung dari polisi. Tante tidak bisa telpon ke Rena karena katanya masih pingsan dan masih di ugd. Tolong nanti kamarnya yang VIP, biar cepat proses penyembuhannya. Nanti uang untuk perawatan Rena, Tante transfer. Sampai rumah sakit langsung kabarin Tante"


"Baik Tante".


Budi segera melajukan mobilnya ke rumah sakit Thamrin, sesampai di ugd, Budi melihat Rena yang masih pingsan dan di kepalanya ada lilitan perban.


" Rena, Rena bangun sayang". Budi menangis melihat kondisi Rena.


"Maaf Pak. Bapak siapanya pasien? Pasien atas nama Rena dari tadi belum sadarkan diri dan kita menunggu pihak keluarga di karena kan akan kami cek ke bagian MRI".


" Baik Suster, lakukan apapun yang terbaik untuk kesembuhan dia".


Bu Tita dan Ancis baru selesai meeting, setelah mengantarkan Bu Tita ke rumah, Ancis masuk ke mobil.


"Apri, jalan kita ke kantor Pak Budi. Tadi siang yang kecelakaan siapa? Saya baru ingat lagi?


" Iya Pak, tabrak lari, kata yang bantu itu mahasiswi paling cantik dan baik. Kalau tidak salah namanya Erna atau Rena, saya lupa Pak?"


"Ok" Ancis menelpon Budi


"Budi, gue ke kantor loe. Atau ketemuan di steak house saja?


"Ngga bisa Ncis, gue di rumah sakit, Rena kecelakaan tadi siang, tabrak lari? Ini masih di urus sama Polisi".


" Hah, kok, di rumah sakit mana? Gue ke sana, kondisi Rena gimana?


"Rumah sakit Thamrin, pingsan dari tadi ngga sadarkan diri dan ini mau dibawa untuk MRI".


"Apri, ke rumah sakit Thamrin. kamu bilang tadi namanya Erna atau Rena?


" Maaf Pak, Saya lupa Erna atau Rena".


"Ya sudah jalan sekarang".


Sementara itu Budi sedang menelpon Tante Silvani. Dan memberitahukan kondisi Rena. Ancis yang melihat Budi sedang melakukan video call melihat dari belakang siapa Tante Silvani itu. Dan Ancis melihat ada 3 orang dan Ancis mengenali Novi yang merupakan teman satu universitas di Amerika.


"Ada hubungan apa Rena sama Novi, dan kenapa mereka menangis? Apakah Rena saudara mereka? banyak pertanyaan di kepala Ancis mengenali Rena.


Budi selesai menelpon Tante Silvani dan membalikkan badannya.


" Budi, gimana Rena? Ada di dalam dan sebentar lagi mau di pindah ke kamar VIP, Tante Silvani minta Rena dikamar VIP. Gue urus administrasi dulu. Loe masuk aja ke dalam".


"Gini aja, gue yang urus administrasinya, loe yang temenin Rena. Namanya Rena siapa?


" Hanya Rena, korban tabrak lari minta kamar VIP. Thank you Ncis. Nanti uang nya gue ganti".


"Udah santai saja. Urus Rena dulu lebih penting".


Ancis segera ke bagian administrasi dan Budi masuk ke ruang UGD sambil menunggu Rena di pindahkan ke kamar perawatan.

__ADS_1


Tidak berapa lama suster datang dan memindahkan Rena untuk ke kamar perawatan.


Ancis datang dan mengikuti Budi dan Rena yang dibawa ke kamar perawatan.


Ternyata Rena masuk ke kamar VVIP. Ancis meminta kamar VVIP untuk perawatan Rena dan ia menanggung semua biaya perawatan Rena.


Setelah semuanya selesai, Ancis meminta sopirnya untuk membelikan makan buat dirinya dan Budi dan juga Apri, sopirnya.


"Ncis, kenapa kamar VVIP? Kan tadi gue bilang kamar VIP.".


" VIP penuh, kan ngga mungkin gue ambil kamar kelas 1 atau kelas 3. Udah loe ngga usah pusingin biaya. Gue tadi tanya sama suster, kemungkinan Rena koma, karena ada penbengkakan di kepala dan lagi nunggu hasil rontgen seluruh badannya. Tenang Bud, gue tahu loe panik. Makanya gue bantu sahabat gue.


Tidak berapa lama dokter datang dan mengatakan bahwa besok pagi Rena akan di operasi karena dari hasil rontgennya tulang belakangnya patah.


"Tidak bisa di operasi sekarang saja Dok? tanya Budi dengan panik.


" Tidak bisa Pak, karena dokter orthopedi sedang melakukan operasi saat ini. Besok jam 6 pagi, operasi akan mulai".


"Baik dokter terima kasih".


Sepeninggal dokter, Budi segera menghampiri Rena yang belum sadarkan diri dan menangis.


" Sabar Budi, gue kenal sama dokter orthopedinya. Gue tahu loe sedih".


"Iya Ncis, thank you. Gue harus kabarin Tante Silvani, tapi handphone gue low battery.


"Nih pakai handphone gue, berapa nomernya, video call saja, biar dia bisa lihat juga kondisi Rena.


Budi segera menelpon Tante Silvani, tapi tidak diangkat. Budi menelpon Novi.


" Budi, gimana Rena? Papa sedang antar Mama pergi kerja. Oh iya Budi, kata Mama, uangnya sudah di transfer ke Rena, kamu tahu ATM yang manakan? Kamu pakai itu untuk bayar semua pengobatan Rena".


"Iya ngga papa. Aku mau kasih tahu kalau besok pagi Rena akan operasi tulang belakang karena patah dan Rena tabrak lari sampai terpental. Sampai saat ini Rena belum sadarkan diri. Nanti aku coba telpon Tante Silvani, kira-kira sudah sampai di tempat praktek belum ya?


"Coba telpon papa karena yang kendarain mobil Mama"


"Gini aja Budi, lakukan apapun yang terbaik untuk Rena, jangan sampai adikku kenapa-napa".


" Iya Novi, pasti aku akan lakukan apapun untuk Rena. Aku ngga mau kehilangan Rena".


Budi langsung menyerahkan handphonenya ke Ancis tanpa dimatikan karena Budi melihat jemari tangan Rena bergerak.


"Halo Budi".


" Halo Novi, apa kabar?


"Loh, kok kamu sama Budi? Kamu Frans kan? Satu Universitas sama aku?


" Iya, aku sahabatnya Budi. Rena itu adik kamu?


"Iya, adik aku, tolong bantu Budi untuk jaga Rena ya Frans. Nanti kita ngobrol lagi, aku harus berangkat. Bye Frans.

__ADS_1


" Ok, take care Novi, bye".


Ancis masih bingung bagaimana bisa adiknya Novi di Jakarta dan bekerja sedangkan Novi dan keluarganya di Amerika?


__ADS_2