
Pagi-pagi Rena dikejutkan dengan kiriman kue, makanan dan bunga dari Ancis sebagai permintaan maaf.
"Pak Mistar, kembalikan semua kue, makanan dan bunga ke Ancis. Bilang saya tidak mau terima."
"Tapi mbak, bukannya itu namanya menolak rejeki? Maaf kalau saya salah."
"Bukan, saya tidak pernah menolak rejeki dari Allah. Dan bilang saya sudah memaafkan perbuatannya tetapi saya tidak mau di kasih apapun sama Ancis."
"Baik mbak. Saya kirimkan balik semuanya ke Ancis."
Pak Mistar meletakkan semua pemberian Ancis ke dalam mobil dan mengantarkan ke rumah Ancis.
"Pagi Pak Ancis."
"Pagi pak Mistar. Ada apa? Apa Rena sakit?"
"Bukan pak. Tapi semua kiriman Pak Ancis dikembalikan sama mbak Rena. Kata mbak Rena, dia sudah memaafkan semua perbuatan yang pak Ancis lakukan. Dan mbak Rena bilang dia tidak mau dikasih apa pun."
"Ya sudah gini saja Pak. Kan saya sendirian. Lebih baik diberikan semua makanan dan kue ke orang yang membutuhkan saja. Kalau pak Mistar mau, silakan dimakan. Biar tidak mubazir dan bunga berikan saja kepada yang mau."
"Tapi pak?"
"Iya saya minta tolong sama pak Mistar dan ini buat pak Mistat."
Ancis mengeluarkan dompet dan memberikan 5 lembar uang 100.
"Ngga usah pak. Saya akan berikan kepada yang membutuhkan makanan dan kue ini juga bunga. Untuk uang saya tidak mau, pak. Mbak Rena sudah memberikan lebih dari cukup untuk uang, pak. Bukan saya menolak, tetapi saya tidak mau, pak."
Ancis menarik napas dalam dan panjang.
"Ya sudah pak Mistar. Terima kasih atas bantuannya ya."
"Ya pak Ancis, sama-sama."
Pak Mistar membawa kembali makanan dan kue serta bunga. Dan ia akan memberikan makanan dan kue ke panti asuhan.
Tulisan dari dan untuknua Pak Mistar copot. Dan diberikan ke panti asuhan. Setelah semuanya diberikan, pak Mistar balik ke rumah.
"Mbok, mbak Rena mana?"
"Sudah jalan tadi naik taxi. Pak Mistar nanti di minta nunggu di kantor saja."
"Iya Mbok. Tadi aku ke tempat pak Ancis. Dia ngga mau terima jadi aku kasih ke panti asuhan saja. Aku bingung suruh kasih ke siapa saja yang mau."
"Ya susah pak. Non Rena ya seperti itu. Sekali buat kesalahan, dia tetap akan memaafkan tapi jangan disuap. Yang ada malah ngga akan pernah dianggap."
"Iya. Orang melihat mbak Rena baik dan suka dimanfaatkan oleh mereka. Bagusnya kita kerja sama mbak Rena dimanusiakan ya mbok. Semuanya dijamin sama mbak Rena."
"Iya, makanya jangan buat marah non Rena."
"Mbok, aku berangkat sekarang saja ke kantor."
__ADS_1
"Ya ini makan siangnya sudah tak wadahi."
"Iya mbok, makasih. Aku pamit ya mbok."
Pak Mistar jalan ke kantor.
Rena masih di kantor Vito mengurus untuk event dan ada beberapa proyek baru.
"Rena, kamu nanti aku antar saja pulang. Sepertinya kamu bakal seharian di kantorku. Karena nanti ada meeting sama klien baru."
"Ok Vito. Aku telpon pak Mistar. Biar jemput aku ke kantor kamu."
"Ngga usah, aku kan tadi bilang, aku yang antar kamu."
"Iya, heheheh. Aku lupa."
"Kamu sedang ada pikiran apa sih? Sepertinya berat sekali?"
"Ya biasalah orang hidup Vito. Ada saja."
"Rena, aku nanti mau ngomong sesuatu sama kamu. Tapi nanti saja setelah kita selesai meeting."
"Baik pak bos."
Mereka dan Vito kembali bekerja menyiapkan untuk event. Dan menemui klien baru.
Tantangan buat Rena karena klien baru akan mengadakan pameran otomotif.
Rena menelpon pak Mistar untuk kembali pulang ke rumah. Karena Rena masih ada kerjaan dan nanti akan diantar oleh Vito.
