
Rena sudah sampai di Salemba dan menuju kampus yang dimaksud oleh Bu Tita, setelah mendapatkan info dan brosur, ia pergi ke dokter mata, setelah menunggu antrian dan diperiksa ternyata matanya minus dan diminta untuk membeli kacamata. Sudah siang, Rena memutuskan untuk makan di warteg tidak jauh dari dokter mata.
Bagas hari ini semakin kesal karena rencananya gagal untuk datang ke kost Rena. Bagas baru bangun jam 9 pagi, akhirnya Bagas berangkat ke kampus karena jam 1 ada kelas.
Bagas melihat Rena yang baru keluar dari warteg. Dia segera menghampiri Rena.
"Rena. Kamu darimana?
"Hei Gas, aku habis makan di warteg". Rena tersenyum.
Bagas melihat Rena tersenyum jadi salah tingkah.
"Terus sekarang kamu mau kemana? Aku antar yah". Bagas berharap Rena menerima ajakannya.
"Ngga usah Gas, kebetulan aku mau naik taxi. Yuk Gas, bye". Rena segera menghentikan taxi yang lewat. Safe by the bell, batin Rena.
Bagas menghela nafas dan sangat kesal. Bagas merasa bahwa Rena menghindarinya. Ini semua gara-gara Lulu, Bagas geram. Ia melanjutkan perjalanan ke kampusnya.
Rena sudah selesai memesan kacamata dan akan selesai dalam waktu 4 hari karena minusnya yang besar. Capek dan panas sekali hari ini, aku pulang saja dan mendinginkan badan. Untungnya kamar kostku dingin. Kamar kost Rena tidak pakai AC. Hanya kipas angin, tetapi sirkulasi udara di kamar kostnya membuat sejuk.
__ADS_1
Rena merebahkan dirinya setelah mengganti bajunya. Hari ini semua rencananya berjalan tanpa ada hambatan dan ia menikmati kesendiriannya didalam kamar sambil membaca brosur dari universitas yang rencananya akan diberikan saat Bu Tita datang ke kantor. Besok aku mau kerumah Ayah dan Ibu, semoga aku diterima oleh keluargaku.
Rena mendapat 1 pesan di handphonenya yang ternyata dari Budi. Rena berusaha mengingat muka Budi yang sempat ditabraknya saat ia buru-buru ke toilet. Ia membuka pesan dari Budi dan membacanya yang ternyata ajakan untuk makan malam. Rena terlalu lelah, ia tidak mau pergi malam nanti. Rena membalas dan mengatakan bahwa ia sedang ada urusan jadi tidak bisa menerima ajakan Budi untuk makan malam.
Di tempat lain, Budi senang saat Rena membalas pesannya dan ia segera membukanya, ternyata Rena tidak bisa. Huft, susah sekali mengajak Rena keluar untuk sekedar makan dan mengobrol. Apakah Rena sudah punya pacar? Budi berniat akan menyelediki Rena, jika memang Rena sudah punya pacar, ia akan mundur, tetapi jika belum ia akan mendekati Rena.
Hari jumat kemarin, Budi merasa dijebak oleh Tanti. Tanti yang baru keluar dari gedung kantor, melihat Budi yang sedang menunggu Rena. Tanti melihat Budi yang sedang bersandar di mobilnya dan mengajak berkenalan. Tanti terlihat genit dan mengajak mengobrol Budi akhirnya Budi tergoda untuk mengajak makan malam Tanti. Budi lupa bahwa ia mempunyai janji untuk makan malam dengan Rena. Sebenarnya Tanti tahu bahwa Budi menunggu Rena, karena ia sempat membaca pesan yang dikirimkan oleh Rena, Tanti gerak cepat agar Budi lupa dengan Rena. Tanti sengaja menjebak Budi, dengan makan malam setelah itu mengajak Budi ke club malam. Tidak dipungkiri bahwa Budi juga suka ke club malam dengan teman-temannya. Tapi kali ini ia pergi dengan perempuan yang ditemuinya, sampai akhirnya mereka berdua berakhir di hotel. Tanti tersenyum penuh kemenangan karena ia merasa permainan untuk mempernalukan Rena baru akan dimulai, saat Budi belum bangun, Tanti sudah bangun dan mengambil photo mereka berdua di kamar hotel. Dan photo tersebut akan ia pakai untuk membuat Rena malu. Tanti tersenyum licik.
