
"Rena, pulang kerja nanti kamu susul Tante dan Om di Menteng yah, di depan sekolah yang sebelah pom bensin", Tante Silvani mengirimkan pesan kepada Rena yang masih dikantor.
" Baik Tante, nanti aku kesana pulang kerja, terima kasih Tante". Rena membalas pesan Tante Silvani.
Hari ini kerjaan Rena banyak sekali di kantor sampai dia lupa untuk makan siang. Pengalaman Rena yang dari kecil jarang makan karena orang tuanya tidak mengijinkan dia makan sebelum bertanya, membuat Rena sering berpuasa walaupun Rena sudah tinggal dengan keluarga Novi semenjak diusir ayahnya saat SMP.
Telpon di meja Rena berbunyi
"Rena, tolong kamu ke ruangan saya", Bu Cindy memanggil Rena. Bu Cindy adalah supervisor Rena di kantor. Bu Cindy senang dengan cara kerja Rena selama 3 minggu.
" Baik Bu Cindy, terima kasih", ucap Rena
tok... tok... tok...
"Masuk", jawab Bu Cindy
" Ya Bu, ada yang bisa saya bantu? "
"Rena, tolong kamu buat invoice ini dan segera buat penawaran untuk beberapa item yang diperlukan untuk launching produk baru. Bisa selesai dalam 1 jam kah?"
"Baik Bu, bisa", ucap Rena
" Ok".
Rena menyelesaikan tugas kantor sesuai perintah yang diberikan dan tanpa ada kesalahan. Semua teman-teman kantor Rena sangat suka sama Rena, karena Rena anak yang baik dan suka bercanda membuat suasana kantor lebih hidup. Walaupun Rena lebih muda dari mereka tetapi dengan pembawaan Rena yang sopan dan ramah membuat semua menyenangi Rena.
Sudah jam 6, aku harus pergi menemui Tante dan Om di menteng, semoga tidak macet hari ini. Bu Cindy dan beberapa teman kantornya sudah pulang. Hanya ada Rena dan Mas Barry dan Pak Dono di bagian produksi yang harus lembur untuk launching produk klain perusahaan.
Rena menghampiri Pak Dono dan Mas Barry.
"Pak Dono dan Mas Barry, Rena pulang duluan yah, sampai besok".
"Ok anak cantik, hati-hati yah, sampai besok lagi", ucap Pak Dono.
Mas Barry masih berkutat dengan komputernya.
Rena berjalan keluar gedung dan menunggu bis datang. Tiba-tiba ada motor berhenti di depan Rena. Rena hanya memandangi motor dan pengendaranya.
"Rena, ini aku Bagas, kamu dari mana?" tanya Bagas.
"Eh, ternyata kamu Gas, aku baru pulang kerja dan lagi menunggu bis, mau ke menteng", ucap Rena
"Aku antar Ren, naiklah". Bagas mengambil helm dan memberikan kepada Rena
"Ayo Ren, ini macet jamnya orang pulang kantor, nanti kamu telat dan kasihan orang yang nungguin kamu".
"Iya Gas, terima kasih". Rena mengambil helm yang diberikan oleh Bagas.
Sepanjang perjalanan Bagas dan Rena terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Sebenarnya aku mau ngomong sama kamu Ren, tetapi susah sekali untuk bisa berdua saja sama kamu ditambah kamu ternyata sudah bekerja dan aku tidak tahu kalau kamu sudah bekerja,. Bodohnya aku, kenapa aku tidak telpon saja nanti padahal aku tahu nomer handphonenya Rena. Bagas membatin.
"Ok, sudah sampai Rena, mau aku temanin atau gimana". Bagas menawarkan diri.
" Ngga usah Gas, aku janjian sama Tante Silvani dan Om Bram. Makasih banyak yah Gas sudah mau nganterin aku ke sini. Aku masuk duluan yah. Bye Bagas".
