Anak Terbuang

Anak Terbuang
Kiriman dan paket


__ADS_3

Rena sudah sampai rumah sebelum azan maghrib.


"Mbok hari ini masak apa?"


"Mbok ngga masak non. Dari kemarin dikirimin makanan sama Pak Bagas."


"Dikirimin makanan sama Bagas? Ada ngomong sesuatukah?"


"Yang kirim kurir bilangnya dari Pak Bagas. Terus tadi siang ada paket buat non Rena dari Pak Anas."


"Paket dari Pak Anas? Siapa pak Anas, mbok?"


"Kurir juga yang antar non."


"Oh. Ya sudah mbok, aku mau kopi hitam dingin ya mbok? Bagas kirim makanan apa mbok? Dan paketnya mana?"


"Hari ini Pak Bagas kirim nasi krawu. Ada 5 box non. Paketnya ada di kamar non Rena. Terus tadi pak Budi kirim bunga mawar. Ada di kamar juga.


"Banyak amat Mbok."


"Ya gimana non? Non Rena cantik, pintar, tinggi, baik tutur katanya, ngga pernah marah sama orang walaupun orang itu melakukan kesalahan yang sangat besar."


"Mbok, jangan terlalu memuji saya berlebihan. Nanti kepala saya jadi besar. Sebentar lagi maghrib, saya masuk kamar dulu. Selesai sholat maghrib, mbok buatkan saya kopi hitam tapi dingin ya, jangan lupa."


"Iya non, terus sekalian bawa nasi krawunya?"


"Ngga usah mbok, aku ngga lapar. Di bagi-bagi saja sama yang lainnya."


"Iya non Rena, terima kasih banyak."


"Sama-sama Mbok."


Rena masuk kamar dan azan maghrib berkumandang. Rena segera mandi, lalu sholat. Mbok mengantarkan kopi dingin ke kamar Rena.

__ADS_1


"Non, ini kopinya."


"Iya Mbok, makasih ya."


Rena menelpon Bagas.


"Assalamu'alaikum Bagas."


"Wa'allaikumsalam Rena. Kamu apa kabarnya?"


"Baik. Bagas, terima kasih yah. Kamu repot-repotin kirim makanan. Mohon maaf, aku ngga sempat makan. Aku baru pulang dari pantai."


"Ngga papa Rena. Aku mau minta maaf sama kamu, karena kemarin aku marah-marah sama kamu. Aku kangen sama kamu Rena, aku ingin ngobrol lagi sama kamu seperti dulu."


"Ngga ada yang perlu dimaafkan Bagas, ada kalanya kita pasti marah tapi jangan terlalu dipikirkan. Life must go on. Karena kalau terpaku akan kemarahan orang terhadap kita, ya kita tidak akan bisa intropeksi diri jadinya."


"Iya Rena. Ya sudah kamu istirahat, besok kamu kan harus kerja."


"Ya, akan aku sampaikan."


Rena menelpon Budi.


"Assalamu'alaikum Budi. Apa kabar kamu?"


"Wa'allaikumsalam Rena, baik, kamu sendiri bagaimana?"


"Aku baik. Terima kasih kiriman bunganya."


"Sama-sama Rena. Rena, bisakah ada waktu kosong? Aku mau ketemu sama kamu. Aku mau cerita kenapa aku ada di Jakarta lagi."


"Cerita saja sekarang. Kebetulan aku ada waktu."


"Ah, terima kasih Rena. Aku jemput kamu sekarang ya." Budi senang, akhirnya Rena mau bertemu dengan dirinya.

__ADS_1


"No Budi, maksud aku cerita saja lewat telpon. Aku sebenarnya capek. Karena aku baru pulang dari pantai. Ancis mengajak aku ke pulau bidadari."


"Oh gitu. Ya sudah kalau begitu. Kamu istirahat biar tidak capek. Kabarin aku kalau kamu punya waktu senggang. Karena aku lihat kamu saat ini sibuk sekali."


"Hahaha, sok tahu kamu. Oh iya mana undangan pernikahan kamu? Jangan-jangan kamu sudah menikah dan tidak mau undang aku ya?"


"Aku tidak jadi menikah. Semuanya dibatalkan. Karena itu aku ke Jakarta untuk mendapatkan cinta ku yang sempat hilang."


