
Jam 08.00 pagi Rena sudah sampai kantor dan duduk di kursinya. Tiba-tiba handphonenya berdering. Ia melihat Budi yang menelpon sepagi ini.
"Pagi Rena cantik, apa kabar?"
"Pagi juga Budi, kabarku sehat, kamu sendiri gimana?"
"Aku sehat. Rena, ijinkan aku untuk mengajak kamu makan siang hari ini, apakah kamu mau?"
"Maaf Budi, hari ini aku ada meeting diluar. Aku ngga tahu selesai jam berapa?"
"Kalau gitu makan malam gimana?" Aku jemput kamu di kantor. Terus kita pergi makan malam".
Budi berusaha membujuk Rena agar bersedia memenuhi undangannya untuk makan malam. Budi ingin sekali mengenal Rena.
"Hari ini jadwalku padat, karena aku menggantikan bosku yang sedang keluar kota jadi jadwal meetingnya aku yang datang. Budi, sudah dulu yah aku mau mulai kerja nih. Next aku pasti mau makan siang atau makan malam dengan kamu. Bye Budi, selamat bekerja".
Rena mendengus kesal setelah menerima telpon dari Budi.
"Jadi perempuan murahan banget, ngga dapat Bagas pura-pura menolak ajakan om buat bobo ciang" Tanti yang mendengar obrolan Rena ditelpon berusaha membuat Rena terpancing marah dengan kata-katanya.
Rena tidak memperdulikan omongan Tanti, Rena sibuk dengan persiapan meeting yang harus dihadari. Dan Rena segera bangkit berdiri setelah dirasa dokumen untuk meeting sudah lengkap dan berjalan.
"******* mau cari om-om ngakunya meeting!"
__ADS_1
Rena sama sekali tidak menggubris omongan Tanti, ia tersenyum dan minta ijin sama Mbak Esther yang baru saja sampai kantor untuk meeting dengan klain Bu Tita.
Mbak Esther tidak suka dengan sikap Tanti terhadap Rena, karena setidaknya Mbak Esther sudah tahu kehidupan Rena seperti apa. Rena sempat menceritakan kehidupannya dan perlakuan orang tuanya terhadap diri Rena.
"Tanti, saya cuma ingatkan sama kamu, untuk jaga mulutmu. Saya tahu Rena itu siapa? Kamu bisa kerja disini karena kamu minta tolong sama mbak Rina, agar bisa kerja disini. Sedangkan Rena bisa bekerja disini karena dan lulus tes tanpa bantuan siapapun. Ngerti kamu! " Mbak Esther marah karena tadi dia mendengar teriakan Tanti kepada Rena. Mbak Esther tahu bahwa Rena akan menganggap angin lalu semua omongan Tanti.
"Iya Mbak, Tanti minta maaf".
"Jangan minta maaf sama saya, minta maaf sama Rena, dan minta maafmu tidak tulus!"
"Sudah kerja yang benar karena saya mempunyai kewenangan untuk menilai kinerja kalian dan dilaporkan kepada atasan!"
"Iya Mbak".
Rena berjalan keluar dari gedung perkantoran dan menunggu supirnya Bu Tita datang untuk menjemput dirinya. Karena hari sudah siang dan berbarengan dengan jam makan siang, Pak Udin belum sampai juga, Rena masih menunggu sambil melihat handphonenya dan ada banyak pesan yang masuk salah satunya dari Bagas. Tetapi ia tidak mengindahkan pesan dari Bagas. Ada 6 kali panggilan dari Budi, Rena tidak berusaha untuk menelpon balik. Rena menelpon Bu Tita dan memberikan laporan hasil meeting tadi. Saat Rena menutup telpon, Pak Udin sudah datang dan Rena masuk ke dalam mobil. Budi sempat melihat Rena yang berjalan masuk ke dalam mobil dan ia kalah cepat. Kamu ternyata meeting di gedung ini cantik, andai aku tahu, pasti aku tunggu kamu. Budi ternyata satu kantor dengan ayahnya Bagas dan beda divisi.
"Pak Udin kita ke gatot subroto ya, ke menara global. Makasih Pak Udin. Eh iya, kita makan dulu yuk, saya lapar. Pak Udin ikut makan yah.
