
Hari Jumat, hari pertama Rena gajian. Akhirnya ia merasakan lagi gajian pertama. Rena bahagia sekali seperti waktu dia menerima gaji pertama saat bekerja di Klinik Tante Silvani. Rena kangen sama mereka, tetapi belum ada kabar ataupun telpon dari Tante Silvani. Rena sudah mengirimkan email ke Novi, Dian, Tante Silvani dan Om Bram, tapi belum balasan. Mungkin mereka masih sibuk, pikir Rena. Besok aku mau coba ke rumah Ayah dan Ibu. Semoga besok mereka mau menerimaku. Aku kangen Ayah dan Ibu.
"Hei, sore-sore jangan bengong, kesambet sama mbak rambut panjang yang di depan toilet loh", Mbak Esther mengagetkan Rena
"Mbak Esther buat Rena kaget, memang ada mbak yang rambut panjang di depan toilet Mbak", Rena penasaran
"Semoga kamu ngga di kasih lihat. Jangan bengong makanya.
"Mbak Esther, ada lagi yang mesti aku bantu ngga? Kalo ngga ada aku pamit pulang".
"Minggu depan kita akan sibuk karena event festival minta kita siapkan sebelum berangkat ke sana. Kamu jaga gawang yah selama kita nanti pergi kesana".
"Ok Mbak, siap. Ya udah aku pamit pulang yah".
"Ya hati-hati, langsung pulang jangan pacaran jangan traktir pacar kamu dengan gaji pertamamu. Berikan kebahagiaan sama orang tuamu Ren".
"Aku ngga punya pacar Mbak, iya ini juga buat orang tuaku", Rena segera berdiri dan jalan pulang ke kost.
Rena sudah sampai kost, tapi hari ini masih sepi, teman-teman kostnya belum ada yang pulang. Rena segera mandi, setelah memakai baju, Rena merebahkan dirinya di tempat tidur.
Tidak berapa lama, Rena bangkit dan membuka tasnya mengambil amplop gajinya yang belum sempat dia buka. Rena menghitung uang gajinya yang diterima kas. Uang ini bisa buat hidupku sebulan dan lebihnya akan aku kasih ke Ayah dan Ibu. Uang kost sudah dibayar sama Tante Silvani. Rena lupa bahwa ia mempunyai uang yang cukup banyak dari Om Bram, dan ja tidak pernah mengutak-atik uang tersebut. Rena kembali merebahkan dirinya di tempat tidur dan tidak berapa lama tertidur.
Pagi-pagi Rena bangun dan melihat jam, ternyata sudah jam 8 pagi, hari ini hari Sabtu, nanti siang aku mau coba ke rumah Ayah dan Ibu. Tuhan, semoga semuanya baik-baik saja, aku takut Tuhan.
__ADS_1
Selesai mandi dan sarapan yang dibelinya, Rena bersiap-siap pergi ke rumah orang tuanya. Hatinya tidak menentu. Tapi Rena menguatkan dan memberi semangat kepada dirinya. Apapun yang terjadi nanti, ia harus menerima, ketakutan dan trauma masa kecilnya kembali menghantui Rena sepanjang perjalanan ke rumah orang tuanya.
"Permisi dek, bisa bertemu dengan orang tua adek? tanya Rena pada anak laki-laki dan perempuan yang sedang bermain di depan".
Anak kecil yang perempuan mendekati Rena dan bertanya sedangkan yang laki-laki masuk ke dalam rymah.
"Mbak namanya siapa? Kok Mia belum pernah lihat Mbak main kesini". Tanya Mia menyelidik
"Mau apa kamu kesini!" Pergiii kamu dari sini!" Ayahnya keluar rumah dengan Ibu disebelahnya.
"Sabar Yah, kita tanya dulu mau apa dia kesini?" Ibu berusaha membuat amarah Ayah menurun.
Rena yang mau menjawab pertanyaan Mia sampai meloncat karena terkejut mendengar teriakan Ayahnya.
"Ayah, Ibu, Rena kangen, Rena masih boleh datang kesini?"
