
"Rena, aku nginap di rumah kamu ya. Bolehkan?"
"Iya, boleh. Siapa yang bilang ngga boleh. Kamu kan saudaraku. Masa saudara mau nginap di rumah ngga boleh."
'Jadi, aku hanya boleh jadi saudaramu? Tidak boleh lebih dari saudara?"
"Terus kamu maunya jadi apa?"
"Jadi suami kamu?"
"Haduh, harus ya jadi suamiku? Nanti yang ada aku gagal nikah lagi hahahah. Mau jadi pemecah rekor gagal nikah?"
"Kamu kenapa sih jadi pesimis untuk berhubungan dengan laki-laki?"
"Aku ngga pesimis, aku ngga mau jatuh dalam lubang yang sama. Kalau sampai jatuh di lubang yang sama artinya aku bodoh."
Sampai di rumah, Rena segera masuk ke kamarnya dan diikuti oleh Ancis.
"Ancis kenapa ke kamarku. Kamar tamu ada di sebelah sana?"
Ancis langsung mencium bibir Rena membuat Rena hilang keseimbangan dan jatuh ke tempat tidur.
Ancis tidak melewatkan momen itu. Ancis terus mencium bibir Rena, me**** dan me****** lembut bibir Rena.
Rena sempat terbawa suasana sampai akhirnya menyadari dan mendorong tubuh Ancis.
"Keluar kamu dari kamarku. Aku tidak suka seperti ini."
"Rena, aku ingin kamu jadi istriku. Kalau kamu mau kita segera menikah. Aku tidak mau kamu dengan yang lain. Aku dan kamu, kita akan sama-sama menjalani kehidupan selanjutnya. Aku tidak melihat masa lalu mu karena itu adalah bagian dari masa lalu, sejarah mu."
"Keluar Ancis. Keluar dan kamu lebih baik pulang biar diantar oleh pak Mistar."
"Maafin aku Rena, aku tidak bisa menahan diriku."
"Bukan tidak bisa tapi tidak mau dan aku tidak suka!"
Rena keluar kamar.
"Pak Mistar, pak Mistar! Mbok, Mbok!"
Pak Mistar dan Mbok datang.
"Iya non Rena?"
"Tolong antarkan Ancis pulang sekarang. Saya tidak mau dia menginap disini."
"Rena, Rena, maafin aku. Aku tahu aku salah. Dengarkan penjelasanku dulu."
"Sorry Ancis. Aku tidak bisa dan sudah cukup bagiku. Aku tidak mau kamu berbuat kurang ajar sama aku. Bukan berarti aku tidak bisa marah. Silakan kamu tidur di rumahmu. Cari perempuan lain yang bisa kamu pakai sesuka hati kamu! Kamu tidak bedanya dengan Budi."
Rena masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.
"Tuan Ancis, mari saya antarkan pulang."
"Ngga usah, saya naik taksi saja. Terima kasih Pak Mistar."
Ancis menunggu di depan, sementara Pak Mistar mencari taxi untuk Ancis.
Ancis segera masuk ke taxi.
__ADS_1
Pak Mistar masuk ke rumah.
"Tuan Ancis tadi ngapain non Rena ya mbok. Marah sekali. Dan baru kali ini saya lihat non Rena marah sampai mukanya merah."
"Ngga tahu pak Mistar. Mungkin Tuan Ancis pikir non Rena bisa dibujuk dengan uang ataupun perhiasan mewah."
"Iya Mbok, jarang ada perempuan seperti non Rena. Sampai waktu itu dia kembalikan perhiasan yang diberikan sama tuan Ananta. Dan diantar sendiri."
"Iya pak. Sudah malam. Saya mau lanjut tidur."
"Iya mbok. Sama."
Rena masih kesal dengan kejadian tadi dan Rena tidak mau terjebak lain seperti dulu waktu ia dengan Budi.
Ancis merasa bersalah dengan Rena. Ia sudah bertindak ceroboh. Dan Ancis bingung harus bagaimana besok menghadapi Rena.
Pagi ini Rena harus meeting ke beberapa tempat. Karena ia sudah minta sama Rahma untuk mengatur jadwal meeting yang harusnya kemarin dilakukan.
Vito menelpon Rene
"Pagi Rena, kamu sibuk apa hari ini."
"Pagi Vito, aku ada meeting di beberapa tempat. Dan akan selesai nanti jam 4 sore."
