Anak Terbuang

Anak Terbuang
Francois Gerald


__ADS_3

Budi langsung mengangkat tubuh Rena darj dalam mobil dan masuk ke dalam rumah kemudian masuk ke kamar tamu. Ancis mengikuti Budi dari belakang


Ancis mencium bau wangi di kamar Rena, semuanya tertata rapi dan bersih. Ancis semakin menginginkan Rena menjadi miliknya dan ia akan merebut Rena dari Budi.


Bibi yang melihat Rena digendong langsung masuk ke kamar Rena dan membawa minum untuk Rena.


"Bi, tolong ganti baju Rena, dan setelah itu siapkan makan malam untuk kami bertiga. Setelah selesai mengganti baju Rena, tolong bibi kasih tahu saya. Saya mau keatas untuk mandi dan ganti baju. Ancis ayo ikut ke ruang kerja gue nanti loe macam-macam lagi sama Rena".


"Loe tuh, asal kalau ngomong, gue tunggu di ruang tamu, lagipula pembantu loe di kamar Rena. Percaya deh, gue ngga akan macam-macam".


"Iya, gue percaya. Gue ke atas dulu". Budi segera menuju kamar nya dengan berlari.


Gue harus merebut Rena dari Budi, entah gimana caranya. Gue akan memberikan kemewahan kepada Rena. Hari gini mana ada cewek yang tidak akan berpaling untuk mendapatkan laki-laki yang kaya. Ancis tersenyum licik dan yakin bahwa Rena akan berpaling dari Budi.


Budi sudah turun dan duduk di sebelah Ancis sambil menunggu Bibi keluar dari kamar Rena. Tidak berapa lama Bibi keluar dan Budi segera bangkit berdiri menghampiri Bibi.


"Sudah di ganti bajunya Rena, Bi?"


"Sudah tuan, saya siapkan makan malam, permisi".


" Iya Bi, terima kasih".


Budi masuk ke dalam kamar Rena dan Ancis mengikuti.


"Rena sayang, bangun. Yuk bangun sayang, kita makan, nanti kamu sakit". Budi membelai dan mencium pipi Rena.


" Budi, aku pusing banget, karena hari ini banyak yang harus aku kerjakan". Rena terbangun dan suaranya lirih.


Budi langsung mengangkat Rena dari kasur dan keluar kamar menuju meja makan.


Budi mengambil makanan untuk Rena dan menyuapi Rena.


Ancis melihat semuanya dan semakin membuat hatinya panas. Tenang, tenang. Rena akan jadi milik gue. Ditambah lagi perusahaan gue menunjuk perusahaan Bu Tita sebagai subkont dan gue akan buat untuk ketemu Rena setiap hari. Ancis tersenyum licik sambil makan.


"Maaf Pak Ancis, Bapak jadi melihat saya seperti ini".


" Santai saja Rena, tadi Budi sudah kasih tahu kalau kamu hari ini puasa. Wajar buat saya dengan porsi kerjaan kamu yang banyak. Dan saya tahu betul Bu Tita".

__ADS_1


"Selesai makan kamu istirahat ya sayang. Kamu kelihatan cape sekali".


"Iya Budi, besok aku ijin tidak masuk kerja. Aku harus ke kampus besok pagi untuk pengajuan skripsi"


"Besok aku antar ke kampus ya". Budi bangkit berdiri dan mencium pipi Rena.


" Budi, wooooiiii ada gue di sini. Gue dari tadi dicuekin terus. Besok gue ikut anterin Rena ke kampus ya Bud, gue nginap di rumah loe malam ini".


"Suka-suka loe, susah kalau yang punya perusahaan".


Rena tersenyum melihat kelakuan Budi dan Ancis.


" Budi, aku mau istirahat duluan yah".


Budi langsung menggendong Rena dan menuju ke kamar Rena.


Ancis masih duduk di meja makan. Sudah 15 menit Budi di kamar Rena dan tidak keluar. Ancis langsung berdiri dan melangkah menuju kamar Rena. Pintu kamar Rena tidak tertutup. Ancis bisa melihat Budi memeluk Rena yang sedang menangis dan terdengar suara Budi yang berbicara dengan Rena.


"Rena, sudah jangan menangis lagi. Dan tolong percaya sama aku. Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu sampai kapanpun. Kamu tahu bagaimana dulu aku berusaha untuk mendekati kamu. Dan Allah membuka jalan sama kita berdua. Tante Silvani dan Om Bram sudah percaya sama aku dan aku harus menjaga kamu selama mereka masih tinggal di luar negeri. Jika memang kamu mau tinggal di rumah Tante Silvani dan Om Bram, aku akan antar kamu malam ini juga kesana".


