Anak Terbuang

Anak Terbuang
memenangkan tender


__ADS_3

Hari ini Rena dan Bu Tita datang untuk mendengarkan hasil dari tender 3 hari yang lalu


Pak Ananta dan Bu Juli juga datang dengan senyuman lebar di wajah mereka.


"Bu Tita kenapa datang? Nanti sedih loh mendengar hasil dari tender, karena bisa dipastikan Saya yang akan mendapatkan tender tersebut seperti yang sudah-sudah." Pak Ananta memberikan senyuman merendahkan ke Bu Tita dan Rena.


Mereka semua duduk di ruang meeting termasuk Pak Raymond yang telat datang. Mereka semua menunggu keputusan dengan perasaan campur aduk. Tetapi tidak dengan Rena, ia terlihat santai saja. Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dan untung rugi dari pihak yang klien mengenaj proposal mereka. Dan pihak klien memutuskan bahwa yang mendapatkan tender tersebut adalah perusahaan Bu Tita.


Ananta yang mendengarkan keputusan tersebut terlihat marah. Ia tidak terima karena baru kali ini perusahaan nya tidak mendapatkan tender besar tersebut. Pihak klien menjelaskan secara detail bahwa dalam proposal yang diberikan Rena lebih riil di lapangan daripada keuntungan besar yang tidak akan bisa di prediksi di lapangan akan seperti apa.


Akhirnya Ananta mengakui kekalahannya dan ia marah kepada Juli.


Rena dan Bu Tita kembalj ke kantor setelah mendapatkan kontrak kerja.


Sesampai di kantor Bu Tita mengumpulkan seluruh karyawan di ruang meeting dan memberitahukan bahwa perusahaan mereka memenangkan tender besar dan ini semua atas kerja keras Rena.


Rena segera meralat omongan Bu Tita. bahwa mereka semua sudah bekerja keras untuk mendapatkan tender ini. Rena hanya sebagai alat atau media untuk menyampaikan saja.


"Rena nanti ke ruangan saya ya."


"Baik Bu Tita.


Semua karyawan meninggalkan ruang meeting setelah Bu Tita keluar. Kecuali Rena dan Mbak Ester masih tinggal di ruangan meeting."


"Adi, Bu Rena itu siapa?"


"Bu Rena itu orang baik. Dulu Bu Rena itu sekretaris Bu Tita, Bu Elice dan Bu Asha. Dan sekarang Bu Rena menjabat sebagai wakil direktur."


"Tapi sepertinya penjilat ya. Kelihatan dari raut wajahnya."


"Maksud kamu apa Del? Kamu orang baru, kamu tidak tahu sepak terjang Bu Rena."


"Ya kelihatan saja dari raut wajahnya sepertinya orang yang menghalalkan segala cara."


"Kamu kalau ngomong hati-hati. Kamu baru 3 bulan disini. Aku sudah 4 tahun disini sudah tahu Bu Rena itu seperti apa?"


"Jangan men judge orang by cover ya anak cantik. You don't know about me."

__ADS_1


"Eh Bu Rena, maaf Bu."


"By the way, terima kasih Adi sudah members saya. Kamu anak baru disini? Maaf saya belum ada waktu untuk berkenalan dengan yang baru-baru karena kesibukan saya."


"Maaf Bu Rena, maksud Della tidak seperti itu."


"Ngga papa kok, saya ngerti maksud kamu. Dan tidak perlu minta maaf karena kamu tidak salah. Hanya penempatan kata-kata kamu yang kurang tepat ya."


"Belajarlah untuk tidak menilai orang dari luarnya saja. Dengan kamu menilai orang tanpa kamu tahu dan mengenalnya, orang akan gampang menilai kamu daripada kamu menilai orang lain dan pada akhirnya kamu yang rugi."


"Iya Bu Rena, Della tidak akan mengulanginya lagi."


"Tidak perlu bicara dan janji kepada saya tetapi bicaralah kepada dirimu sendiri."


Rena meninggalkan Della dan Adi dan juga beberapa karyawan yang sempat mendengarka omongan Della.