"Maaf Ayah, maksud Ayah apa? Rena anak yang dititipkan sama Ayah dan Ibu? Rena bukan anak Ayah dan Ibu?
"Pergi kamu, Ayah tidak mau lihat mukamu lagi. Dan nanti Ayah akan kasih tahu kamu berapa biaya yang Ayah dan Ibu habiskan untuk merawat kamu dari kecil!"
"Sabar Ayah, Ibu, aku sudah punya nomer handphone dia, nanti aku kasih tahu berapa biaya yang Ayah Ibu minta!" tiba-tiba Kakak keluar dari rumah
"Anak ini sudah kerja dan gajinya besar karena kemarin datang ke kantorku untuk meeting dan dia datang sama bosnya. Bagusnya bosnya perempuan coba kalau bosnya laki, Ayah tahu kan banyak sekretaris yang punya gaji besar tapi simpan bos-bos. Cuiiih, jijik aku lihat dia, Ayah. Usir saja Ayah, dia ngga pantes ada di rumah kita". Kakak mengompori Ayahnya.
__ADS_1
"Pergii kamu sekarang juga dan jangan pernah mwnginjakkan kaki disini lagi". Ayahnya mengambil bangku plastik yang ada disebelahnya, untungnya Rena menghindar dan mengenai, anak perempuan kecil yang tadi bertanya namanya.
Melihat Mia terkena bangku plastik yang ditujukan untuk Rena dan Mia nangis karena kesakitan, Ayah segera berlari dan menendang Rena. Rena terjatuh ditendang oleh Ayahnya.
Rena bangkit berdiri dengan menahan sakit dan mengeluarkan amplop dari tasnya yang berisi uang.
"Ayah, maaf Rena datang kerumah karena Rena kangen. Ini Rena ada uang dari gaji Rena. Rena permisi pulang?"
Rena meletakkan amplop yang berisi uang di bangku plastik yang tidak jauh dari tempat Rena jatuh. Mia sudah digendong oleh Ibunya. Rena melihat muka mereka semua. Ada kebingungan di muka adeknya dan anak laki-laki juga Mia sedangkan muka Ayah, Ibu dan Kakaknya terlihat kebencian terhadap Rena.
Rena berjalan tertatih-tatih menahan sakit dan ia berusaha tidak menangis walaupun air mata sudah bergantung dipelupuk matanya tinggal jatuh saja.
Rena segera menyetop taksi yang lewat dan ia balik ke kost. Sepanjang perjalanan Rena hanya bisa menangis. Sampai di kost Rena melihat Bagas sudah duduk di teras ditemani dengan Ibu Kost.
"Renaa, kamu darimana dan kenapa jalannya tertatih-tatih seperti nahan sakit, baju kamu kotor. Kamu kenapa Rena?" Ibu kost langsung memberondong pertanyaan ke Rena yang baru saja keluar dari taxi dan berjalan masuk.
"Maaf Ibu, Rena masuk ke kamar dulu, ganti baju. Sebentar yah Gas".
Keduanya mengangguk. Bagas bingung melihat Rena yang datang dengan kondisi kesakitan. Bagas menunggu Rena diteras sedangkan Ibu Kost masuk ke dalam dan menyiapkan minuman teh manis untuk Rena.
Rena mendengar pintu kamarnya diketok oleh Ibu Kost. Rena membuka pintu dan air mata masih berlinang di pipinya.
"Rena, Ibu sudah buatin kamu teh manis, nanti diminum yah. Bagas masih nunggu kamu di depan. Cerita sama Ibu, kamu ada apa?" Kamu mandi dulu, ganti baju. Kasihan Bagas sudah 2 jam nunggu kamu dan katanya dia telpon kamu tidak diangkat". Ibu kost menyerahkan gelas yang berisi teh manis ke Rena.
__ADS_1
"Iya Bu, terima kasih, Rena mandi dulu Bu?"
Ibu kost menganggukkan kepalanya dan pergi ke depan menemani Bagas.