"Ok, jam 5 sore kamu ke kantor saya bisa, ada yang harus dibahas untuk event. Kamu bisa? Atau gimana?"
"Iya aku bisa. Jam 5 aku sampai kantormu."
Hari ini Rena meeting maraton. Dan Rena baru sampai kantor Vito jam 5.30.
"Sore Vito, sorry aku baru sampai jam segini."
"It's ok, aku tahu kamu sibuk meeting. Oh iya Rena ini ada beberapa masalah yang harus kita revisi dan malam ini juga harus aku kirimkan emailnya."
"Ok, santai saja."
Vito dan Rena mengerjakan beberapa revisi untuk event dan baru selesai jam 10 malam.
"Finally done. Thank you Rena. Untungnya aku dapat teman partner yang cakap seperti kamu. Semuanya bisa selesai tepat waktu."
"Bukan cakap tapi aku juga punya tanggung jawablah untuk memajukan perusahaan Bu Tita."
"Kamu mau pulang sekarang atau mau makan dulu walaupun sudah telat jam makan malam."
"Aku mau makan dulu. Perutku lapar. Aku sama pak Mistar saja. Kasihan dia juga pasti belum makan malam.
"Ok, kita mau makan dimana?"
"Nasi goreng depan kantorku."
"Memangnya depan kantormu ada restoran bukannya gedung kantor juga?"
"Bukan restoran tapi tukang nasi goreng pinggir jalan."
"Ok. Kita jalan sekarang. Aku ngikutin mobilmu."
"Ok."
Rena keluar dari kantor Vito dan meluncur ke tukang nasi goreng diikuti oleh Vito.
__ADS_1
Vito kaget bahwa Rena mau makan di pinggir jalan tanpa merasa jijik. Dengan posisi Rena di kantor tidak ada rasa kotor makan nasi goreng pinggir jalan.
"Eh mbak Rena. pesan seperti biasa?"
"Iya Pak, buat saya. Pak Mistar silakan mau pedas atau sedang langsung saja. Vito juga kalau mau ya."
Pak Mistar pesan mie goreng. Vito bingung sendiri.
"Pak, Bu Rena sering makan disini ya?"
"Iya Pak, dari dulu mbak Rena awal kerja di gedung ini sampai sekarang. Dia pelanggan setia saya, Pak."
"Mbak Rena baik, cantik lagi. Seandainya saya punya anak laki, saya jodohin mbak Rena sama anak laki saya, tapi anak saya perempuan semua."
"Oh, saya mau nasi goreng saja sama dengan Rena."
"Tapi punya Mbak Rena pedas sekali loh Pak. Bapak yakin nasi gorengnya sama dengan Mbak Rena?"
"Yakin pak, paling pedasnya ngga seberapa heheheh. Biasanya perempuan minta pedas tapi ternyata ngga pedas buat saya."
Bapak nasi goreng hanya tersenyum mendengar omongan Vito.
"Mbak Rena, ini nasi gorengnya."
Bapak nasi goreng memberikan kepada Rena dan Vito.
Vito makan satu suapan dan ia merasakan mulutnya seperti terbakar.
Vito berdiri dan menghampiri bapak nasi goreng.
"Pak, saya minta air putih atau teh tawar panas. Ini pakai cabenya berapa Pak?"
"Kenapa Pak? Pedaskan? Atau masih kurang pedas?"
"Ini saya tidak bisa menikmati makan nasi goreng tapi makan cabe."
"Kan bapak sendiri yang minta sama dengan mbak Rena. Jadi ya nasi goreng kesukaan mbak Rena seperti itu. Dan mbak Rena suka."
"Ya sudah, saya minta minum."
Bapak nasi goreng memberikan air putih kepada Vito.
"Loh bukan air di botol?"
"Bukan pak, tapi air putih biasa yang saya masak dan buat orang-orang yang mau minum setelah makan nasi goreng. Adanya yah air putih dan minum di gelas saja Pak. Tidak ada air botolan."
"Ok."
Vito menghampiri Rena yang masih menikmati nasi goreng.
"Kenapa kamu?"
"Minta air minum."
"Kamu ngga minum?"
"Masih ada nasi goreng belum habis."
"Kamu ngga kepedasan?"
__ADS_1
"Ngga tuh, biasa saja. Kenapa memangnya."
"Ngga kenapa-napa."