"Tapi Budi, kamu tahu masa laluku, ketakutan itu tetap ada. Dan sampai saat inj aku masih belum bisa terima kamu seperti kamu terima aku. Dan aku hanya bisa mohon sama kamu. Beri aku waktu sampai aku yakin dengan diriku sendiri. Aku anak yang terbuang Budi".


Rena menganggukkan kepala dan Budi mencium bibir Rena dengan lembut.


" Tidur sayang, aku akan jaga kamu di luar ya, Selamat malam sayang".


"Malam Budi, terima kasih".


Ancis segera membalikkan badannya dan kembali duduk di meja makan.


Tidak berapa lama Budi datang dan duduk di meja makan.


" Lama amat loe, Bud? Ngapain aja, anak orang jangan loe rusak".


"Eh kotor otak loe, gue ngga kayak loe yah. Rena calon istri gue ngga mungkin dan ngga akan pernah gue macam-macam sama dja".


" Ngomong-ngomong loe kenal Rena dimana?

__ADS_1


"Tumben nanya loe detail banget. Panjang ceritanya Ncis.


" Berapa lama loe pacaran sama Rena? Loe serius sama omongan loe? Rena belum loe bungkus?"


"Maksud loe apa sih Ncis? Loe suka sama Rena? Gue kenal loe Mr. Francois Gerald?


"Hahahaha, loe kelihatan banget ngga suka gue tanya-tanya. Santai aja, karena gue melihat perubahan loe jauh banget. Dan gue bingung aja, Rena bisa merubah loe 180 derajat. The power of love ya. Dan gue juga sudah punya pacar, 3 minggu lagi dia bakal datang ke sini. Anyway gue kangen sama loe". Ancis berusaha menutupi keinginannya untuk merebut Rena dari Budi.


"Hahahaha, jadi kapan loe nikah Ncis, kalau loe tanya ke gue, masih lama. Rena belum mau nikah dalam waktu dekat ini". Budi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Belum tahu juga Bud, orang tua gue makanya datang ke sini karena mereka mau ngomongin mengenai tanggal baik. Pusing gue, dan loe tahu banget orang tua gue gimana?


" Hahahahhaha, seperti loe bilang Ncis, the power of love".


Budi dan Ancis tertawa berbarengan. Rena yang belum tidur mendengar tawa mereka. Rena sedang menyiapkan skripsinya besok pagi ke dosen pembimbing. Dan Rena mau keluar untuk buat kopi. Tanpa sengaja Rena menyentuh handphonrnya dan menelpon Budi.


"Siapa yang malam-malam telpon loe, Bud. Hand phone loe bunyi".


Budi melihat nama Rena. Ada apa dengan Rena kenapa menelpon dirinya? Budi segera berlari ke kamarnya Rena diikuti oleh Ancis


"Renaa? Kamu belum tidur? Ada apa?


"Belum, aku lagi menyiapkan untuk besok pagi ke kampus. Tapi..


"Ok, sebentar". Budi keluar kamar Rena dan menuju dapur untuk membuat kopi.


Ancis masih di kamar Rena, Ancis merasa nyaman saat di dekat Rena beda saat ia bertemu Rena dikantor tadi siang untuk meeting.


" Rena, kamu selalu belajar setiap malam? Bukannya posisi kamu di kantor sudah bagus, kenapa harus bersusah payah untuk kuliah? Dengan kecantikan kamu, kamu bisa mendapatkan kemewahan tanpa harus bersusah payah?


"Maaf Pak Ancis, saya sedang menyiapkan skripsi saya, agak tidak sopan jika Pak Ancis saat ini ada di kamar saya. Dan maaf jika Pak Ancis tersinggung dengan omongan saya saat ini, karena kita tidak di kantor melainkan di kamar saya yang merupakan tempat privasi saya.


Budi yang membawa kopi untuk Rena terdiam di luar saat mendengar Ancis bicara kepada Rena dan jawaban Rena, membuat Budi tersenyum. Hahaha, Ancis di skak mat sama Rena. Rena bukan perempuan yang gila harta. Ia pakai logika.


Sedangkan Ancis yang mendengar jawaban Rena tidak marah, malah membuat Ancis ingin segera memiliki Rena. Dan Ancis tahu apa yang harus ia perbuat untuk mendapatkan hati Rena.


"Rena, ini diminum kopinya, aku buatkan kopi untukmu setelah itu istirahat Dan tidur ya". Budi meletakkan kopi di meja, membelai kepala Rena dan mencium bibir Rena dengan lembut.

__ADS_1


Ancis yang melihat Budi mencium bibir Rena memalingkan pandangannya. "Sebentar lagi Rena akan jadi milik gue, Bud"


Yuk Ncis, biar Rena selesaikan dan istirahat. Budi dan Ancis berjalan keluar dari kamar Rena.


__ADS_2