
"Pagi Rena, kamu ngga tidur semalam? Pagi-pagi sudah berkopi ria."
"Belum Ma, nanti saja saat di pesawat aku bisa tidur."
"Oh iya Rena, papa sudah berangkat dari SF tadi jam 5. Kata Papa biar bisa antar kamu ke bandara nanti malam."
"Iya Ma, Papa juga kasih kabar ke Aku. Novi masih honeymoon jadinya ngga bisa ketemu sama Novi."
"Ya sudah. Pasti nanti ada waktunya kamu bertemu dengan Novi."
"Iya Ma."
"Ma, aku mau buatin nasi goreng buat Tante Annelise. Aku akan antar sendiri. Mama kan sudah siap mau berangkat kerja."
"Iya, jam 8 ini Mama akan operasi caesar. Kamu telpon Ancis untuk jemput kamu. Mama kuatir kalau kamu pergi sendiri malah kenapa-napa."
"Ok Ma, nanti aku telpon Ancis."
"So, Mama pergi dulu ya, baik-baik di rumah."
"Iya Ma, hati-hati Ma."
Rena menelpon Ancis dan meminta Ancis datang ke rumah.
Rena segera membuat nasi goreng untuk Tante Annelise. Nasi goreng selesai, Ancis datang dengan Budi.
"Pagi Ancis, maaf aku ngga bisa lama-lama dan ngga bisa mempersilahkan kalian masuk. Ini untuk Tante Annelise, aku masak sendiri."
Ancis dan Budi terpana melihat Rena yang mengenakan tank top dan celana ketat menampilkan bentuk tubuh Rena yang padat berisi
"Hallo Ancis, kok malah bengong."
"Jadi aku dan Budi ngga bisa minum kopi dulu?"
"Maaf, tidak bisa Ancis karena aku harus beres-beres dan ini takutnya keburu dingin tidak enak. Ini nasi goreng."
"Rena, aku ngga di kasih nasi goreng seperti Ancis dan Tante Annelise."
"Maaf aku ngga tahu kalau kamu ikut sama Ancis."
"Aku kangen banget sama nasi goreng buatan kamu."
"Yah sudah yah, hati-hati."
Rena langsung menutup pintu dan segera berlari ke kamarnya dan Rena tidak melihat ada kursi di depannya membuatnya jatuh dan kesakitan.
Ancis dan Budi yang masih di depan pintu mendengar teriakan Rena yang kesakitan membuat mereka berdua masuk ke dalam rumah.
Budi yang melihat Rena kesakitan di lantai dengan sigap hendak mengangkat Rena. tetapi kalah cepat dengan Ancis yang sudah mengangkat Rena duluan.
"Kamu ngga papa Rena?"
__ADS_1
Ancis merasa senang karena bisa membantu Rena dan tadi sempat mencium harum dari badan dan rambut Rena.
"Makasih yah Ncis, ngga papa. Aku tadi buru-buru karena lagi nunggu email masuk dan harus aku balas hari ini. Karena nanti malam aku kan ada di pesawat dan tidur karena semalam aku tidak tidur."
"Kenapa tidak tidur?"
"Banyak kerjaan kantor Ancis."
"Oh, aku kira kamu mikirin aku, Rena."
"Aku kangen sama Bagas."
"Bagas? Siapa Bagas?"
"Sudah sana pulang, itu nasi goreng nanti dingin. Aku sudah tidak papa."
"Ok, lain kali hati-hati."
Ancis dan Budi pergi dan meninggalkan Rena.
"Budi, loe kenapa diam saja dari tadi."
"Ngga papa, gue jadi kepikiran omongan Rena. Dia kangen Bagas, apa Bagas suaminya Tanti?"
"Loe tahu siapa Bagas?"
"Bagas, setahu gue teman sekolahnya Rena dan anak bos gue di Jakarta. Tapi Bagas sudah nikah. Dan gue ngga pernah tahu apakah Rena pernah ada hubungan dengan Bagas?"
"Ya sudahlah mungkin Bagas temannya Rena dan gue ngga pernah tahu."