"Saya sudah makan tadi Bu Rena, dibawain bekal sama istri saya".
"Wah enaknya, bisa bawa bekal, apalagi di masakin sama istri tercinta".
'Iya Bu, harus ngirit Bu, anak saya di Emmy masuk kuliah kebidanan, sedangkan Iwa adiknya masuk ke STM. Biayanya banyak Bu, alhamdulillah Bu Tita sama suaminya orang baik, jadi mereka bantu untuk biaya sekolah anak-anak saya".
__ADS_1
"Benar Pak, Bu Tita bos paling ok selama saya bekerja. Selalu memberikan kesempatan kepada karyawannya untuk belajar. Bu Tita juga nawarin saya untuk kuliah yang ada di Salemba. Cuma saya belum sempat kesana untuk mendaftar, karena Bu Tita masih diluar kota. Ya sudah kita langsung saja ke menara global yah Pak".
'Ibu Rena ngga jadi makan Bu?"
"Nanti saja Pak, kebetulan saya juga lagi puasa Pak. Saya lupa hehehehehe".
" Baik Bu".
Rena menerawang, akhirnya biaya rumah sakit diambil dari uang yang diberikan oleh Om Bram. Sebelumnya Rena memberitahu kepada Om Bram dan Tante Silvani bahwa ayahnya sakit dan biaya rumah sakit ditanggung oleh dirinya. Dan ia minta ijin untuk membayar dengan uang tersebut. Om Bram dan Tante Silvani mengijinkan. Otomatis saat ini uang yang dari Om Bram tinggal tersisa sedikit. Dan Rena sengaja menyimpan kartu ATM nya supaya ia lupa kalau ia masih punya uang. Tanpa Rena ketahui, sebenarnya Tante Silvani sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening tersebut.
Rena dan Pak Udin sudah sampai di menara global. Rena segera menuju ke kantor klainnya Bu Tita untuk meeting. Meeting di menara global tidak terlalu lama. Rena kembali ke kantor setelah meeting dan mengerjakan minute of meeting dan dikirimkan ke Bu Tita dan cc ke Mbak Esther.
"Rena, good job, semua klain Bu Tita setuju untuk kontrak kerja sama dengan kita. Kamu sudah makan? Aku sudah tahu pasti kamu belum makan. Ini aku ada roti, untuk ganjal perutmu.". Mbak Esther memberikan roti kepada Rena. Tanti melihat ke arah Rena dengan pandangan tidak suka.
Lihat saja nanti saatnya aku akan buat kamu keluar dari kantor ini dan dipermalukan. Permainan baru saja akan dimulai Rena. Tanti tersenyum membayangkan Rena yang akan malu dengan perbuatannya.
"Makasih Mbak Esther, aku puasa. Tapi rotinya aku terima". Rena tersenyum sama Mbak Esther.
Handphone Rena berdering, ada nama Bagas disana tapi ia tidak mau angkat. Ia tidak mau mencari musuh apalagi ia tahu bahwa Bagas sudah mempunyai pacar. Dan ada 1 pesan masuk dari Budi. Dia menawarkan untuk makan malam dengan Rena. Rena berpikir ya sudahlah ajakan makan malam hari ini dengan Budi, ia sanggupi. Rena berharap setelah ini Budi tidak akan mengganggunya lagi. Karena Rena masih berjuang agar ia bisa datang kembali ke rumah orang tuanya dan melihat kondisi ayahnya.
Jam 6.30 Budi menelpon Rena dan mengatakan bahwa ia sudah di depan gedung kantor Rena. Rena segera membereskan mejanya dan keluar dari kantornya. Di ruangan itu tinggal Rena seorang karena Mbak Esther sudah pulang untuk kuliah dan Tanti baru saja pulang setengah jam yang lalu.
Rena keluar dari gedung dan tidak melihat siapapun. Rena hanya melihat Tanti menggandeng seorang laki-laki dan masuk ke dalam mobil. Rena lupa bahwa orang yang digandeng Tanti adalah Budi. Jadi Rena tidak terlalu peduli. Rena berjalan pulang ke kostnya.
__ADS_1