
Rena berhenti di tukang nasi goreng, dan ia makan disitu. Rena mau sampai rumah tinggal mandi dan ber messenger dengan Dian dan Novi. Sedangkan roti yang dari Mbak Esther baru besok mau ia makan untuk sarapan. Rena mengambil handphonenya ada 1 pesan dari kakaknya dan minta uang untuk beli obat ayah dan juga uang untuk bayar kegiatan sekolah dan karyawisata adiknya. Rena tidak membalas pesan dari kakaknya. Ia sama sekali sudah tidak mau menggunakan uang dari Om Bram. Sedangkan untuk uang sekolah adik-adiknya ia akan langsung bayarkan ke sekolah mereka tanpa harus lewat kakaknya. Beberapa hari gajian dan sudah hampir 8 bulan Rena berkerja di kantor Bu Tita.
Sementara diseberang jalan, Bagas melihat Rena sedang pesan nasi goreng dan makan disana. Bagas ingin menghampiri Rena tetapi ia tidak berani. Bagas takut Rena akan marah dan teriak-teriak dengannya seperti yang dilakukan Lulu kepada Bagas apabila mereka sedang bertengkar. Bagas kangen sekali dengan Rena. Bagas melihat Rena yang sudah selesai makan dan melihat handphonenya kemudian membayar nasi goreng. Rena sama sekali tidak menyadari Bagas, karena mata Rena mulai tidak bisa melihat dengan jelas. Rena berencana akan ke dokter mata hari Sabtu nanti untuk memeriksa matanya sekalian ke universitas yang diminta oleh Bu Tita
Bagas melihat Rena yang berjalan pulang ke kost. Bagas ingin sekali menemani Rena berjalan pulang ke kostnya. Tetapi ternyata Rena tidak ke menuju kostnya. Rena berjalan terus. Bagas kuatir dengan Rena segera ia menyalakan motornya dan mendekati Rena yang sedang berjalan.
"Rena, baru pulang?" Bagas berusaha meredam degup jantungnya saat menyapa Rena.
"Ya ampun Bagas, kamu buat aku kaget. Iya aku baru pulang dan ini mau ke ATM". Rena tersenyum
"Aku masih boleh antar kamu ke ATM, Ren?
"Boleh Gas, tapi takutnya nanti ada yang marah sama aku kalo aku bonceng motor kamu?
Baru saja Rena berhenti berucap, tiba-tiba ada taxi berhenti di depan motor Bagas dan keluarlah Lulu dan juga temannya waktu di sekolah.
" Pantesan saja aku telpon kamu tidak diangkat ternyata kamu lagi berduaan dengan perempuan miskin ini! "
__ADS_1
"Hei kamu, jangan berani-berani merusak hubungan saya dengan Bagas, karena sebentar lagi Bagas akan menikah dengan saya. Karena Bagas sudah tidur dengan saya waktu kita kepuncak. Ngerti kamu!" Lulu menunjuk Rena dan mendorong Rena.
"Maaf Lu, aku ngga tahu, aku dan Bagas hanya papasan saja dan tidak bermaksud mengganggu hubungan kalian. Kalo gitu saya permisi. Selamat buat kalian semoga pernikahan kalian langgeng. Aku permisi dulu".
Orang-orang yang berjalan mendengar teriakan Lulu tadi dan memperhatikan Rena yang tetap berjalan dengan santai karena Rena merasa bahwa ia tidak tahu ada kejadian seperti yang Lulu katakan tadi.
Rena mengambil uang untuk pegangannya sampai akhir bulan sehingga ia tidak perlu mondar-mandir ke ATM. Setelah itu Rena pulang ke kostnya.
Selesai mandi dan memakai baju, Rena membuka handphonenya ada panggilan dari Budi dan juga dari Tante Silvani. Handphonenya berdering dan Rena melihat bahwa yang menelpon adalah Tante Silvani.
"Hiiii Rena sayang, apa kabar kamu?
"Iya sayang, kami semua dalam keadaan sehat. Oh iya Rena gimana kondisi ayahmu? Apakah sudah sehat?"