Tanpa terasa sudah jam 8 malam.
"Rena, ayo kita pulang sudah jam 8 malam. Da aku lapar. Kita makan dulu."
"Ok. Kamu bayarin ya."
"Iya."
Rena dan Vito berjalan keluar kantor dan menuju ke restoran yang Vito mau.
"Kamu mau makan nasi padang kan?"
"Iya boleh. Enak itu."
"Ok."
Mereka sampai di rumah makan padang.
"Kamu mau di ramesin langsung atau mau milih."
"Langsung saja di ramesin. Mau telor dadar padang dan tunjang."
__ADS_1
"Ok."
Mereka makan nasi padang.
"Rena. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Tapi aku harap kamu jangan berpikir bahwa aku aji mumpung atau mengada-ada."
"Memang mau ngomong apa?"
"Aku tahu bahwa banyak laki-laki yang suka sama kamu. Dan kamu pernah ada hubungan dengan Budi. Ancis yang berusaha mendekati kamu dan aku tidak tahu siapa lagi. Jika boleh, ijinkan aku untuk mengungkapkan perasaanku padamu."
"Ya ungkapin saja. Ada masalah?"
"Ok, aku mau kamu jadi istriku. Kapanpun kamu siap, aku akan menikahi kamu. Aku tidak akan memaksa kamu untuk suka, sayang ataupun cinta sama kamu. Aku suka sejak pertama melihat kamu di Amerika saat pernikahan Novi dan Alex. Sejak aku kenal kamu dan kerja bareng sama kamu, aku sayang dan jatuh cinta sama kamu."
"Kamu kan sudah tahu latar belakangku. Bagaimana?"
"Aku menikah bukan dengan latar belakangmu. Aku menikah dengan dirimu, bukan dengan keluargamu. Yang aku lihat dan aku inginkan adalah dirimu, bukan kamu yang seorang wakil presiden. Bukan kamu yang anak angkat Tante Silvani dan Om Bram. Aku lihat kamu sebagai dirimu sendiri bukan dengan objek-objek ataupun atribut yang menempel di dirimu."
"Kamu yakin? Orang tuamu?"
"Aku menikah dengan dirimu, bukan dengan orang tuaku. Maksudnya, kamu pilihan untuk aku menjalani hidup dan berkeluarga. Aku memang tidak sekaya Ancis ataupun Budi. Aku yakin kita berdua bisa saling mensupport dalam hal hidup, pekerjaan."
"Harus aku jawab sekarang?"
"Tidak perlu. Kamu telaah dulu semua omonganku. Aku tidak menjanjikan rumah mewah, emas berlimpah harta dari orang tuaku untuk hidup aku dan kamu nantinya. Aku harus berjuang dengan tanganku sendiri untuk membahagiakan kamu. Dan jangan pernah bicarakan bibit, bebet dan bobot denganku. Karena keluarga tidak memikirkan hal itu."
"Baguslah."
"Kakak iparku bekerja sebagai perawat di puskesmas. Dan orang tuaku tidak memandang rendah hal itu. Sepanjang anaknya menyayangi dan mencintai. Dan kakakku tidak pernah sepeserpun minta sama orang tuaku. Dan kantor inipun, aku beli dari ayahku dari hasil kerja. Dan sudah serah terima."
"Ok."
"Itu saja yang aku mau bicarakan sama kamu. Selebihnya keputusan ada di kamu. Kapan pun mau kamu sampaikan entah itu baik atau buruk aku terima dan kita tetap bekerja sama. Karena urusan pekerjaan dan bisnis tidak bisa dicampur adukkan dengan urusan personal dan perasaan."
"Ok Vito. Aku setuju. Tidak boleh dan tidak bisa."
"Ya Rena, tidak boleh dan tidak bisa."
"Aku akan pikirkan proposal dari kamu. Ibaratnya ini proposal untuk proyek seumur hidup kamu dan aku."
"Iya, akhirnya aku lega sudah bicara sama kamu."
"Ya, ya, kayak bisul yang baru pecah ya. Hahahahha."
"Hahahah, kamu selalu saja ada kata-kata lucu yang membuat orang tidak spanneng."
"Sudah malam. Kita pulang sekarang yah."
"Ok."
Vito mengantarkan Rena pulang dan ia merasa lega karena sudah mengungkapkan isi hatinya. Selanjutnya biarkan alam semesta yang menjawabnya.
__ADS_1