
Setahun sudah hubungan Rena berakhir dengan Budi. Dan Rena masih bekerja dengan Bu Tita tetapi bukan sebagai sekretaris melainkan sudah menjadi manager.
Sejak perpisahannya dengan Budi, Rena tidak segera melupakan hubungan itu dan Rena fokus dengan karier dan kuliahnya. Sampai akhirnya Bu Tita memberikan Rena jabatan sebagai manager.
Budi dan Ancis tidak di Jakarta lagi, mereka berdua membuka usaha di Amerika. Dan Budi sebentar lagi akan menikah dengan mantan pacar pilihan Mamanya. Sedangkan Ancis masih suka membungkus perempuan yang dia suka.
Rena masih sama dengan penampilannya tetap cantik dan anggun.
"Halo Rena, bulan depan kamu jadi ke Amerika kan? Jangan sampai tidak ya? Mama, Papa dan Novi kangen sama kamu. Dan Novi makin panik dengan pernikahannya".
"Iya Ma, aku ke sana minggu depan? Biar bisa lebih lama di sana. Dan aku sudah minta cuti".
"Ok sayang, sampai bertemu minggu depan ya. Bye Rena sayang."
"Bye Mama".
Rena melanjutkan kembali kerjanya. Awal bulan Novi menikah dan Rena akan datang. Rena menyelesaikan semua kerjaannya dan menyerahkan ke sekretarisnya.
Rena sudah di rumah membuka handphonenya dan mengganti photo statusnya dengan tampilan yang sekarang. Rambutnya sudah tidak panjang lagi, sebahu dan aura kecantikannya makin terlihat bersinar. Anggun dan berwibawa. Tanpa sengaja Rena melihat nama Budi. Apa kabar Budi sekarang, Ia melihat photo statusnya Budi dan seorang perempuan cantik dan imut. Di photo itu Budi terlihat bahagia. Rena kembali bekerja lagi.
Pagi ini entah kenapa Budi teringat dengan Rena. Ancis melihat Budi gelisah sejak kemarin.
"Budi, loe kenapa kok gelisah banget? Dari kemarin gue lihat loe ngga tenang".
" Ngga tahu Ncis, gue tiba-tiba kepikiran Rena, apa kabar yah Rena sekarang?".
"Loe telponlah, masih adakan no handphonenya?"
"Loe juga masih punyakan Ncis nomer handphonenya Rena".
" Coba gue. lihat sebentar Bud".
Ancis mengambil handphonenya dan mengetik nama Rena. Ancis kaget melihat tampilan Rena.
"Subnallah cantik sekali dan lebih berwibawa makhluk ciotaan Tuhan ini".
" Siapa Ncis yang cantik banget?
"Loe lihatlah sendiri". Ancis memberikan handphonenya kepada Budi.
Budi terkesima melihat Rena yang sekarang, makin cantik, anggun.
__ADS_1
"Ya Allah, Rena, kamu semakin menjadi wanita dewasa yang mempunyai wibawa. Padahal baru setahun yang lalu kita berpisah".
" Tapi calon istri loe ngga kalah cantik sama Rena, Bud? Istri loe cantik dan imut. Rena sama loe aja tinggi nya sama. Kalau gue lebih tinggi jadi lebih cocok sama Rena". Ancis tertawa senang karena kesempatan untuk mendekati Rena semakin terbuka.
"Kata Mama gue, Tante Silvani mau nikahin Novi awal bulan depan, kira-kira Rena akan datang ngga yah?"
"Kata Novi datang cuma belum tahu kapannya".
" Oh ok, ya sudah, kita kerja lagi. Tunangan gue minta di beliin sepatu sama tas. Dulu Rena ngga pernah sama sekali minta apapun".
Ancis hanya tertawa mendengar omongan Budi.
Sabtu malam, Rena berangkat ke Bandara diantar sopirnya. Perjalanan yang panjang batin Rena. Dan inj kali pertama ia pergi ke Amerika. Di sebelah nya duduk seorang Ibu yang juga akan ke Amerika.
Selama 21 jam di perjalanan membuat Rena capek. Ia sedang menunggu jemputan karena katanya Novi akan menjemputnya. Rena menunggu di coffee shop.
"Hallo Rena, apa kabar?"
Rena yang sedang membaca terkejut karena ada yang memanggil namanya.