"Rena ngga tahu Tante, karena Rena tidak diijinkan menengok ayah sama kakak. Dan sekali lagi Rena mohon maaf karena dengan sangat terpaksa memakai uang yang diberikan oleh Tante dan Om".
" Kamu sembahyang untuk kesembuhan ayahmu. Mengenai uang pakai saja untuk keperluanmu. Jangan sungkan untuk cerita sama kita semua. Kamu adalah anak Om dan Tante. Oh iya Rena, Tante lupa kasih tahu bahwa Tante dan Om sudah transfer ke rekeningmu. Harusnya sudah masuk yah. Kapan kamu ada waktu kamu cek dan tetap keep in touch yah Rena sayang"
__ADS_1
Ya sudah, Tante mau siap-siap berangkat, Sampai jumpa Rena sayang, bye Rena".
"Makasih Tante, bye juga Tante, salam buat semuanya".
Mendapat telpon dari Tante Silvani membuat Rena menangis karena Tante Silvani dan keluarganya tetap sayang dengan dirinya sementara dari keluarganya sendiri, ia tidak mendapatkan kasih sayang. Mereka mencari Rena hanya untuk meminta uang yang selama ini selalu di penuhi oleh Rena. Rena teringat perkataan Lulu bahwa Bagas telah melakukan hal diluar dugaannya tetapi Rena tidak percaya bahwa Bagas akan melakukan hal seperti itu, sedangkan Tanti makin hari menyindirnya dan berusaha membuat berita agar teman-teman kantor tidak menyukainya. Rena sudah setengah tertidur dan handphonenya berdering
ternyata dari Bagas, mau apa Bagas menelponku selarut ini, Rena tetap mengangkat telpon dari Bagas
"Kenapa Gas, ini sudah larut malam".
"Rena, omongan Lulu yang tadi jangan kamu percaya, aku tidak seperti yang Lulu katakan, sedangkan aku tidak pernah boleh menginap jika tidak ada sesuatu hal yang penting. Orang tuaku keras untuk urusan ijin menginap di rumah orang lain selain saudaraku. Ren, kamu masih dengarin aku ngga?" Karena Bagas tidak mendengar apapun dan ia melihat bahwa telponnya masih tersambung ke Rena.
"Gas, aku sudah cape seharian ini karena tadi dikantor kerjaanku banyak sekali, aku tidak mau ikut campur urusan kamu dengan Lulu, lebih baik kamu selesaikan secara baik-baik dengan Lulu. Aku tidak mau jadi orang ketiga, keempat seperti sangkaan Lulu terhadap diriku. Gas, aku mau tidur ini sudah larut besok aku harus pergi lihat tempat karena bosku ingin aku kuliah. Bye Gas".
"Tapi Ren, Rena, Ren?" Sambungan telpon sudah diputus oleh Rena.
Iya ini memang salahku bukan salah Rena, apalagi Rena tidak tahu bahwa aku baru berpacaran beberapa hari saat bertemu dengan Rena di coffee shop. Maafin aku, Ren. Aku yang salah karena sudah menanggapi perlakuan dan perhatian dari Lulu. Aaaaarrrrggghhhhh, Bagas kesal dengan dirinya sendiri dan menjambak rambutnya. Rena bilang bahwa besok ia akan pergi dan mau kuliah? Kira-kira ia akan kuliah dimana? Besok pagi aku harus ke kostnya sebelum ia pergi. Bagas melirik jam, sudah jam 2 dan ia memasang alarm jam 6 pagi agar ia tidak tekat bangun dan bisa berangkat ke kost Rena. Aku akan antar kamu kemanapun kamu pergi Ren. Bagas akhirnya tertidur.
__ADS_1
Rena sudah bangun dari pagi, ia bersiap-siap akan pergi ke Salemba dan setelah itu ke dokter mata. Tujuannya pagi ini membuat dirinya bersemangat karena Bu Tita sudah meminta ia untuk kuliah. Rena pergi dengan perasaan riang, ia tidak mau ambil pusing dengan kejadian yang kemarin. Life must go on, batin Rena dan ia tersenyum.