Orang kantor tidak banyak yang tahu mengenai kehidupan Tanti yang sebenarnya. Tanti bekerja sebagai sekretaris agar bisa berdekatan dengan para bos dan untuk saat ini Tanti tidak bisa berbuat banyak karena bosnya perempuan. Kakak Tanti yang berteman dengan salah satu manager di kantor ia dan Rena, minta tolong agar Tanti dapat diterima kerja dengan harapan Tanti tidak membuat malu keluarganya yang sering diomongin jelek oleh tetangganya, karena hampir tiap hari pulang pagi dan berganti pasangan.
Hari sudah malam saat Rena baru terjaga dari tidurnya. Perutnya terasa lapar dan ia ingat ia masih punya roti yang dari Mbak Esther. Baru selesai ia menghabiskan roti, Rena mendengar pintu kamarnya diketuk oleh Mbak Ida.
"Rena, ada tamunya".
"Iya Mbak Ida, terima kasih".
Setelah Mbak Ida berlalu dari kamarnya, Rena membasuh mukanya dan keluar kamar. Rena melihat ada seorang laki-laki yang ia tidak kenal. Rena segera menghampirinya
"Maaf Mas, mas mau bertemu siapa? Biar saya panggilkan teman kost saya.
__ADS_1
"Hai Rena, saya Budi, saya mau bertemu kamu. Akhirnya saya tahu tempat kost kamu. Maaf jika kedatangan saya mengejutkan kamu.
Rena masih terkejut dengan kedatangan Budi. Dan ia berusaha menutupi rasa terkejutnya.
"Eeh, iya. Kok tahu saya ngekost disini? tanya Rena
" Tadi saya telpon kantor kamu dan yang mengangkat satpam kantor. Saya minta diberikan alamat rumahmu, dan pak satpam memberikan alamat rumahmu. Saya langsung kesini dan berharap kamu ada di kostmu. Sekali lagi saya mohon maaf jika kedatangan saya ke kostmu tidak memberitahu terlebih dahulu. Tadinya saya ragu kamu kost disini, karena ada tulisan kost khusus perempuan". Budi tersenyum setelah menjelaskan kepada Rena.
Rena mendengar perkataan Budi mengenai keraguannya bahwa ia tinggal di kost ini dan tidak suka
"Maksudnya? Mas Budi ragu saya kost disini! Mas Budi pikir saya ngekost ditempat yang bebas! Gitu! Nada suara Rena meninggi.
"Maaf, bukan maksud saya berbicara seperti itu. Saya mohon maaf, bahwa perkataan saya menyinggung Rena". Budi mohon maaf atas kelancanganannya berbicara.
Budi tidak memungkiri bahwa banyak yang mencari kost bebas dimana ada kost yang menerima laki-laki dan perempuan. Sedangkan hal itu terjadi dengan Rena.
"Sekarang jelasin Mas Budi kesini ada maksud apa? Dan ada tujuan apa? Jika Mas Budi mengajak saya makan di luar. Saya tidak bisa karena baru saja saya sampai di kost dan saya sudah makan. Dan saya mau istirahat. Maaf kalo bicara saya terkesan mengusir tapi memang saya cape dan butuh istirahat, karena seharian ini saya ada urusan yang harus saya selesaikan". Wajah Rena datar mengucapkan itu semua.
"Baik Rena, mohon maaf atas kelancangan saya dan saya permisi pulang. Rena bisa istirahat". Budi salah tingkah dengan Rena yang memberikan wajah datar tanpa ekspresi dan perkataan Rena strike to the point
__ADS_1
Setelah memastikan Budi pergi, Rena segera masuk ke dalam kamarnya.
Tadinya Budi berharap dengan kedatangannya ke kost Rena dan mengajak Rena makan malam akan disambut baik oleh Rena. Ternyata yang didapat adalah perkataan Rena yang tegas dan lugas. Dan Budi merutuki dirinya dengan berbicara mengenai keraguannya Rena kost ditempat yang khusus perempuan. Budi menyukai Rena karena Rena mempunyai style yang berbeda tidak seperti Tanti yang baru kenal dan bisa dibungkus. Aku harus bisa mendapatkan kamu Rena Cantik.