"Della, sorry aku jadi malas ngomong sama kamu. Apa yang di bilang sama Bu Rena benar. Kamu memberikan penilaian negatif sama orang lain yang pada akhirnya orang juga akan menilai kamu negatif."


"Lah kok gitu Di, aku ngga suka sama Bu Rena. ya karena tidak suka dan sok kecakepan."


"Terserah aku lah Del. Lagi pula memang Bu Rena cantik, tinggi, pintar dan anggun. Selama aku kerja disini tidak pernah ada omongan dari Bu Rena yang menyakiti orang lain. Kalau mau seperti Bu Rena ya belajarlah dan bekerja yang benar. Jangan jadi penjilat ya Della."


"Budi, gue mau ketemu sama loe malam nanti bisa?"


"Ok, jam berapa dan dimana?"


"Sudirman tempat biasa jam 8 malam ya."


.


"Ok Bos Ananta siap."


Budi lupa bahwa hari ini adalah keputusan apakah Ananta akan mendapatkan tender.


Banyak pekerjaan yang harus Budi selesaikan agar papanya yakin bahwa Budi bisa menjalankan perusahaan ini.


Hari ini Rena pulang cepat. Sampai rumah Rena minta kopi dan mengambil buku kecilnya. Ia menulis sesuatu yang ia inginkan tetapi tidak akan pernah bisa tercapai.

__ADS_1


Ancis menelpon dan akan datang ke rumah. Tidak berapa lama Rena menerima telpon dari kontraktor untuk merenovasi rumah ibunya. Dan ternyata mereka tidak mau rumahnya di renovasi.


Rena lupa menutup bukunya dan ia tertidur di sofa.


Ancis datang membawa makanan dan buah untuk Rena.


Ancis melihat Rena yang tertidur di sofa. Ancis meminta kopi dan melihat buku kecil yang sempat ia buka saat perjalanan dari Amerika ke Indonesia.


"Maaf Rena aku membaca buku kecil mu. Ancis membaca dengan cepat lembar demi lembar. Ancis merasakan kesedihan Rena yang mendalam dan keinginannya untuk mencari orang tua kandungnya. Dan juga keinginannya Rena untuk mempunyai pasangan yang menerima dia apa adanya tanpa pengaruh dengan bibit, bebet dan bobot. Kesedihan masa kecilnya yang selalu mendapatkan kekerasan dan tanpa kasih sayang walaupun sudah didapat dari Tante Silvani dan Om Bram yang telah mengangkat Rena sebagai anak mereka.


Ancis menangis membaca semua tulisan


Rena. Ancis sudah tidak kuat untuk melanjutkan membacanya. Ia menutup buku Rena dan berjalan mendekati Rena yang masih terridur.


"Rena, Rena, bangun Rena. Kamu belum makan malam. Rena."


Ancis memegang tubuh Rena dan membangunkannya. Tidak berapa lama Rena terbangun dan melihat Ancis yang berada di sampingnya.


"Ancis.sejak kapan?"


"Baru saja, kata mbok kamu tertidur di sofa


makanya aku mencoba membangunkan kamu."


"Aku capek banget hari ini. Dari hari Senin meeting maraton. Dan hari ini dapat kabar bahwa perusahaanku mendapatkan tender dari pemerintah."


"Iya aku tahu, Bu Tita kasih kabar ke aku bahwa kalian memenangkan tender. Lalu aku telpon Bu Tita dan Ia bilang ini semua berkat kamu yang menyiapkan semua proposal untuk tender.


"Bukan aku tapi seluruh karyawan juga ikut menyiapkan tender itu. Jadi bukan aku sepenuhnya."


"Ya sudah. Ayo kita makan. Mbok sudah menyiapkan makanan."


"Non Rena, ini buku dan tas Non saya pindahkan ke meja kecil ya. Karena tadi Non sempat menulis disini waktu non minta kopi."


"Iya Mbok, terima kasih. Ancis, aku cuci muka dulu ya, baru kita makan."


"Ngga usah cuci muka, kamu tetap cantik Rena."

__ADS_1


"Hadeuuuhhh." Rena geleng-geleng kepala


__ADS_2