__ADS_1
Bagas tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Aiiiihhh, ada yang antar jemput nih", Dian menggoda Rena
" Iiiihhh apa sih, tadi ketemu sama Bagas di jalan dan dia nawarin aku untuk antar kesini biar ngga terlalu lama di jalan, gitu". seloroh Rena
"Kalian itu kalau sudah ngumpul pasti rame. Ayo duduk Rena, sebentar lagi Om Bram datang".
" Iya, Tante".
Novi dan Dian senyum-senyum menggoda Rena yang duduk di sebelah Dian.
"Udah ah, jangan senyum-senyum, aku sama Bagas ngga ada apa-apa, kami hanya temanan". Rena menjelaskan kepada dua sahabatnya.
" Geer deh, memang siapa yang bilang kamu ada apa-apa sama Bagas?" Novi dan Dian ketawa cekikikan.
"Mukanya Rena merah kayak tomat, kurang saus sambal sama kepiting". Ucap Dian
"Iya, jadinya kepiting saus padang". Rena langsung membalas omongan Dian dan mereka tertawa bareng.
Om Bram datang, dan Tante Silvani memesan makanan. Lalu mereka makan bareng tanpa bersuara. Selesai makan Om Bram memberitahu bahwa 1 minggu lagi mereka akan berangkat ke Amerika.
"Rena, rumah Om yang sekarang kita tempati akan di pakai oleh adiknya Om. Om berharap kamu masih mau tinggal di rumah itu, tetapi jika tidak Om akan mencarikan tempat kost untuk kamu. Karena kami akan tinggal di Amerika dan entah kapan akan kembali lagi". Om Bram menarik napas panjang setelah memberitahu kepada Rena.
"Om Bram dan Tante Silvani, Rena akan cari kost dekat kantor supaya lebih gampang kalau pulang pergi ke kantor. Bukan Rena menolak untuk tetap tinggal di rumah yang sekarang, hanya saja Rena tidak enak sama adiknya Om.
Rena tidak tahu harus berkata apa, karena selama ini Om Bram dan Tante Silvani, juga Novi dan semua orang yang di rumah itu sangat menyayangi Rena yang jujur tidak pernah Rena dapatkan dari kedua orang tua Rena. Walaupun sampai saat ini ayah tidak pernah mencari Rena. Rena kangen mereka, Rena oengen ketemu mereka, tapi masih ada ketakutan di dalam diri Rena. Walaupun perbuatan mereka ke Rena membuat Rena sakit, tetapi mereka tetap orang tua Rena. Rena merasa Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada Rena untuk kembali bangkit agar bisa membuat orang tua Rena bangga. Tuhan menolong Rena sampai saat ini lewat Om, Tante, Novi dan Dian, dan Rena merasakan bahwa Rena punya keluarga yang dari dulu Rena impikan saat masih tinggal sama ayah, ibu, kakak dan adik Rena". Rena berusaha untuk tidak mengeluarkan airmata saat mengucapkan kata-katanya.
"Rena sayang, Om dan Tante menganggap Rena seperti anak sendiri. Jadi apapun yang kamu rasakan, kegembiraan kamu, kesedihan kamu, Om dan Tante juga Novi merasakan. Setidaknya selama ini Novi jadi punya teman, sahabat dan saudara, karena Novi kan anak tunggal. Sejak ada kamu, Novi jadi ngga manja lagi. Kita semua sayang kamu Rena". Tante Silvani berurai airmata.
"Sudah malam, mari kita pulang, besok Rena harus bekerja". ucap Om Bram
Sepanjang perjalanan pulang, semuanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Mbok Sinem membuka pintu saat mereka semua sampai di rumah. Dan mengucapkan selamat malam dan pergi ke kamar masing-masing.
Rena segera ke kamar mandi dan mandi, karena badannya lelah sekali, dia ingin rebahan.