"Ya kejarlah dan buktikan kalau kamu masih mencintainya. Aku doakan kamu segera mendapatkan cintamu kembali. Jaga dia baik-baik jangan hilang lagi. Jadi seperti anak yang hilang nanti hehehehhe."


"Saat ini aku susah mendapatkan kembali cintaku, karena dia terlalu sibuk atau mungkin dia sudah melupakan aku."


"Jangan patah semangat. Kamu pasti bisa mendapatkan kembali. Aku bantu doa yah, semoga kamu bisa mendapatkan cintamu dan menikah. Tapi jangan lupa undang aku yah. Ya sudah Budi. Aku mau istirahat karena besok aku ada meeting pagi. Sekali lagi terima kasih untuk kiriman bunganya. Selamat malam, bye Budi."


Rena sudah menutup telponnya.


"Aku akan kejar kamu Rena dan aku akan mendapatkan kamu kembali. Seperti yang kamu bilang, aku akan buktikan kepadamu dan aku tidak patah semangat." Budi berbicara dengan dirinya.


Rena melihat paketan yang dikirim untuk dirinya Tertulis nama pengirimnya Anas. Rena membuka paketan itu. Ternyata kotak merah.


"Seperti kotak perhiasan. Eh ada suratnya."


Rena membuka surat tersebut.


"Hai Rena. Aku senang saat ini, kamu membaca suratku. Ijinkan aku memberikan sesuatu yang sangat diinginkan oleh perempuan di seluruh dunia dan aku tahu, kamu adalah salah satu perempuan itu. Jangan berpikiran negatif. Bukan maksud aku merendahkan kamu dengan kalimat di surat ini. Dan aku mungkin juga bukan salah satu pria yang akan ada di hatimu. Karena aku tahu ada 3 orang pria yang sedang mendekatimu dan mereka berharap akan mendapatkan jackpot Ya kamulah jackpot itu, maaf terdengar kasar dengan menyebut dirimu jackpot, tetapi memang susah sekali untuk mendapatkan dirimu. Dan hari ini aku beritahu bahwa 3 orang itu bertambah 1 yaitu diriku. Mereka tidak tahu bahwa memanjakan perempuan seperti kamu adalah dengan berlian yang aku kirimkan ini. Aku mengagumi mu. Aku harap saat aku bertemu dengan kamu. Kamu memakai berlian yang aku berikan. Aku bukan pria romantis, tetapi aku bisa membahagiakan dirimu. Terimalah rasa kagum dan juga cintaku kepada dirimu. Ananta"


"Oh Anas itu Ananta. Maksudnya apa kirim paketan ini. Dan isi suratnya seperti... Ah biarlah dia mau berpikir apa mengenai diriku. Aku tidak mau pusing dan aku tidak bisa menuntut dia untuk suka ataupun tidak suka sama aku. Aku akan kembalikan hadiah ini. Lagipula aku tidak suka dengan perhiasan. Masih banyak orang yang lebih membutuhkan pekerjaan dan uang untuk hidup sehari-hari. Syukur Alhamdulillah, Allah kasih aku kehidupan yang lebih baik. Maafin Rena ya Allah, Rena tidak berhak mendapatkan hadiah mewah ini. Dan Rena tidak akan buka kotak ini."


Rena membungkus kembali kotak perhiasan itu dan menulis surat untuk Pak Ananta.


"Pak Ananta, Terima kasih untuk kiriman hadiah yang mewah ini. Mohon maaf, saya tidak bisa menerimanya. Lebih baik Pak Ananta berikan kepada orang yang benar-benar membutuhkan. Bukan saya mau merendahkan Pak Ananta, tetapi saya sangat berterima kasih atas kebaikan yang Pak Ananta berikan. Dan Terima kasih sudah mengagumi dan mencintai saya. Saya sangat menghargai dan menghormati Pak Ananta. Rasa cinta dan kagum tidak diberikan kepada seseorang saja. Tetapi bisa diberikan kepada siapa saja tanpa memandang rendah tingginya derajat hidup seseorang. Sekali lagi mohon maaf, saya tidak bisa menerima perhiasan ini. Terima kasih. Rena"


"Besok pagi, setelah antar aku ke kantor, aku akan minta Pak Mistar mengirimkan paket ini ke Pak Ananta."

__ADS_1


__ADS_2