Anak Terbuang

Anak Terbuang
Menunggu jawaban


__ADS_3

Sebelum berangkat ke kantor, Rena mensugestikan dirinya bahwa ia tidak sakit, ia kuat dan semangat bekerja. Sakit di perutnya sudah berangsur membaik. Rena segera keluar kamar dan berangkat ke kantornya. Wajahnya sudah tidak terlalu sembab. Karena selepas Bagas pulang, Rena tidur dan bangun untuk mencari makan setelah itu dia habiskan berkomunikasi dengan Novi dan Dian lewat messenger dan bisa melupakan kesedihan Rena.


"Loh Gas, kamu sudah sampai kostku, kamu ngga kuliah?" Rena bingung tahu-tahu Bagas sudah di depan dan tidak memberitahu kalau iya akan datang.


"Pagi Rena, aku baru masuk kuliah minggu depan dan selama seminggu ini aku masih punya banyak waktu. Kamu sudah sarapan? Aku bawain bubur buat sarapan". Bagas tersenyum melihat muka Rena yang sudah mulai kelihatan cerah dan tidak kelihatan sakit. Bagas tahu sebenarnya Rena masih sakit tapi Rena menutupi dengan riasan yang natural dan menggunakan lipstik.


"Makasih Gas buat bubur nya tapi aku makan si di kantor yah. Aku sudah harus berangkat. Dan semestinya kamu tidak perlu repot datang pagi-pagi dan bawa bubur buat aku".


"Ok, aku antar yah, biar kamu ngga sakit lagi".


"Ya".


Bagas mengantar Rena ke kantor dan sebelum pergi Bagas bilang bahwa dia akan menjemput Rena sore nanti. Rena hanya mengangguk dan menerima bubur yang diberikan oleh Bagas.


Bagas pergi setelah memastikan Rena masuk ke gedung dan terlihat Rena sedang menunggu lift dan mengobrol dengan teman kantornya. Bagas melihat Rena yang tertawa lepas. Bagas senang melihat Rena bisa tertawa lepas, Ternyata kamu cantik saat tersenyum dan saat kamu tertawa lepas auramu kecantikanmu bersinar. Rena seandainya kamu mau menerima aku sebagai pacarmu, tapi hatimu masih membatu dan belum bisa dipecahkan. Aku harus bisa memecahkan batu yang ada dj dalam diri Rena, Agar Rena mau menerima aku sebagai pacarnya. Bagas segera pergi dan menuju kampusnya. Hari ini Bagas harus menyelesaikan administrasi sebelum masuk kampus minggu depan.


"Bagaaaassss",


Bagas menghentikan langkahnya karena ia merasa ada yang memanggil namanya, tetapi karena banyaknya orang di kampus, dan ia menoleh ke kiri dan kanan tidak ada yang dia kenal. Bagas melanjutkan jalannya untuk ke bagian keuangan. Baru saja melangkahkan kakinya, pundak Bagas ditepuk seseorang dari belakang. Bagas menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang sudah menepuk pundaknya.


"Luluu, kamu disini? Bagas heran ternyata bisa ketemu dengan Lulu di Universitas ini.


"Aku kuliah disini, dan aku tadi lihat kamu, makanya aku panggil kamu. Kamu kuliah disini juga". muka Lulu tersenyum senang karena laki-laki yang dia suka sejak awal sekolah satu kampus dengan dirinya.


"Kamu di jurusan apa Bagas?"


"Aku di Manajemen Akuntansi", jawab Bagas.


"Wah kalau gitu kita satu jurusan, aku juga sama di Manajemen Akuntansi. Emang yah Bagas, kalau jodoh ngga akan kemana", Muka Lulu sumringah.


"Lu, aku ke keuangan dulu yah".

__ADS_1


"Sama, aku juga mau ke keuangan, bareng yah", Lulu menggandeng tangan Bagas. Bagas berusaha melepaskan tangan Lulu tetapi Lulu semakin erat memegang tangan Bagas dan memeluk lengan Bagas.


"Lulu, lepasin tanganmu, aku jadi susah jalan dan aku harus cepat-cepat karena aku disuruh bapakku ke kantornya".


Lulu cemberut, dan langsung berjalan di sebelahnya dan menghentakkan kakinya. Tapi Bagas tidak mememperdulikan Lulu. Bagas segera berjalan cepat dan meninggalkan Lulu yang masih cemberut. Akhirnya Lulu kesal dan berbalik arah.


"Lihat saja nanti, pasti kamu akan memohon-mohon sama aku untuk jadi pacarku". Timbul niat jahat di hati Lulu.


Selesai membereskan adminstrasi di keuangan, Bagas segera pergi ke kantor bapaknya dan memberikan kwitansi pembayaran untuk kuliahnya.


"Pak, aku pamit yah, aku mau jemput temanku di kantornya".


"Teman atau pacar", ledek bapaknya.


"Masih teman Pak, belum jadi pacar, hatinya masih sekeras batu".


"Bawa martil Gas, biar bisa diketok setiap ketemu sama perempuan yang hatinya dari batu. Makanya cari perempuan yang benar masa suka sama patung perempuan". Bapaknya masih menggoda Bagas sambil tertawa.


"Iyalah anak orang. Iya Bagas akan kuliah benar kok Pak, semoga bisa sambil kuliah dan kerja juga. Bagas jalan dulu yah Pak".


"Hati-hati, bawa martil sama pakunya sekalian". Hahahahahahahha


Bagas kesal karena bapaknya menggoda Bagas dan teman-teman ayahnya yang mendengar ikutan tertawa.