"Hai Ancis, baik. Kamu apa kabar? Sedang apa disini?
"Aku jemput kamu, Novi tadi minta tolong untuk jemput kamu".
"Ok. Rena, kamu semakin cantik, setahun kita tidak bertemu aura kecantikan kamu semakin terlihat".
" Terima kasih Ancis. Ayo, kopiku sudah habis. Kita jalan sekarang?
"Ok, siap Rena cantik".
Ancis menengok ke belakang dan melihat Budi.
Budi ikut Ancis dengan mobil berbeda. Budi yang melihat Rena semakin merasakan rindu yang mendalam tetapi Ia tidak berani mendekati Ancis dan Rena.
Sepanjang perjalanan Rena tidak banyak bicara. Ancis sesekali melihat ke arah Rena. Semakin melihat Rena, Ancis semakin terpesona. Ancis melihat wajah Rena yang tidak ada polesan makeup sama sekali dan tetap cantik.
"Rena, sudah sampai di rumah Mama Silvani. Ayo turun".
" Oh iya, terima kasih Ancis sudah menjemput Aku".
"Rena sayang!" Tante Silvani menyambut Rena dan ada beberapa teman Novi yang sedang membantu persiapan untuk pernikahan Novi".
__ADS_1
"Mama, Rena kangen dan cape sekali".
" Ok sayang, kamu istirahat yah. Sebelumnya kenalkan ini anakku namanya Rena, adiknya Novi".
"Hai, hallo, Rena, sambut teman-temannya Novi".
Rena diantarkan salah satu teman Novi ke kamarnya.
" Ancis terima kasih ya sudab menjemput Rena".
"Iya, Tante. Sama-sama. Ancis permisi yah Tante masih ada hal yang harus diurus di kantor.".
" Ok, take care yah".
Ancis pergi dari rumah Tante Silvani dan ke kantornya.
Budi sudah menunggu di kantor. Budi melihat Ancis datang dan langsung menanyakan mengenaj Rena.
"Ancis, gimana. Cerita sama gue, ngobrol apa kalian selama perjalanan".
" Sabar, gue baru sampai ya". Dan tidak ada obrolan apapun. Rena lebih banyak diam. Mungkin capek. Dan sepertinya Rena menutup dirinya terhadap laki-laki".
Budi terlihat kecewa mendengarkan penjelasan Ancis. Ia berharap Rena tadi mengobrol dengan Ancis dan menanyakan mengenai dirinya tetapi ternyata tidak ".
Budi kembali ke meja kerjanya. Keinginannya untuk mendengarkan cerita mengenai Rena membuat Budi merasakan sakit hati yang dirasakan oleh Rena.
Rena langsung tertidur. Rena mengalami jet lag. Mama, Papa dan Novi membiarkan Rena tertidur. Karena buat Rena ini adalah perjalanan yang panjang.
Salah satu teman Novi mendekati Novi dan bertanya mengenai Rena tetapi Novi tidak menanggapinya. Novi tidak mau Rena sakit hati lagi dengan kejadian satu tahun yang lalu.
Rena semakin tertutup, jika Novi iseng bertanya mengenai lelaki Rena segera mengalihkan pembicaraan.
Rena terbangun dari tidurnya dan keluar kamar ternyata masih malam. Rena lupa bahwa saat ini dirinya ada di Amerika bukan di Jakarta.
Rena berusaha mengingat dimana dirinya saat ini. Rena mencoba jalan dan melihat-lihat sekelilingnya dan Rena baru tersadar bahwa ia ada di rumah Mama dan Papa di Amerika. Rena mencoba berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum. Setelah itu Rena kembali masuk ke kamarnya dan mengambil handphonenya ada banyak pesan masuk dari sekretarisnya. Dan Rena melihat ada satu pesan dari Budi. Rena hanya membacanya dan tidak membalas pesan dari Budi. Akhirnya Rena tertidur kembali.
Pagi-pagi Novi masuk kamar Rena, dan membangunkan Rena untuk sholat.
"Pagi Rena, ayo sarapan sini. Hari ini mama dan papa akan pergi ke SF, kamu mau ikut atau di rumah saja?"
"Aku di rumah saja ya Ma, aku masih jet lag sepertinya".
__ADS_1
"Ok, Novi sudah pergi dari pagi dan baru sore nanti pulang. Ada apa-apa telpon Mama dan Papa juga Novi ya".