Anak Terbuang

Anak Terbuang
Awal perkenalan


__ADS_3

Kesibukan Rena dikantor dan jadwal kuliah Bagas yang padat membuat mereka berdua akhirnya jarang telpon dan jarang bertemu. Minggu ini kerjaan Rena banyak karena ia ditunjuk oleh Bu Tita sebagai PIC untuk soft launching salah satu obat. Rena sibuk dengan tugas-tugas yang diberikan oleh Bu Tita sampai ia tidak mengetahui bahwa Tanti berusaha menghasut teman-teman kantor dan mengatakan bahwa Rena adalah simpanan om-om senang. Tetapi mereka tidak mempercayai omongan Tanti karena mereka melihat Rena selama ini tidak melakukan suatu hal yang buruk Tanti semakin kesal karena keinginannya untuk menghancurkan Rena tidak berhasil.


Hari ini salah satu handphone orang produksi hilang, dan kebetulan Rena sedang ada di ruangan produksi untuk menyiapkan soft launching obat. Tanti yang mendengar ke gaduhan di lantai 4 segera turun ke bawah dan berusaha mengompori teman-teman kantornya bahwa Rena yang mengambil. Pak Dono membela Rena karena dari pagi sampai saat ini Rena ada di ruangan Pak Dono sebagai kepala produksi. Dan mereka berdua belum sempat makan siang, karena hari jumat acara soft launching akan dilakukan di salah satu ballroom hotel di Jakarta Barat. Rena merasa bahwa Tanti ingin merencanakan sesuatu terhadap dirinya. Rena tidak terlalu mempedulikan. Ia bekerja kembali dengan Pak Dono untuk merevisi beberapa dokumen sebelum naik cetak besok pagi dan sore nanti Rena harus pergi dengan Pak Dono untuk bertemu dengan salah satu manager yang akan soft launching di coffee shop hotel.


Rena dan Pak Dono sudah sampai di hotel dan berjalan ke coffee shop tanpa sengaja Rena melihat Bagas dengan seorang perempuan dan ia seperti mengenali perempuan yang saat ini sedang mengobrol mesra dengan Bagas. Dan ternyata klain yang akan ditemui oleh Rena dan Pak Dono duduk bersebelahan dengan meja Bagas dan Lulu.


Lulu melihat kedatangan Rena dan tersenyum sinis. Lalu Lulu berbicara dengan suara yang agak keras dengan maksud supaya Rena mendengar


"Gas kamu ingat teman kita yang dulu sekolah sambil bekerja jadi cleaning service ternyata benar simpanan om-om. Iiihhh murahan sekali, kasihan aku lihatnya, ingin hidup mewah ternyata jadi simpanan om-om".


Bagas memperhatikan Rena dan ia tidak mendengar omongan Lulu.


"Bagas, kok kamu jadi lihatin perempuan itu sih, kamu suka sama dia? kita kan baru pacaran, masa kamu sudah lihat perempuan lain!"


"Ngga Lulu sayang, aku ngga perhatiin perempuan lain, aku tadi lihat seseorang seperti ibuku, hari ini dia ada arisan. Makanya aku pertegas lagi dan ternyata hanya mirip".


Rena tidak mempedulikan omongan Lulu. Ia hanya fokus pada meetingnya. Akhirnya dicapai kata sepakat dan mendapat approval dari klainnya. Sehingga besok Pak Dono bisa langsung naik cetak untuk dokumen yang diperlukan saat soft launching nanti. Bagas dan Lulu masih di meja sebelah. Lulu makin tidak suka dengan Rena, ternyata Lulu mendengar bahwa Rena sedang menyiapkan untuk soft launching produk obat. Setelah klainnya pergi, Pak Dono ingin segera ke percetakan supaya bisa dikerjakan malam ini juga. Sedangkan Rena akan balik ke kantor karena meja kerjanya belum sempat dibereskan. Saat Rena dan Pak Dono berdiri, Rena melihat Bagas dan tersenyum. Baguslah Bagas sudah punya pacar yang tak lain dan bukan adalah Lulu. Sedangkan Bagas merasa bersalah dengan Rena karena akhirnya ia menerima Lulu sebagai pacarnya. Rena kembali ke kantor dan membereskan mejanya dan pulang ke kost.


Acara soft launching berjalan dengan lancar. Rena ingin ke toilet, karena terburu-buru, ia menabrak seorang laki-laki, dan Rena minta maaf karena sudah menabraknya. Laki-laki itu masih menatap Rena sampai Rena masuk ke toilet. Dan ternyata laki-laki itu menunggu Rena.