Bagas berjalan ke parkiran motor, saat akan menstarter motornya, handphone Bagas berdering. Bagas melihat yang menelpon adalah Rena


"Halo Rena, aku baru mau jalan ke kantormu, aku jemput yang?"


"Bagas maaf, ngga usah jemput. Kerjaanku masih banyak dan aku ngga tahu akan pulang jam berapa. Karena kantorku lagi menyiapkan event untuk luar kota. Next time aja kamu jemput aku. Udah dulu yah Gas, aku ngga bisa lama-lama. Bye Gas".


Belum sempat Bagas menjawab, Rena sudah memutuskan telponnya. Ngga papa, aku akan tetap jemput kamu dan tungguin kamu sampai kamu keluar dari kantornu, jam berapa saja tetap aku tunggu. Bagas akhirnya pulang ke rumah dan istirahat sejenak sebelum berangkat ke kantor Rena jam 6 sore nanti.

__ADS_1


Sesampainya dirumah Bagas memberitahu ibunya bahwa uang kuliah dan biaya yang lainnya sudah dibayar. Bagas minta ibunya untuk membangunkan dia jam 5 sore. Bagas masuk ke kamarnya dan dilihat baru jam 3.15, masih ada waktu untuk Bagas tidur sebelum berangkat untuk menjemput Rena.


Bagas berusaha tidur, tapi dia masih teringat omongan Rena bahwa dia dari kecil sudah sering mendapatkan pukulan dan kemarahan ayahnya. Tapi gimana bisa Rena akhirnya tinggal sama bos bapaknya. Bagas bisa merasakan bahwa Rena adalah gadis yang sebenarnya rapuh dan batinnya terluka. Dibalik kemandirian Rena selama Bagas mengenalnya ternyata untuk menutupi dirinya yang terluka yang diakibatkan oleh keluarganya. Bagas membolak balikkan badannya. Ia terganggu dengan perkataan Rena yang mengalir saat Rena meminum kopi. Aku harus bantu Rena mengobati luka batinnya, dan butuh proses panjang karena Rena bilang dari dua kecil. Siksaan apa saja yang Rena dapatkan dari orang tuanya. Bagas tidak dapat membayangkan. Semakin dia berpikir mengenai Rena, semakin gelisah, karena rasa sayang dan cintanya terhadap Rena membuat Bagas bertekad akan selalu ada untuk Rena, walaupun kadang Rena selalu menolaknya.


Bayu segera bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar ke kamar mandi,


"Loh sudah bangun, katanya mau tidur?" Ibunya melihat Bagas yang masuk ke kamar mandi


"Ngga jadi tidur Bu, panas udaranya. Aku mau mandi saja biar dingin.


Jam 5.30 Bagas pamit ke Ibunya dan segera pergi untuk menjemput Rena. Sampai di depan kantornya Rena, Bagas melihat Rena baru saja keluar dari mobil dengan seorang Ibu dan seorang perempuan muda. Kedua orang tersebut umurnya jauh di atas Rena. Terlihat di mata Bagas, Rena terlihat lelah dan sesekali meringis. Ya, perut Rena masih sakit, tapi Rena berusaha menutupinya. Bagas sedih melihat Rena yang kesakitan tetapi dia tidak bisa menghampiri Rena yang masih bekerja, Bagas tidak mau Rena marah terhadap dirinya.


Hampir 3 jam Bagas menunggu Rena di depan kantor, sampai akhirnya ia melihat Rena yang keluar dari kantor dan melihat Rena yang berdiri menatap tukang nasi goreng. Lalu Rena berjalan, baru selangkah Rena berjalan tangannya ada yang memegang, Rena sempat mau berteriak tetapi...


"Rena, ini aku, Bagas. Kamu lapar yuk kita makan nasi goreng". ajak Bagas dan dirinya yakin pasti Rena menolak.


"Ampun Bagas, kamu buat aku kaget untungnya aku ngga teriak minta tolong bisa di pukulin orang kamu. Ngga usah Gas, aku mau buru-buru pulang. Hari ini aku cape banget mau segera mandi dan rebahan badan.


"Gini Rena, kita makan nasi goreng di kostmu, aku sudah beli nasi goreng 15 menit yang lalu sebelum kamu keluar kantor karena aku yakin kamu belum sempat makan. Jadi sekarang aku antar kamu pulang. Dan aku sudah beliin es jeruk buat kamu. Ngga usah bengong, ayuk naik ke motor". Bagas menggandeng tangan Rena.


Sampai di kost, Rena masuk ke kamar dan menaruh tasnya kemudian mencuci tanganya dan segera keluar kamar menghampiri Bagas yang menunggu di teras.


"Gas, makasih yah kamu sudah beliin aku nasi goreng, hutang aku banyak nih sama kamu".


"Sudah ngga usah dipikirin, iya hutang kamu banyak, yaitu hutang untuk menjawab pertanyaanku, maukah kamu jadi pacarku?


Rena tersenyum mendengar pertanyaan Bagas.


"Bagas, jujur aku lapar jadi kita makan nasi gorengnya dulu yah. Pertanyaan pasti nanti aku jawab hanya saja tidak saat ini".


"Ok, aku akan tetap menunggu dan akan tetap setia menunggu walaupun nanti jawaban yang akan kamu berikan diluar dari perkiraanku, tetapi aku tetap sayang dan cinta sama kamu

__ADS_1


__ADS_2