Selesai mandi, dan menggunakan piyama, Rena berbaring dan merenungi perkataan Om, Tante dan Dian tadi. Bahwa semuanya harus tetap bergerak untuk mencapai impian dan cita-citanya. Rena sedih karena harus berpisah dari Om Bram, Tante Silvani, Novi dan juga Dian. Besok aku coba cari-cari kost dekat kantor. Karena seminggu lagi mereka berangkat. Hati kecil Rena ingin sekali pulang ke rumah orang tuanya, tetapi ketakutan dan trauma masa kecilnya masih menghantui Rena sampai saat ini.
Flashback
"Ampun Ayah, sakit Ayah, bukan Rena yang ambil coklat Kakak, Rena dari tadi di kamar dan ngga keluar kamar sampai Ayah sama Ibu bilang boleh keluar kamar". Rena ketakutan dan kesakitan karena Ayah memukulinya
Walaupun Rena berusaha teriak dan mohon ampun ayahnya tetap memukuli Rena dan menyeret tubuh Rena keluar kamarnya.
"Buktinya bungkus coklat Kakak ada di kamar Rena, jadi Kakak ngga bohong". Kakak langsung berlari kekamar Rena dan mengambil bungkus coklat yang tadi sudah dikantongi oleh Kakak di saku celana pendeknya.
"Ini buktinya bungkus coklat ada di bawah bantal Rena, itu ada sisa coklat di sarung bantal Rena, jorok banget sih kamu". Rena Menghampiri ayahnya yang masih memukul Rena, sedangkan Kakak memberikan bungkus coklat yang sudah dikeluarkan dari saku celana kakak saat dikamar Rena.
"Ampun Ayah, sakit Ayah. Ibu, tolong Rena Ibu, Rena ngga ambil coklat kakak. Rena juga lapar karena dari pagi Rena belum makan. Ibu belum kasih Rena makan dan Rena dikamar terus".
Ibu hanya diam tanpa menghentikan Ayah yang masih memukuli Rena. Ibu dan Kakak malah pergi ke warung beli coklat lagi untuk Kakak.
Kakak tersenyum kearah Rena penuh kemenangan. Ayah menyuruh Rena masuk ke kamarnya dan tidak boleh keluar.
__ADS_1
Dikamar Rena masih menangis karena kesakitan, padahal kemarin Rena habis di pukul sama Ayah dengan sendok kayu karena mencuci piring tidak bersih. Dan bekas pukulan di lengan Rena masih biru sekarang di tambah lagi dengan pukulan di badan Rena.
Tuhan, beri kekuatan buat Rena. Rena sayang sama Ayah, Ibu dan Kakak. Tapi Rena lapar Tuhan. Rena mau minta makan cuma Rena takut dipukul lagi.
Rena baru saja menikmati masuk TK. Tadi pagi diantar oleh ayahnya, dan sekarang Rena pulang sendiri, karena jarak dari sekolah ke rumah tidak terlalu jauh. Sampai rumah Rena mengucapkan salam dan melihat kakaknya yang hari ini tidak masuk sekolah karena sakit. Setelah mengucapkan salam, Rena langsung masuk ke kamar dan berganti baju. Rena melihat dari kamarnya bahwa ada orang yang sedang mencuci baju. Karena kamar Rena bersebelahan dengan dapur membuat Rena jadi mudah melihat dapur dan kamar mandi.
"Kakak benci sama Rena, kakak ngga mau Rena tinggal disini. Gara-gara Rena, Ayah sama Ibu ngga ajak aku jalan-jalan hari minggu kemarin. Aku mau jalan-jalan sekarang". teriak kakaknya
"Iya sayang, habis ini kita jalan-jalan, tunggu Mbak Ati selesai mencuci baju, setelah itu kita jalan-jalan yah". Ibu berbicara sangat lembut dengan kakak.
Rena hanya duduk diam saja di kamar, ia takut nanti ayah akan memukulnya. Ibu selama ini tidak pernah marah, tidak pernah mukul tapi Ibu tidak pernah mau bicara dengan Rena.