__ADS_1


"Hai, boleh aku kenalan?" Laki-laki itu tersenyum kepada Rena.


"Maaf, aku harus buru-buru. Namaku Rena". ucap Rena dengan tersenyum


"Ok cantik, namaku Budi, ini kartu namaku" Laki-laki itu memberikan kartu namanya ke Rena.


"Iya terima kasih yah?"


Rena segera berlalu dari hadapan Budi.


Budi terkesima melihat Rena yang cantik dan tinggi. Budi mengikuti langkah Rena yang masuk ke ballroom hotel. Oh ada acara. Budi sempat mengisi buku tamu dan ternyata ada soft launching. Lalu Budi berjalan ke meja tamu dan menanyakan siapa PIC untuk acara tersebut. Akhirnya Budi mendapatkan kartu nama Rena. Budi tersenyum senang.


Rena segara mandi dan memakai baju, ia membuka handphone ternyata ada pesan dari Novi dan Dian, Rena gabung dengan kedua sahabatnya. Mereka ngobrol sampai dini hari. Rena kangen sekali dengan kedua sahabatnya dan juga Tante Silvani dan Om Bram. Selesai berhahaha hihihi dengan kedua sahabatnya ternyata sudah jam 4 pagi. Untung besok hari Sabtu jadi aku bisa istirahat lebih lama.


Tiba-tiba perasaan Rena tidak enak, ada apakah? pikir Rena, baru saja ia mau memejamkan mata ternyata ada pesan masuk dari kakaknya, bahwa ayahnya masuk rumah sakit dan baru selesai pasang ring jantung. Rena segera bersiap-siap untuk kerumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit kakaknya sudah memberikan biaya pemasangan ring jantung ayahnya.


"Kenapa kaget, memang itu biayanya yang tertera dan kamu harus membayar biaya rumah sakit ayah saya semuanya!"

__ADS_1


"Tapi Kak, aku ngga punya uang segitu banyak, gimana aku bisa membayar seluruhnya. Apakah Kakak tidak bisa membantuku?"


"Mintalah sama om mu itu! Ngga mau tahu kamu harus bayar semuanya!" Kakaknya langsung meninggalkan Rena yang masih syok. Ia tidak punya uang sebanyak itu bagaimana harus membayarnya. Rena berjalan ke bagian administrasi dan menanda tangani perjanjian bahwa pengobatan ayahnya harus berjalan, Rena memminra waktu 2 hari untuk membayar. sebagian terlebih dahulu. Kepala Rena berdenyut pusing. Kenapa jadi seperti ini. Kenapa Kakak tidak mau ikutan membayar padahal Kakak juga bekerja. Tuhan, bantu aku untuk menyelesaikan masalah ini. Aku hanya berserah pada Mu Tuhan. Rena bertemu dengan adiknya Marta, dan menanyakan gimana kondisi ayah. Marta tersenyum sinis.


"Jangan dekat-dekat saya, kamu bukan kakak saya. Kamu gadis j*l***. Jijik aku lihat kamu! Pergi tidak usah lihat ayah saya!"


Akhirnya dengan berat hati Rena pergi dari Rumah sakit,, sudah jam 6 pagi. Rena merasakan lelah sekali dan ia ingin tidur.


Rena langsut merebahkan tubuhnya dan tertidur tanpa mengganti bajunya. Jam 2 siang Rena terbangun dan ia segera mengambil handphone, berharap ada kabar mengenai kondisi ayahnya setelah pasang ring jantung. Rena melihat ada belasan telpon masuk dari nomer yang tidak dikenal. Baru saja Rena hendak mengirimkan pesan ke nomer tersebut, handphonenya berdering


"Siang, maaf ini dengan siapa?" tanya Rena.


"Siang juga cantik, aku Budi. Kita sempat tubrukan saat kamu mau ke toilet di hotel, hari Jumat kemarin",.


"Oh iya. Bagaimana kamu bisa tahu no handphone saya?" Rena merasa bahwa ia tidak memberikan nomernya kepada orang tersebut.


"Maaf aku lancang, aku minta sama penerima tamu dan menanyakan siapa nama PIC untuk event launching dan mereka memberikan kartu namamu".


"Bisakah kita bertemu hari ini? tanya Budi

__ADS_1


"Tidak bisa karena aku ada urusan. Mungkin next time yah? Sudah dulu yah, aku harus buru-buru pergi. Terima kasih sudah menelpon".


__ADS_2