"Udah sampai yuk keluar. Ini nasi goreng sepertinya banyak, bisalah loe ikutan makan. Kan loe tadi bilang juga kangen sama nasi goreng buatan Rena."
Ancis dan Budi masuk ke rumah.
"Morning Mama."
"Morning Frans and Budi. Darimana pagi-pagi sudah hilang saja."
"Mama sedang apa?"
"Buat sarapan untuk kita semua."
"I think no need Ma, ini aku tadi ke rumah Rena. Rena buatkan nasi goreng."
"Oh ya, wow. So, give it to me."
Ancis memberikan box nasi goreng ke Mama Annelise.
Papa datang dan sudah rapi hendak ke kantor.
"Ma, mana kopi papa? Dan tumben belum ada makanan di meja, kosong?"
__ADS_1
"Wait Pa,. Mama still preparing special food for our breakfast."
"Ok."
Papa, Ancis dan Budi sudah duduk di meja makan dan menunggu Mama."
"Pagi ini kita makan nasi goreng."
"Tumben Mama buat nasi goreng dan banyak sekali. Kapan Mama beli beras?"
"Sudah dicoba saja dulu".
Papa menyendok nasi goreng yang sudah diberikan Mama.
Mama menunggu reaksi dari Papa setelah memakan nasi goreng tersebut.
" Wow, ini enak sekali. Mama yang buat ini? Papa ngga percaya kalau Mama yang buat?"
"Hahahahaha, ya papa benar. Bukan Mama yang buat tapi Rena. Rena yang buat."
Ancis yang menunggu akhirnya memakan nasi goreng. Budi pun sama. Budi terlihat menikmati nasi goreng yang di buat Rena.
Mama terlihat senang sekali dengan nasi goreng yang di buat Rena karena Ancis memberitahu bahwa Rena membuat nasi goreng khusus untuk Mama Annelise.
"Mama, kira-kira Frans mau tidak ya menjadikan Rena sebagai istrinya."
"Of course Papa, makanya nanti malam Frans akan berangkat ke Indonesia bersama dengan Rena."
"Papa dan Mama, ini masih pagi, ngga usah ngomong macam-macam."
"Hahahahaha, ada Budi mantan Rena dan Frans merasa tidak enak hati bukan?"
"Udah ah Ma, aku juga mau mandi dan siap-siap berangkat ke kantor. Budi, loe gimana? Mau pulang atau langsung ke kantor?"
"Gue balik pulang dulu saja Ncis. Kita ketemu di kantor ya."
"Ok Pak Bos Budi, siap."
Budi pamit dengan Papa dan Mamanya Ancis.
Sepanjang perjalanan pulang, Budi memikirkan kata-kata Rena mengenai Bagas. Si apakah Bagas sampai Rena kangen sekali dengannya. Apakah Bagas suaminya Tanti atau Bagas yang lainnya?. Selama Budi mengenal Rena, tidak ada omongan apapun mengenai Bagas. Budi teraenyum saat ingat omongan Tante Annelise. Mereka tidak tahu seberapa sulitnya untuk mendapatkan hati Rena. Rena tidak semudah membuka hatinya dan juga bukan dengan barang mewah. Budi tidak terlalu kuatir jika Ancis mendekati Rena. Tetapi Bagas, Budi akan berusaha mencari tahu siapa Bagas sebenarnya.
"Rena, aku akan datang kembali bersamamu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu dengan siapa pun, Ter masuk Bagas."
Budi teraenyum sendiri, karena sebentar lagi Rena akan bersamanya seperti setahun yang lalu. Tunggu aku di Indonesia, Rena sayang.
Sementara Ancis sudah bersiap-siap ke kantor. Dan dia juga sudah packing untuk berangkat nanti malam.
Saat ini Ancis dan Budi dengan penikirannya masing-masing. Mereka terlalu bersemangat. Dan mereka merasa bahwa kesempatan untuk dapat membuka hati Rena tidak akan masalah.
Sedangkan Rena saat ini sibuk membereskan dokumen-dokumen dan nanti malam ia akan berangkat.
__ADS_1