"Renaaaa, kenapa kamu cuma diam di kamar, itu cucian piring sudah numpuk, cepat cuci". Ayah tiba-tiba berdiri di depan kamar Rena.
"Iya ayah, tapi Rena lapar, Rena boleh makan ayah, tadi di sekolah teman-teman bawa bekal, Rena tidak bawa, hanya air putih". ucap Rena dengan ketakutan.
"Cuci piring dulu! " Ayah semakin marah.
Bi Ati yang hampir selesai mencuci baju merasa kasihan, anak kecil disuruh cuci piring sedangkan pulang sekolah sudah kelaparan.
Setelah selesai cuci baju, Bi Ati keluar dari kamar mandi dan melihat banyak sekali cucian piring yang harus dikerjakan Rena. Kasihan Rena, gumam Bi Ati.
"Bi Ati sudah selesai cuci bajunya? Kalau sudah selesai Bi Ati bisa langsung pulang yah, besok bisa datang untuk setrika baju". Ibu datang menghampiri Bi Ati.
"Baik Bu, saya permisi jemur baju setelah itu pulang". ucap Bi Ati
Selepas Bi Ati pulang, Ayah, Ibu dan Kakak bersiap mau pergi.
"Rena, ini makan kamu, dimakan setelah itu nyapu dan ngepel, Ayah sama Ibu dan Kakak mau pergi. Jangan lupa masak air". Ayah memberi Rena telur rebus 1 dan bubur sisa makan Kakak yang tidak habis yang hanya tinggal 5 sendok lagi.
"Iya Ayah, terima kasih", ucap Rena
Akhirnya orang tua dan kakaknya pergi tetapi pintu dikunci dari luar. Rena dikunci dari luar. Rena hanya menangis dan makan bubur juga telur rebusnya setelah itu menyapu dan mengepel. Karena cape Rena tertidur.
Bangun, Rena mendapati rumah gelap karena sudah malam, orang tua dan kakaknya belum pulang. Rena ketakutan karena gelap dan dia hanya menangis di kamar.
Setelah menunggu lama, akhirnya orang tua dan kakaknya datang. Rena mendengar kegembiraan dari suara mereka yang baru masuk rumah. Rena segera duduk.
"Rena, keluar kamu dari kamar. Ini di bersihkan sampah yang di dapur dan buang keluar. Ayah sudah berdiri di depan kamar.
Rena keluar dan mengambil sampah, ia melewati ruang tamu dimana Kakak sedang makan kue dan ice cream dan disebelah Kakak ada boneka panda yang bagus.
Ibu masuk ke kamar, Ayah dikamar mandi, tiba-tiba Kakak berdiri dan mendorong Rena juga menumpahkan ice cream yang dia makan dan mengotori lantai, Rena merasakan sakit karena kepalanya kebentur dinding.
"Ayaaahhhh, Rena merebut ice creamku".
Rena yang masih kesakitan dan belum sempat berdiri, dipukul sama Ayah dan dijewer.
"Kamu ini di suruh buang sampah malah merebut ice cream Kakak". Ayah marah dan memukul serta menjewer kuping Rena.
*Ayah ampun, ampun Ayah, Rena ngga ambil ice cream Kakak, Rena tadi di dorong sama Kakak makanya ice cream Kakak jatuh". Rena berusaha membela diri.
"Bohong Ayah, ice cream aku tuh jadi tumpah",
Ayah langsung mengambil teko yang berisi air dan dilempar ke Rena. Rena berusaha bangkit berdiri dan berjalan keluar untuk membuang sampah lalu segera mengambil kain pel untuk mengeringkan lantai yang basah.
__ADS_1
Semuanya sudah selesai, Rena masuk ke kamar dan menangis tanpa suara karena kepalanya sakit akibat kebentu tembok dan kaki, kuping juga badannya sakit. .